4/9/15

Pandugan Wawancara Riset

Tags


A.      Wawancara Riset
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Kegiatan wawancara dilakukan dengan tujuan untuk menghimpun data yang diinginkan dari narasumber  yang sesuai dengan tujuan dalam wawancara. Sementara wawancara riset menurut Soegeng Ysh (2006) wawancara riset (the reasearch interview) atau penelitian dengan wawancara sesungguhnya tidak disebut sebagai metode penelitian melainkan lebih merupakan sarana (alat, instrumen) pengumpulan data.

Wawancara merupakan salah satu instrumen strategis yang dapat digunakan oleh seorang peneliti untuk dapat memperoleh data dari seseorang responden. Oleh sebab itu wawancara sangat penting dan untuk memahami wawancara riset lebih mendalam.
1.      Reabilitas meningkat dengan objektivitas
Reabilitas meningkat dengan objektivitas dapat diartikan bahwa kepercayaan hasil wawancara akan meningkat jika wawancara dilaksanakan  berlandasakan pada prinsip objektivitas. Menurut Soegeng Ysh (2006) wawancara dapat dilaksanakan dengan tigas cara yaitu: tidak terstruktur, setengah terstruktur, dan terstruktur.
a.       Wawancara tidak terstruktur
Digambarkan oleh Carl Rogers sebagai teknik konseling (bimbingan) yang tebrpusat pada klien, artinya memberi responden kebebasan yang luas untuk menyatakan sendiri dengan caranya, dan waktunya sendiri. Pada wawancara tidak terstruktur  hal-hal yang akan ditanyakan belum ditetapkan secara rinci. Rincian topik pertanyaan disesuaikan dengan kondisi dilapangan. Pewancara menetapkan tujuan umum atau khusus yang dirasa yang dapat ditemukan tanpa membuat kesan pada responden. Wawancara tidak terstruktur ini dapat dikatakan merupakan struktur wawancara yang paling rawan dikritik dibandingkan kedua struktur wawancara lainnya.
b.      Wawancara setengah terstruktur
Wawancara setengah terstruktur dapat digambarkan sebagai cara wawancara dengan mengembangkan inti pertanyaan terstruktur, menjadi lebih luas, dan mendalam.
c.       Wawancara terstruktur
Wawancara ini menuntut pewawancara mengikuti struktur yang telah ditetepkan berupa format pertanyaan objektif. Pertanyaan-pertanyaan ini lebih berorientasi pada fakta, ditujukan pada informasi khusus, dan relatif singkat.

2.      Merencanakan suatu studi wawancara
Dalam merencanakan studi wawancara dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Menetapkan maksut dari studi, hal tersebut mencakup: latar belakang, landasan teoretikal, tujuan umum, kemungkinan pemanfaatan hasil, dan alasan menggunakan metode wawancara.
b.      Menjabarkan tujuan umum ke dalam tujuan khusus dan terperinci.
c.       Mengembangkan suatu panduan sementara untuk mengembangkan wawancara.
d.      Mengembangkan metode yang memuaskan guna membuat kode atau merekam jawaban (tanggapan).

3.      Menyusun pertanyaan untuk wawancara
Dalam menyusun pertanyaan wawancara, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu:
a.    Pertanyaan harus disusun dalam bahasa yang menjamin komunikasi yang lebih efektif antara pewawancara dan responden.
b.    Pastikan bahwa setiap pertanyaan dapat menyenangkan bagi responden.
c.    Pastikan popuasi dari mana responden dipilih benar-benar memiliki informasi yang dibutuhkan pewawancara dan bahwa pertanyaan tersebut menghasilkan informasi yang dapat dilacak kembali.
d.   Hindarkan pada pertanyaan yang menggiring jawaban menuju jawa ban yang di senangi atau diharapkan.
e.    Beri jaminan bahwa kerangka berfikir dari setiap pertanyaan adalah jelas sehingga setiap responden menangkap pertanyaan tersebut seperti yang dimaksud.
f.     Ujicobakan butir-butir wawancara tersebut untuk mengurangi kelemahan dan siapkan butir-butir pengganti.

4.      Panduan wawancara
a.       Menggunakan cara langsung dalam wawancara, Dengan pendekatan wawancara langsung akan lebih efisien dan efektif. Sementara teknik tidak langsung akan bermanfaat jika terjadinya kecemasan yang dapat menyembunyikan jawaban yang sebenarnya.
b.      Teknik wawancara utamanya cocok bagi anak-anak.
c.       Kelamahan utama dari teknik wawancara adalah membutuhkan waktu yang lama dan mahal.
d.      Tiga maksud dari wawancara dalah sebagai berikut:
1)      Sebagai sarana eksplorasi untuk mengidentifikasi variabel dan hubungan, untuk mebyarankan hipotesis,  dan untuk memandu fase riset yang lain.
2)      Sebagai instrumen utama dalam riset.
3)      Sebagai pelengkap metode lain.
e.       Manfaat wawancara tergantung pada pertimbangan berikut.
1)        Apakah data riset dapat diperoleh dengan cara lebih mudah atau lebih baik?
2)        Untuk menjamin reabilitas wawancara pewawancara harus dilatih dan pertanyaan-pertanyaan harus diujicobakan dan ditinjau kembali untuk menhilangkan makna ganda.
3)        Untuk menjamin validitas, hal yang paling penting menghilangkan bias wawancara.
f.       Pertanyaan terstruktur lebih efisien jika melibatkan informasi-informasi faktual, sementara pertanyaan tidak terstruktur lebih berhasil jika pertanyaan-pertanyaan sangat kompleks dan sulit dipahami.
g.      Tiga bentuk butir pertanyaan
1)        Buturi pertanyaan pasti (tertutup). Misal penarikan pendapat (apakah anda, apakah anda tidak.......). Keuntungan lebih banyak keseragaman dan reabilitas, namun kelemahan dangkal, palsu dan dibut-buat.
2)        Butir-butir pertanyaan terbuka. Keuntungan memungkinkan keluesan, kedalaman, kejelasan dan ketelitian. Sementara kelemahannya lebih makan waktu, menuntut keterampilan lebih dari pewawancara.
3)        Butir-butir skala (responden menunjukan jawabannya sebagai suatu posisi dalam sepanjang beberapa skala). Kunutungan objektivitas, keseragaman, reabilitas lebih mudah memberi kode jawaban dan memanipulasi data. Kelemahan masih cendrung pada kepalsuan.
h.      Kriteria penulisan pertanyaan
1)        Apakah pertanyaan terkait dengan masalah dan tujuan penelitian.
2)        Apakah bentuk pertanyaan merupakan bentuk benar dan cocok?
3)        Apakah butir tersebut jelas dan tidak bermakna ganda?
4)        Apakah pertanyaan tersebut mengarahkan dengan cara tertentu?
5)        Apakah pertanyaan tersebut menuntut pengetahuan dan informasi yang tidak dimiliki oleh responden?
6)        Apakah pertanyaan tersebut menuntut informasi personal dan sensitif.
7)        Apakah pertanyaan tersebut mengandung muatan keinginan masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
Soegeng, Ysh., A.Y. 2006. Dasar-Dasar Penelitian. Semarang: IKIP PGRI Press
Prabowo, H. 1996. Psikologi Rumah Tinggal: Beberapa Konsep dan Implikasi Dalam  Desain. Jakarta: Fakultas Psikologi Gunadarma


EmoticonEmoticon