4/3/15

Makalah Cara Mengatasi Dampak Global Warming melalui Greevourrecom



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara bagian timur yang yang terletak di equator, sehingga akan menjadi negara yang pertama kali merasakan perubahan iklim. Dampak tersebut telah dirasakan, yakni tahun 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Perubahan ikim dapat dirasakan pada daerah dataran tinggi dan kawasan pegunungan yang kini tak lagi sedingin dulu. Iklim pun kian sulit diprediksi dengan tepat. Bencana global ini sebenarnya justru dipicu oleh aktivitas manusia itu sendiri yang telah mengeruk alam (eksploitasi berlebih), tanpa adanya pembenahan. Akibatnya, alam mulai memberontak akibat keseimbangan ekosistem yang tidak stabil. Hal tersebut menyebabkan bumi mulai memanas dan terjadi perubahan  iklim secara global (Affandi, 2008).
Perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global telah menjadi isu besar di dunia. Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan global. Deretan bencanapun kian panjang  seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, gagal tanam dan panen hingga konflik-konflik horizontal di dalam masyarakat (Affandi, 2008).
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis menyusun gagasan tertulis mengenai berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi pemanasan global, untuk itu penulis mengangkat judul “Upaya Penanggulangan Global Warming Melalui Greevourrecom”. Sebenarnya rangkaian upaya penanggulangan tersebut sudah dicanangkan sejak lama. Namun, permasalahan yang muncul akibat pemanasan global tersebut hingga saat ini belum dapat teratasi secara maksimal.
Tujuan
1.      Untuk mengkaji berbagai dampak yang ditimbulkan akibat adanya pemanasan global (Global Warming).
2.      Untuk mengetahui cara yang paling efektif dalam menanggulangi pemanasan global (Global Warming).

Manfaat
1.      Bagi masyarakat umum, dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa pemanasan global memiliki berbagai dampak yang cukup serius dan tidak dapat diabaikan begitu saja, baik dalam kurun waktu yang lama maupun singkat.
2.      Bagi dunia keilmuan, penulisan karya ilmiah ini diharapkan mampu mendorong perkembangan ilmu-ilmu sains, serta memberikan informasi ilmiah mengenai berbagai dampak sekaligus penanggulangan terhadap pemanasan global.    



GAGASAN
Tinjauan Umum Pemanasan Global (Global Warming)
Pengertian Global Warming
Global Warming terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca. Disebut sebagai gas rumah kaca karena gas tersebut berfungsi seperti kaca yang berada dalam rumah kaca. Sinar matahari yang dipancarkan ke bumi sebagian besar akan dikembalikan lagi ke atmosfer. Karena adanya gas-gas rumah kaca, maka sinar matahari yang seharusnya dikembalikan ke atmosfer tersebut akan dipantulkan kembali ke bumi, pemantulan inilah yang menyebabkan temperatur meningkat. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, maka semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya (Hamit, 2008).
Gas tersebut antara lain karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrooksida (N2O), chloro-fluoro-carbon(CFCs), hidro-fluoro-carbon (HFCs), dan sulfur heksafluorida (SF6). Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Jadi dapat dijelaskan bahwa pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperature rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Temperature bumi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Peningkatannya rata-rata 0,60C, bahkan bisa lebih tinggi hingga 1,4 - 5,80C. saat ini temperatur permukaan bumi rata-rata sekitar 150C (Susanta dkk, 2007).
Johannis dalam sebuah artikel menuturkan bahwa pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperature global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (grrenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana(CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.
Berbagai Dampak Global Warming
            Dengan meningkatnya temperatur global dapat dipastikan akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru. Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi (Hamit, 2008).
            Dampak lebih lainnya adalah meningkatnya volume air laut sehingga permukaan air laut akan naik sekitar 9-100 cm yang menimbulkan banjir di daerah pantai dan dapat menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota besar yang berada di tepi laut, curah hujan yang berada di daerah yang beriklim tropis akan lebih tinggi dari normal, tanah akan lebih cepat kering walaupun sering diguyur hujan dan kekeringan tanah ini mengakibatkan banyak tanaman mati. Hal tersebut mengakibatkan beberapa tempat mengalami kekurangan makanan, akan sering terjadi angin besar dimana-mana, berpindahnya hewan dan tanaman ke daerah yang lebiih dingin, musnahnya hewan dan tanaman yang tidak mampu berpindah atau beradaptasi (Susanta dkk, 2007).
            Adapun sebuah artikel menjelaskan bahwa pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan biogeofisik seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit.
            Adapun dampak dari aktifitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara, (c) gangguan terhadap pemukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit (Hamit, 2008).
Tinjauan Umum Greevourrecom
Salah satu cara efektif untuk menanggulangi pemanasan global adalah melalui greevourrecom. Greevourrecom merupakan sebuah singkatan yang menyatakan gabungan dari Green Revolution, Four Re (Reduce, Reuse, Recycle, Replace)  dan Composting.
Revolusi hijau (Green Revolution)
Green revolution merupakan cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara yakni dengan menanam tanaman dalam jumlah banyak dan memeliharanya. Tanaman akan menyerap karbon dioksida untuk proses fotosintesis dan akan melepaskan oksigen ke udara. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan sangat tinggi, sedangkan tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah yang tidak subur lagi. Upaya reboisasi hutan merupakan langkah yang tepat untuk menyeimbangkan semakin bertambahnya gas rumah kaca (Susanta dkk, 2007).
            Reduce, Reuse, Recycle, Replace, dan Composting merupakan salah satu bentuk penanggulangan terhadap sampah. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri, misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Laju pengurangan sampah lebih kecil dari pada laju produksinya. Hal ini lah yang menyebabkan sampah semakin menumpuk di setiap penjuru kota (Hamit, 2008).
            Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan. Salah satunya berpengaruh pada perubahan iklim akibat adanya kenaikan temperature bumi atau disebut juga pemanasan global. Seperti yang telah kita ketahui, pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbondioksida (CO2), metana(CH4), dan dinitrooksida (N2O). dari tumpukan sampah ini akan dihasilkan berton-ton gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas metana (CH4) dapat dirubah menjadi sumber energi yang akhirnya bisa bermanfaat bagi manusia. Sedangkan gas karbondioksida (CO2), sampai saat ini belum ada pemanfaatan yang signifikan (Hamit, 2008).
            Gas karbondioksida yang dihasilkan di tempat pembuangan akhir (TPA-TPA) pun tidak hanya berasal dari penumpukan sampah-sampah saja. Tetapi berasal juga dari pembakaran-pembakaran sampah plastik yang dilakukan oleh pemulung. Para pemulung ini membakar sampah plastik untuk lebih memudahkan dalam memilih sampah-sampah yang tidak bisa dibakar seperti besi. Padahal dengan pembakaran ini akan sangat merugikan terutama bagi kesehatan masyarakat di sekitar tempat pembakaran. Besarnya gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari pembakaran akan semakin meningkatkan temperature di permukaan bumi ini. Selain itu abu dari sisa pembakaran sampah akan menimbulkan gangguan pernafasan pada masyarakat sekitar (Hamit, 2008).
            Untuk itu Reduce, Reuse, Recycle, Replace, dan Composting merupakan cara yang efektif untuk mengatasi masalah pemanasan global yang diakibatkan oleh penumpukan sampah (Hamit, 2008).
Reduce (mengurangi sampah)
Reduce (mengurangi sampah) merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah. Sebisa mungkin lakukan minimalisi barang atau material yang kita gunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan (Hamit, 2008).
Reuse (menggunakan kembali)
Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Apa saja barang yang masih bisa digunakan, seperti kertas berwarna-warni dari majalah bekas dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta lingkungan (Hamit, 2008).
Recycle (mendaur ulang)
Recycle (mendaur ulang), mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, aluminium, gelas, dan plastik. Langkah utama dari mendaur ulang adalah memisahkan sampah yang sejenis dalam satu kelompok (Hamit, 2008).
Sampah metal merupakan bahan anorganik yang susah dihancurkan dan tidak dapat dibakar. Namun, sampah metal khususnya besi (ferum) dan campurannya masih dapat hancur secara alami melalui reaksi oksidasi yang membentuk karat (proses korosi), akan tetapi proses ini berlangsung sangat lama. Sisa metal pada sampah biasanya berasal dari rongsokan alat-alat dapur, rumah tangga, kaleng bekas, alat tulis serta alat lainnya. Penggunaan sisa metal yang berasal dari rongsokan alat-alat berat seperti mobil, kereta api, traktor, dan alat berat lainnya sudah banyak dilakukan orang. Barang-barang ini setelah dikumpulkan dipecah-pecah (scraping) dan dijual sebagai besi tua yang kemudian diolah kembali menjadi produk metal lainnya, dan biasanya digunakan oleh industri pengolah logam yang digunakan sebagai bahan bakunya (Bahar, 1986).
Sampah kaca merupakan bahan anorganik yang tidak dapat dibakar dan susah dihancurkan, sampah kaca sering mengganggu karena tajam dan dapat melukai. Penggunaan sampah kaca yang sudah biasa dilakukan orang dan dapat dikembangkan adalah dalam bidang bangunan, yaitu untuk membuat dinding-dinding atau tiang beton membentuk keindahan dan karakteristik tersendiri, dengan cara memasangnya pada bagian luar dengan aturan artistik yang diinginkan, selain itu sampah kaca juga dapat digunakan dalam pembuatan pot-pot bunga serta souvenir lainnya (Bahar, 1986).
Sampah plastik dan karet merupakan bahan organik yang susah dihancurkan melalui proses alami, kalaupun bisa prosesnya berlangsung cukup lama. Di Indonesia perusahaan-perusahaan yang mengolah kembali sisa atau sampah plastik dan karet menjadi produk baru lainnya suah banyak didirikan pada berbagai kota, akan tetapi jumlahnya masih belum seimbang dengan jumlah plastik dan karet yang diproduksi masyarakat. Perusahaan ini membeli sampah dan sisa plastik atau karet yang telah dikumpulkan dan dibersihkan oleh orang-orang tertentu, dibawa ke pabrik dan di sini melalui proses kimiawi maupun fisik diolah kembali menjadi produk lainnya (Bahar, 1986).
Sampah kertas jumlahnya cukup besar jika dibandingkan dengan sampah jenis lainnya (Holmes, 1980). Sampah kertas dapat digunakan sebagai bahan baku atau campuran bahan baku pada industri kertas, dalam pengembangan ini perlu kerjasama dan keikutsertaan pabrik kertas untuk menampung kembali sisa dan sampah kertas yang telah dibersihkan dan disortasi serta disesuaikan dengan spesifikasi yang diinginkan untuk dijadikan bahan baku pabrik kertas tersebut (Bahar, 1986).
Sampah kayu dan sejenisnya biasa digunakan kayu bakar secara langsung. Akan tetapi sampah kayu ini juga sering digunakan/diolah menjadi arang yang akhinya juga digunakan sebagai bahan bakar. Sampah-sampah kayu berupa sisa-sisa bangunan, hasil tebangan pohon kayu, batok kelapa dan jenis lainnya dibakar dengan cara tertentu. Pembakaran tidak sempurna dan tidak menjadi abu dalam suatu lobang atau tempat yang memang sudah dipersiapkan untuk itu. Setelah pembakarannya dirasakan cukup, disiramkan air untuk mematikan apinya, kemudian dikeringkan lagi (biasanya dijemur) dan terbentuklah arang yang sudah siap dipasarkan (Bahar, 1986). 
Replace (mengganti)
            Replace (mengganti), yakni mengganti barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Usahakan agar teliti terhadap barang dipakai sehari-hari, misalnya dengan hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan (Hamit, 2008).         
Composting (pembuatan kompos)
Composting merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik, misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), dan sisa makanan. Pembusukan itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor, dan kalium yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman (Hamit, 2008).
            Tentunya cara ini akan lebih baik digunakan dari pada dengan cara pembakaran. Selain mengurangi efek pemanasan global dengan mengurangi volume gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan, cara ini tidak mempunyai efek samping bagi masyarakat ataupun lingkungan (Hamit, 2008).
Penelitian Terkait Global Warming dan Berbagai Dampak yang Ditimbulkan
            Para pakar dari berbagai disiplin ilmu dalam pertemuan ilmiah yang diselenggarakan Intergovermental Oceanographic Commisision (IOC) UNESCO di Paris, Juni 2006, melaporkan bahwa permukaan laut di seluruh dunia sudah naik 3 milimeter per tahun atau sekitar 30 cm  dalam satu abad. Laporan itu lebih tinggi dari pada besaran yang sering dikutip dalam laporan International Panel On Climate Change (IPCC), yaitu 2 milimeter per tahun. Para peneliti, termasuk penulis yang turut mempresentasikan hasil kajian peningkatan permukaan laut di Indonesia, menyampaikan berbagai hasil penelitian terbaru tentang kenaikan permukaan laut yang terjadi di berbagai belahan dunia termasuk peta perubahan lapisan es di kutub (Manurung, 2008).
            Bumi yang semakin memanas ini menyebabkan dua faktor utama yang membuat permukaan laut naik. Pertama, penambahan massa air akibat mencairnya lapisan es yang ada di daerah kutub. Kedua, volume air laut bumi memuai (thermal expansion). Para pakar mengkhawatirkan semakin banyaknya fakta yang mendukung bahwa proses pemanasan global ke depan akan lebih cepat dari pada waktu sebelumnya. Dampak dari kenaikan permukaan laut yang bisa saja mencapai 1 meter dalam satu abad ini sudah menjadi permasalahan yang sudah ditangani karena akan menyebabkan perubahan ekosistem dan habitat di daerah pantai termasuk mengancam kehidupan manusia diperkirakan lebih dari 37% yang saat ini berdiam di sekitar batas 100 km dari bibir pantai (Manurung, 2008).
Hubungan Global Warming Dengan Greevourrecom
            Berbagai dampak akibat global warming dapat ditanggulangi melalui greevourrecom, dalam gagasan tertulis ini diungkapkan mengenai tindakan greevurrecom (green revolution, reduce, reuse, recycle, replace, dan composting).
            Green revolution merupakan upaya yang tepat untuk menanggulangi pemanasan global yang mana fungsinya adalah untuk menghilangkan/mengurangi karbondioksida di udara. Adapun reduce, reuse, recycle, replace, dan composting merupakan upaya penanggulangan pemanasan global melalui pemanfaatan sampah. Jika besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani dibiarkan begitu saja maka akan menyebabkan berbagai permasalahan. Salah satunya berpengaruh pada perubahan iklim akibat adanya kenaikan temperatur bumi atau disebut juga pemanasan global.  
Sumber Data Deskriptif
            Hasil dari Indonesia kajian Bakosurtanal berdasarkan data pengamatan 15 dari 90 stasiun pemantau permukaan laut yang pengamatannya sudah melebihi 10 tahun menunjukkan adanya kenaikan permukaan laut rata-rata berkisar 3-7 mm/tahun. Kenaikan permukaan laut yang terpantau dari pelabuhan ke pelabuhan tidak selalu sama diantaranya disebabkan faktor terjadi penurunan tanah atau subsidensi di sekitar areal pelabuhan tempat pengamatan laut dilakukan. Seperti contoh daerah pantai barat Sumatra, kenaikan permukaan laut tidak akan terasa karena pantainya rata-rata terangkat akibat gempa besar yang terjadi pada waktu tsunami Aceh 26 Desember 2004 dan gempa Nias 22 April 2005. Sebaliknya kenaikan permukaan laut akan semakin tinggi dampaknya di pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatra karena adanya faktor subsidensi (Manurung, 2008).
            Menurut laporan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) bahwa peningkatan 20-50 cm permukaan air laut dapat terjadi di garis pantai berjarak total 100.000 km. pantai-pantai yang terancam tenggelam terutama adalah Delata Mutiara di Cina dan Delta Bangladesh. Akibatnya, ratusan jiwa penduduk sempat terancam kehilangan tempat tinggal. Laporan tersebut juga mengungkapkan peningkatan permukaan air laut dan curah hujan berisiko memicu wabah penyakit menular di wilayah-wilayah yang terpengaruh. Karena itu, ratusan jiwa penduduk yang terkena bencana berisiko terserang malaria dan demam berdarah (Affandi, 2008).

Kesimpulan
Dengan adanya berbagai dampak pemanasan global seperti yang diuraikan di atas, di zaman yang serba modern ini, penulis menemukan solusi baru yang lebih mudah dan murah untuk dilakukan bagi seluruh kalangan serta tidak memerlukan waktu lama untuk proses penanganan seperti penanaman pohon dan penanggulangan sampah. Dengan adanya penanaman pohon (green revolution) serta penanggulangan sampah melalui reduce, reuse, recycle, replace, dan composting masalah pemanasan global akan dapat tertanggulangi secara efektif. 
Saran
1.      Disarankan, terutama bagi masyarakat untuk melakukan penanaman pohon/tanaman serta melakukan penanggulangan sampah melalui reduce, reuse, recycle, replace, dan composting sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi pemanasan global.
  1. Hasil dari penelitian ini, dapat memberikan informasi baru kepada masyarakat maupun pihak terkait untuk menemukan alternatif baru dalam menanggulangi pemanasan global.   

DAFTAR PUSTAKA
Susanta, Gatut dan Sutjahjo, Hari.2007. Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global. Jakarta : Penebar Plus
Bahar, Yul H. 1986. Teknologi Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Jakarta: PT. Waca Utama Pramesti
Affandi, Imam. 2008. Ancaman Global warming Bagi Manusia. (online) (http://imamaffandi.wordpress.com/2008/02/17/ancaman-global-warming-dalam-kehidupan-manusia/.....) diakses tanggal 30 januari 2010
Hamit.2008. Pemanasan Global dan Teman-temannya. (online)       (http://hmit.wordpress.com/2008/02/11/pemanasan-global-dan-teman-temannya/....)diakses tanggal 30 januari 2010
Hamit.2008. Pemanfaatan Sampah Sebagai Upaya Mengurangi Pemanasan Global. (online) (http://hmit.wordpress.com/2008/02/18/pemanfaatan-sampah-sebagai-upaya-mengurangi-pemanasan-global/....) diakses tanggal 30 januari 2010
Manurung, Parluhutan. 2008. Ancaman Global Warming Kian Nyata. (online) (http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=2950) diakses tanggal 30 januari 2010


EmoticonEmoticon