4/9/15

Contoh Proposal Skripsi Pengaruh Model Pembelajaran STAD

BACA JUGA
Contoh Proposal PTK SD Kelas 4 : Peningkatan Hasil Belajar Matematika dg Pendekatan Matematika Realistic
Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Pendidikan : Pengaruh Model pembelajaran Jig Saw dan STAD Terhadap Hasil Belajar
Contoh Penelitian TIndakan Kelas PAUD : Peningkatan Keterampilan Bicara Anak Usia 3-4 Tahun
Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung
Download Kumpulan Contoh Skripsi Penelitian dan Pengembangan (R&D) Jurusan PGSD
Contoh Judul Skripsi Kualitatif PGSD Tahun 2016 (Download Filenya Dengan Sekali KLIK)
Download Contoh PTK SD Lengkap Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 MUDAH DOWNLOAD 1 x KLIK!!
Download 101 Contoh Skripsi Penelitian Kuantitatif (PDF) PGSD Dengan Sekali KLIK!!!
Download Contoh Skripsi Pendidikan PGSD Lengkap FIle PDF Sekali KLIK
100 Contoh Judul Penelitian Kualitatif PGSD Berkualitas! dan Cara Membuat Judul Penelitian
CONTOH PROPOSAL SKRIPSI KUANTITATIF PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH

Assalamualikum Wr.Wb
Selamat datang kembali pada Blog Kang Topik.

Untuk menyelesaikan pendidikan di Jenjang S1, seorang pelajar (mahasiswa) diwajibkan untuk membuat skripsi. Skripsi adalah karya tulis ilmiah hasil dari penelitian atau studi kepustakaan sebagai tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan di Strata 1 atau S1.

Untuk menyelesaikan skripsi, langkah-langkah awal yang perlu dilakukan oleh seorang mahasiswa adalah menentukan topik yang akan dia angkat sebagai bahan skripsinya.

Setelah menemukan topik selanjutnya mahasiswa diminta untuk dapat membuat judul penelitian baca: cara membuat judul karya tulis ilmiah dan diajukan kepada dosennya. Judul yang sudah di ACC maka akan dilanjutnkan dengan mengajukan Proposal.


Bagaimana cara membuat proposal? jika anda ingin memahaminya secara lebih rinci, silahkan baca cara lengkap membuat proposal skripsi.

untuk lebih paham silahkan lihat Contoh Proposal Skripsi Pengaruh Model Pembelajaran STAD
Selain itu anda juga dapat melihat contoh: 
Contoh Skripsi

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR TEMATIK INTEGRATIF SISWA KELAS IV SUB TEMA MACAM-MACAM SUMBER ENERGI SD PENDRIKAN LOR 02 KOTA SEMARANG TAHUN 2014/2015

A.    Latar Belakang
Dunia pendidikan di Indonesia saat ini sedang dalam masa transisi kurikulum dari KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013. Hal tersebut membuat sebagian besar guru di tuntut menguasai kurikulum tersebut. Dengan kemunculan kurikulum tersebut maka di harapkan akan mewarnai perkembangan dalam dunia pendidikan, dan mendorong guru untuk berinovasi dalam pembelajaran. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 2 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangkan mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif (Kusdaryani, 2009:80).

Pengembangan kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonessia. Menurut UU No. 2 Tahun 1989 kurikulum yaitu seperangkat rencana dan peraturan, mengenai isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakannnya dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (Poerwati dan Amri, 2013: 34). Seahingga penting bagi guru untuk memahami dan menaplikasikan kurikulum yang dibuat dengan tepat.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terintegrasi (integrated curriculum). Kurikulum terintegrasi merupakan bentuk kurikulum yang meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan-bahan dalam bentuk unit atau keseluruhan (Poerwati dan Amri, 2013: 14). Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak boleh lagi untuk mengkotak-kotakan pembelajaran antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran lainnya lainnya. Penyajian materi pelajaran yang masih terkotak-kotak akan menyulitkan siswa dalam memahami pelajaran.
Berdasarkan Permendikbud No. 67 tahun 2013 pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam tema tertentu. Tema dalam kurikulum 2013 memegang peran penting dalam proses belajar di kelas. Belajar sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses seseorang dalam memperoleh pengetahuan, pengertian, keterampilan, sikap atau nilai yang biasanya diikuti oleh perubahan tingkah laku. Proses belajar di kelas dapat berlangsung dengan optimal jika proses belajar didesain melalui prosedur yang sistemik dan sitematik.
Desain sistem pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan proses belajar yang dapat membantu individual untuk mencapai kompetensi secara optimal. Proses belajar dapat disebut sukses apabila memenuhi kriteria sebagai berikut, yakni siswa malakukan interaksi dengan sumber belajar seacara intensif, melakukan latihan untuk penguasaan kompetensi memperoleh umpan balik segera setelah melakukan proses belajar, emnerapkan kemampuan dalam konteks nyata dan melakukan interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan (Benny A, 2009:1).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa guru harus mampu untuk mendesai progam pembelajarannya. Hal tersebut dilakukan agar menjadikan proses pembelajaran menjadi efektif, efisien dan menarik.
Terkait dengan pengembangan krikulum 2013 peneliti mencoba menengok pembelajaran yang terdapat pada kelas 4 dengan tema selalu berhemat energi sub tema macam-macam energi pada pembelajaran satu. Dari hasil observasi di SD Pendrikan Lor 02 Kota Semarang kelas IV menunjukan bahwa pembelajaran tematik terintegratif yang dilakukan tidak mampu membuat siswa menguasai kompetensi dari tiga mata pelajaran yang ditematikan yaitu IPA, Matematika dan Bahasa Indonesai. Terdapat beberapa materi kompetensis yang tdak diajarkan, guru terlalu terfokus pada buku siswa dan buku guru sehingga pembelajaran tampak monoton dan siswa jenuh serta bosan dengan pembelajaran. Akibatnya keterampilan siswa memahami kompetensi rata-rata Bahasa Indonesia hanya mencapai 60%, IPA 65% sementara Matematika 50%.  Hal tersebut menunjukan kurang optimal pembelajaran tematik terintegratif yang disampaikan oleh guru.
Kegiatan pembelajaran yang baik berdasarkan kurikulum 2013  adalah kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan tiga aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan dari peserta didik. Atas dasar hal tersebutlah guru harus mengembangkan kegiatan pembelajaran yang sistematis dan sistematik berdasarkan model-model pembelajaran tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif  tipe Student Team Achievement Division (STAD). Model  pembelajaran menjadi salah satu upaya untuk menciptakan kondisi kelas yang mampu mengembangkna ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan dari peserta didik. Seperti teori belajar yang dikemukakan oleh Bloom dalam (Suprijono, 2009: 6-7) dalam proses pembelajaran siswa harus mencapai tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan pembelajaran yang disusun berdasarkan sintak dari model koperatif maka pembelajaran akan menjadi menyenangkan dan menantang bagi siswa.
Menurut Salvin (2005: 4) Cooperative Learning atau pembelajaran kooperatif  sebagai salah satu model pembelajaran yang  menyenangkan dan siswa akan lebih paham. Pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa belajar dengan berkelompok untuk saling berdiskusi dan bersaing. Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa lebih aktif dalam belajar. Ada banyak jenis dari pembelajaran kooperatif dan salah satunya adalah Student Team Achievement Division (STAD). Model pembelajaran cooperative learning tipe STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan model yang paling baik bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif (Salvin,2005: 4).
Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah, penelitian yang sudah dilakukan oleh Selvia Yeni (2012)  dengan judul Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams-Achievement Division (STAD) Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV Semester II Pada Mata Pelajaran Ipa SD Negeri Dukuh 02 Salatiga Kecamatan Sidomukti Tahun Pelajaran 2011/2012. Untuk nilai rata-rata siswa untuk kelas eksperimen yaitu 79 dan nilai rata-rata kelas kontrol yaitu 69 maka dapat disimpulkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Division (STAD) efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari hasil penelitian terdahulu menunjukan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam memahami pembelajaran IPA di kelas IV SD. Maka peneliti mencoba melakukan penelitian menggunakan model kooperatf learning tipe STAD. Penelitian ini diharapkan mampu mengoptmalkan kemampuan peserta didik dalam belajar, mampu mengaktifkan peserta didik dan mampu mencapai tujuan dalam pembelajaran tematik terintegratif. Dari model tersebut peneliti ingin mengetahui apakah ada pengaruh penerapan model tersebut terhadap tercapainya seluruh kompetensi mata pelajaran IPA, Matematika dan Bahasa Indonesia dalam tema hemat energi sub tema macam-macam energi pembelajaran satu.

baca juga : 5+ Cara Download Jurnal Internasional dengan GRATIS di Sciencedirect, Library Genesis, dan SCI-HUB

B.     Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, dan berdasarkan hasil observasi awal di SD Negeri Pendrikan Lor 02, Identifikasi masalah yang didapat adalah           :
1.   Guru kurang kreatif dalam mengembangkan dan menggunakan model pembelajaran pada proses pembelajaran.
2.    Siswa kurang aktif mengikuti pembelajaran, padahal pada kurikulum 2013 menuntut siswa harus aktif.
3.   Proses pembelajaran yang membosankan, perhatian siswa tidak bisa fokus pada guru dan konsentrasi siswa mudah terpecah.
4.  Kompetensi rata-rata yang dicapai bahasa Indonesia hanya mencapai 60%, IPA 65% sementara Matematika 50%. 

C.    Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan diatas, maka peneliti akan membatasi permasalahan agar penelitian yang dilakukan lebih spesifik dan fokus. Menurut Soegeng (2008: 32) tidak semua masalah yang telah diidentifikasi dapat diteliti, melainkan perlu dipilih yang cocok dengan kemampuan sebagaimana tersebut di atas. Jadi masalah yang akan dikaji itu hendaknya sesempit dan sesederhana mungkin. Agar penelitian yang direncanakan dapat tercapai sesuai dengan keinginan dan memperoleh hasil yang memuaskan. Dengan mempersempit dan menyederhanakan masalah yang ingin diteliti ini maka secara tidak langsung penelitian yang dilakukan pun terbatas. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini hanya memfokuskan untuk menggunakan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam Kurikulum 2013 menekankan pada hasil belajar berupa aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Permasalahan yang hendak dikaji adalah hasil belajar yang meliputi aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik dengan tema hemat energi subtema macam-macam energi, pembelajaran satu yang ditematikkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada siswa kelas IV SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang Tahun 2014/2015.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, maka penulis merumuskan masalah yaitu apakah ada pengaruh model pembelajaran Kooperatif Learning tipe Student Team Achieved Division (STAD) terhadap hasil belajar tematik integratif siswa kelas IV tema hemat energi subtema macam-macam energi, pembelajaran satu yang ditematikkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada siswa kelas IV SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang Tahun 2014/2015

E.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dapat ditetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Kooperatif Learning tipe Student Team-Achieved Division (STAD) terhadap hasil belajar tematik integratif siswa kelas IV tema hemat energi subtema macam-macam energi, pembelajaran satu yang ditematikkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada siswa kelas IV SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang Tahun 2014/2015.

F.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik teoretis maupun praktis.
1.      Manfaat Teoretis
Jika dalam penelitian ini terdapat pengaruh model Kooperatif Learning tipe Student Team Achieved Division (STAD)  terhadap hasil belajar tematik integratif  kelas IV tema hemat energi subtema macam-macam energi, pembelajaran satu yang ditematikkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada siswa Sekolah Dasar maka peneltian ini dapat dijadikan landasan teori untuk kegiatan-kegiatan inovasi pembelajaran, penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan menambah wawasan bagi pengkajian inovasi pembelajaran.
2.      Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
a.    Bagi Sekolah
Sebagai referensi dalam menerapkan model-model pembelaajran yang mampu meningkatatkan efektifitas pembelajaran tematik terintegratif Serta sebagai masukan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik terintegratif.
b.    Bagi Guru
Dapat digunakan oleh guru sekolah dasar dalam uoaya pengembangan inovasi pembelajaran dan dapat menjadi pengetahuan baru dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran tematik terintegratif.
c.    Bagi Siswa
Memudahkan siswa dalam mengikuti pembelajaran tematik integratif sebagaimana yang terdapat dalam kurikulum 2013. Memberikan keuntungan bagi siswa agar dapat bekerja sama dalam menyelesaikan tugas akademis  dan meningkatkan hasil belajar, motivasi dan minat siswa dalam belajar.
d.   Bagi peneliti
Peneliti memperoleh dan menambah wawasan serta pengetahuannya tentang model pembelajaran kooperatif tipe STAD. dan mendapatkan pengetahuan tentang cara memodifikasi dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai karakter siswa

G.    Definisi Operasional Variabel
1.      Pengaruh
Pengaruh merupakan daya yang ada atau timbul dari suatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak kepercayaan atau perbuatan seseorang (Alya, 2009: 536). Dalam penelitian ini pengaruh yang dimaksud adalah Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achieved Division (STAD) terhadap hasil belajar tematik integratif siswa kelas IV sub tema macam-macam energi  SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang
2.      Model Pembelajaran Kooperatif Learning tipe STAD
Kerja kelompok merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan minat siswa dalam kegiatan belajar, karena strategi ini banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar bersama dan bekerja bersama memecahkan masalah untuk mencapai tujuan. Pembelajaran kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah teman dalam menyelesaikan suatu masalah. Dengan metode kooperatif juga dapat meningkatkan pengembangan sikap sosial.
Menurut Lie (2004: 12) “pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur”. Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam suatu kelompok kecil dan dikehendaki untuk saling memberi penjelasan yang baik, menjadi pendengar yang baik, mengajukan pertanyaan yang benar.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menitik beratkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda ke dalam kelompok kecil, dimana menurut Sartono (2003:32), “Siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya”.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa saling membantu, memotivasi, serta menguasai ketrampilan yang diberikan oleh guru. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari siklus kegiatan pengajaran biasa yaitu 1) Presentasi kelas, 2) Kegiatan kelompok, 3) Tes, 4) Perhitungan nilai perkembangan individu, dan 5) Pemberian penghargaan kelompok (Slavin, 1995:34). STAD merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Menurut Nurhadi (2004:116), bahwa : Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa di dalam kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok atau tim yang masing-masing terdiri atas 4 sampai 5 orang anggota kelompok yang memiliki latar belakang kelompok yang heterogen, baik jenis kelamin, ras etnik, maupun kemampuan intelektual (tinggi, rendah, dan sedang). Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim.
3.      Hasil belajar
Menurut Nana Sudjana (2005: 3) hakikat hasil belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu Nana Sudjana (1989: 38-40) mengatakan “hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan”.
Menurut Gagne dalam  Purwanto (2009 : 42) hasil belajar adalah terbentuknya konsep yaitu kategori yang kita berikan pada lingkungan,  yang menyediakan skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi yang menentukan stimulus- stimulus baru dan menentukan hubungan  diantara kategori- kategori. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar merupakan hal yang penting karena dapat menunjukan ketercapaian tujuan pembelajran yang telah ditentukan. Hasil belajar siswa dapat diketahui melalui  evalusi untuk menilai dan mengukur apakah siswa telah menguasai ilmu yang telah disampaikan.


4.      Tematik integrative
Kurikulum SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari kelas I sampai kelas VI.  Pembelajaran tematik  integratif  merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai  kompetensi dari berbagai mata pelajaran  ke  dalam berbagai tema.
Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal,  yaitu  integrasi sikap,  keterampilan  dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar konsep dasar  secara parsial. Dengan demikian pembelajarannya  memberikan makna  yang utuh kepada peserta didik seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia. (Kemendikbud, 2013: 137).

H.    Kajian Teori
1.      Kajian Teori Variabel Terikat
a.       Hasil belajar
Menurut Suharsimi Arikunto (2003: 114-115) hasil belajar merupakan segala upaya yang menyangkut aktivitas otak (proses berfikir) terutama dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses berfikir ini ada enam jenjang, mulai dari yang terendah sampai dengan jenjang tertinggi”. Keenam jenjang tersebut adalah: (1) Pengetahuan (knowledge) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus- rumus dan lain sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. (2) Pemahaman (comprehension) yakni kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat melalui penjelasan dari kata- katanya sendiri. (3) Penerapan (application) yaitu kesanggupan seseorang untuk menggunakan ide- ide umum, tata cara atau metode- metode, prinsip- prinsip, rumus- rumus, teori- teori, dan lain sebagainya dalam situasi yang baru dan kongkret. (4) Analisis (analysis) yakni kemampuan seseorang untuk menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian- bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian- bagian tersebut. (5) Sintesis (synthesis) adalah kemampuan berfikir memadukan bagian- bagian atau unsur- unsur secara logis, sehingga menjadi suatu pola yang baru dan terstruktur. (6) Evaluasi (evaluation) yang merupakan jenjang berfikir paling tinggi dalam ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom. Penelitian disini adalah kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide, atas beberapa pilihan kemudian menentukan pilihan nilai atau ide yang tepat sesuai kriteria yang ada (Anas Sudijono, 2005: 50- 52).
Senada dengan Suharsimi Arikunto, Bloom dalam rusmono (2012 : 8) mengatakan bahwa hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah yaitu; ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Secara eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
1.      Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
2.      Ranah Afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku.
3.      Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Ranah psikomotor adalah berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan perilaku tersebut diperoleh setelah siswa menyelesaikan program pembelajarannya melali interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar.

b.      Tematik integratif
Pembelajaran tematik dapat diartikan suatu kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema/topik pembahasan. Sutirjo dan Sri Istuti Mamik (2004: 6) menyatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap pembelajaran, serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dari pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kurikulum. Disamping itu pembelajaran tematik akan memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan pada partisipasi/keterlibatan siswa dalam belajar. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar.
Dalam menerapkan dan melaksanakan pembelajaran tematik, ada beberapa prinsip dasar  yang perlu diperhatikan yaitu 1) bersifat terintegrasi dengan lingkungan, 2) bentuk belajar dirancang agar siswa menemukan tema, dan 3) efisiensi. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas berikut ini akan diurakan ketiga prinsip tersebut,  berikut ini.
a.    Bersifat kontekstual atau terintegrasi dengan lingkungan.
Pembelajaran yang dilakukan perlu dikemas dalam suatu format keterkaitan, maksudnya pembahasan suatu topik dikaitkan dengan kondisi yang dihadapi siswa atau ketika siswa menemukan masalah dan memecahkan masalah yang nyata dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan topik yang  dibahas.
b.    Bentuk belajar harus dirancang agar siswa bekerja secara sungguh-sungguh untuk menemukan tema pembelajaran yang riil sekaligus mengaplikasikannya. Dalam melakukan pembelajaran tematik siswa didorong untuk mampu menemukan tema-tema yang benar-benar sesuai dengan kondisi siswa, bahkan dialami siswa.
c.    Efisiensi
Pembelajaran tematik memiliki nilai efisiensi antara lain dalam segi waktu, beban materi, metode, penggunaan sumber belajar yang otentik sehingga dapat mencapai ketuntasan kompetensi secara tepat.

2.      Kajian Teori Variabel Bebas
a.         Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugastugas yang terstruktur (Lie, 2004:12). Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar yang terstruktur (Lie, 2004:12). Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam suatu kelompok kecil dan dikehendaki untuk saling memberi penjelasan yang baik, menjadi pendengar yang baik, mengajukan pertanyaan yang benar.
Salah satu faktor penunjang dalam usaha peningkatan prestasi belajar adalah penggunaan metode dalam proses belajar mengajar. Guru harus mampu menerapkan penggunaan metode dalam proses belajar mengajar. Guru harus mampu menerapkan metode yang tepat agar diperoleh hasil belajar yang maksimal. Menurut Nurhadi metode yang tepat agar diperoleh hasil belajar yang maksimal. Menurut Nurhadi (2004:103) bahwa :
Ada berbagai model pembelajaran yang memenuhi keriteria dalam mendukung pelaksanaan kurikulum 2004, antara lain adalah pendekatan kontekstual, pengajaran berbasis masalah, pengajaran kooperatif, pengajaran berbasis inkuiri, pengajaran berbasis proyek, pengajaran berbasis kerja, PAKEM, Quantum Teaching & Quantum Learning, CBSA, serta pengajaran berbasis melayani.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda ke dalam kelompok kecil, dimana menurut Sartono (2003:32), “Siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya”.
Pada dasarnya semua pendekatan dan strategi belajar yang memberdayakan siswa merupakan suatu pendekatan dan strategi yang dianjurkan diterapkan dalam kurikulum 2004. tidak ada strategi dan pendekatan khusus yang dianjurkan, kecuali guru tidak menggunakan metode konvensional sebagai satu-satunya pilihan dalam metode pembelajaran. Menurut Nurhadi (2004:112) bahwa :
Dalam pendekatan konstruktif, atas dasar teori bahwa pengajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif dengan harapan siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut dengan temannya. Dalam pembelajaran kooperatif siswa dilatih untuk mengembangkan interaksi yang saling asah, asih, dan kooperatif siswa dilatih untuk mengembangkan interaksi yang saling asah, asih, dan Menurut Ibrahim (2004:6) pembelajaran yang menggunakan metode kooperatif dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2)      Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3)      Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda
4)      Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu
Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu kumpulan strategi pembelajarn dimana siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil agar lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit melalui diskusi.
b.      Unsur-unsur Metode Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen atau unsur-unsur yang saling terkait. Unsur-unsur tersebut, menurut Nurhadi (2004:12) adalah saling untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan. Sedangkan unsur-unsur metode pembelajaran kooperatif menurut Roger dan David Johnson dalam Lie (2004:31) yaitu meliputi saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok. Kelima unsur tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
1)        Saling ketergantungan yang positif
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga tiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Keberhasilan kelompok tergantung dari usaha setiap anggota. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi kepada kelompok. Hal ini disebabkan pola penilaian yang unik, yaitu nilai kelompok dibentuk dari poin yang disumbangkan oleh tiap anggota.
2)        Tanggung jawab perseorangan
Nilai kelompok dibentuk dari poin yang disumbangkan oleh tiap anggota. Dalam tanggung jawab perseorangan siswa akan merasa bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Hal ini akibat dari pola penilaian cooperative learning. Pembagian tugas yang jelas akan mengatasi sikap kurang bertanggung jawab siswa, kerana dapat diketahui dengan mudah siswa tesebut dapat melaksanakan tugasnya atau tidak. Sehingga rekan-rekannya akan menuntutnya untuk melaksankan tugas agar tidak menghambat yang lainnya.
3)        Tatap muka
Interaksi antar anggota aan menciptakan sinergi yang menguntungkan kepada semua anggota. Inti sinergi adalah mnghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan masing-masing anggota.
4)        Komunikasi antar anggota
Setiap siswa perlu dibekali ketrampilan berkomunikasi yang efektif seperti bagaimana menyanggah pendapat orang lain tanpa menyinggung perasaannya. Ketrampilan ini memerlukan proses panjang, namun siswa perlu menempuh proses ini untuk memperkaya pengalaman belajar dan membina perkembangan mental dan emosional siswa.
5)        Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu mengevaluasi proses kerja kelompok agar selanjutnya siswa bisa bekerjasama dengan aktif.

c.       Pembelajaran kooperatif tipe STAD
Metode pembelajaran STAD merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa saling membantu, memotivasi, serta menguasai ketrampilan yang diberikan oleh guru. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari siklus kegiatan pengajaran biasa yaitu 1) Presentasi kelas, 2) Kegiatan kelompok, 3) Tes, 4) Perhitungan nilai perkembangan individu, dan 5) Pemberian penghargaan kelompok (Slavin, 1995:34). STAD merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Menurut Nurhadi (2004:116), bahwa : Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa di dalam kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok atau tim yang masing-masing terdiri atas 4 sampai 5 orang anggota kelompok yang memiliki latar belakang kelompok yang heterogen, baik jenis kelamin, ras etnik, maupun kemampuan intelektual (tinggi, rendah, dan sedang). Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim.
Sedangkan menurut Rahayu (2003:13) bahwa “STAD adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan sebuah model yang bagus untuk memulai bagi seorang guru yang baru untuk mendekatkan pendekatan kooperatif”. Jadi, inti dari tipe STAD ini adalah bahwa guru menyampaikan materi, kemudian siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas 4 sampai 5 orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru.
Beberapa komponen dalam pembelajaran kooperatif STAD adalah sebagai berikut:
1)        Presentasi kelas
Sebelum menyajikan materi, guru menekankan arti penting tugas kelompok dan untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan dipelajari. Materi pelajaran yang disajikan sesuai dengan yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Selama kegiatan ini, siswa diberi pertanyaan-pertanyaan dan guru memberi umpan balik terhadap jawaban-jawaban siswa.
Penyajian materi dilakukan dengan menggunakan media, dengan metode ceramah dan diskusi serta tanya jawab. Siswa harus benar-benar memperhatikan materi yang disajikan, karena akan membantu siswa dalam mengerjakan tes/kuis. Nilai tes/kuis setiap siswa akan menentukan nilai kelompok.
2)        Tahap kegiatan kelompok
Selama kegiatan kelompok, guru bertindak sebagai fasilitator dan memonitor setiap kegiatan kelompok. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) diberikan kepada setiap kelompok untuk dipelajari, bukan sekedar diisi dan diserahkan kembali. Siswa mengerjakan tugas secara mandiri atau berpasangan, kemudian saling mencocokan jawaban dan saling memeriksa ketepatan jawaban dengan teman sekelompok. Jika ada anggota yang kurang memahami maka teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskan sebelum meminta bantuan kepada guru. Dalam metode pembelajaran ini siswa belajar secara kelompok yang akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep ekonomi yang sulit, disamping itu belajar kelompok juga berguna untuk menumbuhkan kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, dan dapat membantu teman yang kurang memahami materi. Dalam Suparno (1996) Pieget juga mengemukakan bahwa lingkungan sosial juga berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran seseorang. Dalam perkembangan kognitif yang lebih rendah, pengaruh lingkungan sosial menjadi lebih berperan dengan teman dan berdiskusi bersama berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran anak. Pieget juga mengemukakan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun berbeda-beda kecepatannya. Oleh karena itu, guru mengatur kegiatan kelas dalam kelompok kelompok kecil.
3)        Tahap hasil tes belajar
Setiap akhir pembelajaran suatu pokok bahasan dilakukan tes secara mandiri untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kemajuan belajar individu. Setiap siswa tidak diijinkan untuk saling membantu satu sama lain selama mengerjakan tes. Setiap siswa bertanggung jawab secara individual untuk mengerjakan materi tes.
4)        Tahap perhitungan nilai perkembangan individu
Nilai perkembangan individu bertujuan untuk memberi kesempatan setiap kelompok untuk meraih prestasi maksimal dan melakukan yang terbaik bagi dirinya berdasarkan prestasi sebelumnya (nilai awal). Setiap siswa diberi nilai awal berdasarkan nilai rata-rata siswa secara individual pada tes yang telah lalu atau nilai akhir siswa secara individual dari semester sebelumnya.
5)        Tahap penghargaan kelompok
Setelah melakukan tes dan perhitungan nilai perkembangan individu dilakukan perhitungan dengan cara menjumlahkan nilai individu setiap anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota. Langkah-langkah bagaimana mengantar siswa dalam STAD:

d.      Kelemahan dan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
Setiap metode pembelajaran tidak ada yang sempurna, karena masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihannya tersendiri. Oleh karena itu peran pendidik penting dalam menyesuaikan metode mana yang sesuai untuk di terapkan dalam menyampaikan materi tertentu. Menurut Slavin dalam Hartati (1997:21) cooperative learning mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
1)      Dapat mengembangkan prestasi siswa, baik hasil tes yang dibuat guru maupun tes baku.
2)      Rasa percaya diri siswa meningkat, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan akademisnya.
3)      Strategi kooperatif memberikan perkembangkan yang berkesan pada hubungan interpersonal diantara anggota kelompok yang berbeda etnis.
Sedangkan keuntungan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Soewarso (1998:22) sebagai berikut :
1)        Metode pembelajaran kooperatif membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas.
2)        Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah, karena dalam tes lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya.
3)        Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama-sama.
4)        Pembelajaran kooperatif menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya.
5)        Hadiah atau penghargaan yang diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.
6)        Siswa yang lambat berfikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuan.
7)        Pembentukan kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor.
Menurut Slavin dalam Hartati (1997 : 21) cooperative learning mempunyai kekurangan sebagai berikut:
1)   Apabila guru terlena tidak mengingatkan siswa agar selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok maka dinamika kelompok akan tampak macet.
2)   Apabila jumlah kelompok tidak diperhatikan, yaitu kurang dari empat, misalnya tiga, maka seorang anggota akan cenderung menarik diri dan kurang aktif saat berdiskusi dan apabila kelompok lebih dari lima maka kemungkinan ada yang tidak mendapatkan tugas sehingga hanya membonceng dalam penyelesaian tugas.
3)   Apabila ketua kelompok tidak dapat mengatasi konflik-konflik yang timbul secara konstruktif, maka kerja kelompok akan kurang efektif.

Selain di atas, kelemahan-kelemahan lain yang mungkin terjadi menurut Soewarso (1998:23) adalah bahwa pembelajaran kooperatif bukanlah obat yang paling mujarab untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok kecil, adanya suatu ketergantungan, menyebabkan siswa yang lambat berfikir tidak dapat berlatih belajar mandiri. Dan juga penbelajaran koopertaif memerlukan waktu yang lama sehingga target mencapai kurikulum tidak dapat dipenuhi, tidak dapat menerapkan materi pelajaran secara cepat, serta penilaian terhadap individu dan kelompok dan pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk melaksanakannya.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas bahwa untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, sebaiknya dalam satu anggota kelompok ditugaskan untuk membaca bagian yang berlainan, sehingga mereka dapat berkumpul dan bertukar informasi.
Selanjutnya, pengajar mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian materi. Dengan cara inilah maka setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar berhasil mencapai tujuan dengan baik

3.      Hipotesis penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitiannya adalah Pengaruh model pembelajaran tipe Kooperative Learning tipe Student Team-Achieved Division (STAD) terhadap hasil belajar tematik integratif siswa kelas IV tema hemat energi subtema macam-macam energi, pembelajaran satu yang ditematikkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada siswa kelas IV SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang Tahun 2014/2015.
Adapun hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut:
Ha : Ada Pengaruh Pengaruh model pembelajaran Kooperative Learning tipe Student Team-Achieved Division (STAD) terhadap hasil belajar tematik integratif siswa kelas IV tema hemat energi subtema macam-macam energi, pembelajaran satu yang ditematikkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada siswa kelas IV SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang Tahun 2014/2015.
Ho : Tidak ada pengaruh model pembelajaran Kooperative Learning tipe Student Team-Achieved Division (STAD) terhadap hasil belajar tematik integratif siswa kelas IV tema hemat energi subtema macam-macam energi, pembelajaran satu yang ditematikkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada siswa kelas IV SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang Tahun 2014/2015.
Apabila thitung < ttabel maka Ho ditolak. Sebaliknya apabila thitung >ttabel maka Ho diterima, dengan taraf signifikan 0,05.

I.       Metodologi Penelitian
1.         Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di SDN Pendrikan Lor  02 Kota Semarang. Untuk kelas IV terdapat kelas A dan B. Karena kurang 1 kelas untuk uji coba instrumen maka peneliti memilih SDN  Bugangan  03 Kota Semarang untuk melakukan uji coba instrumen soal di kelas IV. Penelitian ini akan dilakukan pada semester gasal tahun ajaran 2014/2015 dan dilaksanakan sekitar bulan awal Agustus 2014 sampai akhir Agustus 2014.
2.         Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2010: 60) mengatakan bahwa “variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya”. Variabel dalam penelitian ini terdapat dua variabel yakni satu variabel bebas yang diberi simbol X dan satu variabel terikat diberi simbol Y.
Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) sedangkan variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menajdi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010: 61).
a.  Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu model pembelajaraan kooperatif tipe Student team Achieved-Division.
b.  Variabel terikat
Variable terikatnya dalam penelitian ini adalah hasil belajar tematik integratif siswa kelas IV tema selalu berhemat energi  SDN Daleman 02 Kabupaten Demak
3.         Metode dan Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen. Menurut Sugiyono (2010: 14) penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh treatment (perlakuan) tertentu.
Penelitan ini menggunakan desain penelitian menggunakan True Experimental Design dengan bentuk Posttest – only Control Design. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing – masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama yang diberi  perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.
1.     


           
R                     X                    
R                                            
 
 





              Gambar  Posttest – only Control Design (Sugiyono, 2010 : 112).
4.         Populasi dan Sampel
a.       Populasi
Menurut Sugiyono ( 2008: 117 ) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek yang mempunyai kulalitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
Penelitian ini mengambil populasi adalah siswa kelas IV SD N Pendrikan Lor Kota Semarang.
b.      Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi (Sugiyono, 2008: 118). Sutrisno Hadi ( 2000: 221 ) Sampel adalah wakil dari populasi dimana pengambilan sampel ini harus benar-benar dapat mewakili populasi. Teknik yang digunakan pengambilan populasi ini adalah cluster proporsional random sampling, yaitu dari populasi ditentukan jumlah sampel sebagai obyek, yaitu kelas IV SD N Pendrikan Lor 02 Kota Semarang.

5.         Validitas dan Reliabilitas Instrumen
a.       Validitas Item
Menurut Arikunto (1990 : 69), instrumen penelitian dikatakan valid pabila mampu mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui validitas item soal digunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut:
                                                                  N ∑xy-( ∑x)(∑Y)
                                         rxy =
                                                                  N∑X2-(∑)2 (n∑Y2-(∑Y)2          
Keterangan :
                                               
                                                            rxy = Koefisien korelasi item
                                                            N   = Jumlah siswa
                                                            x  = Skor item nomor tertentu
                                                            y  = Skor total
                                                            ( Arikunto, 1996 : 162 )
Kriteria :
Apabila rxy>r(table) maka dikatan item tersebut tidak valid

b.      Reliabilitas Instrumen
Suatu tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat dipercaya dan konsisten (ajeg). Untuk mengetahui reliabilitas tes digunakan rumus kuder and richardson (K-R 21) seperti yang tercantum dalam Arikunto (1990 : 96) sebagai berikut:
                        
                                    r 11 = ( k )( k-M )
                                              k-1 - k Vt
Keterangan:
R11 = reliabilitas instrumen
K = banyaknya butir soal atau butir pertanyaan
M = skor rata-rata
Vt = varians total
Nilai r11 yang diperoleh dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 5 %. Jika nilai r11 > rtabel maka instrumen tersebut reliabel.
Pengolahan data untuk uji reliabilitas instrument dalam penelitian ini menggunakan SPSS 15.00. dari hasil perhitungan menunjukkan hasil sebagai berikut :

6.         Uji Pesyaratan Analisis
         Sebelum menganalisa data maka perlu dilakukan pengujian persyaratan analisis yang meliputi uji normalitas, uji linearitas, danuji multoltikoliner   

7.         Uji Normalitas
          Uji normalitas digunakan untuk mengtahui apakah data dalam penelitian berdistribusi Normal atau tidak.
Dalam uji normalitas ini menggunakan analisis SPSS 15.0
Kriteria normalitas apabila p ≥ 0,005  dan batas toleransi  α = 0,005

8.         Teknik Analisis Data
Pada prinsipnya metode analisis data digunakan untuk mengolah data dengan        menggunakan metode statistic yang dapat untuk mencari kesimpilan dalam penelitian tindakan kelas, ada dua jenis data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti, yaitu :
a.      Data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) yang dapat dianalisis secara diskriptif. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis statistik diskriptif, misalnya mencari persentase keberhasilan belajar, dan lain-lain.
b.      Data kualitatif yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa mengenai tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran (kognitif), pandangan atau sikap siswa terhadap metode belajar yang baru (afektif), aktivitas siswa mengikuti pelajaran, perhatian, antusias dalam belajar, kepercayaan diri, motivasi belajar dan sejenisnya, dapat dianalisis secara kualitatif Data-data yang diperoleh dihitung dengan teknik kuantitatif dengan langkahlangkah sebagai berikut :
c.       Data hasil tes dapat dihitung dengan mengguanakan rumus sebagai berikut :

Pencapaian = ∑ Skor yang dijawab benar X100%
                                          Skor maksimum
( Arikunto, 2002 : 242)

            Nilai = ∑Skor yang dijawab benar X 100%
                                  Skor maksimum
            (Arikunto, 2002:242)

      Nilai tes merupakan hasil belajar kognitif siswa, yang merupakan perbandingan antara hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan hasil belajar siswa sesudah tindakan.

9.         Data hasil observasi dihitung dengan menggunakan rumus :
      
    % Pencapaian =Skor yang diperoleh X100%
                                  Skor maksimum





Nilai yang diperoleh dari hasil observasi merupakan hasil belajar psikomotorik dan efektif. Menghitung keberhasilan kelas (ketuntasan belajar secara klasikal), yaitu persentase siswa yang tuntas belajar sesuai dengan indikator keberhasilan, dihitung dengan rumus :

% Ketuntasa Belajar Siswa =∑Siswa yangtuntas belajarnya X 100%
                                            Banyaknya siswa dalam satu kelas

10.     Membuat rekapitulasi nilai hasil belajar siswa                                 
Hasil perbandingan ini akan menggambarkan mengenai persentase peningkatan kemampuan siswa dalam pelajaran ekonomi pokok bahasan jurnal khusus melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dan pemanfaatan media pembelajaran inovativ.
Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data-data non tes, yaitu data observasi, data angket dan data wawancara. Data observasi dan angket digunakan untuk siswa yang mengalami kesulitan dalam wawancara. Sedangkan data wawancara pada penelitian ini bertujuan untuk mengatasi siswa yang mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar. 2003. Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam UU SISDIKNAS. Jakarta : Depag RI.
Arikunto, Suharsini. 1998. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka setia.
Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Nuri, Amat. 2004. Undang-Undang Guru dan Peningkatan Kompetensi Profesional Guru, Jurnal Insania. Volume 9, Nomor 3, hlm 185-201.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sudijono, Anas. 1996. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosda Karya
Sutirjo dan Sri Istuti Mamik.  (2005). Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang: Bayumedia Publishing.
www. pppg tertulis.or.id. Pembelajaran Tematik