12/16/15

Keterampilan Menyimak Definisi, Tahapan, Jenis-Jenis Dari Menyimak

Tags
MENYIMAK

A.    Pengertian dan Batasan
Dalam bahasa Karo terdapat suatu pemeo yang berbunyi “Tuhu nge ibegina, tapi idengkehkenna” yang bermakna “memang didengarnya, tapi tidak disimaknya”.
Antara suami istri dalam rumah tangga atau antara muda-mudi pada masa pacaran sering terdengar main-main atau selong tetapi sebenarnya bermakna dalam, yang berbunyi: “Abang sih, main-main saja. Kalau abang cinta sama adik, jangan hanya mendengar isi hati adik, tetapi harus juga menyimaknya”.
Pada orang tua sering pula kita dengar memberi nasihat kepada putra-putrinya: “Kalau orang tua sedang berbicara, hangan hanya sekedar mendengar saja, masuk dari telinga kiri keluar telinga kanan, tetapi simaklah, dengarkanlah baik-baik. Masukkan ke dalam hati”.
Memang di atas bumi ini terdapat banyak telinga yang kegiatannya hanya sampai tingkat mendengar saha, tetapi belum sampai pada taraf menyimak. Sampai-sampai Nabi Yeremia mengeluh karena jemaatnya banyak yang mempunyai mata tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga tetapi tidak mendengar, (Yeremia, 5:21).
Dari cukilan-cukilan diatas dapat kita lihat bahwa terdapat perbedaan antara mendengar dan menyimak. Dalam bahasa Inggris mendengar, berarti “to hear”, sedangkan menyimak bermakna “to listen”, atau dalam bentuk gerund-nya masing-masing hearing dan listening.
Don Brown, dalam disertasinya yang berjudul “Auding as the Bimary Language, Ability” pada Standford University, 1954, menyarankan bahwa istilah-istilah learning dan listening kedua-duanya terbatas dalam makna dan bahwa cuding yang diturunkan dari kata-kerja neologis to aud, lebih tepat melukiskan, memerikan ketrampilan yang ada sangkut pautnya dengan para guru. “Auding is the ears what reading is to the eyes”. Kalau membaca merupakan proses besar melihat, mengenal serta menginterpretasikan lambang-lambang tulis, maka menyimak dapatlah dibatasi sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan (Anderson, 1972:68).
Bahkan Russell & Russel mempergunakan formula berikut ini untuk mengkontraskan atau mempertentangkan reading dan auding lebih lanjut:

Secing is to Hearing
as
Observing is to Listening
as
Reading is to Auding

Atau dalam bahasa Indonesia
Kalau: Melihat bagi Mendengar
Maka
Mengamati bagi Mendengarkan
Dari
Membaca bagi Menyimak

Maka dengan demikian, menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi. (Russell & Russell, 1959, Anderson, 1972:69).
Menyimak dan membaca berhubungan erat karena keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi, perbedaannya terletak dalam hal jenis komunikasi: menyimak berhubungan dengan komunikasi lisan, sedangkan membaca berhubungan dengan komunikasi tulis. Dalam hal tujuan keduanya mengandung persamaan, yaitu: memperoleh informasi, menangkap isi, memahami makna komunikasi (Tarigan, 1980: 9 – 10).
Dari pembicaraan diatas, maka dapatlah kita tarik kesimpulan serta membuat batasan menyimak sebagai berikut:
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komuniaksi yanag tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

B.     Tahap-tahap Menyimak
Menurut Ruth G. Strickland, terdapat 9 tahap menyimak yang secara berurutan mulai dari yang tidak berketentuan sangat kepada yang amat bersungguh-sungguh. Tahap-tahap tersebut dapat dilukiskan sebagai berikut:

1.   Menyimak secara sadar yang bersifat berkala hanya terdapat pada saat-saat sang anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya.
2.    Selingan-selingan atau gangguan-gangguan yang sering terjadi sebaik dia mendengarkan secara intensional (atau disengaja tetapi yang bersifat dangkal (atau superfisial)).
3.    Setengah mendengarkan sementara dia menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hatinya, mengutarakan apa yang terpendam dalam hatinya.
4.    Penyerapan, absorpsi, keasyikan yang nyata selama respon atau penangkapan pasif yang sesungguhnya.
5.  Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar di perhatian yang seksama bergantian dengan keasyikan, dengan ide-ide yang dibawa oleh kata-kata sang pembicara kedalam hati dan pikiran.
6.  Menyimak asosiatif dimana pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan diingat sehingga si penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan oleh si pembicara.
7.  Reaksi berkala terhadap pebicara dengan membuat komentar atau mengajukan      pertanyaan.
8.    Menyimak secara seksama dan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang             pembicara, dan
9.  Menyimak secara aktif mendapatkan serta menemukan pikiran serta pendapat sang pembicara (Strickland, 1957. Daws [et al], 1963:154).
Perbedaan tahap-tahap menyimak sebenarnya mencerminkan perbedaan taraf keterlibatan atau keikutsertaan seseorang. Situasi-situasi berikut ini merupakan contoh-contoh tahap-tahal menyimak dipandang dari segi perbedaan maksud dan tujuan.
1.    Mendengar bunyi-bunyi katak-kata tetapi tidak memberikan reaksi kepada ide-ide yang diekspresikan, misalnya seorang ibu tahu bahwa anaknya Non bicara, tetapi sng ibu tidak memperhatikannya.
2.    Menyimak sebentar-sebentar memperhatikan sang pembicara sebentar-sebentar, contoh: mendengar satu ide pada suatu khotbah atau suatu ceramah tetapi ide-ide lainnya tidak didenganr apalagi didengarkan.
3.  Setengah menyimak, mengikuti diskusi atau pembicaraan hanya dengan maksud memperoleh suatu kesempatan untuk  mengekspresikan ide sendiri, contoh seorang yang mendengarkan suatu konversasi atau percakapan hanya untuk mencarai kesempatan untuk menemukan kepada yang hadi bagaimana caranya mengurus/memelihara ulat sutera.
4.     Menyimak secara pasif dengan sedikit responsi yang tampak, yang kelihatan contoh sang anak mengetahui bahwa sang guru mengakatan kepada seluruh kelas sekali lagi bagaimana cara berjalan di dalam ruangan, supaya jangan mengganggu orang lain, karena sang anak sudah tahu, maka penyimakannya secara pasif saja, dan responsinya pun tidak begitu besar.
5.    Menyimak secara sempit, dalam hal ini makna atau penekanan yang penting hilang dan lenyap karena sang penyimak menyeleksi detail-detail yang biasa, yang berkenan, ataupun yang sesuai padanya, yang dapat disetujuinya contoh seorang anggota partai Republik  menyimak pembicaraan seorang kandidar dari partai lain. Karena kesibukannya memilih ide yang diinginkannya maka dia kehilangan ide utama sang pembicara. Inilah akibat penyimakan yang sempit (narrow listening), ketertutupan hati seseorang.
6.  Menyimak serta membentuk asosiasi-asosiasi dengan butir-butir atau hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman pribadi seseorang, contoh: seorang siswa sekolah dasar mendengar bunyi awal kata-kata karim, kurang, kaya, kita dan menghubungkannya dengan huruf h.
7.  Menyimak suatu laporan untuk menangkap ide-ide pokok-pokok dan unsur-unsur penunjang, atau mengikuti petunjuk-petunjuk menyimak peraturan-peraturan serta uraian-uraian suatu permainan baru.
8.  Menyimak secara kritis seorang penyimak memperhatikan nilai-nilai kata emosional dalam suatu iklan atau advertensi radio.
9.     Menyimak secara apresiatif dan kreatif dengan responsi mental dan emosional sejati        yang matang, misalnya: seorang siswa menyimak gurunya membacakan riwayat perjuangan Sisimangaraja menentang penjajahan Belanda, dan memperoleh kegembiraan karena dapat mengetahui sifat-sifat pahlawan sejati. (Anderson; 1972:69).
Demikianlah telah dikemukakan tahap-tahap menyimak dari dua sumber. Dengan sedikit variasi disana-sini dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya kedua sumber seiring sejalan, kadang-kadang bertumpang tindih. Jangankan dari kedua sumber tersebut, bahkan antara tahap-tahap yang telah diajarkan itu sendiri pun terdapat tumpang tindih, Namun demikian semua itu melukiskan menyimak dalam hubungannya dengan situasi-situasi yang diketahui oleh sang guru. Kita ketahui bahwa dalam pendidikan formal atau di sekolah memang mungkin membimbing kegiatan menyimak anak-anak didik sehingga daya simaknya dapat bersifat selektif, bertujuan, tepat, kritis dan kreatif seperti juga kita dapat membimbing mereka dalam pertumbuhan ketrampilan membaca. Oleh karena itu kita perlu mengetahui jenis-jenis menyimak, tujuan, serta ciri-cirinya.

C.    Jenis-jenis Menyimak
Dalam pembicaraan terdahulu telah dikemukakan bahwa tujuan menyimak adalah untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi y ang hendak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran. Inilah merupakan tujuan umum. Di samping tujuan umum itu terdapat pula beraneka ragam tujuan khusus, yang menyebabkan adanya beraneka ragam menyimak, antara lain:
1.      Menyimak eksternsif
2.      Menyimak intensif
3.      Menyimak sosial/konversasional
4.      Menyimak sekunder
5.      Menyimak estetik/apresiatif
6.      Menyimak kritis
7.      Menyimak konsentratif
8.      Menyimak kreatif
9.      Menyimak interogatif
10.  Menyimak eksplorasi
11.  Menyimak pasif
12.  Menyimak selektif

Berikut ini akan diperbincangkan satu persatu secara berurutan:
1.      Menyimak ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berhubungan dengan atau mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap sesuai bahasa, tidak perlu dibawah bimbingan langsung seorang guru. Pada umumnya membaca ekstensif dapat dipergunakan bagi dua tujuan yang berbeda.
Penggunaan yang paling dasar ialah untuk menyajikan atau memperkenalkan kembali bahan yang telah diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru. Ini dapar merupakan suatu struktur yang baru-baru ini telah diajarkan atau suatu perangkat leksikal yang telah diperkenalkan beberapa bula sebelumnya dan memerlukan perbaikan. Keuntungan menyingkatkan bahan lama kepada siswa dengan cara ini ialah bahwa mereka melihat hal itu dengan sewajarnya dalam lingkungan yang asli dan alamiah, bukan hanya sekedar dalam konteks kelas, tempat hal itu pertama kali mungkin disajikan. Secra psikologis menyimak ekstensif terhadap bahasa “nyata” (sebagai lawan dari bahasa “tulis”) akan sangat memuaskan selama kegiatan tersebut dapat memperagakan bahwa upaya-upaya siswa di dalam kelas akan memberi keuntungan dalam kehidupan lingkungan bahasa yang hidup. Salah satu dari kegagalan-kegagalan pengajaran bahasa yang paling besar dan paling umum ialah bahwa apa-apa yang diajarkan kepada siswa secara keseluruhan tidak mencukupi untuk menggarap arus atau tumpukan rangsangan yang berhubungan dengan pendengaran yang datang kepadanya dari segala arah, pada saat pertama kalinya dia menginjakkan kaki di negeri asing (misalnya di Inggris, bagi siswa yang belajar bahasa Inggris). Maka menyimak ekstensif tipe ini akan dapat membantunya dengan baik. Bahan-bahan yang didengarnya tentu saja tidak perlu hanya merupakan suatu penyajian kembali apa-apa yang telah diketahuinya.
Menyimak  ekstensif dapat pula meladeni fungsi elanjutnya, yaitu membiarkan siswa mendengar butir-butir kosa kata dan struktur-struktur yang masih asing dan baru baginya yang terdapat dalam arus bahasa yang berada di dalam kapasitasnya untuk menanganinya. Mungkin saha terdapat kata-kata teknis yang belum dikethaui ataupun bentuk kata kerja yang baru lagi asing. Dalam hal ini terdapat suatu familiarisasi atau keakraban yang tidak disadari terhadap bentuk-bentuk yang dalam waktu singkat akan menjadi bahan-bahan pengaharan dalam suatu pelajaran bahasa, berbicara, terutama sekali yang menarik bagi usia muda merpukan suatu contoh menyimak ekstensif, dan kerapkali diketahui dan beberapa struktur yang belum diajarkan. Pemahaman tidaklah dapat secara serius dan wajar terhalang selama min paksaan terhadap cerita itu dapat menarik perhatian dan keakraban terhadap kerangka bahasa itu cukup untuk menyediakan suatu alur yang bersifat menjelaskan yang memuaskan bagi bahasa yang belum di ketahui.
Guru sendiri merupakan sumber modal dalam berceritera karena salah satu dari tujuan menyimak ekstensif adalah menyajikan kembali bahan lama dalam suatu cara yang baru, maka seringkali baik sekali bila hal ini dilakukan dengan pertolongan pita-pita otentik pembicaraan dalam masyarkat, dimana sang guru tidak terlibat di dalamnya. Yang jauh lebih efektif serta meyakinkan adalah kutipan-kutipan dari ujaran yang nyata dan hidup.
Pada umumnya, sumber yang paling baik bagi bagian-bagian menyimak ekstensif adalah rekaman-rekaman yang dibuat oleh guru sendiri. Rekaman-rekaman tersebut dapat dibuat dari berbagai sumber, misalnya dari siaran radio, televisi (Broughtor, [et al]; 1978:69-70).
2.      Menyimak intensif
Kalau menyimak ekstensif lebih diarahkan pada menyimak bahasa alamiah secara lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari sang guru, maka menyimak intensif diarahkan pada suatu yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Dalam hal ini haruslah diadakan suatu pembagian penting, yaitu:
a.       Menyimak intensif ini terutama sekali dapat diarahkan pada butir-butir bahasa sebagai bagian dari program pengajaran bahasa atau
b.      Terutama sekali dapat diarhkan pada pemahaman serta pengertian umum. Jelas bahwa dalam kasus yang kedua ini makna bahasa secara umum sudah diketahui oleh para siswa.
Kita perlu mengingat bahwa kosa kata percakapan kerapkali sangat berbeda dengan kosa kata bahasa tulis yang mungkin saha lebih diakrabi oleh siswa. Oleh karena itu, maka m enyimak pada percakapan-percakapan sangat bermanfaat baginya untuk membiasakan pendengarannya terhadap apa yang hendap didengarnya, kalau dia mengunjungi daerah asal bahasa asing tertentu (misalnya mengunjungi Inggris, bagi siswa yang belajar bahasa inggris, mengunjungi Indoneis bagi siswa Australia yang belajar bahasa Indonesia).
Dismping ke arah leksikal, menyimak pun dapat pula ditujukan pada maksud-maksud gramatikal. Untuk ini harus dipilih bahan yang mengandung ciri ketatabahasaan tertentu sesuai dengan tujuan, Sesudah itu diberikan pula latihan-latihan yang sesuai dengan tujuan. Salah satu cara yang amat sederhana untuk melatih tipe menyimak seperti ini ialah menyuruh para siswa menyimak, tanpa teks tertulis sekali atau dua kali, suatu bagian yang mengandung beberapa penghubung kalimat, kemudian memberikan kepada mereka teks-teks tertulis dengan mengosongkan tempat penghubung-penghubung kalimat itu berada. Tugas mereka adalah mengisinya tanpa menyimak pada puita lagi. Pada umumnya praktek dan latihan menyimak itu sering sekali dilalaikan orang pada tingkat wacana. Dalam hal itu penekanan dapat diletakkan pada fonologi, kosa-kata, dan tata bahasa katak-kata dan bahkan kalimat, tetapi mata rantai-mata rantai linguistik yang menghubungkan atau memadukan kalmat-kalimat menjadi suatu wacana yang logis biasanya dilupakan, dan dengan demikian maka pemahaman pendengaran (aural comprehension) pada siswa terhalang tidak dapat berkambang dengan memuaskan.
Kita semua sama-sama maklum bahwa adalah mungkin mendengar dengan sempurna, tetapi belum tentu dapat menyimak dengan baik, selanjutnya ada kemungkinan untuk menyimak, tetapi belum tentu memahaminya. Oleh karena itu menyimak makna merupakan suatu ketrampila penting untuk dikembangkan, tetapi haruslah pula bahwa isi yang sebenarnya dan pesan tersebut haruslah berada dalam jangkauan intelektual dan kedewasaan para siswa
Disamping itu ada faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan selain daripada bahan aktual teks aural itu. Salah satu diantaranya adalah formalitas bahasa yaitu situasi tempat berada pada poros berikut ini:
Slang – akrab – netal – formal
Kebanyakan kelas sedikit sekali mengingat latihan dan praktek dengan sesuatu selain daripada bahasa netral. Faktor lain menyangkut kecepatan pengutaraan: apakah itu suatu percakapan yang cepat atau suatu ujaran yang diatur? Lebih jauh, apakah dipersiapkan dan dilatih, ataupak mendadak tanpa persaingan beberapa orang ikut terlibat? Jelaskan bahwa semakin bantak telibat semakin sulit jadinya. Apakah aksen si pembicara sudah biasa didengar oleh siswa? Aksen-aksen bahasa regional atau kelompok sangat membingungkan siswa pada pendengaran pertama, bahkan bagi beberapa siswa mencemaskan. Sekali lagi, kekurang akraban dengan faktor-faktor  ini benar-benar dapat mengganggu pemahaman siswa terhadap makna bagian tersebut.
Suatu hal lagi yang harus dipertimbangakan baik-baik, yaitu pemakaiannya sama saja bagi menyimak demi bahasa atau bahasa menyimak demi makna, dalah tiper pertanyaan yang diajarkan kepada siswa. Yang paling sederhana adalah bentuk pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, dan benar atau salah. Pada latihan-latihan. Juga dapat dipergunakan latihan mengisi titik-titik kosong dengan kata-kata atau frase-frase yang sesuai. Pendeknya, segala pertanyaan dan latihan haruslah sesuai dengan tingkat kemampuan siswa serta tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan menyimak itu.
Menyimak pemahaman dapat pula merupakan batu loncatan bagi yang lain, misalnya buat apresiasi sastra. (Broughton [et al]; 1978 : 72-74).
3.      Menyimak sosial
Pengalaman menunjukkan bahwa anak kecil mempunyai sedikit alasan atau sebab untuk menyimak secara tekun dan sungguh-sungguh. Cukuplah kalau sang anak mempunyai jenis pilihan menyimak secara acak (random) kalau dia  mengobrol dengan teman-teman sebayanya pada kegiatan-kegiatan bermain atau dengan keluarganya dalam suatu usaha menjadi orang penceramah yang suka bergaul. Juga, dia menyimak secara kebetulan walaupun dengan perhatian yang nyata, pada cerita-cerita yang dibacakan atau disampaikan oleh ibunya. Menyimak secara kebetulan seperti itu sangat penting sepanjang hidup kita dan dapat dikatkan mempunyai beberapa fase, yaitu:
a.       Menyimak sosial
b.      Menyimak sekunder
c.       Menyimak estetik
Menyimak sosial (social listening) atau menyimak konversasional (conversational listening) ataupun menyimak sopan  (courtens listensing) bisanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang dan saling mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi yang pantas, mengikuti detail-detail yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan, dikatakan oleh seorang rekan (Dawson, [et al]; 1963 : 153).
Dengan perkataan lain dapat dikemukakan bahwa menyimak sosial paling sedikit mencakup dual hal, yaitu:
a.       Menyimak secara sopan santun dan dengan penuh perhatian percakapan atau konversasi dalam situasi-situasi sosial dengan suatu maksud.
b.      Mengerti serta memahami peranan-pernanan pembicara dan menyimak dalam proses komunikasi tersebut (Anderson, 1972:69).
Oranag-orang yang dapat mentaati kedua hal tersebut di atas dikatakan sebagai anggota-anggota masyarakat yang baik.
4.      Menyimak sekunder
Menyimak sekunder (secondary listening) adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan dan secara ekstensif (casual listening dan extensive listening), misalnya:
a.       Menyimak pada musik yang mengiringi ritme-ritme atau tari-tarian rakyar di sekolah dan pada acara-acara radio yang terdengar  secara sayup-sayup sementara kita menulis surat pada teman di rumah.
b.      Menikmati musik sementara ikut berpartisipasi dalam tipe tertentu kegiatan-kegiatan sekolah seperti melukis pekerjaan tangan dengan tanah liat, membuat seketsa, dan latihan menulis dengan tulisan tangan (Dawson, [et al]; 1963 : Anderson; 1972 : 69).
5.      Menyimak estetik
Menyimak estetik (esthetic listening) ataupun yang disebut juga menyimak apresiatif (appreciation listening) adalah terakhir dari kegiatan menyimak secara kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif, mencakup:
a.       Menyimak musik, puisi, membaca bersama, atau drama, terdengar pada radio atau rekaman-rekaman.
b.      Menikmati cerita-cerita, puisi-puisi, teka-teki, gemereng irama, dan lakon-lakon yang dibacakan atau diceritakan oleh guru atau siswa-siswa (Anderson; 1972. 69. Dawson [et al] 1963: 153).
Ketiga jenis menyimak tadi yaitu menyimak sosial, menyimak sekunder, dan menyimak estetik, dapat dimasukkan ke dalam kelompok menyimak ekstensif yang telah dibicarakan diatas.
Dan selanjutnya jenis-jenis menyimak kritis, menyimak kreatif sentratif, menyimak kreatif, menyimak interogatif, menyimak eksplorasi yang akan diperbincangkan berikut ini termasuk dalam kelompok menyimak intensif.
6.      Menyimak kritis
Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang di dalamnya sudah terlihat kurangnya (tiadanya) keaslian, ataupun kehadiran prasangka serta ketidak telitian yang akan diamati. Adalah merupakan seorang menyimak yang terkecuali bila dia dapat menyimak secara objektif dan dapat menghargai suatu tuntutan yang menarik emosi ataupun suatu disertasi yang menuntut perasaan dan dengan suatu kesimpulan yang faktual serta dapat dipertahankan. Namun demikian, dalam masyarakat demokrasi kini kita tetap saja dapat menemui situasi-situasi tempat pada penghasut atau para demagog menyemburkan kebenaran-kebenaran yang masih dapat dipertahankan keasliannya. Fakta-fakt yang berubah-ubah dan pendapat-pendapat mereka yang penuh prasangka, membuat para penyimaknya perlu menlai dengan teliti apa-apa yang telah dikatakan oleh si pembicara dalam suatu upaya untuk menentukan apakah informasi serta pendengaran-pendengarannya itu terpercaya, terandalkan ataukah tidak. Anak-anak kita perlu belajar mendengarkan, menyimak secara kritis untuk memperoleh kebenaran (Dawson, [et al]; 1963:154).
Secara agak terperinci kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak kritis adalah sebagai berikut:
a.       Memperhatikan kebiasaan-kebiasaan ujaran yang tepat, kata, pemakaian kata, dan unsur-unsur kalimat yang lain-lainnya.
b.      Menyimak untuk menentukan alasan “mengapa”
c.       Menyimak untuk memahami makna-makna petunjuk-petunjuk konteks
d.      Menyimak untuk membedakan antara fakta dan fantasi, antara yang berelevansi dan yang tidak berelevansi.
e.       Menyimak untuk menarik kesimpulan-kesimpulan
f.       Menyimak untuk membuat keputusan-keputusan
g.      Menyimak untuk menemukan jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah tertentu yang memerlukan pemilihan serta konsentrasi.
h.      Menyimak untuk menentukan informasi baru atau informasi tambahan mengenai suatu topik.
i.        Menyimak menafsirkan menginterpretasikan ungkapan-ungkapan, idiom-idiom dan bahasa-bahasa yang belum umum, yang belum biasa.
j.        Menyimak secara objektif dan penuh penilaian untuk menentukan keasilan, kebenaran atau hadirnya prasangka dan ketidaktelitian-ketidaktelitian (Anderson; 1972: 69-70).
7.      Menyimak konsentratif
Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut a study-type listening atau menyimak yang merupakan sejenis telaah. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak konsentratif  ini adalah:
a.       Menyimak untuk mengikuti petunjuk-petunjuk
b.      Merasakan hubungan-hubungan seperti kelas, tempat, kualitas, waktu, urutan serta sebab dan akibat.
c.       Menyimak demi suatu maksud tertentu untuk memperoleh butir-nutir informasi tertentu.
d.      Mencapai serta memperoleh pengertian dan pemahaman melalui penyimakan yang sungguh-sungguh.
e.       Merasakan serta menghayati ide-ide utama seseorag pembicara atau sesuatu kelompok, baik sasaran maupun organissinya.
f.       Menyimak urutan ide-ide.
g.      Mencatat fakta-fakata penting (Anderson, 1972:70, Dawsin [et al]; 163:153).
8.      Menyimak kreatif
Menyimak kreatif atau creative listening mengakibatkan dalam pembentukan atau rekonstruksi seoang anak secara imaginatif, kesenangan-kesenangan akan bunyi, visi atau penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarkan oleh apa-apa yang didengarnya (Dawson, [et al]; 1963:153).
Secara lebih terperinci lagi, dalam menyimak kreatif ini sudah tercakup kegiatan-kegiatan berikut:
a.       Menghubungkan atau mengasosiasikan makna-makna dengan segala jenis pengalaman menyimak.
b.      Membangun atau mengkonstruksikan imaji-imaji visual sementara menyimak.
c.       Menyesuaikan atau mengadaptasikan imaji dengan pikiran imajinatif untuk menciptakan karya-karya atau hasil-hasil baru dalam tulisan, dan pendramaan.
d.      Menyimak untuk mencapai penyelesaian atau pemecahan masalah-masalah serta sekaligus memeriksa dan menguji hasil-hasil pemecahan masalah terssebut (Anderson: 1972:70).
9.      Menyimak penyelidikan
Menyimak penyelidikan atau exploratoty listening adalah sejenis menyimak intensif dengan maksud dan tujuan yang agak lebih sempit, dalam kegiatan menyimak seperti ini si penyimak menyiagakan perhatiannya untuk menemukan:
a.       Hal-hal baru yang menarik
b.      Informasik tambahan mengenai sesuatu topik.
c.       Atau barangkali suatu perguningan atau buah mulut yang menarik.
Dengan mudah dan dengan lega si penyimak pengeluarkan sedikit upaya untuk itu, lantaran penyelidikannya itu secara relatif bersifat insidental, kebetulan, bukan bersifat spesifik, khusus (Dawson [et al]: 1963:153).

10.  Menyimak interogatif
Menyimak interigatif atau interrogative listening adalah sejenis menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan, karena si penyimak harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dalam kegiatan menyimak interogatif ini si penyimak mempersempit serta mengarahkan perhatiannya pada pemerolehan informasi atau bangun mengenai suatau jalur khusus (Dawson [et al]; 1963:53).
11.  Menyimak pasif
Cara yang seolah-olah tidak memerlukan upaya bagi anak-anak dan sejumlah penduduk pribumi mempelahari bahasa-bahasa asing dapat disebut sebagai “menyimak pasif” atau “passive listening”, walaupun pada hakekatnya agak salah untuk membayangkan bahwa otak kita tidak jalan atau bermalas-mals saja. Yang disebut menyimak pasif adalah menyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan teliti, belajar tergesa-gesa,. Otak kita bukan masin aktifnya dalam mendaftarkan bunyi-bunyi bau-bauan, dan rupa-rupa, sekali pun pada saat kita seolah-olah mengarahkan perhatian kita pada sesuatu yang lain, bahkan pada saat kita tidur.
Kalau kita tahun bahwa tanpa upaya sadar pun otak kita dapat berbuat banyak dalam menguasai sesuatu bahasa asing maka kita akan dapat memetik keuntungan dari sumber yang tersembunyi ini. Kita hendaknya memberi otak kita setiap kesempatan untuk bekerja seefisien munkgin. Untuk melakukan hal ini  maka kita perlu mempergunakan teknik-teknik tertentu yang bermanfaat, antara lain:
a.       Berilah otak kesempatan menyimak banyak-banyak
Kita kadang-kadang tercengang menyaksikan oranag tua pribumi yang tidak bersekolah lancar sekali mempergunakan beberapa bahasa asing. Ini dimungkinkan karena mereka hidup langsung di daerah bahasa-bahasa tersebut beberapa lama dia memberi kesempatan yang cukup bagi otak mereka menyimpan bahasa-bahasa itu. Andaikata kita tidak dapat meniru kondisi-kondisi ideal orang-orang pribumi itu, namun dmeikian dapat memanfaatkan program-program radio, rekaman-rekaman sering mendengarkan kuliah-kuliah yang merupakan bahan-bahan yang memuaskan yang dapat dipergunakan oleh otak untuk mengasimilasi, memilih, serta menyimpan data-data penting mengenai bahasa.
b.      Tenang dan santai
Kegelisahan-kegelisahan, sekalipun mengenai belajar bahasa seakan-akan memutuskan upaya-upaya otak kita untuk melakukan tugasnya.
c.       Janganlah memasang rintangan-rintangan bagi bunyi-bunyi
Orang-orang yang bermukin di dekat rel kereta pai yang bising cenderung untuk melindungi diri mereka dengan”tab bunyi” penghalang secara mental, sehingga mereka  tidak mendengar kereta api lewat. Beberapa orang cenderung memasang penghalang-penghalang bunyi bagi bahasa-bahasa asing dan sebagai akibatnya mereka tidak mengasimiliasi bahasa itu sedemikian rupa sehingga hal itu seolah-olah banyak menolong mereka pada suatu tingkat kesadaran. Akan tetapi dalam beberapa contoh orang-orang ini telah diketahui mempergunakan bahasa asing dengan amat lancar, kalau mereka mabuk atau sakit jiwa.
d.      Berikanlah waktu yang cukup bagi otak
Pada akhir minggu kebanyakan orang beranggapan bahwa merek haruslah mulai berbicara sesuatu bahasa asing. Tentu saha tanpa sangsi mereka dapat memakai beberapa ekspresi, tetapi untuk memanfaatkan “passive listening” dengan sebaik-baiknya, maka seseorang haruslah memberi kesempatan bagi otan untuk bekerja beberapa bulan.
e.       Beri kesempatan bagi otak bekerja, semestera kita mengerjakan sesuatu yang lain
Adalah meupakan suatu cara yang baik memasang rekaman dalam sesuatu bahasa sementera kita bercukur, makan, membaca koran sore, ataupun pada saat bermain dengan ank-anak. Kita aakan dapat memberi perhatian yang serius sepanjang waktu; oleh sebab itu berilah kesempatan menyimak bagi oyak secara santai; banyak orang menganggap sepele akan hal itu, tetapi sangat penting dalam belajar bahasa,  terlebih-lebih bahasa asing. Jangan dilupakan bahwa pada saat tidur pun otak kita tetap aktif (Nida: 1957:27-29).
12.  Menyimak selektif
Betapapun efektifnya menyimak pasif, tetapi biasanya tidak dianggap sebagai kegiatan yang memuaskan. Ciri-ciri aktivisme yang khas tidak membiarkan kita untuk berpuas hati mempergunakan teknik atau cara pasif serupa untuk sekalipun  misalnya kita mempunyai kondisi-kondisi ideal untuk berbuat sedemikian rupa. Akan tetapu sebagai tambahan terhadap masalah-masalah psikologis yang dijelmakan oleh aktivisme kita, terdapat dua alasan yang sah mengapa kita perlu memperlengkapi menyimak pasif dengan menyimak selektif.
1)      Kita jarang sekali mendapat kesempatan untuk berpartisipasi secara sempurna dalam suatu kebudayaan asing, dan oleh karena itu hidup kiya yang bersgi ganda itu turut menganggu kapasitas kita untuk menyerap dan
2)      Kebiasaan-kebiasaan ujaran kita kini cenderung membuar kita menginterpretasikan kembali rangsangan-rangsangan akustik yang disampaikan oleh telinga kita kepda otak kita, dan karenanya kita memperoleh suatu impresi yang dinyatakan dengan tidak sebenarnya terhadap bahasa asing.
Menyimak selektif hendaknya tidaklah menggantikan menyimak pasif, tetapi justru memperlengkapinya. Kita harus berupaya untuk memanfaatkan kedua tekni tersebut dan dnegan demikian berarti mengimbangi isolasi kultural kita dari masyarakat bahasa asing itu dan tendensi kita untuk menginterpretasikan kembali semua yang telah kita dengan dengan bantuan bahasa yang telah kita kuasai. Satu-satunya cara yang mungkin membuat kita dapat terbuasa dengan bentuk akustik bahasa ialah mendengarkannya atau menyimaknya secara selektif, pertama sekali pada satu ciri dan kemudian pada yang lainnya. Hanya dengan cara inilah kita dapat berharap mendengar bahasa secawa wajar.




Andaikan kita harus menyimak secara cerdas aceka ragam ciri bahasa, maka kita perlu mengikuti suatu urutan yang akan dapat menolong kita unguk menemukan cara kita sendiri menggarap unsur-unsur yang seolah-olah tidak teratur dan tidak berurutan itu. Beberapa bahasa menuntut adaptasi-adaptasi atau penyesuaian-penyesuaian tertentu terhadap urutan prosedur-prosedur yang disarankan, berikut ini hendaklah disimak secara selektif dalam urutan sebagai berikut ini:
1)      Nada suara
Nada suara, apakah turun atau naik ataupun tetap mendatar jelas merupakan salah satu dari hal-hal pertama yang harus di perhatikan oleh seoranag anak mengenai suatu bahasa yang dipelajari oleh orang dewasa. Seorang anak hampir-hampir tidak dapat dielakkan mempergunakan intonasi yan benar, bahkan pun pada saat mereka meraban dengan konsoan-konsonan dan vowel-vowel yang berubah-ubah atau menyimpang dari aslinya. Tetapi seseorang-orang dewasa seolah-oleh tidak mampu belajar intonasi sesuai bahasa asing. Sebenarnya dia dapat berbicara sesuai bahasa asing  dengan bentuk-bentuk tata bahasa yang sungguh-sungguh tepat dan benar, pemilihan kata-kata yang baik, dan bahkan ucapan konsonan-konsonan serta vokal-vokal yang hampir tidak tercela, tetapi intonasinya yang jelek dan salah biasanya membukakan tabir bahwa cara yang benar-benar dengan tidak sadar mengasimilasikan intonasi bahasa ibunya membuat dia tidak menyadari perbedaan-perbedaan dasar antara bahasa-bahasa namun demikian keadaannya, menyimak selektif terhadap intonasi merupakan langkah pertama yang benar-benar harus dimulai dalam menyimak atau mendengarkan sesuatu bahasa asing.
Banyak orang beranggapan bahwa mereka tidak dapat menyimak pada sesuatu bahasa sampai mereke mengerti kata-kata tetapi sesudah itu kegiatan menyimak terlalu terlambat. Agar dapat mendengar perubahan-perubahan pada nada maka kita.
Kalau kita harus menyimak aneka prangkat bunyi yang bersamaan – baik konsonan maupun vokal – maka kita segera melihat bunyi yang beraneka ragam, sebenarnya terdapat jumlah bunyi distingtif yang amat terbatas – dalam beberapa bahasa hanya kira-kira selusin dan dalam bahasa-bahasa alinnya sekitar 60 buah – tetapi tanpa menghiraukan jumlahnya tetapi tak jauh lebih sedikit daripada yang pertam sekali kita bayangkan.
2)      Kata-kata dan frase-frase
Setiap orang yang menyimak secara seksama pada suatu bahasa asing, akan segera melihat menemukan kombinasi-kombinasi bunyi yang terjadi berulang-ulang.Kalau seseorang mendengar berulang-ulang kali suatu gabungan identik dua atau tiga suku kata, maka ini besar sekali kemungkinan merupakan suatu kata atau akar kata.
Kalau seseorang mendengar berulang-ulang kombinasi-kombinasi yang terdiri atas lima atau enam suku kata, maka agaknya ini merupakan frase-frase. Tetapi apakah kombinasi-kombinasi yang sering muncul serupa itu merupakan kata-kata atau frasa-frase sebenarnya tidaklah terlalu banyak menarik perhatian atau menjadi urusan pelajar bahasa. Anak-anak sudah barang tentu tidak mengetahui perbedaan-perbedaan antara katak-kata dan frase-frase dan juga kita tidak perlu membedakan kesatuan-kesatuan serupa itu tatkala kita mulai berbicara.
Salah satu dari fase-fase yang paling penting dalam menyimak kata-kata secara selektif frase-frase, ataupun kalimat-kalimat adalah mencoba memahami dari konteks apa makna yang di kandungnya, Inilah cara anak-anak belajar, dan kitapun dalam hal ini dapat menirunya dengan baik. Nilai prosedur ini sangat baik.
Menyimak secara selektif terhadap katak-kata biasanya mulai dengan memperhatikan setiap kombinasi bunyi-bunyi yang muncul berulang-ulang, yang seolah-olah “lebih menonjol” dalam aliran atau arus ujaran. Pada mulanya seseorang menyimak secara selektif pada urutan-urutan yang seringkali muncul yang maknanya belum begitu dipahaminya. Sekali makna itu dikethui serta dipahami, maka kita perlu menyimak kombinasi-kombinasi yang serupa itu dalam rekaman-rekaman lain, atau dalam percakapan sehari-hari. Kalau kata-kata ini telah menjadi biasa, kita harus menambahkan kata-kata lain yang baru saja dipelajari. Mendorong jauh-jauh batas-batas pengawasan reseptif (penerimaan) terhadap bahasa itu.
3)      Bentuk-bentuk tata bahasa
Dalam kebanyakan bahasa apa yang kita sebut kata-kata itu tidak selalu muncul dan kelihatan dalam bentik yang sama. Kadang-kadang suatu tambahan dilekatkan pada kata itu, contoh:
Walked         vs         walk
Roses            vs         rose
Bahsa indonesia
Berlari          vs         lari
Melihat         vs         lihat
Makanan      vs         makan
Dalam contoh-contoh lain terdapat sesuatu perubahan di dalam kata itu sendiri, misalnya:
Bahasa inggris:
ran       vs         run
feet       vs         foot
Sedangkan dalam kasus-kasus lain, kita menjumpai bahwa kita harus mempergunakan kata-kata yang amat berbeda, contoh
Bahasa inggris:
Go          vs         went     (bukan go – ed*)
Good      vs         better   (bukan good – er*)
Tetapi, apapun perubahan yang terjadi, kita perlu mengarahkan perhatian padanya, dengan jalan menyimak secara selektif pada perangkat-perangkat modifikasi tersebut.
Apabila kita mempelajari lebih banyak lagi struktur ketate bahasaan sesuatu bahasa, maka hendaknya kita menyimak secara selektif pada setiap tipe ciri ketatabahasaan, seperti: jenis kelamin, waktu, modus, bentuk, susunan kata-kata, frase-frase, klausa-klausa. Setiap dan semua ciri tata bahasa, terutama sekali yang mungkin menimbulkan sesuatu kesukaran pada pelajar, haruslah disimak secara selektif.
Salah satu keuntungan utama menyimak secara selektif pada struktur-struktur tata bahasa ialah bahwa struktur-struktur yang diserap oleh proses ini cenderung membuat “kebiasaan-kebiasaan” dalam otak kita” bahkan setelah kita berhenti menyimak terutama sekali bagi bentuk-bentuk atau susunan-susunan kata-kata seperti itu, otak kita melanjutkan proses pengklasifikasian secara otomatis, segala sesuatu yang kita dengan. Oleh karenanya maka kita tetap meningkatkan serta menambahi pengetahuan kita mengenai bahasa dan fasilitas kita dalam bahasa itu lama setelah kita berhenti mempelajari tata bahasa dengan cara yang formal
(Nida, 1957:30-36).
4)      Kemampuan menyimak siswa Sekolah Dasar
Pada tahun 1949 Tulare Country Schools telah menyusun sebuah buku petunjuk mengenai Ketrampilan Berbahasa yang disebut “Tulare Country Cooperative language Arts Guide” Khusus mengeai keterampilan berbahasa menyimak adalah sebagai berikut  i ni:
Taman kanak-kanak (4 – 6 tahun)
a)      Menyimak pada teman-teman sebaya dalam kelompok-kelompok permainan.
b)      Mengambangkan waktu perhatian yang amat panjang terhadap crita-cerita.
c)      Dapat mengingat petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan yang sederhana.



Kelas Satu (5½ - 7 tahun)
a)      Menyimak untuk menjelaskan atau menjernihkan pemikiran atau untuk mendapatkan jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan.
b)      Dapat mengulangi secara tepat apa-apa yang telah didengarnya.
c)      Menyimak bunyi-bunyi tertentu pada kata-kata dan lingkungan.
Kelas Dua (6½ - 8 tahun)
a)      Menyimak dengan kemampuan memilih yang meningkat
b)      Menurut saran-saran, usul-ususl dan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan untuk mencek pengertiannya
c)      Sadar akan situasi-situasi, bila sebaiknya menyimak, bila pula sebaiknya tidak usah menyimak.
Kelas Tiga dan Empat (7½ - 10 tahun)
a)      Sungguh-sungguh sadar akan nilai menyimak sebagai suatu sumber informasi dan kesenangan
b)      Menyimak pada lapaoran-laporan orang lain, pita-pita rekaman laporan mereka sendiri, dan siaran-siaran radio dengan maksud tertentu serta pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan hal itu.
c)      Memperhatikan keangkuhan dengan kata-kata atau ekspresi-ekspresi yang tidak mereka pahami maknanya.

Kelas Lima dan Enam (9½ - 12 tahun)
a)      Menyimak secara kritis terhadap kekeliruan-kekeliruan kesalahan-kesalahan, propaganda-propaganda, tuntutan-tuntutan yang keliru
b)      Menyimak pada aneka ragam cerita puisi, rima katak-kata, dan memproleh kesenangan dalam memenuhi tipe-tipe baru (Anderson, 1972 : 22-23).
Demikianlah telah diutarakan kemampuan menyimak ank-anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar secara sepintas menurut penelitian para ahli di Amerika Serikat. Walaupun barangkali tidak seluruhnya sesuai dengan para siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar di negeri kita, namun sebagai pedoman pasti ada manfaatnya bagi kita.
Kita tahu bahwa anak yang telah meninggalkan taman kanak-kanak telah dimodali dengan permulaan-permulaan sejumlah ketrampilan. Di antara semua itu tentu terdapat yang erat berkaitan dengan bahasa dan khusus mengenai kemampuan menyimak dapat kita catat sebagai berikut:
a)      Apabila suatu cerita dibaca dengan nyaring
b)      Kalau seoranga pembicara menceritakan suatu perngalaman
c)      Bunyi-bunyi dan nada-nada yang berbeda
d)     Petunjuk-petunjuk
e)      Untuk mendengarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan.
f)       Ritmen-ritme
g)      Untuk menangkap ide-ide (Anderson; 1972:20
5)      Hal-hal yang perlu disimak
Khusus mengenai bahasa lebih-lebih bahasa asing, maka pelajar haruslah menyimak serta mengenal, memahami (karena semua itu mengandung makna).
a)      Bunyi-bunyi fonemis bahasa yang bersangutan, dan pada akhirnya variasi-variasi fonem-fonem yang bersifat personal ataupun dialek seperti yang dipakai atau diucapkan oleh beberapa pembicara asli, pendidikan pribumi.
b)      Urutan-urutan bunyi dan pengelompokan-pengelompokannya, panjangnya jeda, pola-pola tekanan dan intonasi.
c)      Katak-kata tugas beserta perubahan-perubahan bunyi sesuai dengan posisinya di muka kata-kata lain (contoh: a boy an animal; the / «/ boy the / i/ apple dan sebagainya dalam bahasa inggirs)
d)     Infeksi-infeksi untuk menunjukkan jamak, waktu milik dan sebagainya.
e)      Perubahan-perubahan bunyi dan pertukaran-pertukaran fungsi yang ditimbulkan oleh derivasi (misalnya: adil, keadilan, pengadilan, mengadili, diadili)
f)       Pengelompokkan-pengelompokkan struktural (misalnya yang berhubungan dengan frase-frase verbal, preposisional).
g)      Petunjuk-petunjuk susunan/urutan kata yang menyangkut fungsi dan makna.
h)      Makna kata-kata tergantung pada konteks atau pada situasi pembicaraan (misalnya, kaki meja, kaki gunung, kaki tangan musuh, tigginya seribu kaki).
i)        Kata-kata salam, kata-kata pendahuluan, dan kata-kata kragu-raguan yang terdapat dalam ujaran.
j)        Makna budaya (cultural meaning) yang tercakup atau tersirat dalam suatu pesan.
Pemahaman atau pengurangan isi sandi sesutu “pesan” atau aliran ujaran akan tergantung pada keterbiasaan atau keakraban pelajar dengan setiap unsur diatas dan pada pendugaannya atas semua itu dalam berbagai situasi, karena dia telah mendengarnya berkali-kali dalam kombinasi-kombinasi yang berbeda-beda dan dalam situasi-situasi yang cocok dan pantas (Finocchiaro and Banomo; 1973:106-107).