4/16/16

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI KUANTITATIF PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH


Sebelum kita membuat atau melihat contoh dari penelitian ini, alangkah lebih baik dari kita untuk mengetahui langkah-langkah atau proses penelitian kuantitatif. Anda dapat membaca artikel Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif 99% langsung paham

BACA JUGA


120+ Contoh Skripsi Pendidikan Agama Islam (PAI) Jurusan Tarbiyah Kualitatif dan Kuantitatif Terbaru 100% LINK WORK!! 
[SPSS] Cara Menggunakan SPSS untuk Mengolah Data Statistika
5+ Cara Download Jurnal Internasional dengan GRATIS di Sciencedirect, Library Genesis, dan SCI-HUB
Contoh Proposal PTK SD Kelas 4 : Peningkatan Hasil Belajar Matematika dg Pendekatan Matematika Realistic
Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Pendidikan : Pengaruh Model pembelajaran Jig Saw dan STAD Terhadap Hasil Belajar
Contoh Penelitian TIndakan Kelas PAUD : Peningkatan Keterampilan Bicara Anak Usia 3-4 Tahun
Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung
Download Kumpulan Contoh Skripsi Penelitian dan Pengembangan (R&D) Jurusan PGSD
Contoh Judul Skripsi Kualitatif PGSD Tahun 2016 (Download Filenya Dengan Sekali KLIK)
Download Contoh PTK SD Lengkap Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 MUDAH DOWNLOAD 1 x KLIK!!
Download 101 Contoh Skripsi Penelitian Kuantitatif (PDF) PGSD Dengan Sekali KLIK!!!
Download Contoh Skripsi Pendidikan PGSD Lengkap FIle PDF Sekali KLIK
100 Contoh Judul Penelitian Kualitatif PGSD Berkualitas! dan Cara Membuat Judul Penelitian
CONTOH PROPOSAL SKRIPSI KUANTITATIF PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH

Perhatikan, Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Berikut ini!

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH  TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI KELIPATAN DAN FAKTOR BILANGAN KELAS IV SD NEGERI MLATIHARJO 01 SEMARANG

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan proses terjadinya pendewasaan yang terjadi akibat pembiasaan pola asuh yang ditanamkan, mendewasakan anak dan berlangsung terus menerus, hal senada diungkapkan Suyanto (2010: 13) Pola asuh merupakan suatu sistem atau cara pendidikan, pembinaan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi pendidikan anak merupakan pijakan bagi seseorang untuk mencapai proses pembiasaan alam kehidupan sehari-hari baik itu dalam lingkungan keluarga maupun sekolah dan unsur-unsur yang saling berhubungan yang dapat mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan yang ditunjukkan dengan hasil belajar yang memuaskan. Menurut Uno (2006: 21) hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu; keefektifan, efesiensi dan daya tarik. Maka hasil belajar merupakan pencerminan dari kesuksesan atau ketercapaian tujuan belajar yang tertuang dalam proses pembelajaran yang standar isinya telah ditentukan oleh pemerintah, maka pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah merumuskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan dilakukan agar mendapatkan tujuan yang diharapkan bersama yaitu:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3 UU RI No 20/ 2003).
Jadi jelaslah pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja agar anak didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik, sehingga penerapan pendidikan harus diselengggarakan sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan UU No 20/ 2003. Sebagai timbal baliknya pembelajaran secara sistematis diajarkan kepada siswa agar  terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas.
Usaha yang dilakukan agar hasil belajar maksimal yaitu dengan memperhatikan cara mengajar yang benar. Menurut Solihatin (2012: 12) Guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan metode, menggunakan media dan mengalokasikan waktu. Maka guru harus mempunyai kompetensi agar pembelajaran dalam kelas menjadi lebih efektif sehingga hasil belajar bisa  maksimal dan dapat melebihi Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) yang sudah di tentukan sekolah.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti di SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang terdapat masalah yang timbul berkaitan dengan Pembelajaran pada Kelas IV, keaktifan siswa masih kurang, hal ini tercermin dari interaksi guru dengan siswa yang belum maksimal karena guru dominan menggunakan model pembelajaran konvensional yang kurang menstimulus siswa untuk berpendapat di ruangan kelas, baik itu guru dengan siswa, siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa. Berdasakan observasi yang dilakukan peneliti di SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang Kelas IV, pembelajaran matematika yang dilakukan guru merupakan pembelajaran konvensional yang meminta siswa untuk belajar sendiri tanpa bimbingan dari guru, ketika ada bimbinganpun siswa langsung diminta untuk menghafalkan materi kelipatan dan faktor bilangan. Padahal mata pelajaran matematika merupakan belajar konsep dan bermakna, bukan pembelajaran konvensional (hafalan). Siswa pada proses pembelajaran menjadikan guru sebagai tokoh sentral, artinya sumber belajar hanya terdapat pada ceramah guru, guru dengan model konvensional memberikan doktrin mata pelajaran dengan sedikit variasi belajar, terkadang dalam pembelajaran guru menggunakan model pembelajaran kelompok, tetapi tidak maksimal dalam interaksi siswa dengan guru, guru hanya memberikan tugas kelompok tanpa adanya arahan atau bimbingan baik secara kelompok maupun individu, hal ini memberikan efek kurangnya variasi pembelajaran sehingga siswa menjadi malas untuk meperhatikan pembelajaran.
Dari masalah yang telah disebutkan diatas maka akibat yang tampak yaitu pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan dan kurang dari KKM kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang. Dari permasalahan yang timbul di SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang maka perlu solusi yang sesuai dengan prinsip pembelajaran aktif. Guru sebagai fasilitator yang memegang kunci keberhasilan tujuan pembelajaran, Suprijono (2013: 12) Guru bertindak sebagai “panglima”, guru dianggap paling dominan, dan guru dipandang sebagai orang yang paling mengetahui.  Berdasarkan masalah yang ada pada siswa Kelas I SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang, maka guru hendaknya memilih model pembelajaran yang tepat, memberikan penyajian mata pelajaran yang menarik, membuat siswa aktif dalam suasana kelompok yang bertujuan adanya interaksi sosial antara guru dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, sehingga pembelajaran tidak berpusat pada guru, namun berpusat pada siswa. Suprijono (2013: 13) Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran adalah guru menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didiknya untuk mempelajarinya. Selain itu memperhatikan pendekatan yang mampu menstimulus setiap siswa dalam mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan sehari-hari karena pada hakekatnya mata pelajaran matematika berhubungan dengan kehidupan manusia secara umum, yang tidak bisa lepas dari hitung menghitung dari yang sederhana hingga yang kompleks. Untuk itu model pembelajaran yang disarankan peneliti yaitu menggunakan model pembelajaran Make A Match, siswa dibagikan kartu  yang telah ada soal atau jawabannnya. Dengan bimbingan guru siswa mengamati pertanyaan atau jawaban yang tepat dalam mencari pasangannya, kemudian berkelompok (empat sampai enam siswa) sesuai yang telah ditentukan. Kegiatan ini dilakukan untuk mempermudah kegiatan siswa dalam menyelesaikan soal sehingga tidak menghambat siswa lain, serta siswa yang lebih unggul dapat mencontohkan cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal yang diberikan.
Selain model pembelajaran, pendekatan pembelajaran juga mempunyai arti yang cukup penting kaitannya dengan strategi dalam proses pembelajaran. Solihatin (2012: 3) Strategi pembelajaran adalah komponen umun dari suatu mata pelajaran dan prosedur pembelajaran yang akan digunakan bersama-sama dalam menangani permasalah pembelajaran yang ada.
Dalam hal ini untuk membuat model pembelajaran lebih efektif lagi maka peneliti menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual. Suprijono (2013: 81) pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan siswa masih kurang memahami pembelajaran mata pelajaran matematika karena siswa banyak yang tidak sesuai gaya belajarnya, model pembelajarannya, metode pembelajaran yang digunakan. Bagaimana cara kita untuk menarik siswa agar lebih memahami lagi konsep kelipatan dan faktor bilangan dalan mata pelajaran matematika, jadi penulis dapat memilih penggunaan model pembelajaran Make A Match dapat dijadikan satu model yang inovatif untuk digunakan mengembangkan konsep siswa dan melatih siswa dalam materi kelipatan dan faktor bilangan dalam mata pelajaran matematika, dan penulis memilih metode pembelajaran yang cukup bermanfaat serta berpengaruh pada hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang, yaitu beberapa metode yang membuat siswa aktif, seperti metode ceramah interaktif, metode diskusi, tanya jawab, unjuk kerja, dan metode lainnya, maka dari itu penulis tertarik untuk membuat penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Make A Match Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi kelipatan dan faktor bilangan Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang”

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.   Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.
2.   Siswa menganggap Pembelajaran matematika merupakan hafalan yang tidak bermakna.
3. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional dalam setiap pelajaran mata pelajaran matematika.
4.  Hasil belajar siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM)

C.    Pembatasan Masalah
Masalah yang dibatasi dalam proposal ini adalah:
1.  Penelitian terbatas pada model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match.
2.   Sasaran penelitian terbatas pada hasil belajar.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.  Apakah ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Make A Match terhadap hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang?

E.     Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan diadakannya penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan model pembelajaran Make A Match terhadap hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang?

F.     Manfaat Penelitian
Ada beberapa manfaat dari penelitian ini, diantara lain:
1.   Manfaat Bagi Siswa
a. Siswa mendapat pengalaman baru dengan diterapkannya model pembelajaran Make A Match.
b.  Siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.
c. Memudahkan siswa dalam memahami mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan.
d. Terbentuknya sikap kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan suatu  masalah.
e.  Dapat terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif dan bermakna.
2.    Manfaat Bagi Guru
a.  Guru dapat mengembangkan kemampuan dalam menerapkan model pembelajaran Make A Match.
b. Guru tidak menjadi fokus pembelajaran, namun siswa yang menjadi fokusnya. (guru sebagai fasilitator pembelajaran)
c. Menambah ilmu guru dalam membuat pembelajaran menjadi lebih kondusif dan bermakna.
3.    Bagi Sekolah
a.   Dapat meningkatkan mutu sekolah.
b.   Dapat meningkatkan peringkat sekolah

Contoh Lain Penelitian Kuantitatig :
Penerapan Media Papan Lempar Terhadap Hasil Belajar Matematika (Peneitian Kuantitatif)
G.    Definisi Operasional Variabel
1.     Variabel Terikat
Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang.

2.      Variable bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah pengaruh model Make A Macth.

H.    Kajian Teori
1.   Hasil Belajar
a.    Pengertian Belajar
Belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya (Suprijono, 2013: 9- 11).
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan  seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar meliputi perubahan terjadi secara teratur, perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan jungsional, perubahan dalam belajar bersifat posotif dan aktif, perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, perubahan mencangkup seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 2010: 2).
   Menurut Dimyati ( 2009: 8) terdapat banyak teori belajar Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku dari sipembelajar yang menghasilkan respon yang lebih baik, sebaliknya pada saat ia tidak belajar maka responnya menurun.
Menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif  sifat  stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Menurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting, yaitu kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar.
Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah suatu perubahan tingkah laku dan pengetahuan seseorang menjadi lebih baik secara keseluruhan yang didukung faktor pengalaman dan lingkungan.
b.        Hasil Belajar
Solihatin (2012: 6) mengemukakan pendapat Briggs bahwa hasil belajar adalah perilaku yang dapat diamati dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki seseorang. Sedangkan menurut Soediharto  mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan suatu pengetahuan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti program pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Hasil belajar merupakan pecerminan dari proses pembelajaran yang meliputi aspek sikap, kognitif dan motorik seperti pendapat Briggs mengklasifikasikan hasil belajar menjadi 5 kategori ,yaitu keterampilan intelektual, stategi kognitif, informasi ferbal, keterampilan motorik dan sikap
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh pembelajar setelah menerima pengalaman belajarnya.
Maka untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal perlu adanya interaksi antara guru dan siswa secara masksimal dan penggunaan model pembelajaran yang bervariasi karena pada dasarnya menurut Solihatin (2012: 5) hasil belajar merupakan suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat dari pelatihan.
Menurut Suprijono (2013: 5- 6) Hasil belajar berupa:
1)    Informasi ferbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa,baik lisan maupun tertulis.
2)       Keterampilan intelektual yaiu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
3)      Strategi Kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri.
4)      Ketersmpilsn motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud gerak jasmani.
5)    Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Dalam penelitian ini, hasil belajar yang dicapai bagi siswa Kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang berupa kemampuan kognitif, afektif, psikomotor yang berhubungan dengan mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan.

c.         Prinsip belajar
Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Belajar dapat dipandang sebagai hasil, bila guru memandang bentuk terakhir dari berbagai pengalaman interaksi edukatif
Belajar dapat dipandang sebagai proses, bila guru memandang apa yang terjadi selama siswa menjalani pengalaman-pengalaman edukatif. Dalam kegiatan belajar terdapat prinsip-prinsip belajar.
Menurut Suprijono (2013: 4) Prinsip-prinsip belajar antara lain:
Pertama, prinsip belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan   perilaku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri:
1)             Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu perubahan yang disadari.
2)             Kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya.
3)             Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup.
4)             Positif atau berakumulasi
5)             Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan.
6)             Permanen atau tetap.
7)             Bertujuan dan terarah.
8)             Mencakup keseluruhan potensi kemanusiaan.
Kedua, belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses sistemik yang dinamis, konstruktif dan organik. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar.
Ketiga, belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.
Menurut Dimyati (2009: 42- 46) prinsip-prinsip belajar tersebut yaitu:
1)   Perhatian dan Motivasi
            Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Menurut Berliner, dalam Dimyati (2009: 48) perhatian dalam pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran dirasa sebagai sesuatau yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari akan membangkitkan motovasi untuk belajar. Apabila perhatian ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya. Disamping perhatian motovasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. motovasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil ( Berliner, 1984: 372)
Motovasi mempunyai kaitan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadadap bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motovasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.
2)   Keaktifan
Anak mempunyai dorongan berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah ( Devies, 1937: 31)
3)   Keterlibatan langsung / Berpengalaman
Belajar yang paling benar adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman lansung siswa tidak sekedar megamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.
4)   Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah yang dikemukakan oleh Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri dari daya pengamat, menangkap, mengingat, menghayal merasakan, berfikir dan sebagainya. Dengan melakukan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan- pengulangan akan menjadi sempurna.
2.         Model Pembelajaraan Kooperatif
a.        Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar  tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan efektif dan efisien.
Model pembelajaran yang dimaksud adalah yang bisa meningkatkan kemampuan akademik, melatih kemampuan berbicara, sekaligus menanamkan moralitas kepada peserta didik.
Menurut Weil model pembelajaraan adalah suatau rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum rencana pelaksanaan jangka panjang, merancangan bahan-bahan pelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. (Rusman, 2011: 133)

b.        Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Cooperatif learning atau pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Juga merupakan setrategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda (Isjoni, 2010: 11).
       Pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian pendidikan hendaknya mampu mengkondisikan, dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (kreatifitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika didalam proses pembelajaran. Didalam teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada pembelajaran siswa yang dihadapkan pada masalah-masalah kompleks untuk dicari solusinya, kemudian menemukan bagan-bagan yang lebih sederhana atau keterampilan yang diharapkan. Berdasarkan peneltian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988: 181 dalam Rusman, 2010: 201).

Menurut Isjoni ( 2010: 12 ). Cooperatif learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok – kelompok kecil secara kolaborasi  yang anggotannya 4-6 orang dengan setruktur kelompok heterogen
Menurut Hasan dalam Solihatin ( 2012: 4 ) Cooperatif learning mengandung pengertian bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Cooperatif learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja sama atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, anggota terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan dalam bekerjasama di pengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri ( Solihatin, 2012: 4)
Pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam beberapa perspektif yaitu:
1.  Perspektif motovasi artinya penghargaan yang diberikan kelompok yang dalam kegiatannnya salang membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok.
2.  Perspektif sosial artinya melalui kooperatif siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan.
3.   Perspektif perkembangan kognitif artinya dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi (Sanjaya, 2006: 242 dalam Rusman, 2010: 207).
Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut, Pembelajaran secara tim, didasarkan pada menejemen Kooperatif, kemauan untuk bekerja, keterampilan bekerja sama (Rusman, 2010: 207)      
Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa cooperatif learning mengarahkan siswa untuk berinteraksi secara aktif dan positif di dalam kelompok. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan (aktif dan kooperatif) yang diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Sehingga hasil suatu model pembelajaran yang mungkin siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Siswa dibebaskan untuk mencari sumber belajar yang relevan. Kegiatan  demikian memungkinkan siswa berinteraksi aktif dengan lingkungan dan kelompoknya, sebagai manusia yang mengembangkan pengetahuannnya. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka harus diterapkan  lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu: saling ketergantungan positif, tangungjawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, evaluasi antar kelompok.

c.         Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match
Model pembelajaran Make A Match adalah suatu tipe model pembelajaran konsep. Model pembelajaran ini mengajak peserta didik mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan konsep melalui suatu permainan kartu pasangan (Komalasari, 2010: 85). http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-make-match.html 7-12-2014, 07:33.
1)     Langkah – langkah pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match
Langkah langkah  model pembelajaran  kooperatif tipe Make A Match (membuat pasangan)  ini adalah sebagai berikut.
a)   Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/ topik yang cocok untuk sesi review ( satu sisi kartu soal dan satu sisi berupa kartu jawaban),
b)     Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang,
c)     Siswa mencari pasangan, yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/ jawaban), siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi point.
d)    Setelah satu babak dicocokkan lagi agar tiap siswa mendapatkan kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

2)        Keunggulan dan kekurangan pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match
Ada beberapa keunggulan dari model pembelajaran Make A Match seperti yang dikemukakan oleh Lie (dalam Isjoni 2010: 112) bahwa :
a)      Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses.
b)      Kerjasama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis.
c)      Munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa.
Selain memiliki keunggulan, model pembelajaran Make A Match juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya, sebagai berikut:
a)      Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan pembelajaran.
b)      Suasana kelas menjadi gaduh sehingga dapat mengganggu kelas lain.
c)      Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai.




3.      Hipotesis
Berdasarkan teori diatas maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
H1 : Ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Make A Match terhadap hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang.

H0 : Tidak ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Make A Match terhadap hasil elajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang.

H1 : Ada perbedaan hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan yang diajar menggunakan model pembelajaran Make A Match dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran konvesional?

H0 : Tidak ada perbedaan hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan yang diajar menggunakan model pembelajaran Make A Match dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional?
           J.    Metodologi Penelitian

1.      Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan alam penelitian ini yaitu eksperimen. Sugiyono (2013: 107) Dengan demikian penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penilitan yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.
Dalam penelitian ini menggunakan design true experimental yaitu pretest-Posttest Only Control group Design. Terdapat 2 kelompok yang dipiliih, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperiment yaitu pembelajaran yang mendapatkan perlakuan model pembelajaran Make A Match dan kelompok kontrol mendapatkan perlakuan dengan   model pembelajaran konvensional.

2.      Tempat Dan Waktu Penelitian
Objek pada penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas IV A SD Negeri Mlatiharjo 01 dan siswa Kelas IV B SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang. Tempat penelitian di SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang dan waktu penelitian adalah awal pembelajaran baru.

3.      Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yakni variabel bebas dan variabel terikat.
a.           Variabel bebas
         Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Make A Match.
b.           Variabel terikat
         Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan.

4.      Populasi, Sampel dan Sampling
a.         Populasi
Menurut Arikunto (2010: 173) Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Peneliti dalam proses penilitan harus menentukan populasi sebagai objek penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa Kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang yang masih tercatat aktif sebagai siswa di sekolah selama penelitian ini dilakukan.
b.          Sampel
Menurut Arikunto (2010: 174) Jika kita hanya akan meneliti sebagia dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel. Sampel dalam penelitan ini yaitu Kelas IV sebagai kelas kontrol  sebanyak 18 siswa dan kelas eksperiment sebanyak 18 siswa.
Kelompok eksperimen adalah kelompok siswa yang mendapat perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Make A Match yakni sebanyak 18 siswa. Sedangkan untuk kelompok kontrol adalah kelompok yang mendapat perlakuan dengan model konvensional.

5.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan dua teknik dalam pengumpulan data, yaitu metode dokumentasi dan penggunaan test.
a.    Metode dokumentasi
Menurut Arikunto (2010: 274) metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, longger, agenda, dan sebagainya. Dalam penelitian ini untuk mengetahui kondisi awal subjek yang diteliti. Metode dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan peneliti dengan cara meminta data awal nilai hasil belajar siswa pada semester sebelumnya.
b.  Penggunaan tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan, untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, sikap dan kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok  (Arikunto, 2010: 193).
Ada dua jenis test dalam penelitian ini yaitu pre-test dan post-test. Pre-test digunakan untuk mengukur kemampuan awal siswa, sedangkan post-test mengukur kemampuan siswa setelah diberi model pembelajaran Make A Match.

6.      Instrumen Penelitian
a.         Bentuk tes
Tes yang digunakan adalah ulangan harian yang berupa soal-soal pilihan ganda.
b.        Metode Penyusunan Perangkat Tes
Penyusunan perangkat tes dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1)   Membuat kisi-kisi soal.
2)   Menentukan tipe soal.
3)    Menentukan jumlah butir soal.
4)    Menentukan waktu mengerjakan soal.
5)    Melakukan pembatasan mata pelajaran yang diujikan.
6)     Menuliskan petunjuk mengerjakan soal.
7)     Membuat kunci jawaban, dan penentuan skor.
8)     Menguji cobakan instrument.
9)  Menganalisis hasil uji coba dalam hal validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran.
10)    Memilih item soal yang sudah teruji berdasarkan analisis yang sudah dilakukan.
11)     Menulis butir soal yang sudah diuji.

7.      Teknik Analisis Data
a.     Analisis data
Data yang didapat dari hasil penelitian adalah berupa angka yang didapatkan dari hasil posttest kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada analisis dilakukan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t.
1)        Uji Normalitas
Uji normalitas ini digunakan untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa pada suatu kelas berdistribusi normal atau tidak. .
2)        Uji Homogenitas
Pada tahap ini, akan diuji homogenitas dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan data dari nilai ujian siswa semester sebelumnya. Uji kesamaan varians ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah kelompok dalam sampel memiliki varians yang sama atau tidak.
3)        Uji Hipotesis 1
Untuk menguji hipotesis pertama pada penelitian ini digunakan uji linieritas atau uji pengaruh yaitu untuk mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran Make A Match terhadap  hasil belajar mata pelajaran matematika materi kelipatan dan faktor bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Mlatiharjo 01 Semarang.
4)        Uji Hipotesis 2
Uji ini untuk mengetahui rata-rata hasil belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Uji ini menggunakan uji t  pihak kanan.
d.      Kerangka berpikir
Berdasarkan rumusan masalah dan solusi yang diberikan, alur kerangka berpikir dapat dijabarkan sebagai berikut: