4/9/16

Makalah Manusia Seni dna Teknologi

BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Strategi pemerolehan bahasa anak dalam hal ini merupakan faktor yang berbeda dengan orang dewasa, anak kecil cenderung lebih cepat belajar dan menguasai suatu bahasa. Dalam lingkungan masyarakat bahasa apapun mereka hidup, anak-anak hanya memerlukan waktu relatif sebentar untuk menguasai sistem bahasa itu. Apalagi kalau mereka berada dalam lingkungan bahasa ibunya (B1). 

Sebenarnya, strategi apa yang ditempuh anak-anak dalam belajar bahasa sehingga dengan cepat mereka dapat menguasai bahasa itu. Padahal mereka tidak sengaja  belajar atau diajari secara khusus. Ternyata, untuk memperoleh kemampuan bahasa lisannya, mereka melakukannya dengan berbagai cara. Di dalam strategi pemerolehan bahasa anak ada dua persyaratan dasar yang memungkinkan anak dapat memperoleh kemampuan berbahasa, yaitu potensi faktor biologis yang dimilikinya, serta hubungan sosial yang diperolehnya. Selain itu terdapat faktor-faktor penunjang yang merupakan penjabaran dari kedua hal hal diatas yang juga dapat mempengaruhi tingkat kemampuan bahasa yang diperoleh anak.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.   Apa saja faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak?
2.   Apa saja strategi pemerolehan bahasa anak?
3.   Apa yang dimaksud pemerolehan bahasa anak?
4.   Apa saja ragam pemerolehan bahasa anak?
5.   Apa alasan anak belajar berbahasa?

C.  TUJUAN PENULISAN MAKALAH
1.    Untuk memahami faktor yang mempengaruhi perolehan bahasa anak.
2.    Untuk memahami macam-macam strategi pemerolehan bahasa anak.
3.    Untuk  mengetahui pengertian pemerolehan bahasa anak.
4.    Untuk memahami macam-macam ragam pemerolehan bahasa anak.
5.    Untuk mengetahui berbagai alasan anak belajar bahasa.
BAB II
PEMBAHASAN

STRATEGI PEMEROLEHAN BAHASA ANAK
A.  Faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak
       Ada dua persyaratan dasar yang memungkinkan anak dapat memperoleh kemampuan berbahasa, yaitu potensi faktor biologis yang dimilikinya, serta hubungan sosial yang diperolehnya. Selain itu terdapat faktor-faktor penunjang yang merupakan penjabaran dari kedua hal hal diatas yang juga dapat mempengaruhi tingkat kemampuan bahasa yang diperoleh anak.
1.         Faktor biologis
Setiap anak yang lahir telah dilengkapi kemampuan kodrati atau alami yang memungkinkannya menguasai bahasa. Potensi alami itu bekerja secara otomatis. chomsky  (1975 dalam Santrock, 1994) menyebut potensi yang terkandung dalam perangkat biologis anak dengan istilah piranti pemerolehan bahasa. Dengan piranti itu, anak dapat menyerap sistem suatu bahasa yang terdiri atas sub sistem fonologis, tata bahasa, kosa kata dan pragatik, serta menggunakannya dalam berbahasa.
Perangkat biologis yang menentukan anak dapat memperoleh kemampuan bahasanya ada tiga, yaitu otak  (sistem saraf pusat), alat dengar dan alat ucap.
Dalam proses berbahasa, seseorang dikendalikan oleh sistem syaraf pusat yang ada di otaknya. Pada belahan otak sebelah kiri terdapat wilayah Broca yang mempengaruhi dan mengontrol produksi atau penghasilan bahasa seperti berbicara dan menulis. Pada belahan otak sebelah kanan terdapat wilayah Wernicke yang mempengaruhi dan mengendalikan pemahaman bahasa seperti menyimak dan membaca. Di antara kedua bagian otak itu terdapat wilayah motor suplementer. Bagian ini berfungsi untuk mengendalikan unsur fisik penghasil ujaran.
Berdasarkan tugas ketiga otak, ketiga bagian otak itu, alur penerimaan dan penghasilan bahasa dapat disederhanakan sebagai berikut. Bahasa didengarkan dan dipahami melalui daerah Wernieke. Isyarat bahasa itu kemudian dialihkan ke daerah Broca, untuk mempersiapkan penghasilan bahasan, selanjutnya, isyarat tanggapan bahasa itu dikirimkan ke daerah motor seperti alat ucap, untuk menghasilkan bahasa secara fisik.
2.      Faktor Lingkungan Sosial
Untuk memperoleh berbahasa seorang anak memerlukan orang lain untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Anak yang secara sengaja dicegah untuk mendengarkan sesuatu atau menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi tidak akan memiliki kemampuan berbahasa. Mengapa demikian, bahasa yang diperoleh anak tidak diwariskan secara genetis atau keturunan tetapi didapat dalam lingkungan yang menggunakan bahasa. Atas dasar itu, maka anak memerlukan orang lain untuk mengirimkan dan menerima tanda-tanda suara dalam bahasa itu secara fisik. Anak memerlukan contoh atau model berbahasa, respon atau tanggapan, serta teman untuk berlatih dan beruji coba dalam belajar bahasa dalam konteks yang sesungguhnya.
Dengan demikian, lingkungan sosial tempat anak tinggal dan tumbuh seperti keluarga dan masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pemerolehan bahasa anak. 
Kaitan antara lingkungan sosial dengan perangkat biologis yang telah dimiliki anak sejak lahir sangatlah erat, tak terpisahkan. Kehilangan salah satu dari keduanya akan mengakibatkan anak tidak mampu berbahasa, kalau disederhanakan piranti biologis adalah wadah atau alat, maka lingkungan sosial berperan memberi isi atau muatan.
Banyak bukti menunjukkan bahwa otak, alat dengar, dan alat ucap, memiliki peran dasar yang sangat penting. Gangguan pada salah satu dari ketiganya akan sangat menghambat pemerolehan bahasa anak. Lenneberg (1975 dalam Cahyono, 1995) membuktikannya melalui penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak tunarungu, lemah mental, dan tuna wicara.
Dari kajiannya mengenai anak-anak tunarungu, Lenneberg menemukan fakta berikut. Tiga bulan setelah dilahirkan, anak-anak tunarungu dapat menghasilkan bunyi-bunyi yang sama seperti anak normal. Dari bulan keempat hingga bulan kedua belas, hanya sebagian bunyi yang mereka hasilkan sama dengan anak normal.
Hasil pembelajaran terhadap anak-anak tunarungu menunjukkan bahwa peluang mereka untuk belajar menggunakan suara dan alat ucapnya sangat kecil. Ketika mreka berusaha berbicara, kualitas suara mereka berubah dengan tekanan yang kurang baik serta pula intonasi yang tak terkendali.
Anak-anak lemah mental cenderung mengartikulasikan tuturannya secara lemah dengan gramatika yang banyak mengandung kesalahan. Kesalahan itu kadang-kadang menunjukkan bahwa mereka kurang memahami apa yang disampaikannya dan topik pembicaraannya kabur, kurang terarah.
Berdasarkan kajian Lennerberg, anak-anak tunarungu tidak dapat berceloteh dan menirukan kata. Mereka tidak dapat memiliki kemampuan mengartikulasikan atau membunyikan tuturannya secara normal. Hal ini disebabkan adanya gangguan alat ucap mereka. Meskipun demikian, mereka dapat memahami tuturan dengan relatif baik.
Konsep lingkungan sosial di sini mengacu kepada berbagai perilaku berbahasa setiap individu seperti orang tua, saudara, anggota masyarakat sekitar dalam mendukung perkembangan bahasa anak. Dukungan dan keterlibatan sosial ini diperlukan anak. Inilah yang disebut Bruner (1983 dalam Santrock, 1994) sebagai Sistem Pendukung Pemerolehan Bahasa ( Languange Acquisition Support  System).    
Kita semua tahu bahwa pemakai bahasa yang baik itu harus memiliki dua hal. Pertama, dia harus menguasai sistem atau aturan bahasa yang digunakannya. Kedua, dia juga harus memahami dan menguasai aturan sosial penggunaan bahasa itu. Kita akan menyebut kurang ajar bila seorang anak berbahasa dengan gurunya menggunakan ragam dan cara bahasa seperti dengan kawan sebayanya. Bila piranti biologis memungkinkan anak memahami sistem bahasanya, maka lingkungan sosial memberikan kesempatan baginya untuk berinteraksi dengan bahasa yang dimilikinya sehingga bahasanya berfungsi secara wajar.
Selanjutnya, bagaimanakah lingkungan sosial itu memberikan dukungan kepada anak dalam belajar bahasa? Diantaranya adalah berikut ini,
a.       Bahasa semang (motheresse), yaitu penyederhanaan bahasa oleh orang tua atau orang dewasa lainnya ketika berbicara dengan bayi anak kecil.

b.      Parafrase, yaitu pengungkapan kembali ujaran yang diucapkan anakdengan cara yang berbeda. Misalnya, kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan.

c.       Menegaskan kembali  (echoing), yaitu mengulang apa yang dikatakan anak. Terutama bila tuturannya tidak lengkap atau tidak sesuai dengan maksud.

d.      Memperluas atau ekspanding yaitu mengungkapkan kembali apa yang dikatakan anak dalam bentuk kebahasan yang lebih kompleks.

e.       Menamai atau labelling yaitu mengidentifikasi nama-nama benda, bisa dalam bentuk benda yang sebenarnya atau dalam bentuk tiruan, gambar permainan kata dan sebagainya.
f. Penguatan (reinforcement),  yaitu menanggapi atau memberi respon positif atas perilaku bahasa anak. Misalnya, dengan memuji, memberi acungan jempol,  tepuk tangan, dan sebagainya.
g.  Pemodelan (modeling) , yaitu contoh berbahasa yang diakukan orang tua atau orang dewasa ( Santrock, 1994;  Benson, 1988).
Saudara, semakin kuat rangsangan dan dukungan sosial terhadap bahasa anak, akan semakin kaya pula masukan dan kemampuan berbahasanya. Sebaliknya, bila dukungan sosial itu kurang atau negatif, masukan bahasa anak pun akan sedikit. Dengan demikian, tingkat masukan bahasa yang diperoleh anak akan mempengaruhi tingkat perkembangan bahasanya.
Begitu pentingnya peranan unsur atau lingkungan sosial terhadap pemerolehan bahasa anak. Seandainya saja seorang anak normal diasingkan dan tumbuh dilingkungan hutan, diantara hewan-hewan hutan, niscaya bahasa hewanlah yang akan dikuasainya. Anda setuju dengan pendapat itu?
Selain faktor biologis dan sosial, ada unsur lain yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak-anak. Kedua faktor itu adalah intelegensi dan motivasi.




3.    Faktor Intelegensi
Intelegensi adalah daya atau kemampuan anak dalam berpikir atau bernalar. Zanden (1980) mendefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Intelegensi ini bersifat abstrak dan tak dapat diamati secara langsung. Pemahaman kita tentang tingkat intelegensi seseorang hanya dapat disimpulkan melalui perilakunya.
Lalu, bagaiman pengaruh faktor intelegensi itu terhadap pemerolehan bahasa anak?
Sebenarnya, penulis tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa anak yang bernalar tinggi lebih tinggi akan lebih sukses dari pada anak yang berdaya nalar pas-pasan. Kecuali, tentu saja anak-ana yang sangat rendah intelegensinya seperti yang telah dijelaskan pada faktor biologis. Sesungguhnya, semua anak baik  yang bernalar tinggi, sedang, ataupun rendah, dapat belajar dan memperoleh bahasa dengan sukses. Perbedaanya terletak pada jangka waktu dan tingkat kreativitas. Anak yang berintelegensi tinggi, tingkat pencapaian bahasanya cenderung lebih cepat, lebih banyak, dan lebih bervariasi khasanah bahasanya dari pada anak-anak yang bernalar sedang ataupun rendah.
4.    Faktor Motivasi
Benson (1988) menyatakan bahwa kekuatan motivasi dapat menjelaskan “ Mengapa seorang anak yang normal sukses mempelajari bahasa ibunya”. Sumber motivasi itu ada dua, yaitu dari dalam dan luar diri anak.
Dalam belajar bahasa, seorang anak tidak terdorong demi bahasa sendiri. Dia belajar bahasa karena kebutuhan dasar yang bersifat praktis seperti lapar, haus, serta perlu perhatian dan kasih sayang ( Goodman, 1986; Tompkins dan Hoskisson, 1995). Inilah yang disebut motifasi intrinsik yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Untuk itulah mereka memerlukan komunikasi dengan sekitarnya. Kebutuhan komunikasi ini ditujukan agar dia dapat dipahami dan memahami guna mewujudkan kepentingan dirinya.
Dalam perkembangan selanjutnya, si anak merasakan bahwa komunikasi bahasa yang dilakukannya membuat orang lain senang dan gembira sehingga dia pin kerap menerima pujian dan respon baik dari mitra bicaranya. Kondisi ini memacu anak untuk belajar dan menguasa bahasanya lebih baik lagi. Nah, karena dorongan belajar anak itu berasal dari luar dirinya, maka motivasinya disebut motivasi ekstrinsik.
B.     Strategi Pemerolehan Bahasa Anak
Berbeda dengan orang dewasa, anak kecil cenderung lebih cepat belajar dan menguasai suatu bahasa. Dalam lingkungan masyarakat bahasa apapun mereka hidup, anak-anak hanya memerlukan waktu relatif sebentar untuk menguasai sistem bahasa itu. Apalagi kalau mereka berada dalam lingkungan bahasa ibunya (B1).
Sebenarnya, strategi apa yang ditempuh anak-anak dalam belajar bahasa sehingga dengan cepat mereka dapat menguasai bahasa itu. Padahal mereka tidak sengaja  belajar atau diajari secara khusus. Ternyata, untuk memperoleh kemampuan bahasa lisannya, mereka melakukannya dengan berbagai cara seperti di bawah ini!
a.       Mengingat
Mengingat memainkan peranan penting dalam belajar bahasa anak atau belajar apapun. Setiap pengalaman indrawi yang dilalui anak, direkam dalam benaknya. Ketika dia menyentuh, menyerap, mencium, melihat, dan mendengar sesuatu, memori anak menyimpannya. Pancaindera itu sanagat penting bagi anak dalam membangun pengetahuan tentang dunianya.
       Pada tahap awal belajar bahasa, anak mulai membangun pengetahuan tentang kombinasi bunyi-bunyi tertentu yang menyertai dan merujuk pada sesuatu yang dia alami. Ingatan itu akan semakin kuat, terutama bila penyebutan akan benda atau peristiwa tertentu terjadi berulang-ulang. Dengan cara ini, anak akan mengingat kata-kata tentang sesuatu sekaligus mengingat pula cara mengucapnya.
       Hanya saja, khasanah bahasa yang diingat anak ketika diucapkan tidak selalu tepat. Mungkin lafalnya kurang pas atau hanya suku kata awal atau akhirnya saja. Hal ini terjadi karena pertumbuhan otak dan alat ucap anak masih sedang berkembang. Dia menyimpan kata yang dia dengar, yang dia perlukan dalam memorinya. Dia pun mencoba mengatakannya. Namun, tingkat perkembangannyalah yang belum memungkinkan dia melafalkan tuturan sesempurna orang dewasa. Karena itu, dalam berbahasa biasanya anak dibantu oleh ekspresi, gerak tangan, atau menunjuk benda-benda tertentu. Inilah versi bahasa anak.
       Mengingat kondisi itu, dalam berkomunikasi dengan anak, biasanya orang tua atau orang dewasa menyederhanakan bahasanya. Penyederhanaan itu diwujudkan dalam tuturan yang pelan, ekspresif, dan modifikasi kata yang mudah diingat dan diucapkan anak, seperti kata pus untuk kucing, mimi untuk minu, mamam atau ma’em untuk makan, bobo untuk tidur, dan pipis untuk kencing.

b.      Meniru
Strategi penting lainnya yang dilakukan anak dalam belajar bahasa adalah peniruan. Perwujudan strategi ini sebenarnya tak dapat dipisahkan dari strategi mengingat. Lalu, apakah peniruan yang dilakukan anak dalam belajar bahasa itu seperti  beo? Apakah dia meniru bulat-bulat dan hanya sekedar mengulang kembali apa yang didengarnya?
          Perkataan anak tidaklah selalu merupakan pengulangan secara persis apa yang didengarnya, seperti halnya beo. Cobalah anda amati atau minta seseorang anak mengulang suatu tuturan yang dicontohkan. Anda akan menemukan bahwa tuturan anak cenderung mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa pengurangan, penambahan dan penggantian kata atau pengurutan susunan kata. Mengapa begitu?
          Sedikitnya ada dua penyebab. Penyebab pertama berkaitan dengan perkembangan otak, penguasaan kaidah bahasa, serta lat ucap. Dengan demikian, anak hanya akan mengucapkan tuturan yang telah dikuasainya . penyebab kedua, berkaitan dengan kreativitas berbahasa anak. Di satu sisi, secara bertahap, dia dapat memahami dan menggunakan tuturan yang lebih kompleks. Di sisi lain secara bersamaan, anak membangu suatu sistem bahasa yang memungkinkan dia mengerti dan memproduksi jumlah tuturan yang tak terbatas. Keadaan ini mendorong anak senang melakukan percobaan atau eksperimen dalam berbahasa. Percobaan ini terus berlangsung sampai kemampuan berbahasanya berpindah pada tingkat yang lebih kompleks.
          Atas dasar itu pula, tampaknya sulit bagi anak untuk meniru bulat-bulat tuturan orang dewasa. Mengapa? Sebab, bila anak berkosentrasi pada tuturan tersebut, maka perkembangan kemampuan komunikasinya akan sangat terganggu. Hasilnya pun akan sangat terbatas ( MaCaulay, 1980 ).
          Karena itu, tak perlu heran bila suatu ketika Anda mendengar anak mampu memproduksi tuturan yang belum pernah Anda dengar sebelumnya. Hal ini terjadi, karena dalam belajar bahasa, seorang anak tidak sekedar menangkap kata-kata. Dia juga terutama karena mencerna prinsip-prinsip organisasi bahasa secara alami. Dengan demikian, sifat peniruan anak cenderung bersifat dinamis dan kreatif.
          Saudara, karena strategi peniruan itu pula, maka model (orang) yang memberikan masukan kebahasaan kepada anak sangat mempengaruhi corak bahasa yang dimiliki anak. Bila modelnya baik, maka anak pun akan mempelajari versi bahasa yang baik. Sebaliknya, bila modelnya kurang baik, maka versi bahasa yang kurang baik itulah yang akan dipelajarinya.
        
c.       Mengalami Langsung
Strategi penting lain yang mempercepat anak menguasai bahasa pertama yang dipelajarinya adalah berlatih atau praktik berbahasa secara langsung dalam konteks bahasa yang sesungguhnya. Anak menggunakan bahasa yang dipelajarinya baik sewaktu berkomunikasi dengan orang lain atau bebicara sendirian. Anak mengalami langsung kegiatan berbahasa seperti menyimak dan berbicara. Dengan demikian, berdasarkan model atau respon partner komunikasinya, dia akan dapat merasakan kewajaran dan ketepatan berbahasanya.
Praktik berbahasa itu dilakukan anak bukan karena dorongan orang lain, tetapi karena ia memerlukannya. Kegiatan ini berlangsung dalam situasi informal, tanpa disadari, dan tanpa beban. Dia pun melakukan eksperimen atau uji coba dalam berbahasa tanpa takut salah. Upaya ini merupakan sarana untuk mempermantap sistem bahasa yang di pelajarinya. Secara perlahan dan bertahap, dia mengubah, memperbaiki, dan menyimpulkan aturan  bahasa itu sampai tuturannya dirasa benar dan menyerupai ujaran orang dewasa. Karena itu pula, kesalahan berbahasa bagi anak merupakan suatu yang wajar. Kesalahan itu menunjukkan adanya proses pemantapan aturan bahasa yang dipelajarinya.
Dengan demikian berbahasa secara langsung dalam konteks yang nyata sangat membantu anak menguasai bahasa yang di pelajarinya dengan cepat. Keefektifan cara ini tidak hanya berlaku dalam mempelajari bahasa pertama saja, tetapi bahasa kedua, ketiga, dan sebagainya. Contohnya, kita belajar bahasa Inggris paling tidak enam tahun: tiga tahun di SLTP dan tiga tahun di SMU. Lalu apa hasilnya? berbicara bingung, menyimakpun bingung. Tetapi kalau anda belajar langsung dan tinggal di negara yang berbahasa inggris, dalam waktu yang relatif lebih singkat kita akan dapat menggunakan bahasa itu dengan baik.
Secara itu praktik berbahasa yang di lakukan anak menggiringnya melakukan generalisasi. Apakah wujud hasil generalisasinya benar atau salah.
Generalisasi adalah menyimpulkan atas gejala atau contoh – contoh berbahasa yang memiliki kesamaan sifat. Karena itu, tidak perlu heran bila seorang anak mampu yang menghasilkan tuturan yang benar sekalipun dia belum pernah mendengar sebelumnya dari orang lain.
Generalisasi keliru adalah pennyimpulan yang salah karena menggunakan suatu gejala bahasa dalam konteks yang tidak berhubungan atau tidak cocok. Contoh, Fajar tiba – tiba berkata ”Mamah,...pipis”, sambil tangannya menunjuk pada bagian bawah bus yang meneteskan air yang ada di depannya. Dalam benaknya mungkin segala sesuatu yang mengeluarkan air dari bagian bawahnya disebut “pipis”(kencing).

d.   Bermain
Kegiatan bermain ini sangat penting dalam pengembangan kemampuan berbahasa anak. Sering kali mereka berlaku sebagai anak yang lebih tua atau orang dewasa. Perhatikanlah misalnya, bila beberapa anak perempuan bermain bersama. Ada yang berlaku sebgai anak, bapak, ibu, atau kakak dalam bermain rumah-rumahan. Ada yang berperan sebagai penjual dan pembeli dalam permainan dagang-dagangan. Bahkan ada yang berperan sebagai guru dan murid dalam permainan sekolah-sekolahan. Dalam permainan itu, mereka seolah-olah berdrama. Tanpa disadari, mereka berlatih berbicara dan menyimak.

e.       Penyederhanaan         
Perhatikan tuturan berikut ini!
Tuturan anak-anak                                Tuturan orang dewasa                       
1.                       Ma,acih                                    Terima kasih
2.                        Mamah,gogog                         Mamah,itu anjing
3.                        Aqi cucu,mah!                         Haqi mau minum susu,Mah!
Tiga contoh di atas adalah tipe tuturan anak (1-3tahun) yang sedang belajar bahasa ibunya. Nah,coba amati dan coba jelaskan kesamaan dari tiga contoh diatas?
Anda pasti mengatakan bahwa ada beberapa fonem dan bahkan kata yang hilang pada tuturan anak. Mengapa bisa terjadi? karena anak dalam proses perkembangan, maka tuturan anak jauh lebih sederhana baik dalam bunyi atau tata bahasa daripada tuturan anak dewasa. Seperti Anda ketahui, kemampuan berbahasa anak itu bertahap. Mulai dari tuturan satu kata, dua kata, dan seterusnya. Kata – kata yang digunakan memiliki cakupan makna yang luas, seperti satu kata mewakili satu kalimat.oleh karena itu pula, sekalipun ada bunyi atau kata yang hilang, tidak biasanya dapat memahami apa yang dikatakan anak.
Ciri berbahasa anak – anak seperti itu disebut penyederhanaan atau pengurangan (reduksi). Ketika berbicara, anak – anak menyederhanakan model tuturan orang dewasa. Bagi anak itu sendiri, strategi ini tentu tidak disadarinya. Karena pembentukan kaidah bahasa itu bertahap melalui uji coba dan perbaikan, maka perkembangan tuturan anakpun tidak serumit orang dewasa.


C. Pemerolehan Bahasa Anak
1)  Hakekat Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika  dikaitkan dengan hal itu, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998). Selain pendapat tersebut, Kiparsky dalam Tarigan (1988) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa bersangkutan.
Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang sistem kaidah yang ada di dalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. Adapun karakteristik pemerolehan bahasa menurut Tarigan dkk. (1998) adalah:
a. berlangsung dalam situasi informal, anak-anak belajar bahasa tanpa beban, dan di luar sekolah;
b. pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal di lembaga lembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus;
c. dilakukan tanpa sadar atau secara spontan;
d. dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak.

2)  Teori Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya
Ada dua pandangan mengenai pemerolehan bahasa (McGraw dalam Krisanjaya, 1998). Pertama pemerolehan bahasa mempunyai permulaan mendadak atau tiba-tiba. Kebebasan berbahasa dimulai sekitar satu tahun ketika anak-anak menggunakan kata-kata lepas atau terpisah dari simbol pada kebahasaan untuk mencapai aneka tujuan sosial mereka. Pandangan kedua menyatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial dan kemampuan kognitif pralinguistik. Khusus mengenai hubungan perkembangan kognitif dengan perkembangan bahasa anak dapat disimpulkan 2 hal. Pertama, jika seorang anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik. Kedua, penutur bahasa harus memperoleh kategorikategori kognitif yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa alamiah, seperti: waktu, ruang, kausalitas dan sebagainya.
Lenneberg salah seorang ahli teori belajar bahasa yang sangat terkenal (1969) mengatakan bahwa perkembangan bahasa bergantung pada pematangan otak secara biologis. Pematangan otak memungkinkan ide berkembang dan selanjutnya memungkinkan pemerolehan bahasa anak berkembang.

3) Ragam Pemerolehan Bahasa Anak
Ditinjau dari segi urutan, dikenal ragam:
a.    pemerolehan bahasa pertama
b.   pemerolehan bahasa kedua
1.  Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Apabila seorang anak menggunakan ujaran-ujaran yang bentuknya benar atau gramatikal, belum berarti ia telah menguasai bahasa pertama
Proses belajar bahasa pertama memiliki ciri-ciri:
     belajar tidak disengaja
     berlangsung sejak lahir
     lingkungan keluarga sangat menentukan
     motivasi ada karena kebutuhan
     banyak waktu untuk mencoba bahasa
     banyak kesempatan untuk berkomunikasi.
                  
Anak- anak dalam proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4 strategi, di antaranya:
1)  meniru/imitasi.
Berbagai penelitian menemukan berbagai jenis peniruan atau imitasi, seperti: imitasi spontan, imitasi perolehan, imitasi seger,  imitasi lambat, imitasi perluasan
2)  strategi produktivitas
Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa melalui sarana komunikasi linguistik dan nonlinguistik (mimik, gerak, isyarat, suara dsb).


3)   Strategi umpan balik
 yaitu umpan balik antara strategi produksi ujaran (ucapan) dengan responsi.
4)   Prinsip operasi.
Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman, ”Gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menggunakan bahasa”( hindarkan kekecualian, prinsip khusus: seperti kata: berajar menjadi belajar).

2.  Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa kedua dimaknai saat seseorang memperoleh sebuah bahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya (bahasa ibu). Ada juga yang menyamakan istilah bahasa kedua sebagai bahasa asing.
Pada proses belajar bahasa kedua terdapat ciri-ciri:
1)  belajar bahasa disengaja, misalnya karena menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah
2)  berlangsung setelah pelajar berada di sekolah
3)  lingkungan sekolah sangat menentukan
4)  motivasi pelajar untuk mempelajarinya tidak sekuat mempelajari bahasa pertama. Motivasi itu misalnya ingin memperoleh nilai baik pada waktu ulangan atau ujian.
5)  waktu belajar terbatas
6)  pelajar tidak mempunyai banyak waktu untuk mempraktikan bahasa yang dipelajari.
7)  bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua
8)  umur kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung lama.
9)  disediakan alat bantu belajar
10)  ada orang yang mengorganisasikannya, yakni guru dan sekolah.

Dalam kaitannya dengan proses belajar bahasa kedua perlu diperhatikanbeberapa strategi yang dapat diterapkan. Stern (1983) menjelaskan ada sepuluh strategidalam proses belajar bahasa, yaitu:
1) strategi perencanaan dan belajar positif
2) strategi aktif, pendekatan aktif dalam tugas belajar, libatkan siswa Anda secara aktif dalam belajar bahasa bahkan melalui pelajaran yang lain.
3) strategi empatik, ciptakan empatik pada waktu belajar bahasa.
4) strategi formal; perlu ditanamkan kepada siswa bahwa proses belajar bahasa ini formal/terstruktur sebab pendidikan yang sedang ditanamkan adalah pendidikan formal bukan alamiah.
5)  strategi eksperimental; tidak ada salahnya jika Anda mencoba-coba sesuatu untuk peningkatan belajar siswa Anda
6) strategi semantik, yakni menambah kosakata siswa dengan berbagai cara, misalnya permainan (contoh: teka-teki); permainan dapat meningkatkan keberhasilan belajar bahasa.
7) strategi praktis; pancinglah keinginan siswa untuk mempraktikan apa yang telah didapatkan dalam belajar bahasa, Anda sendiri harus dapat menciptakan situasi yang kondusif di kelas.
8) strategi komunikasi; tidak hanya di kelas, motivasi siswa untuk menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata meskipun tanpa dipantau, berikan pertanyaanpertanyaan atau PR yang memancing mereka bertanya kepada orang lain sehingga strategi ini terpakai.
9) strategi monitor; siswa dapat saja memonitor sendiri dan mengkritik penggunaan bahasa yang dipakainya, ini demi kemajuan mereka.
10) strategi internalisasi; perlu pengembangan/pembelajaran bahasa kedua yang telah dipelajari secara terus-menerus/berkesinambungan.


4) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Anak
Ada dua persyaratan dasar yang memungkinkan anak dapat memperoleh kemampuan berbahasa, yaitu potensi faktor biologis yang dimiliki sang anak, serta dukungan sosial yang diperolehnya. Selain itu, ada beberapa faktor penunjang yang merupakan penjabaran dari kedua hal atas yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan bahasa yang diperoleh anak. Faktor- faktor yang dimaksud adalah seperti berikut:
1)      Faktor biologis
2)      Faktor lingkungan sosial
3)      Faktor intelegensi
4)      Faktor motivasi

Noam choamsky, tokoh behavioris, berpendapat bahwa semua manusia mempunyai kemampuan bawaan untuk berbahasa. Dari kegiatan berinteraksi dengan lingkungan, sesorang akan mampu belajar bahasa atau membentuk kemampuan berbahasa. Perangkat biologis yang menentukan anak anak dapat memperoleh kemampuan bahasa ada tiga, yaitu otak, alat dengar, dan alat ucap. Dalam proses berbicara, sistem syaraf yang ada di otaklah sebagai pengendali. Semua isyarat tanggapan bahasa yang sudah di proses diotak selanjutnya di kirimkan ke daerah motor seperti alat ucap untuk menghasilkan bahasa secara fisik.

5)  Alasan Anak Belajar Berbahasa
Bahasa yang diperoleh anak tidak diwariskan secara genetis  atau keturunan, teapi didapat dalam lingkungan yang menggunakan bahasa. Sehubungan dengan hal itu, maka anak memerlukan orang lain, anak mmerlukan contoh atau model berbahasa, respon dan tanggapan, serta teman untuk berlatih dan beruji coba dalam belajar bahasa dalam konteks yang sesungguhnya. Dengan demikian,lingkungan sosial merupakan salah satu faktor prnting yang menentukan pemerolehan bahasa anak. Selain lingkungan sosial, intelegensi pun berpengaruh terhadap pemerolehan bahasa anak. Anak yang berintelegensi tinggi tingkat pencapaian bahasanya senderung lebih cepat, lebih banyak, dan lebih variatif, khasanah bahasanya daripada anak- anak yang berintelegensi rendah ( tarigan dkk.,1998).
Pada ilustrasi sebelumnya sudah diuraiakan bahwa semakin besar perhatian sang ibu curahkan kepada si bayi, maka semskin berani pula sang bayi melahirkan ungkapan- ungkapan sebagai respon atas stimulus yang diberikan oleh si ibu kepadanya. Kejadian semacam itu bagi si bayi dirasakan sebagai sesuatu yang menyenagkan atau positif reinforsmen. Setiap dia menyuarakan “ma-ma”, dia akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, maka dia akan mengulanginya lagi. Kondisi belajar bahasa semacam itu akan terus mempengaruhi seorang anak hingga ia menjadi tumbuh dewasa. Dorongan yang positif tadi terus mempengaruhinya sehingga timbul keinginan seoranga anak untuk meniru orang dewasa berbahasa. Dengan demikian, sudah jelas bahwa motivasi atau dorongan akan memacu anak untuk belajar dan menguasai bahasanya lebih baik lagi.
Selain pendapat diatas, ellis dkk.(1989) mengemukakan bahwa anak belajar berbicara sesuai dengan kebutuhannya. Sekiranya ia dapat memperoleh apa yang diinginkannya tanpa bersusah payah untuk memintanya, maka ia tidak merasa perlu untuk berusaha belajar berbahasa. Jadi pada mulanya motif nak belajar bahasa ialah agar dapat memenuhi kebutuhannya, keinginanya, dan menguasai lingkungannya sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dengan demikian, kebutuhan utama anak- anak sehingga belajar berbahasa adalah:
1)  Keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya, kemudian   mengenai dirinys sendiri dan kawan- kawannya
2) Beri perintah dan menyatakan kemauan
3) Pergaulan sosial dengan orang lain
4) Menyatakan pendapat dan ide- idenya.
BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika  dikaitkan denga hal itu, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998). Selain pendapat tersebut, Kiparsky dalam Tarigan (1988) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa bersangkutan.
Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang sistem kaidah yang ada di dalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa.

B. KRITIK DAN SARAN
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam rangka pengetahuan untuk strategi pemerolehan bahasa anak . Kurangnya sumber materi dalam penyusunan makalah ini semoga tidak mengurangi manfaat yang terkandung.


DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Djago dkk. 1999. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Universitas Terbuka

Zuchdi, Darmiyanti dan Budiasih. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Yogyakarta : PAS Yogyakarta

Faisal, M. 2009. KajianBahasa Indonesia SD. Jakarta :Depdiknas
 


    disusun oleh: 
    Siti Naila Syaadah        (12120366)   
                            Mahdhalena Dwi A       (12120369)
    Febriani Ekawati          (12120375)
    Reni Nur Vandila          (12120391)
    Lingga Pramono S.       (12120392)
    Nurul Mufidatun N.      (12120394)
    Ary Zuqnil  Fauza         (12120405)



EmoticonEmoticon