1/12/13

MENDISAIN KOPER TEDI (KOMITMEN PADA PERATURAN TERTIB DISIPLIN) SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KELAS

Tags

 MENDISAIN KOPER TEDI (KOMITMEN PADA PERATURAN TERTIB DISIPLIN)   SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KELAS
Oleh: Taufik Hidayat
11120234/3E PGSD
E-mail: taufik_hid96@yahoo.com

Abstrak
Artikel ini berisi tentang bagaimana mendisain Koper Tedi (Komitmen Pada Peraturan Tertib Disiplin) sebagai alternatif pengelolaan Kelas. Tujannya yaitu untuk deskripsikan secara rinci cara mendisain koper tedi disertai dengan contohbuku saku koper tedi dalam pembelajaran.

Pendahuluan
Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses belajar mengajar, salah satu faktor tersebut adalah keterampilan dasar seorang guru dalam mengelola kelas. Seorang guru yang terampi
l dalam mengelola kelas dapat menjaga kondisi yang kondusif sehingga peserta didik dapat belajar dan mencapai prestasi belajar yang baik, namun sebaliknya kelemahan dalam pengelolaan kelas membuat kondisi kelas menjadi kurang kondusif sehingga peserta didik tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Dalam hal ini kepekaan dan ketrampilan guru sangat dibutuhkan, untuk dapat merubah suasana tidak kodusif tersebut menjadi lebih kodusif, karena itu sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar seorang guru harus melakukan serangkaian perencanaan pelaksanaan kegiatan dengan cermat. Salah satu perencanaan yang harus dilakukan guru adalah mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Kegiatan-kegiaan yang disusun dalam RPP diharapkan dapat melibatkan peserta didik secara aktif, sehingga terjadi interaksi yang baik antara guru dengan peserta didik dan sumber belajar yang digunakan. Segala kondisi pada saat pembelajaran dapat saja tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Diantaranya adalah suasana kelas yang sudah mulai tidak kondusif dan kurang efektif. Tanda bahwa suatu proses belajar-mengajar sudah tidak kondusif lagi adalah apabila peserta didik sudah mulai melakukan apa yang mereka inginkan tanpa menghiraukan aturan-aturan yang berlaku. Sebagai contoh peserta didik  masih ditakut-takuti dengan hukuman atau dikatakan  tidak akan naik kelas bila tidak mengikuti aturan yang berlaku.
Sebenarnya bentuk ancaman-ancaman seperti contoh di atas akan berdampak tidak langsung terhadap aktivitas peserta didik dan tugas-tugas yang sedang mereka kerjakan. Walaupun disisi lain bentuk ancaman terhadap peserta didik yang tidak tertib tersebut akan membuat anak menjadi lebih disiplin dengan mengerjakan tugas-tugasnya. Tetapi hal tersebut tidak sesuai dengan teori behaviorisme tentang reinforcement (stimulus) dalam classical conditioning yaitu “bila penguatan ditambahkan (positif reinforcement) maka respon akan semakin kuat, namun jika penguatan dikurangi (negative reinforcement), missalnya karena adanya hukuman (punishment) maka respon akan semakin lemah”. (Suyono 2011 : 58-59).
Lebih jauh teori pembelajaran humanistik menjelaskan bahwa  tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Dengan menerapkan teori humanistik ini diharapkan para peserta didik dapat belajar lebih ikhlas, rajin dan mandiri.
Feneomena seperti itu juga terjadi di tempat kelompok belajar yang penulis tangani,  jadi di tempat kelompok belajar tersebut ketika penulis bertindak sebagai seorang pengajar (guru) dan melakukan pemebelajaran, anak-anak tidak mau memperhatiakan apa yang sedang diterangkan oleh pengajar, lebih lanjut lagi ketika pengajar meminta anak untuk berdiskusi dengaan kelompok, anak didik tersebut tidak mau untuk berkelompok, banyak alasan yang mereka berikan ketika guru meminta anak untuk berkelompok dengan temannya, seperti tidak suka dengan teman kelompoknya, ingin kerja sendiri bahkan ada yang berdiam diri saja.
Atas dasar masih belum kondusifnya proses belajar mengajar inilah, penulis berpendapat bahwa perlunya alternatif penanganan kelas yang dapat menciptakan pembelajaran yang kondusif. Oleh karena itu, penulis mencoba untuk mengangkat Koper Tedi (Komitmen Pada Peraturan Tertib Disiplin)  Sebagai Alternatif Pengelolaan Kelas.
Koper Tedi ini muncul didasarkan atas Pendekatan Resep. “Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar tindakan yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam meriaksi semua masalah atau situasi di kelas”. (Djamarah. 2006: 180).
Atas uraian-uraian diatas maka timbul pertanyaan bagaimana mendisai Koper Tedi dalam usaha untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif. Dan tujuan dari artikel ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimanakah cara untuk mendisain Koper Tedi sebagai alternatif pengelolaan kelas.
Pengaruh komitmen ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni, SE yang berjudul pengaruh komitmen organisasi dan kreativitas dalam proses belajar mengajar menggunakan metode quantum teaching terhadap disiplin kerja pada organisasi pendidikan x. menyatakan bahwa Analisi regresi berganda menunjukkan bahwa kontribusi komitmen organisasi terhadap disiplin kerja F= 34.585 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan hasil koefisien regresi adalah signifikan. Maka hipotesis 1 diterima, yaitu terdapat pengaruh komitmen organisasi terhadap disiplin kerja. Komitmen organisasi memberikan sumbangan relatif atau pengaruh terhadap disiplin kerja, yaitu sebesar 32,1%. Sejalan dengan hal itu maka komitmen sangat dibutuhkan dalam pembelajaran.

Pembahasan
1.   Mendisain Koper Tedi dalam Pembelajaran
Disain Koper Tedi disusun dengan maksud untuk mentertibkan dan mendisiplinkan siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. Sebagai suatu pola perencanaan, pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi sistem pengajaran. Disain disusun dengan memperhatikan perbedaan siswa, sehingga setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dalam mendisain Koper tedi ini ada beberapa unsur yang harus diperhatikan:
a.    Peraturan dan tata tertib
Peraturan dan tata tertib  memiliki tiga unsur yang harus diperhatikan yaitu :
a)         Perbuatan atau prilaku yang diharuskan ada atau dilarang untuk dilakukan.
b)         Akibat atau sanksi yang menjadi tanggung jawab pelaku atau pelanggar peraturan.
c)         Cara atau prosedur menyampaikan peraturan terhadap subjek yang dikenai peraturan.
b.    Pembuatan Rancangan Koper Tedi
Koper tedi ini disusun oleh guru bersama seluruh siswa dalam kelas, dalam kegiatan tersebut guru memberikan komitmen-komitmen yang harus dimiliki siswa dengan memberikan peraturan-peraturan terhadap siswa, namun dalam hal ini siswa memiliki hak untuk menolak peraturan yang diberikan guru dengan memberikan alasanya yang logis. Hak anak menolak ini ditujukan agar anak merasa memiliki atas peraturan-peraturan yang dibuat. Dengan rasa memiliki terhadap peraturan tersebut  anak akan memiliki komitmen atas peraturan yang telah mereka buat bersama-sama.

2.      Buku Saku Koper Tedi dalam Pembelajaran
Buku saku Koper tedi ini merupakan buku panduan kepada guru untuk menerapkan Koper Tedi (Komitmen Peraturan Tertib Disiplin), yang dibuat penulis dari hasil penelitian. Koper Tedi ini berisi langkah-langkah bagaimana menerapkan Koper Tedi dalam pembelajaran, beserta butir-butir Koper Tedi yang dapat diterapkan didalam kelas. Berikut diskripsi langkah-langkah Koper Tedi secara singkat.
Dalam pelaksanaan Koper Tedi pada sebuah pembelajaran berikut lankah-langkah yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam penerapan Koper Tedi:
a.       Guru membuat komitmen-komitmen yang akan diajukan terhadap siswa saat diskusi pembuatan Koper Tedi. Didalamnya berisi peraturan dan tata tertib.
b.      Guru meminta perhatian dari siswa diawal pembelajaran bahwa hari ini kita akan membuat Koper Tedi, yaitu komitmen tentang peraturan tertib dan disiplin yang harus dimiliki siswa.
c.       Guru menjelaskan makna dan tujuan dari Koper Tedi  yaitu untuk kebaikan siswa sendiri, bahwa dengan memiliki Koper Tedi anak menjadi lebih tertib serta disiplin dan dapat mencapai prestasi belajar dengan mudah. Penjelasan ini sangat penting karena pada tahap penjelasan inilah guru harus dapat  memberikan gambaran terhadap siswa akan betapa pentingnya Koper Tedi.
d.      Guru menjelaskan bahwa Koper tedi ini merupakan peraturan yang dibuat oleh siswa, guru hanya mengajukan peraturan-peraturan demi kebaikan siswa, sementara siswa boleh mensetujui dan boleh menolak peraturan yang diajukan guru dengan memberikan alasan yang sesuai.
e.       Setelah pemahaman Koper Tedi terhadap siswa selanjutnya guru mulai untuk mengajukan Koper Tedi yang telah disusun/dibuat sebelumnya.
Berikut butir-butir Koper Tedi, diantaranya:
a)      Perbuatan atau prilaku yang diharuskan ada atau dilarang untuk dilakukan:
·         Hadir di sekolah paling lambat 5 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi.
·         Jika terlambat minta ijin kepala sekolah/yang mewakili (Wakasis/Koor.BK) sebelum masuk kelas.
·         Memberi keterangan yang jelas (Surat Keterangan/surat Izin) dari orang tua atau wali jika berhalangan hadir.
·         Menjunjung tinggi nilai kesopanan, serta hormat kepada semua guru, karyawan dan semua teman.
·         Bertanggung jawab terhadap kebersihan kelas dan lingkungan sekolah.
·         Berpakaian rapi, pantas, sopan dan bersih.
·         Mengatur rambut dengan rapi. Batas rambut putra diatur oleh sekolah.
·         Turun dari sepeda, kemudian mengatur dengan rapi dan menguncinya di tempat parkir sepeda jika bersepeda..
·         Menjaga ketenangan, kenyamanan dan ketertiban kelas.
·         Mempersiapkan perlengkapan belajar mengajar sesuai dengan jadwal
.
b)      Akibat atau sanksi yang menjadi tanggung jawab pelaku atau pelanggar peraturan.
·         Jika terlambat datang tetapi tidak minta ijin kepala sekolah/yang mewakili (Wakasis/Koor.BK) sebelum masuk kelas, maka dianggap tidak masuk sekolah dan setibanya dikelas tidak diizinkan mengikuti pelajaran.
·         Jika siswa berhalangan hadir dan tidak membawa surat ketarangan yang jelas maka siswa dianggap alfa.
·         Jika siswa tidak menjunjung tinggi sopan santun kepada guru, karyawan dan teman, maka siswa akan mendapat kartu kuning (kartu peringatan) jika tetap tidak sopan guru akan memberikan kartu ungu (pemanggil orangtua siswa)
·         Jika siswa tidak bertanggung jawab atas kebersihan kelas dan lingkungan sekolahnya maka siswa harus membersihkan kelas dan lingkungan kelas hari itu juga.
·         Jika siswa tidak berpakaian rapi, pantas, sopan dan bersih maka siswa mendapat kartu hijau yang artinya harus merapikan pakaiannya diluar kelas, jika tetap tidak rapi maka siswa mendapat kartu merah (siswa tidak diperkenankan mengikuti pembelajaran selama satu pertemuan)
·         Jika siswa tidak dapat mengatur rambut dengan rapi maka siswa mendapat kartu hijau, jika tetap tidak rapi maka siswa mendapat kartu merah.
·         Jika siswa tidak mengatur dengan rapi sepedanya maka siswa akan mendapat kartu hijau artinya siswa harus segera merapikan parker sepeda. Jika diulangi lagi maka siswa akan langsung mendapat karu merah.
·         Jika siswa tidak menjaga ketenangan, kenyamanan dan ketertiban dikelas, maka pembelajaran akan dihentikan dan jika kelas tetap tidak tenang dan tertib maka guru akan memberikan kartu merah bagi siswa yang tidak tertib.
·         Jika siswa tidak menghargai mempersiapkan perlengkapan belajar sesuai jadwal maka siswa akan mendapat karu kuning. Jika kembali dilakukan maka siswa mendapat kartu merah.
Catatan :
Kartu Kuning : Peringatan kepada siswa untuk tidak mengulain kesalahan.
Kartu Hijau    : Siswa diminta untuk segera memperbaiki kesalahannya.
Kartu Merah : Siswa tidak diperkenankan mengikuti pembelajaran selama satu pertemuan.
Kartu Ungu : Pemanggilan orangtua untuk menemui wali kelas.
f.       Proses diskusi apakah Koper Tedi yang diberikan guru disetujui oleh siswa atau tidak disutjui oleh siswa.
g.      Menentukan hal yang harus dilakukan setelah tanggapan dari siswa:
a)      Ketika Koper Tedi disetujui maka dapat dilanjutkan ketahap berikutnya.
b)      Ketika Koper tedi tidak disetujui maka kita bertanya asannya:      
·         Jika alasan yang dikemukakan siswa tidak relevan maka seorang guru dapat mengarahkan atau memberika pemahaman kembali terhadap siswa mengenai peraturan yang diberikan tersebut.
·         Jika alasan yang dikemukakan siswa dapat dibilang tepat, maka guru tidak diperkenankan menggunakan salah satu peraturan dalam Koper Tedi tersebut.
·         Jika alasan yang dikemukakan siswa dapat dibilang tepat, maka guru dapat meminta anak untuk memberikan pendapatnya mengenai peraturan yang baik untuk kelas mereka dan peraturan yang diusulkan anak juga harus mendapat persetujuan dari siswa lain.
h.      Menuliskan segala peraturan yang telah dibuat bersama-sama serta meminta tanda tangan dari setiap siswa yang menunjukan bahwa Koper tedi tersbut merupakan persetujuan dari seluruh kelas.
i.        Untuk selalu mengingatkan mengenai Koper tedi yang telah dibuat, guru dapat memajang Koper Tedi tersebut dikelas.

Penutup
Demi mencapai prestasi belajar yang maksimal guru harus membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Namun walaupu begitu terkadang kondisi mendjadi tidak sesuai dengan apa yang direncanakan dan menyebabkan terjadinya suasana yang tidak kondusif dalam suatu pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan suatu alternatif cara yang dapat digunakan untuk menjadikan pembelajaran lebih kondusif, Koper Tedi adalah salah satu cara tersebut. Koper Tedi yang merupakan suatu komitmen peraturan tertib disiplin menawarkan pembentukan komitmen peraturan yang langsung dibuat oleh siswa dengan guru itu  dan di kelas itu juga.
Bagi guru diharapkan dapat menggunakan Koper Tedi sebagai alternative pengelolaan kelas. Karena dengan menggunakan Koper Tedi kita telah mengikuti teori pembelajaran humanistic yaitu memanusiakan manusia.



Daftar Pustaka

Djamarah, Syaiful Bahri. (2006) Strategi Belajar Mengajar (edisi revisi). Jakarta: PT Asdi Mahasatya
Suyono dan Haryanto. (2011). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA
Wahyuni, Sri. Pengaruh Komitmen Organisasi dan Kreativitas dalam Proses Belajar Mengajar Menggunakan Metode Quantum Teaching Terhadap Disiplin Kerja


EmoticonEmoticon