4/4/15

DINAMIKA PERILAKU INDIVIDU INTERAKSI DENGAN LINGKUNGAN, PENYESUAIAN DIRI, PENOLAKAN, DAN MOTIVASI

Tags
A.    Dinamika perilaku
Dinamika perilaku adalah perilaku-perilaku yang dapat membuat suatu kelompok menjadi hidup dan dinamis, sehingga dapat menciptakan dinamika kelompok dan tercapainya tujuan yang diinginkan. Pada dasarnya individu mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan dalam memenuhi kebutuhannya individu memerlukan perilaku-perilaku yang dinamis. Untuk mendapatkan perilaku yang dinamis, individu perlu menyesuaikan dan menggunakan segala aspek yang ada dalam dirinya. Apabila semua aspek dalam diri individu dapat berjalan dinamis, individu tidak hanya dapat memenuhi kebutuhannya tetapi juga dapat mengembangkan diri ke arah pengembangan pribadi. Pengembangan pribadi yang dimaksud adalah individu dapat menguasai kemampuan-kemampuan social secara umum seperti keterampilan komunikasi yang efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima toleran, mementingkan musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap demokratis, memiliki rasa tanggung jawab social seiiring dengan kemandirian yang kuat dan lain sebagainya.

B.     Pengertian perilaku
Menurut beberapa ahli psikologi, perilaku adalah aktivitas yang dapat diobservasi. Sedangkan pengertian lain dari perilaku adalah serentetan kegiatan atau perubahan dalam ruang hidup. Berdasarkan berbagai pengertian diatas kelompok dua menyimpulkan bahwa perilaku adalah suatu aktivitas manusia yang merupakan manifestasi dari jiwa manusia dan dipengaruhi oleh aspek-aspek yang ada pada diri manusia dan aspek-aspek di luar manusia yang bisa terbentuk dari proses belajar, imitasi pembiasaan dan lain-lain sebagainya.

C.    Macam-macam perilaku
Secara umum perilaku manusia sangatlah banyak dan berikut ini adalah beberapa perilaku yang menurut sugiyo (psikologi social, 2006:1) adalah:
1.    Perilaku motorik adalah perilaku yang dinyatakan dalam perbuatan jasmaniah misalnya makan, berjalan, mandi dan sebagainya.
2.    Perilaku kognitif adalah perilaku yang berhubungan dengan pemahaman, penalaran, pengenalan dan lain-lain.
3.    Perilaku konatif adalah perilaku yang berhubungan dengan motivasi untuk mencapai tujuan misalnya harapan, cita-cita dan lain-lain.
4.    Perilaku afektif adalah perilaku yang merupakan manifestasi dari penghayatan misalnya marah, sedih, cinta dan lain-lain. Erilaku agresif adalah perilaku yang dimaksud melukai orang lain dan perilaku melukai orang lain.
5.    Perilaku normal adalah perilaku yang sesuai dengan norma atau aturan masyarakat tertentu.
6.    Perilaku abnormal adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma atau aturan masyarakat tertentu.
7.    Perilaku prososial adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyesuaikan suatu keuntungan.

D.    Penyesuaian diri
Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang mencakup respons-respons mental dan behavioral yang diperjuangkan individu agardapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustrasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada. Kapasitas individu antara satu orang dengan yang lain tidak sama. Ada keterbatasanketerbatasan tertentu yang dihadapi oleh individu. Oleh sebab itu, perlu dirumuskan prinsip-prinsip penting mengenai hakikat penyesuaian diri, yaitu sebagai berikut:
a.    Setiap individu memiliki kualitas penyesuaian diri yang berbeda.
b.    Penyesuaian diri sebagian besar ditentukan oleh kapasitas internal atau kecenderungan yang telah dicapainya.
c.    Penyesuaian diri juga ditentukan oleh faktor internal dalam hubungannya dengan tuntutan lingkungan individu yang bersangkutan. Penyesuaian diri ini antara lain:
·       Bagaimana menimbulkan jiwa pemimpin bagi anak dan remaja.  Jika orang dewasa memberikan kesempatan untuk berkembang jiwa kepemimpinannya, antara lain dengan memberikan kebebasan mengeluarkan pendapat, menciptakan situasi yang demokratis dan adanya sarana untuk itu, maka akan tumbuh calon-calon pemimpin yang baik. Tatapi apabila orang dewasa menampakan rasa keakuan dan kekuasaannya, maka hal itu akan mematikan bakat memimpin bagi remaja.
·      Anak dan remaja harus belajar mentaati norma-norma agama, dan aturan-aturan masyarakat, serta perturan pemerintah, tata tertib sekolah dan orang tuanya. Hal ini banyak bergantung dari contoh-contoh orang dewasa sendiri. Artinya jika orang dewasa sudah biasa mentaati segala norma dan peraturan tersebut di atas tentu anak dan remaja akan pula mentaatinya. Dan yang pokok bahwa pendidikan agama, pendidikan kemasyarakatan, hukum dan sebagainya harus pula secara sistematis diajarkan kepada mereka di sekolah, di rumah dan di lingkungan masyarakat.
·      Menghindarkan konflik psikis yang ditimbulkan oleh adanya pertentangan antara keinginan remaja dengan tuntutan masyarakat. Mana yang benar antara keinginan remaja atau tuntutan masyarakat.
Konsep penyesuaian diri makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauhmana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Sejak lahir sampai meninggal seorang individu merupakan organisme yang aktif dengan tujuan aktivitas yang berkesinambungan. Ia berusaha untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya dan juga semua dorongan yang memberi peluang kepadanya untuk berfungsi sebagai anggota kelompoknya, penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
1.      Konsep penyesuaian diri penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
2.      Proses penyesuaian diri penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian yang sempurna tidak pernah tercapai
3.      Karakteristik penyesuaian diri tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karen kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.

E.     Penyesuaian diri secara positif diri ditandai hal-hal sebagai berikut :
1.    Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional,
2.    Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis,
4.    Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi,
5.    Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri,
6.    Mampu dalam belajar,
7.    Menghargai pengalaman,
8.    Bersikap realistik dan objektif.
Melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukan dalam berbagai bentuk, antara lain:
1.    Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung,
2.    Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan),
3.    Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba,
4.    Penyesuaian dengan substansi (mencari pengganti),
5.    Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri,
6.    Penyesuaian dengan belajar,

F.     Persoalan yang menghambat penyesuaian diri yang sehat
a.    Hubungan remaja dengan orang dewasa
Hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orang tua.tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat tergantung pada sikap orang tua dan suasana psikologis dan sosial dalam keluarga. Contoh : sikap orang tua yang menolak. Penolakan orangtua terhadap anaknya dapat dibagi menjadi dua macam.
·      Pertama, penolakan mungkin merupakan penolakan tetap sejak awal, dimana orang tua merasa tidak senang kepada anaknya, karena berbagai sebab, mereka tidak menghadaki kehadirinya. Boldwyn dalam dayajat (1983) mengilustrasikan seorang bapak yang menolak anaknya berusaha menundukan anaknya dengan kaidah-kaidah kekerasan, karena itu ia mengambil ukuran kekerasan dan mengambil ukuran kekerasan, kekejaman tanpa alasan nyata
·      jenis kedua dari penolakan adalah dalam bentuk berpura-pura tidak tahu keinginan anak. Contohnya orang tua memberikan tugas kepada anaknya berbarengan dengan rencana anaknya untuk pergi nonton bersama dengan sejawatnya. Hasil dari kedua macam penolakan tersebut ialah remaja tidak dapat menyesuaikan diri, cenderung menghabiskan waktunya diluar rumah. Terutama pada gadis-gadis mungkin akan terjadi perkawinan yang tidak masuk akal dengan pemikiran bahwa rumah di luar tangganya lebih baik dari pada rumahnya sendiri.
b.   Sikap orang tua yang otoriter
Yaitu yang memaksakan kekuasaan dan otoritas kepada remaja juga akan menghambat prosedur penyesuaian diri remaja. Biasanya remaja berusaha untuk menentang kekuasaan ortu dan pada gilirannya ia akan cenderung otoriter terhadap teman-temanya dan cenderung menentang otoritas yang ada baik di sekolah maupun di masyarakat. Permasalahan-permasalahan penyesuaian diri yang dihadapi remaja dapat berasal dari suasana psikologis keluarga seperti keretakan keluarga. Banyak penelitian membuktikan bahwa remaja yang hidup didalam rumah tangga yang retak, mengalami masalah emosi. Tampak padanya ada kecendrungan yang besar untuk marah, suka menyindir, disamping kurang kepekaan terhadap penerimaan sosial dan kurang mampu menahan diri serta lebih gelisah dibandingkan dengan remaja yang hidup dalam rumah tangga yang wajar. Perbedaan antara perlakuan laki-laki dan anak perempuan akan mempengaruhi hubungan antar mereka, sehingga memungkinkan timbulnya rasa iri hati dalam jiwa anak pertemuan terhadap saudaranya yang laki-laki.

G.    Pengaruh lingkungan itu bagi diri individu
a.    Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja, walaupun diberinya cukup makanan dan minuman, akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu dan lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali.
b.    Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Lingkungan memiliki peranan bagi individu, sebagai :
·      Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah.
·      Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya.
·      Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya, apabila dianggap sesuai dengan dirinya.
·      Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga di kamarnya menjadi sejuk.

H.    Lingkungan pembentukan penyesuaian diri
a.    Lingkungan keluarga
Semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri  akan menjadi lebih baik bila dalam keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti.
b.   Lingkungan teman sebaya
Begitu pula dalam kehidupan pertemanan, pembentukan hubungan yang erat diantara kawan-kawan semakin penting pada masa remaja dibandingkan masa–masa lainnya. Suatu hal yang sulit bagi remaja menjauh dari temannya, individu mencurahkan kepada teman– temannya apa yang tersimpan di dalam hatinya dari anggan–anggan, pemikiran, dan perasaan.
c.    Lingkungan sekolah
Sekolah mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan informasi saja akan tetapi juga mencakup tanggung jawab pendidikan secara luas. Demikian pula dengan guru, tugasnya tidak hanya mengaar tetapi juga berperan sebagai pendidik yang menjadi pembentuk masa depan. Lingkungan sekolah juga mendidik individu untuk bekerja sama, membagi tugas, dan berpikir kritis pada masalah – masalah yang ada keterkatian dengan pendidikan.

I.       Penolakan
Penolakan terhadap perubahan. Beberapa jenis penolakan yang sering individu:
  • Kebiasaan yang sulit diatasi
  • Pengetahuan saat ini
  • Kepentingan pribadi
  • Rasa tidak aman
  • Kurang percaya
  • Perbedaan persepsi
a.    Strategi mengatasi penolakan
Ada beberapa strategi untuk mengatasi setiap penolakan, yaitu:
·      Negosiasi, untuk mengatasi penolakan akibat kepentingan pribadi.
·      Pendidikan, untuk mengatasi penolakan akibat kebiasaan, pengetahuan saat ini dan kurang percaya.
·      Paksaan dan dukungan, untuk mengatasi penolakan karena rasa tidak aman.
·      Partisipasi, untuk mengatasi penolakan akibat perbedaan persepsi.
b.   Memperkuat perubahan secara konstan
Orang tidak berubah dengan cepat. Dalam proses perubahan penting untuk mengidentifikasi apa yang tidak berubah dengan baik. Individu membutuhkan ide dan cara kerja baru yang diperkuat secara konstan untuk membantu mereka berubah dan menyesuaikan diri dengan situasi baru.

J.      Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang.
a.    Konteks studi psikologi
Abin syamsuddin makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:
1.    Durasi kegiatan;
2.    Frekuensi kegiatan;
3.    Persistensi pada kegiatan;
4.    Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan;
5.    Devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan;
6.    Tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan;
7.    Tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan;
8.    Arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
b.   Teori herzberg (teori dua faktor)
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Menurut herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik


EmoticonEmoticon