1/12/13

MEDIA PEMBELAJARAN SERTA IMPLEMENTASINYA OLEH GURU

Tags

MEDIA PEMBELAJARAN
SERTA IMPLEMENTASINYA OLEH GURU
Oleh Devika Wasiatul Aulia
NPM 11120205
Kelas 3 E PGSD
Email: adevika49@yahoo.com

ABSTRAK

Salah satu faktor keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya, tetapi guru harus menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara optimal. secara umum tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai fasilitator yang bertugas menciptakan sesuatu yang memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, guru harus mampu menempatkan posisinya minimal sebagai komunikator.
Sebagai seorang komunikator, guru harus mampu menyampaikan informasi atau pesan pembelajaran dengan tepat dan cermat sehingga informasi tersebut dapat dipahami oleh siswa dengan mudah dan tepat pula. Berkenaan dengan hal itu, materi pelajaran hendaknya disajikan dengan cara yang menarik sehingga rasa ingin tahu siswa terhadap materi pelajaran tersebut lebih meningkat. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk menggunakan berbagai  metode secara variatif dan media pembelajaran yang menarik agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.  Komunikasi yang segar dan hangat antara guru dan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung sangat menunjang keberhasilan belajar siswa. Tanpa komunikasi yang baik antara guru dan siswa proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan efektif. Salah satu upaya agar tercipta kondisi yang demikian adalah difungsikannya media pembelajaran.
Jika berbicara masalah media pembelajaran, maka banyak hal yang perlu diuraikan, antara lain hakikat media pembelajaran, fungsi media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, kriteria memilih media pembelajaran. Satu hal lagi yang amat penting adalah apakah semua guru telah memanfaatkan media dalam pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.


A.    PENDAHULUAN

Proses pembelajaran sebagai proses implementasi kurikulum menuntut peran guru untuk mengartikulasikan kurikulum atau bahan ajar serta mengembangkan dan mengimplementasikan program-program pembelajaran dalam suatu tindakan yang akurat dan adikuat. Peran ini hanya mungkin dilakukan jika guru mamahami betul tujuan dan isi kurikulum serta segala perangkatnya untuk mewujudkan proses pembelajaran yang optimal (Sunaryo Kartadinata (dalam Satori, 2005).
Guru sebagai aktor sekaligus sutradara pembelajaran dituntut memiliki kompetensi paedagogik yang ideal pula serta mampu mengaktualisasikannya di depan kelas secara cerdas. Dijelaskan oleh Julaeha (dalam Suciati, 2004)  bahwa salah satu faktor keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya, tetapi guru harus menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara optimal. Lebih lanjut diuraikan pula oleh Juleha (2005) bahwa secara umum tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai fasilitator yang bertugas menciptakan sesuatu yang memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, guru harus mampu menempatkan posisinya minimal sebagai komunikator.
Gaya penyajian yang digunakan guru dalam membahas materi pelajaran sangat berpengaruh terhadap perhatian siswa. Berkenaan dengan hal itu, materi pelajaran hendaknya disajikan dengan cara yang menarik sehingga rasa ingin tahu siswa terhadap materi pelajaran tersebut lebih meningkat. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk menggunakan berbagai  metode secara variatif dan media pembelajaran yang menarik agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.  Komunikasi yang segar dan hangat antara guru dan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung sangat menunjang keberhasilan belajar siswa. Seperti dikemukakan oleh Nasution (2000) bahwa tanpa komunikasi yang baik antara guru dan siswa proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan efektif. Salah satu upaya agar tercipta kondisi yang demikian adalah difungsikannya media pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan oleh Hernawan (dalam Zaman, 2005) bahwa kegiatan atau proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi terdebut guru bertindak sebagai komunikator (communicator) yang bertugas menyampaikan pesan pembelajaran (message) kepada penerima pesan (communican), yaitu siswa. Agar pesan-pesan pembelajaran yang disampaikan guru dapat diterima dengan baik oleh siswa, maka dalam proses komunikasi tersebut diperlukan wahana penyalur pesan yang disebut dengan media pembelajaran. Dengan demikian, proses pembelajaran dengan media tersebut akan terjadi manakala ada komunikasi antara sumber pesan (guru) dengan penerima pesan (siswa) melalui perantara yang disebut dengan media pembelajaran. Dikatakan pula oleh Berlo bahwa komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya area of experience atau daerah pengalaman yang sama antara penyalur pesan dengan penerima pesan (Hernawan dalam Zaman, 2005).
Senada dengan pendapat di atas, diuraikan pula oleh Sudjana (2008:99) seperti berikut : 
Media dalam pembelajaran memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Setiap proses belajar mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur, antara lain tujuan, bahan, metode dan media, serta evaluasi. Unsur metode dan media merupakan unsur yang tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar sampai kepada tujuan pembelajaran. Dalam pencapaian tujuan tersebut, peranan media atau alat bantu memegang peranan penting sebab dengan adanya media ini materi pelajaran yang disampaikan guru lebih mudah dipahami siswa. Penggunaan media dalam proses pembelajaran bertujuan membantu guru agar mampu menciptakan proses belajar siswa yang efektif dan efisien.

Di sisi lain dikemukakan pula oleh Sudjana (2001) bahwa penelitian yang dilakukan terhadap penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar sampai kepada kesimpulan, yaitu proses dan hasill belajar siswa menunjukkan perbedaan yang berarti antara pembelajaran tanpa menggunakan media dan pembelajaran menggunakan media. Oleh karena itu, penggunaan media dalam proses pembelajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran. Lebih lanjut diuraikan oleh Sudjana (2001) bahwa pengajaran sebagai upaya terencana dalam membina pengetahuan, sikap, dan keterampilan para siswa melalui interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya yang diatur guru pada hakikatnya adalah mempelajari lambang-lambang verbal dan visual agar diperoleh makna yang terkandung di dalamnya. Lambang-lambang tersebut disimak dan dicerna oleh siswa sebagai penerima pesan yang disampaikan guru. Oleh karena itu, pembelajaran disebut efektif apabila si penerima pesan dapat memahami makna yang dipesankan guru sebagai sumber pesan.
Atas dasar penjelasan tersebut dikiranya dapat dipahami bahwa tampilnya lambang-lambang visual adalah untuk memperjelas lambang-lambang verbal yang memungkinkan siswa lebih mudah memahami makna pesan yang dibicarakan dalam proses pembelajaran. Hal itu disebabkan visualisasi lambang verbal tersebut mencoba menggambarkan hakikat suatu pesan ke dalam bentuk yang menyerupai keadaan sebenarnya atau realisme.
Akan tetapi, keterbatasan pada diri siswa tidak memungkinkan ia memperleh informasi, pengertian, atau pengalaman di luar dirinya secara langsung, nyata, dan menyeluruh. Di samping itu, kemampuan siswa dalam menyerap makna dari setiap peristiwa di sekitarnya juga terbatas disebabkan tingkat intelegensi atau kecerdasan dan kapasitas memori untuk mengingat pada diri siswa juga terbatas. Akibatnya tidak semua pengalaman nyata dapat dihayati dan pengalaman verbal tidak selalu dapat dimengerti, maka jurang antara keduanya yang cukup ekstrim tersebut perlu dijembatani dengan sesuatu yang disebut dengan pengganti pengalaman nyata atau dikenal dengan istilah media. Sebagaimana dikemukakan oleh Hernawan (dalam Zaman, 2005) bahwa berdasarkan penelitian yang meneliti hubungan antara pengetahuan yang dapat diingat setelah  berselang tiga hari dengan jenis rangsangan terhadap inderanya menunjukkan hasil sebagai berikut:
1.    Pengetahuan yang diperoleh melalui indera pendengaran (auditori) hanya mampu diingat sebanyak 10%.
2.    Pengetahuan yang diperoleh melalui indera penglihatan (visual) mampu diingat sebanyak 20%.
3.    Sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan (audio-visual) mampu diingat sebanyak 65%.
Permasalahan atau pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah apakah sebenarnya yangh disebut dengan media pembelajaran itu? Apakah fungsi media dalam pembelajaran? Apa saja jenis-jenis media pembelajaran? Bagaimana kriteria memilih media pembelajaran? Apakah semua guru telah memanfaatkan media dalam pembelajaran?
Sehubungan dengan permasalahan tersebut maka artikel ini bertujuan ingin mengetahui hakikat media pembelajaran, fungsi media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, kriteria memilih media pembelajaran, dan apakah semua guru telah memanfaatkan media dalam pembelajaran.
Secara teoritis artikel ini memiliki manfaat, antara lain adalah memperoleh informasi tentang hakikat media pembelajaran, fungsi media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, kriteria memilih media pembelajaran serta apakah semua guru telah memanfaatkan media dalam pembelajaran. Sedangkan secara praktis artikel ini memiliki manfaat yaitu menambah wawasan serta memberikan bekal kepada para guru mengenai media pembelajaran serta cara memilihya  secara tepat untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

B.     PEMBAHASAN

Media pembelajaran tidak selalu  identik dengan sarana atau peralatan. Memang media pembelajaran memerlukan peralatan untuk menyajikannya. Namun demikian, yang terpenting bukannya peralatan itu, melainkan pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media tersebut. Sesuatu dapat disebut sebagai media pembelajaran manakala sesuatu tersebut terdiri atas dua unsur, yaitu unsur peralatannya atau perangkat kerasnya (hardware) dan unsur  pesannya (message) atau perangkat lunaknya (software). Perangkat keras (hardware) adalah sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan pesan, sedangkan perangkat lunak (software) adalah informasi atau materi ajar itu sendiri yang akan disampaikan kepada siswa. Pada dasarnya media pembelajaran dapat disimpulkan seperti berikut:
1.       Media pembelajaran merupakan peralatan yang digunakan dalam peristiwa kumunikasi pembelajaran dengan tujuan membuat komunikasi tersebut lebih efektif.
2.        Media pembelajaran merupakan peralatan pembawa pesan atau wahana dari pesan yang oleh sumber pesan (guru) ingin disampaikan atau diteruskan kepada si penerima pesan (siswa).
3.       Pesan yang disampaikan adalah isi pembelajaran dalam bentuk materi pembelajaran.
Dengan berpijak pada uraian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran pada hakikatnya adalah bahan, alat, atau segala sesuatu yang digunakan guru dalam proses komunikasi pembelajaran yang merupakan sarana pembantu atau perantara agar pesan atau materi pembelajaran yang disampaikan dapat diterima oleh siswa dengan lebih mudah, efektif, dan efisien.  
Dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar, media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut:
a.        pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa,
b.    bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih mudah dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran dengan lebih baik,
c.     metode pembelajaran akan lebih bervariasi dan tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. Sehingga, siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi jika guru mengajar untuk setiap jam pelajaran,
d.   siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
Media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu seperti berikut:
a.    Media visual, yaitu media yang menyampaikan pesan melalui penglihatan pemirsa atau media yang hanya dapat dilihat. Media visual ini dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:
1)      Media visual yang dapat diproyeksikan (projected visual), yaitu media yang menggunakan alat proyeksi (proyektor) untuk menayangkan gambar atau tulisan yang akan nampak pada layar (screen). Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam, misalnya gambar diam (still picture), dan media proyeksi gerak, misalnya gambar bergerak (motion picture).
2)      Media visual yang tidak dapat diproyeksikan (non-projected visual). Media ini dibedakan menjadi seperti berikut:
a)      Gambar diam atau gambar mati, yaitu gambar-gambar yang disajikan secara fotografik atau seperti fotografik, misalnya gambar manusia, binatang, atau objek lainnya.
b)      Media grafis, yaitu media pandang dua dimensi (bukan fotografik) yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesanpesan pembelajaran. Unsur-unsurnya terdiri dari gambar dan tulisan. Contohnya grafik, bagan, diagram, poster, kartun, dan komik.
c)       Media model, yakni media tiga dimensi yang sering digunakan dalam pembelajaran di sekolah, yang merupakan tiruan dari beberapa objek nyata, seperti objek yang terlalu jauh, terlalu besar, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu rumit, terlalu sulit untuk ditemukan, atau sulit dipelajari wujud aslinya. Jenis media model di antaranya adalah model padat (solid model), model penampang (eutaway model), model susun (build-up model), model kerja (working model), mock-up, dan diorama.
d)      Media realita, adalah alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung (direct experience) kepada siswa. Media ini berupa benda sesungguhnya seperti mata uang, tumbuhan, binatang, atau lainnya yang tidak berbahaya.
b.      Media Audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar). Media audio contohnya program kaset suara dan  program radio.
c.       Media Audi-Visual yaitu media yang merupakan media kombinasi dari media audio dan media visual atau biasa disebut dengan istilah media pandang-dengar. Media ini contohnya film bersuara, VCD, DVD, program televisi, program video, slide bersuara, dan sebagainya.
Telah diuraikan di atas bahwa media pembelajaran memiliki beragam jenis. Oleh karena itu, guru harus cermat dan selektif dalam memilih media yang akan dipergunakan dalam proses pembelajaran serta dituntut memiliki kompetensi dan performansi yang memadai agar dapat mengoperasikan media tersebut sehingga proses pembelajaran berjalan aktif, kreatif, edukatif, dan menyenangkan yang pada gilirannya akan tercipta proses pembelajaran yang berkualitas serta berimbas pada hasil belajar siswa yang optimal. Kesalahan dalam memilih dan menggunakan media dapat mengakibatkan proses belajar mengajar tidak berjalan efektif serta berimplikasi pada rendahnya hasil belajar siswa. Sehubungan dengan hal itu, di bawah ini diketengahkan kriteria-kriteria dalam memilih media pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
a.    Ketepatan dengan tujuan pembelajaran, artinya media pembelajaan dipilih atas dasar tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
b.    Dukungan terhadap isi bahan pembelajaran, artinya bahan pembelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar mudah dipahami.
c.    Kemudahan memperoleh data, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh atau dibuat oleh guru pada waktu pembelajaran.
d.   Keterampilan guru dalam menggunakannya, artinya apa pun jenis media yang diperlukan, syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran.
e.    Tersedia waktu untuk menggunakanya, sehingga media tersebut bermanfaat bagi siswa selama pembelajaran berlangsung.
f.     Sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga maka yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa.
Seperti telah dikemukakan di depan bahwa media sebagai alat bantu pembelajaran memiliki peran dan fungsi yang amat esensial dalam upaya menciptakan suasana pembelajaran yang lebih berkualitas. Dengan demikian, tidak ada alasan kiranya jika dalam melaksanakan pembelajaran, guru tidak menggunakan media sebagai alat bantu pembelajaran. Akan tetapi, apakah semua guru, khususnya guru Sekolah Dasar telah memanfaatkan media ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut akan disajikan ilustrasi sebagaimana diuraikan berikut ini yang dapat dijadikan sebagai bahan dalam menarik suatu konklusi.
Pada suatu saat penulis berkunjung ke salah satu sekolah, tepatnya Sekolah Dasar di wilayah Kabupaten Demak. (Maaf,  jika nama dan identitas sekolah tidak disebutkan secara eksplisit. Hal ini dilakukan semata-mata demi menjaga etika dan nama baik lembaga tersebut). Kunjungan itu tidak dilakukan secara formal dan tidak juga terencana secara sistematis karena sebetulnya penulis hanya ingin menemui salah seorang guru yang kebetulan bertugas di sekolah tersebut untuk meminjam buku pelajaran. Kunjungan tersebut dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 sehingga penulis terpaksa menunggu karena guru yang dimaksud masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pada saat itulah secara tiba-tiba muncul keinginan untuk melihat-lihat situasi Kegiatan belajar Mengajar (KBM) yang dilaksanakan oleh para guru di setiap kelas sekolah tersebut. pengamatan tersebut difokuskan pada pemanfaatan media dalam pembelajaran. Agar dapat diperoleh informasi yang akurat, maka pengamatan itu dilakukan secara diam-diam tanpa sepengatuhan para guru dengan harapan situasi belajar di setiap kelas benar-benar murni tanpa rekayasa. Berdasarkan pengamatan tersebut diperoleh data seperti berikut:
No.
Nama Guru
Mengajar Kelas
Mapel yang Diampu
Pemanfaatan Media Pembelajaran
Ya
Tidak
1
Guru Kelas 1
1
Matematika
-
2
Guru Kelas 2
2
IPA
-
3
Guru Kelas 3
3
IPA
-
4
Guru Kelas 4
4
IPA
-
5
Guru Kelas 5
5
IPS
-
6
Guru Penjasorkes
6
Penjasorkes
-
Pengamatan yang kedua dilaksanakan di salah satu Sekolah Dasar di wilayah Kabupaten Grobogan. Pengamatan tersebut juga bersifat kebetulan, tiba-tiba, dan tidak melalui rencana yang sistematis karena penulis hanya ingin menemui salah satu guru yang kebetulan ibu dari penulis. Prosedur yang digunakan pun sama seperti ketika pengamatan pertama. Hasil pengamatan tersebut dapat disajikan  sebagaimana berikut ini.
No.
Nama Guru
Mengajar Kelas
Mapel yang Diampu
Pemanfaatan Media Pembelajaran
Ya
Tidak
1
Guru Kelas 1
1
Bhs Indonesia
-
2
Guru Kelas 2
2
Matematika
-
3
Guru Kelas 3
3
IPA
-
4
Guru Kelas 4
4
Matematika
-
5
Guru Kelas 5
5
IPS
-
6
Guru Kelas 6
6
IPA
-

Berdasarkan tabel pertama diperoleh data bahwa dari enam guru yang melaksanakan KBM hanya dua  guru yang memanfaatkan media pembelajaran sedangkan empat guru tidak memanfaatkan media pembelajaran. Itu berarti hanya 33,33% guru yang menggunakan media dalam KBM sedangkan 66,67% guru tidak memanfaatkan media pembelajaran. Sementara pada tabel kedua diperoleh data bahwa dari enam guru yang melaksanakan KBM hanya terdapat satu guru yang memanfaatkan media pembelajaran dan lima guru lainnya tidak menggunakan media pembelajaran. Itu artinya hanya 16,67% yang telah memanfaatkan media pembelajaran sedangkan 83,33% belum memanfaatkan media pembelajaran.




C.     PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya media pembelajaran adalah bahan, alat, atau segala sesuatu yang digunakan guru dalam proses komunikasi pembelajaran yang merupakan sarana pembantu atau perantara agar pesan atau materi pembelajaran yang disampaikan dapat diterima oleh siswa dengan lebih mudah, efektif, dan efisien. Media pembelajaran berfungsi sebagai alat bantu mempermudah penyampaian materi pembelajaran oleh guru agar lebih cepat diterima oleh siswa serta berkesan kuat dalam pikirannya.
Media pembelajaran memiliki banyak ragam atau jenis. Secara umum media pembelajaran terdiri atas media visual, media audio, dan media audio-visual. Karena memiliki banyak jenis, maka dalam memilih media pembelajaran guru perlu memperhatikan beberapa kriteria, antara lain bahwa media tersebut   harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, mampu menunjang/mempermudah menyampaian materi/isi pembelajaran, mudah diperoleh oleh guru, mudah dilaksanakan oleh guru pada saat proses pembelajaran, serta sesuai dengan taraf berpikir siswa.
Meskipun peran media sangat penting dalam upaya menciptakan situasi pembelajaran yang berkualitas, akan tetapi belum semua guru memanfaatkan alat bantu pembelajaran tersebut pada setiap pelaksanaan pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka disarankan agar para guru senantiasa memanfaatkan media pembelajaran setiap melaksanakan KBM agar tercipta situasi pembelajaran yang berkualitas yang pada gilirannya berimplikasi pada meningkatnya hasil belajar siswa. Karena media pembelajaran memiliki banyak ragam, maka guru hendaknya memperhatikan kriteria-kriteria pemilihan media pembelajaran agar sesuai dengan isi serta tujuan pembelajaran yang diharapkan.




DAFTAR PUSTAKA

Masitoh. 2004. Strategi Pembelajaran SD. Jakarta:  Universitas Terbuka.

Nasution,  S.  2000.  Berbagai   Pendekatan    Dalam    Proses    Belajar &
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Satori, Djam’an. 2005. Profesi Keguruan. Jakarta:  Universitas Terbuka.

Suciati. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:  Universitas Terbuka.

Sudjana, Nana. 2008.  Dasar-Dasar   Proses  Belajar Mengajar. Bandung:
Sinar Baru Algensindo..

Sudjana, Nana, Ahmad Rivai. 2001. Metode Pengajaran.  Bandung:  Sinar
Baru Algensindo.

Winataputra,   Udin   S.   2003.    Strategi    Belajar    Mengajar.    Jakarta: 
Universitas Terbuka.

Zaman, Badru, Asep Herry Hernawan, Cucu Eliyawati. 2005.  Media   dan
Sumber Belajar TK. Jakarta:  Universitas Terbuka.


EmoticonEmoticon