4/19/16

Makalah Penerapan Model Quantum Learning Dalam Pembelajaran



BAB I

PENDAHULUAN
  
A.     Latar Belakang

            Pada era global dalam berbagai bidang, kita harus berpikir global dan bertindak lokal,  baik di bidang Ekonomi dan Politik maupun bidang Ideologi, Sosial Budaya, dan Pertahanan. Sudah terlihat jelas, hanya bangsa-bangsa yang memiliki sumber daya manusia (SDM) berkualitas tinggi yang mendapat survive mencapai Stabilitas Nasional yang sehat dan dinamis, berkembang dan mencapai kemakmuran yang berkeadilan.
            Dalam rangka merealisasikan upaya tersebut diatas, wahana dan sarana yang paling tepat adalah Peningkatan Pendidikan, sebab pada dasarnya pendidikan merupakan proses peningkatan kualitas SDM yang hasilnya diperlukan dalam pembangunan. Namun demikian kemampuan dunia pendidikan untuk menjalankan fungsi dan perannya secara optimal baru akan terwujud apabila memiliki sistem dan isi yang relevan dengan tuntutan kebutuhan pembangunan dan Revolusi Iptek, yang kenyataannya karakteristik pendidikan seperti itu justru masih merupakan permasalahan di negeri ini.
            Diantaranya perlu strategi pembelajaran yang membangun minat dan semangat siswa, untuk mematangkan dan mengembangkan hasil belajar perlu belajar yang menyenangkan dan guru yang menyenangkan ( Quantum Learning and Quantum Teaching).
B.     Tujuan
            Tujuan dari Penelitian ini adalah Untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, disamping juga menyelaraskan dan meyerasikan proses pembelajaran dengan pandangan-pandangan dan temuan-temuan baru di pelbagai bidang falsafah dan metodologi pembelajaran senantiasa dimutakhirkan, diperbaharui, dan dikembangkan oleh berbagai kalangan khususnya kalangan pendidikan-pengajaran-pembelajaran. Oleh karena itu, falsafah dan metodologi pembelajaran silih berganti dipertimbangkan, digunakan atau diterapkan dalam proses pembelajaran dan pengajaran. Lebih-lebih dalam dunia yang lepas kendali atau berlari tunggang langgang (runway world-istilah Anthony Giddens) sekarang, falsafah dan metodologi pembelajaran sangat cepat berubah dan berganti, bahkan bermunculan secara serempak; satu falsafah dan metodologi pembelajaran dengan cepat dirasakan usang atau ditinggalkan, kemudian diganti (dengan cepat pula) dengan dan dimunculkan satu falsafah dan metodologi pembelajaran yang lain, malahan sering diumumkan atau dipopulerkan secara serentak beberapa falsafah dan metodologi pembelajaran.
            Tidak mengherankan, dalam beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia telah berkelebatan (muncul, populer, surut, tenggelam) berbagai falsafah dan metodologi pembelajaran yang dipandang baru-mutakhir meskipun akar-akar atau sumber-sumber pandangannya seebenarnya sudah ada sebelumnya, malah jauh sebelumnya. Beberapa di antaranya (yang banyak dibicarakan), didiskusikan, dan dicobakan oleh pelbagai kalangan pembelajaran konstruktivis, Pembelajaran kooperatif, pembelajaran terpadu, pembelajaran aktif, pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning, CTL).

C.     Sasaran
            Pada permulaan perkembangannya, pembelajaran kuantum terutama dimaksudkan untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karier para remaja di rumah atau di ruang-ruang rumah; tidak dimaksudkan sebagai metode dan strategi pembelajaran untuk mencapai keberhasilan lebih tinggi di sekolah atau ruang-ruang kelas. Lambat laun, orang tua para remaja juga meminta kepada DePorter untuk mengadakan program-program pembelajaran kuantum bagi mereka. “Mereka telah melihat hal yang telah dilakukan Quantum Lerning pada anak-anak mereka, dan mereka ingin belajar untuk menerapkan teknik dan prinsip yang sama dalam hidup dan karier mereka sendiri-perusahaan komputer; kantor pengacara, dan tentu agen-agen relestat mereka. Demikian lingkaran ini terus bergulir”, papar DePorter dalam Quantum Business (2001:27). Demikianlah, metode pembelajaran kuantum merambah berbagai tempat dan bidang kegiatan manusia, mulai lingkungan pengasuhan di rumah (parenting), lingkungan bisnis, lingkungan perusahaan, sampai dengan lingkungan kelas        (sekolah). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pembelajaran kuantum merupakan falsafah dan metodologi pembelajaran yang bersifat umum, tidak secara khusus diperuntukkan bagi pengajaran sekolah.
            Falsafah dan metodologi pembelajarn kuantum yang telah dikembangkan, dimatangkan, dan diujicobakan tersebut selanjutnya dirumuskan, dikemukakan, dan dituliskan secara utuh dan lengkap dalam buku Quantum Learning: Unleashing The Genius in You. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1992 oleh Dell Publishing New York. Pada tahun 1999 muncul terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit KAIFA Bandung dengan judul Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan). Buku yang ditulis oleh DePorter bersama Mike Hernacki-mitra kerja DePorter yang mantan guru dan pengacara, tersebut memaparkan pandangan-pandangan umum dan prinsip-prinsip dasar yang membentuk bangun pembelajaran kuantum. Pandangan-pandangan umum dan prinsip-prinsip dasar yang termuat dalam Quantum Lerning selanjutnya diterapkan, dipraktekkan, dan atau diimplementasikan dalam lingkungan bisnis dan kelas (sekolah).

            Pembelajaran Quantum pada dasarnya merupakan ramuan atau rakitan dari berbagai teori atau pandangan psikologi kognitif dan pemrograman neurologi/  neurolinguistik yang jauh sebelumnya sudah ada. Disamping itu,  ditambah dengan pandangan-pandangan pribadi dan temuan-temuan empiris yang diperoleh DePorter ketika mengembangkan konstruk awal pembelajaran Quantum. Hal ini diakui sendiri oleh DePorter. Dalam Quantum Learning (1999:16) dia mengatakan sebagai berikut:
Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode kami sendiri. Termasuk di antaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar yang lain, seperti:
·         Teori otak kanan/ kiri
·         Teori otak triune (3 in 1)
·         Pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik)
·         Teori kecerdasan ganda
·         Pendidikan holistik (menyeluruh)
·         Belajar berdasarkan pengalaman
·         Belajar dengan simbol
·         Simulasi/ Permainan
Sementara itu, dalam Quantum Teaching (2000:4) dikatakannya sebagai berikut:
Quantum Teaching adalah badan hukum ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitas SuperCamp. Diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelegences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinser dan Bandler), Experimential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan Element of Effective Instruction (Hunter).
Dua kutipan tersebut dengan gamblang menunjukkan bahwa ada bermacam-macam akar pandangan dan pikiran yang menjadi landasan pembelajaran Quantum. Pelbagai akar pandangan dan pikiran itu diramu, bahkan disatukan dalam sebuah model teoritis yang padu dan utuh hingga tidak tampak lagi asalnya, pada gilirannya model teoritis tersebut diujicobakan secara sistematis sampai ditemukan bukti-bukti empirisnya.

            Diantara berbagai akar pandangan dan pikiran yang menjadi landasan pembelajaran Quantum yang dikemukakan oleh DePorter di atas, tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan-pandangan teori sugestologi atau pembelajaran eksperensial neurolinguistik (NLP) Grinder dan Blinder, dan pembelajaraneksperensial (berdasarkan pengalaman) Hahn serta temuan-temuan mutakhir neurolinguistik sangat berpengaruh terhadap pandangan dasar pembelajaran Quantum mengenai kemampuan manusia selaku pembelajar, khususnya kemampuan otak dan pikiran pembelajar. Selain itu, dalam batas tertentu teori dan temuan tersebut juga berpengaruh terhadap pandangan dasar pembelajaran Quantum tentang perancangan, penyajian, dan pemudahan (fasilitas) proses pembelajaran untuk mengembangkan dan melejitkan potensi diri pembelajar, khususnya kemampuan dan kekuatan pikiran pembelajar. Sementara itu pembelajaran akseleratif, pembelajaran eksperensial, dan pembelajaran kooperatif sangat berpengaruh terhadap pandangan dasar pembelajaran Quantum terhadap kiat-kiat merangang, menyajikan, mengelola, memudahkan, dan atau mengorkestrasi proses pembelajaran yang efektif dan optimal termasuk kiat memperlakukan faktor-faktor yang menentukan keberhailan proses pembelajaran.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA


A.     Quantum Learning (Belajar yang Menyenangkan)
            Belajar adalah proses penambahan pengetahuan, yang bertujuan untuk menghasilkan generasi hari esok yang memiliki kecerdasan majemuk dan berkembang secara harmonis dan optimal, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang relevan dan bervariasi serta etos kerja yang kuat dan bersifat konsisten, sehingga berdaya saing tinggi dan markettable (mudah diterima atau dibutuhkan oleh pasar) baik ditingkat Regional maupun Nasional, dengan harapan hasil kerja dari belajar untuk melawan tantangan masa depan. Tantangan ini akan berpengaruh pada dunia pendidikan baik dalam kontek makro maupun mikro.
            Ruang lingkup belajar substansinya mencakup pengetahuan dan keterampilannya, kalau pengetahuan hal yang paling diharapkan adalah pendekatan nilai dan sikap kognitif, sedangkan keterampilan yang diharapkan agar berguna bagi hidup (life skills).
            Belajar menurut Gagne (1977), Definisi belajar adalah sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecendrungan manusia seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuan yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja). Perubahan tingkah laku harus dapat bertahan selama jangka waktu tertentu. Dengan demikian, belajar pada dasarnya dpat dipandang sebagai proses perubahan positif, kualitatif yang terjadi pada tingkah laku siswa sebagai subjek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, kemampuan berpikir logis dan kritis, kemampuan interaktif dan kreativitas yang telah dicapai. Konsep belajar menempatkan manusia yang belajar tidak panya pada proses teknis, tetapi ditempatkan pada proses normatif juga. Hal ini amat penting agar perkembangan kepribadian dan kemampuan pembelajaran terjadi harmonis dan optimal.

1.  Faktor-Faktor Belajar
  1. Faktor Internal (dari dalam siswa)
Yang harus diperhatikan antara lain bakat, kecerdasan (intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ), minat, motivasi, sikap dan latar belakang sosial ekonomi dan budaya.
  1. Faktor Eksternal (dari luar siswa)
Yang harus diperhatikan tujuan pembelajarannya, materi belajarnya, strategi dan metode pembelajarannya, media atau alat pembelajaran, pengorganisasian kelas, penguatan positif (rein forcement), iklim sosial dalam kelas, waktu yang tersedia, sistem dan teknik evaluasi pandangan dan sikap guru tehadap siswa, dan upaya guru dalam menangani kesulitan belajar siswa.
2.        QUANTUM LEARNING (belajar yang menyenangkan)
          Dari banyaknya faktor yang mempengaruhi belajar siswa, maka interaksi antar faktor akan berpengaruh pada kualitas proses dan hasil belajar siswa. Ada pendapat dari sebuah Credo (keyakinan) dalam konteks Revolusi Belajar (Peter Kline, dikutip oleh Gordon Dry den dan Jennete Vos, 1999) “belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan”. Dan hal ini sekarang menjadi salah satu terobosan di dunia pendidikan dalam menerapkan strategi pembelajaran, memang harus diakui, belajar dalam keadaan senang bahkan asyik (Joyful, Fun), siswa akan mengaktualisasikan dan mendayagunakan seluruh potensi yang dinilikinya dan dihadapinya. Dengan maksud hatinya akan berusaha”menyesuaikan diri”, bahkan”menaklukkan” obyek belajar yang dihadapi sehingga dapat menguasai secara optimal.

3.         KARAKTERISTIK UMUM
          Walaupun memiliki akar landasan bermacam-macam sebagaimana dikemukakan di atas, pembelajaran quantum memiliki karakteristik umum yang dapat mamantapkan dan menguatkan sosoknya. Beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk sosok pembelajaran Quantum sebagai berikut:
·   Pembelajaran Quantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika quantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep quantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari bernagai teori psikologi kognitif; bukan teori fisika quantum. Dapat dikatakan disini bahwa pembelajarn quantum tidak berkaitan erat dengan fisika quantum, kecuali analogi beberapa konsep quantum. Hal ini membuatnya lebih bersifat kognitif daripada fisis.

·     Pembelajaran quantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, hewan-istis, dan atau nativistis. Manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal. Hadiah dan hukuman dipandang tidak ada karena semua usaha yang dilakukan manusia patut dihargai. Kesalahan dipandang sebagai gejala manusiawi. Ini semua menunjukkan bahwakeseluruhan yang ada pada manusia dilihat dalam perspektif humanistis.

·  Pembelajaran quantum lebih bersifat konstruktivis (tis), bukan positivis-empiris, behavioristis, dan atau maturasionistis. Karena itu, menurut hemat penulis, nuansa konstruktivisme dalam pembelajaran quantum relatif kuat. Malah dapat dikatakan di sini bahwa pembelajaran quantum merupakan salah satu cermin silsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme sosial. Meskipun demikian, berbeda dengan konstrutivisme kognitif lainnya yang kurang begitu mengedepankan atau mengutamakan lingkungan, pembelajaran quantum justru menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal dan memudahkan keberhasilan tujuan pembelajaran.

·   Pembelajaran quantum berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergi, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Atau lebih tepat dikatakan di sini bahwa pembelajaran quantum tidak memisahkan dan tidak membedakan antara res cogitans dan res extenza, antara apa yang di dalam dan apa yang di luar.  Dalam pandangan pembelajaran quantum, lingkungan fisik-mental dan kemampuan pikiran atau diri manusia sama-sama pentingnya dan saling mendukung. Karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulan yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.

·  Pembelajaran quantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna. Dapat dikatakan bahwa interaksi  telah menjadi kata kunci dan konsep sentral dalam pembelajaran quantum. Karena itu, pembelajaran quantum memberikan tekanan pada pentingnya interaksi, frekuensi dan akumulasi interaksi yang bermutu dan bermakna. Di sini proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan interaksi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya-cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar. Interaksi yang tidak mampu mengubah energi menjadi cahaya harus dihindari, kalau perlu dibuang jauh dalam proses pembelajaran. Dalam kaitan inilah komunikasi menjadi sangat penting dalam pembelajaran quantum

·     Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di sini pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan quantum. Pendeknya, menurut pembelajarn quantum, proses pembelajaran harus berlangsung cepat dengan keberhasilan tinggi. Untuk itu, segala hambatan dan halangan yang dapat melambatkan proses pembelajaran harus disingkirkan, dihilangkan, atau dieliminasi. Disini pelbagai kiat, cara, dan teknik dapat dipergunakan, misalnya pencahayaan, iringan musik, suasana yang menyegarkan lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan sebagainya. Jadi, segala sesuatu yang menghalangi pemercepatan pembelajaran harus dihilangkan pada satu sisi dan pada sisi lain segala sesuatu yang mendukung pemercepatan pembelajaran harus diciptakan dan dikelola sebaik-baiknya.

·  Pembelajaran quantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan kertifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar, sehat, releks, santai, dan menyenangkan, sedang keartifisialan dan kepura-puraan menimbulkan suasana tegang, kaku, dan membosankan. Karena itu, pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola, dan difasilitasi sedemikian rupa sehingga dapat diciptakan atau diwujudkan proses pembelajaran yang alamiah dan wajar. Disilah para perancang dan pelaksana pembelajaran harus bekerja secara proaktif dan suportif untuk menciptakan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.

·    Pembelajaran quantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sebab itu, segala upaya memungkinkan terwujudnya kebermaknaan dan kebermutuan pembelajaran harus dilakukan oleh pengajar atau fasilitator. Dalam hubungan inilah perlu dihadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman pembelajar perlu diakomodasi secara memadai. Pengalaman yang asing bagi pembelajar tidak perlu dihadirkan, karena hal ini hanya membuahkan kehampaan proses pembelajaran. Untuk itu, dapat dilakukan upaya membawa dunia pembelajar ke dalam dunia pengajar pada satu pihak dan pada pihak lain mengantarkan dunia pengajar ke dalam dunia pembelajar. Hal ini perlu dilakukan secara seimbang.

·      Pembelajaran quantum memiliki model yang memadukan konteks  dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancanngan belajar yang dinamis. Isi pembelajaran meliputi penyajian yang prima, pemfasilitasan yang lentur, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup. Konteks dan isi ini tidak terpisahkan, saling mendukung, bagaikan sebuah orkestra yang memainkan simfoni.. Pemisahan keduanya hanya akan membuahkan kegagalan pembelajaran. Kepaduan dan kesesuaian keduanya secara fungsional akan membuahkan keberhasilan pembelajaran yang tinggi; ibaratnya permainan simfoni yang sempurna yang dimainkan dalam sebuah orkestra.

·     Pembelajaran quantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material. Ketiganya harua diperhatikan , diberlakukan, dan dikelola secara seimbang dan relatif sama dalam proses pembelajaran; tidak bisa hanya salah satu di antaranya. Dikatakan demikian karena pembelajaran yang berhasil bukan hanya terbentuknya keterampilan akademis dan prestasi fisikal pembelajar, namun lebih penting lagi adalah terbentuknya keterampilan hidup pembelajar. Untuk itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga terwujud kombinasi harmonis antara keterampilan akadenis, keterampilan hidup, dan prestasi fifikal.
·       Pembelajaran quantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan tertentu, proses  pembelajaran kurang bermakna. Untuk itu, pembelajar harus memiliki nilai dan keyakinan tertentu yang positif dalam proses pembelajaran. Disamping itu proses pembelajaran hendaknya menanamkan nilai dan keyakinan positif dalam diri pembelajar. Nilai dan keyakinan negatif akan membuahkan kegagalan proses pembelajaran. Misalnya, pembelajar perlu memiliki keyakinan bahwa kesalahan atau kegagalan merupakan tanda telah belajar; kesalahan atau kegagalan bukan tanda bodoh atau akhir segalanya. Dalam proses pembelajaran dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah (punishment dan reward tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai. Nilai dan keyakinan positif seperti ini perlu terus-menerus dikembangkan dan dimantapkan. Makin kuat dan mantap nilai dan keyakinan positif yang dimiliki oleh pembelajar, kemungkinan beerhasil dalam pembelajaran akan makin tinggi. Dikatakan demikian sebab “Nilai-nilai ini menjadi kacamata yang dengannya kita memandang dunia. Kita mengevaluasi, menetapkan prioritas, menilai, dan bertingkah laku berdasarkan cara kita memandang kehidupan melalui kacamata ini”, ungkap DePorter dalam Quantum Business (2000:54).
·   Pembelajaran quantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi. Karena itu, dalam pembelajaran quantum berkembang ucapan: Selamat datang keberagaman dan kebebasan, selamat tinggal keseragaman dan ketertiban! Disinilah perlunya diakui keragaman gaya belajar siswa atau pembelajar, dikembangkannya aktivitas-aktivitas pembelajar yang beragam, dan digunakannya bermacam-macam kiat dan metode pembelajaran.
·   Pembelajaran quantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.
4.         PRINSIP-PRINSIP UTAMA
            Prinsip dapat berarti (1) aturan aksi atau perbuatan yang diterima atau dikenal dan (2) sebuah hukum, aksioma, atau doktrin fundamental. Pembelajaran quantum juga dibangun di atas aturan aksi, hukum, aksioma, dan atau doktrin fundamental mengenai dengan pembelajan dan pembelajar. Setidak-tidaknya ada tiga macam ptinsip utama yang membangun sosok pembelajaran quantum. Ketiga prinsip utama yang dimaksud sebagai berikut :
a.    Prinsip utama pembelajarn quantum berbunyi:  Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita9Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar). Setiap brntuk interaksi dengan pembelajar, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode pembelajaran harus dibangun diatas prinsip utama tersebut. Prinsip tersebut menuntut pengajar untuk memasuki dunia pembelajar sebagai langkah pertama pembelajaran selain juga mengharuskan pengajar untuk membangun jembatan otentik memasuki kehidupan pembelajar. Untuk itu, pengajar dapat memanfaatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki pembelajar sebagai titik tolaknya. Dengan jalan ini pengajar akan mudah membelajarkan pembelajar baik dalam bentuk memimpin, mendampingi, dan memudahkan pembelajar menuju kesadaran dan ilmu yang lebih luas. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan, maka baik pembelajar maupun pembelajaran akan memperoleh pemahaman baru. Disamping berarti dunia pembelajar diperluas, hal ini juaga berarti dunia pengajar diperluas. Disinilah Dunia Kita menjadi dunia bersama pengajar dan pembelajar. Inilah dinamika pembelajaran manusia selaku pembelajar.
b. Dalam pembelajaran quantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orkestra simfoni. Selain memiliki lagu atau partitur, permainan simfoni ini memiliki struktur dasar chord. Strutur dasar chord  dapat disebut prinsip-prinsip dasar pembelajaran quantum. Prinsip-prinsip dasar ini ada lima macam berikut ini:
    1. Ketahuilah bahwa Segalanya Berbicara
     Dalam pembelajaran quantum, segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang sampai sikap guru, mulai kertas yang dibagikan oleh pengajar sampai dengan rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran
v  Ketahuilah bahwa Segalanya Bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energi menjadi cahaya mempunyai tujuan. Tidak ada kejadian yang tidak bertujuan. Baik pembelajar maupun pengajar harus menyadari bahwa kejadian yang dibuatnya selalu bertujuan.
v  Sadarilah bahwa Pengalaman Mendahului Penamaan
Proses pembelajaran paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Dikatakan demikian karena otak manusia berkembang pesat dengan adanya stimulan yang kompleks, yang selanjutnya akan menggerakkan rasa ingin tahu.
v  Akuilah Setiap Usaha yang Dilakukan dalam Pembelajaran
Pembelajaran atau belajar selalu mengandung resiko besar. Dikatakan demikian karena pembelajaran berarti melangkah keluar dari kenyamanan dan kemapanan di samping berarti membongkar pengetahuan sebelumnya. Pada waktu pembelajar melakukan langkah keluar ini, mereka patut memperoleh pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Bahkan sekalipun mereka berbuat kesalahan, perlu diberi pengakuan atas usaha yang mereka lakukan.
v  Sadarilah bahwa Sesuatu yang Layak Dipelajari Layak Pula Dirayakan.
Segala sesuatu yang layak dipelajari oleh pembelajar sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya. Perayaan atas apa yang telah dipelajari dapat memberikan balikan mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan pembelajaran.
c.   Dalam pembelajaran quantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Dengan kata lain, pembelajaran perlu diartikan sebagai pembentukan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandang sebagai jantung fondasi pembelajaran quantum. Ada delapan prinsi[ keunggulan yang juga disebut delapan kunci keunggulan yang diyakini dalam pembelajaran quantum.
      Delapan kunci keunggulan itu sebagai berikut :
v  Terapkanlah Hidup dalam Integritas
          Dalam pembelajarn, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang lahir ketika nilai-nilai dan prilaku kita menyatu. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar yang pada gilirannya mencapai tujuan belajar. Dengan kata lain, integritas dapat membuka pintu jalan menuju prestasi puncak.
v    Akuilah Kegagalan Dapat Membawa Kesuksesan
Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan dapat memberikan  informasi kepada kita yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut, sehingga kita dapat berhasil. Kegagalan janganlah membuat cemas terus menerus dan diberi hukuman karena kegagalan merupakan tanda bahwa seseorang telah belajar.
v    Berbicara dengan Niat Baik
Dalam pembelajaran, perlu dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung. Niat baik berbicara dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pembelajar.
v    Tegaskanlah Komitmen
DalamPembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti visi-visi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan. Untuk itu, mereka perlu melakukan apa saja untuk menyelesaikan pekerjaan. Disinilah perlu dikembangkan slogan : Saya harus menyelesaikan pekerjaan yang memang harus saya selesaikan, bukan yang hanya saya senangi.
v    Jadilah Pemilik
Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu. Karena itu, pengajar dan pembelajar harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugas mereka. Mereka hendaklah menjadi manusia yang dapat diandalkan, seseorang yang bertanggung jawab.
v    Tetaplah Lentur
Dalam pembelajaran, pertahankan kemampuan untuk mengubah yang sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar, lebi-lebih pengajar, harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan. Misalnya, di kelas guru dapat saja mengubah rencana pembelajaran bilamana diperlukan demi keberhasilan siswa-siswanya; jangan mati-matian mempertahankan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
v    Pertahankan Keseimbangan
Dalam pembelajaran, pertahankan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal. Tetap dalam keseimbangan merupakan proses berjalan yang membutuhkan penyesuaian terus-menerus sehingga diperlukan sikap dan tindakan cermat dari pembelajar dan pengajar.
PANDANGAN TENTANG PEMBELAJARAN DAN PEMBELAJAR
            Selain memiliki karakteristik umu dan prinsip-prinsip utama seperti dikemukakan di atas, pembelajaran quantum memiliki pandangan tertentu tentang pembelajaran dan pembelajar. Beberapa pandangan mengenai pembelajaran dan pembelajar yang dimaksud dapat dikemukakan secara ringkas berikut:
Ø  Pembelajaran berlangsung secara aktif karena pembelajar  itu aktif dan kreatif. Bukti keaktifan dan kekreatifan itu dapat ditemukan dalam peranan dan fungsi otak kanan dan otak kiri pembelajar. Pembelajaran pasif mengingkari kenyataan bahwa pembelajar itu aktif dan kreatif, mengingkari peranan dan fungsi otak kanan dan otak kiri.
Ø  Pembelajaran berlangsung efektif dan optimal bila didasarkan pada karakteristik gaya belajar pembelajar sehingga penting sekali pemahaman atas gaya belajar pembelajar. Setidak-tidaknya ada tiga gaya belajar yang harus diperhitungkan dalam proses pembelajaran yaitu: gaya auditoris, gaya visual, dan gaya kinestesis.
Ø  Pembelajaran berlangsung efektif dan optimal tercipta atau terdapat suasana nyaman, menyenangkan, rileks, sehat, dan menggairahkan sehingga kenyamanan, kesenangan, kerileksan, dan kegairahan dalam pembelajaran perlu diciptakan dan dipelihara. Pembelajar dapat mencapai hasil optimal bila berada dalam suasana nyaman, menyenangkan, rileks, sehat, dan menggairahkan. Untuk itu, baik lingkungan fisikal, lingkungan mental, dan suasana harus dirancang sedemikian rupa agar membangkitkan kesan rileks, menyenangkan, sehat, dan menggairahkan.
Ø  Pembelajaran melibatkan lingkungan fisikal-mental dan kemampuan pikiran atau potensi diri pembelajar secara serempak. Oleh karena itu penciptaan dan pemeliharaan lingkungan yang tepat sangat penting bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan optimal. Dalam konteks inilah perlu dipelihara suasana positif, aman, suportif, santai, dan menyenangkan; lingkungan belajar yang nyaman, membangkitkan semangat, dan bernuansa musikal; dan lingkungan fisik yang partisipatif, saling menolong, mengandung permainan, dan sejenisnya.
Ø  Pembelajaran terutama pengajar membutuhkan keserasian konteks dan isi. Segala konteks pembelajaran perlu dikembangkan secara serasi dengan isi pembelajaran. Untuk itulah harus diciptakan dan dipelihara suasana yang memberdayakan atau menggairahkan, landasan yang kukuh, lingkungan fisikal-mental yang mendukung, dan rancangan pembelajaran yang dinamis. Selain itu, perlu juga diciptakan dan dipelihara peyajian yang prima, pemfasilitasan yang lentur, keterampilan belajar merangsang untuk belajar; dan keterampilan hidup yang suprtif.
Ø  Pembelajaran berlangsung optimal bilamana ada keragaman dan kebebasan karena pada dasarnya pembelajar amat beragam dan memerlukan kebebasan. Karena itu, keragaman dan kebebasan perlu diakui, dihargai, dan diakomodasi dalam proses pembelajaran. Keseragaman dan ketertiban (dalam arti kekakuan) harus dihindari karena mereduksi dan menyederhanakan potensi dan karakteristik pembelajar. Potensi dan karakteristik pembelajar sangat beragam yang memerlukan suasana bebas untuk aktualisasi atau artikulasi.
 


BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

         Dalam rangka untuk merealisasikan upaya persaingan global dalam berbagai bidang wahana dan sarana yang paling tepat adalah untuk Peningkatan Pendidikan, sebab pada dasarnya pendidikan merupakan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia yang hasilnya diperlukan dalam pembangunan. Namun demikian kemampuan dunia pendidikan untuk menjalankan fungsi dan perannya secara optimal baru akan terwujud apabila memiliki sistem dan isi yang relevan dengan tuntutan kebutuhan pembangunan dan Revolusi Iptek, yang kenyataannya karakteristik pendidikan seperti itu justru masih merupakan permasalahan di negeri ini.
         Diantaranya perlu strategi pembelajaran yang membangun minat dan semangat siswa, untuk mematangkan dan mengembangkan hasil belajar perlu belajar yang menyenangkan dan guru yang menyenangkan (Quantum Learning and Quantum Teaching).
              
B.  Saran
         Berdasarkan simpulan diatas ada beberapa saran yang perlu disampaikan diantaranya yaitu 1) guru dapat memfasilitasi siswa untuk belajar, 2) guru lebih memperhatikan faktor-faktor yang ada pada diri siswa baik internal maupun ekternal, 3)guru dapat membantu mengarahkan terjadinya interaksi antara guru dan siswa.





EmoticonEmoticon