4/9/16

Makalah Tahap Pengajaran Bahasa Indonesia



BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Pengajaran dapat diartikan sebagai training, instructing, conditioning, and indoctrinating (pelatihan, penugasan, penyediaan kondisi dan indoktrinasi). Dalam pelaksanaannya, pengajaran merupakan serangkaian kegiatan yang terpadu antara pelatihan, penugasan, penyediaan kondisi dan
indoktrinasi dengan komponen kurikulum, bahan ajar, media, metode, lingkungan, guru dan siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan pengajaran bahasa adalah meningkatkan potensi siswa dalam berbahasa. Oleh karena itu, serangkaian kegiatan yang terpadu itu ditujukan untuk meningkatkan potensi siswa dalam berbahasa. Untuk itu, pengajaran bahasa Indonesia merupakan serangkaian kegiatan yang terpadu antara pelatihan, penugasan, penyediaan kondisi dan indoktrinasi dengan komponen kurikulum, bahan ajar, media, metode, lingkungan serta guru untuk meningkatkan potensi siswa dalam berbahasa Indonesia. Bagaimana pengajaran bahasa Indonesia dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD)? Artinya: bagaimana tahap-tahap pengajaran bahasa Indonesia dilaksanakan di Sekolah Dasar? Itulah masalah yang tidak pernah berakhir pada satu jawaban
yang pasti, namun pengajaran bahasa Indonesia akan terus berkembang. Untuk pengajaran bahasa Indonesia senantiasa harus menyesuaikan terhadap setiap perubahan yang ada. Oleh karena itu, guru harus memiliki wawasan yang memadai agar dapat menyesuaikan terhadap setiap perubahan yang ada. Dengan demikian, bagaimana pengajaran bahasa Indonesia dilaksanakan di Sekolah Dasar; dapat segera terjawab.

1.2 Rumusan Masalah
a.     Apa yang dimaksud tentang pengajaran?
b.    Apa saja model pengembangan pengajaran bahasa?
c.     Apa saja ciri – ciri Pengajaran Bahasa Terpadu dan Komunikatif?

1.3 Tujuan Penulisan
                   Untuk mengetahui apa itu pengajaran, model perkembangannya, maupun ciri – ciri pengajaran bahasa terpadu dan komunikatif agar dalam tahap pengajaran bahasa dapat terlaksa dengan baik.

BAB II
PEMBAHASAN
TEORI LANDASAN PENGAJARAN 

1. Landasan Pengajaran
Pengertian pengajaran sudah mengalami pergeseran makna seiring dengan perubahan cara pandang dan teori landasan yang ada saat ini. Untuk itu, pengertian pengajaran dalam konteks ini perlu dibatasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (2003: 17), arti pengajaran adalah: (1) proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan; (2) perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mengajar; (3) peringatan (pengalaman, pengalaman yang dialami atau dilihatnya) khusus untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami murid atausiswa. Arti mengajar adalah memberikan pelajaran kepada; sedangkan arti pelajaran adalah hal yang dipelajari atau diajarkan; latihan. Jadi, pengajaran dapat diartikan suatu proses atau cara mengajar atau mengajarkan sesuatu kepada siswa. Poerwadarminta (1976: 22) menjelaskan bahwa mengajar atau mengajarkan berasal dari kata ajar yang berarti hal (barang) apa yang dikatakan kepada orang lain supaya diketahui atau dituruti. Sedangkan mengajar adalah hal memberi pelajaran atau melatih. Ditinjau dari konteks pendidikan, pengajaran merupakan serangkaian kegiatan yang berkesinambungan yang melibatkan sejumlah komponen, antara lain: komponen guru, siswa, kurikulum, bahan ajar, metode, strategi, media, lingkungan, masyarakat, pemerintah dan keluarga. Dalam pengajaran di kelas,
kegiatan lebih diarahkan kepada mengarahkan, membimbing dan memberikan dorongan (motivasi). Untuk itu, peran guru dalam kegiatan mengajar adalah sebagai pengarah belajar ( director of learning ), penyedia fasilitas belajar (facilitator of learning ) dan pemberi motivasi belajar ( motivator of learning ).
Ditinjau dari orientasi tujuan, Miller dan Seller (1985) membedakan pengajaran menjadi tiga model, yakni: pengajaran model transmisi, pengajaran model transaksi dan pengajaran model transformasi. Pada model transmisi, Teori Landasan Pengajaran Bahasa  4 Drs. Dian Indihadi, M.Pd. pengajaran dipandang sebagai serangkaian kegiatan pewarisan dan pelestarian nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada model transaksi, pengajaran dipandang sebagai kegiatan dialog nilai-nilai budaya dalam suatu generasi. Pada model transformasi, pengajaran dipandang sebagai kegiatan pembentukan nilai-nilai budaya dalam suatu generasi. Dalam pengajaran, siswa adalah subjek kegiatan. Sebagai subjek, siswa harus dikondisikan untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar. Smith (1982) melihat bahwa rangkaian kegiatan itu harus sistematis untuk menumbuhkan belajar sehingga terjadi perubahan perilaku siswa. Rangkaian kegiatan itu digunakan untuk mengubah perilaku siswa dari mulai ranah kognisi, afeksi, psikomotrik sampai ranah apresiasi. Dengan kata lain, pengajaran harus mampu mengondisikan siswa belajar untuk mengetahui ( learning how to know ), belajar untuk belajar ( learning how to learn ), belajar untuk mengerjakan sesuatu (learning how to do ), belajar untuk mengatasi masalah ( learning how to solve the problems ), belajar untuk hidup bersama ( learning how to live together ), dan belajar untuk kemajuan kehidupan ( learning how to be ). Itu dapat dicapai apabila kegiatan pengajaran dikondisikan secara sistematis (Sudjana, 2006). Oleh karena itu, pengajaran dapat dibatasi sebagai suatu proses atau cara mengajar atau mengajarkan sesuatu kepada siswa. Dalam pelaksanaannya, pengajaran ditandai oleh serangkaian kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan dengan
melibatkan sejumlah komponen pendukung. Siswa merupakan subjek kegiatan dalam pengajaran.

2. Pengajaran Bahasa
Pengajaran bahasa dapat dibatasi sebagai suatu proses atau cara mengajarkan bahasa kepada siswa. Dalam pelaksanaannya, pengajaran bahasa ditandai oleh serangkaian kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan dengan melibatkan sejumlah komponen pendukung. Dalam pengajaran tersebut, siswa ditempatkan sebagai subjek kegiatan. Adapun bahasa ditempatkan sebagai objek untuk diajarkan kepada siswa. Menurut Hidayat (1987), ada dua faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengajaran bahasa, yakni: hakikat bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan hakikat proses belajar bahasa. Artinya, pengajaran bahasa tersebut harus menjawab pertanyaan “Apa bahan pelajaran yang akan diajarkan? Dan bagaimana proses pengajarannya?” Ada sejumlah model yang dapat digunakan untuk merumuskan tahap-tahap pengajaran bahasa. Dengan berlandastumpukan pada model pengajaran yang ada, Anda dapat mengembangkan tahap-tahap pengajaran bahasa yang sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan (Sekolah Dasar). Dalam kesempatan ini, ada tiga model pengembangan pengajaran bahasa yang akan dibahas di sini, yakni: Model Sporsky, Model Ingran, dan Model Mackey secara berurutan, ketiga model itu akan dibahas dalam sajian berikut.
a. Pengajaran Bahasa Model Sporsky
Pengajaran bahasa menurut Model Sporsky ditandai oleh serangkaian kegiatan merumuskan asumsi-asumsi untuk pengajaran bahasa di kelas. Kegiatan  itu diawali dengan merumuskan asumsi yang bersumber dari: (1) hakikat bahasa, (2) hakikat belajar bahasa,dan (3) hakikat penggunaan bahasa. Hakikat tersebut merujuk kepada sejumlah teori landasan yang relevan. Hal itu dijelaskan bahwa hakikat bahasa, hakikat penggunaan bahasa dan hakikat belajar bahasa dapat didasarkan kepada teori bahasa, teori penggunaan bahasa, teori belajar, dan teori belajar bahasa, serta teori-teori yang lain, misalnya: teori psikologi, psikolinguistik, sosiolinguistik dan linguistik umum. Untuk melihat hubungan dari masing-masing teori tersebut, Anda dapat melihat bagan berikut.
Teori Bahasa :
      1.      Teori Belajar Psikologi
      2.      Linguistik Umum
      3.      Teori Belajar Bahasa
      4.      Psikolinguistik
      5.      Deskripsi Bahasa
      6.      Teori Penggunaan Bahasa
      7.      Sosiolinguistik
      8.      Pengajaran Bahasa

Menurut model ini, pengajaran bahasa dikembangkan berdasarkan pertimbangan (asumsi) dari sejumlah teori landasan. Untuk itu, tahap awal yang perlu dilaksanakan adalah mempelajari sejumlah teori yang relevan, kemudian merumuskan bahan pelajaran dan prosedur pengajarannya. Pelaksanaan pembelajaran di kelas merupakan wujud penerapan dari hasil perumusan di awal kegiatan.

b. Pengajaran Bahasa Model Ingran
Pengajaran bahasa model Ingran ditandai oleh serangkaian kegiatan merumuskan asumsi-asumsi untuk kegiatan pengajaran di kelas. Adapun kegiatannya memiliki persamaan dengan model Sporsky namun model Ingran lebih difokuskan pada perumusan prosedur pengajaran. Untuk penentuan prosedur pengajaran di kelas, ada sejumlah tahap yang harus dilampaui. Kegiatan pengajaran diawali dengan merumuskan perencanaan, misalnya: menentukan silabus, pendekatan, tujuan, metode, teknik serta metodologi (prosedur pembelajaran). Perumusan hal tersebut didasarkan pada hasil penelusuran terhadap prinsip-prinsip belajar bahasa serta mempertimbangkan teori landasan dari ilmu dasar, linguistik, psikolinguistik, sosiolinguistik, psikologi dan sosiologi. Hubungan dan tahap kegiatan menurut model ini dapat dijelaskan dalam bagan berikut.

c. Pengajaran Bahasa Model Mackey
Pengajaran bahasa menurut model Mackey ditandai oleh serangkaian kegiatan merumuskan asumsi-asumsi dari sejumlah kebijaksanaan yang dijadikan sumber perumusan asumsi, yakni: (1) kebijaksanaan pemerintah, (2) kebijaksanaan pendidikan, dan (3) kebijaksanaan bahasa. Dari pertimbangan itu, kegiatan dilanjutkan pada perumusan kurikulum, metode, bahan ajar dan pengajaran. Untuk melaksanakan pembelajaran di kelas, guru harus mempertimbangkan kurikulum, metode dan bahan ajar serta kondisi masyarakat (sosiokultural). Hubungan masing-masing komponen dalam pengajaran itu dapat dilihat dalam bagan berikut.
Ilmu dasar
Linguistik
Psikolinguistik
Sosiolinguistik
Psikologi
Sosiologi
Pengajaran bahasa dapat dikembangkan sesuai dengan tuntutan nyata di lapangan. Sebagai pelaksananya, guru dapat mengadakan penyesuaian-penyesuaian, terutama penyesuaian yang mempertimbangkan potensi siswa. Menurut Goodman (1986), children born into bilingual or multilingual settings come to understand all the language of their surroundings and to speak the ones they need to . Anak (siswa) lahir dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual, ternyata anak memiliki potensi menguasai bahasa-bahasa yang berada dalam lingkungan mereka selama diberikan kesempatan untuk menggunakan bahasa-bahasa tersebut. Hal itu dapat terjadi karena, menurut Halliday (1980), anak terlibat langsung dalam aktivitas berbahasa, yakni: learning language, learning about language, and learning through language. Jadi, pengajaran perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan sejumlah teori landasan, asumsi, kondisi masyarakat, kondisi siswa, serta kebijaksanaan yang dipandang relevan.
Ada kalanya dua atau lebih pembelajaran dipadukan oleh bahan pembelajaran berupa wacana dengan tema tertentu. Misalnya pembelajaran (i) mengamati lingkungan, mengajukan pertanyaan dan menceritakan hasil pengamatan, (ii) membaca dalam hati dan mengajukan atau menjawab pertanyaan, dan (iii) menggunakan huruf kapital secara tpat  dalam kalimat dengan tema lingkungan terpadu dalam wacana.
Berdasarkan kata kunci terpadu ditemukan sejumlah ciri – ciri pengajaran bahasa terpadu seperti berikut:
     a.       Terpadu dalam tujuan
     b.      Terpadu dalam bahan dengan mata pelajaran lain
     c.       Terpadu dalam kegiatan belajar
     d.      Terpadu dalam wadah pembelajaran
Pada hakikatnya, belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa yang menggunakan pendekatan komunikatif diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi. Pengajaran bahasa Indonesia di SD pun menggunakan pendekatan komunikatif. Karena itu, pembelajaran – pemebelajaran bahasa Indonesia di SD diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia baik secara lisan maupun secara tertulis. Ini berarti, belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi.
Bahasa sebagai bahan kajian disajikan secara bermakna dan secara fungsional. Yang diajarkan kepada siswa bukan struktur yang ada dalam angan-angan, melainkan struktur sebagaimana yang digunakan dalam komunikasi, yakni struktur yang mengait pada konteks wacana dalam tema tertentu. Konteks itu adalahkonteks yang wajar, konteks yang memang sungguh terdapat pada interaksi antara penutup yang berkomunikasi, bukan konteks yang dibuat-buat demi pembelajaran struktur tertentu. Ini berarti, pengajaran bahasa berlangsung secara konstekstual.
Bahasa bukan mewakili sturktur saja tetapi juga mana yang terkandung didalamnya.Pengajaran bahasa komunikatif sangat mementingkan makna dari pada struktur bahasa.Ini tidak berarti struktur bahasa tidak diperhatikan atau mementingkan sama sekali.
Pengajaran bahasa komunikatif menganjurkan bahwakesan berbahasa lisan dan tertulis dimulai sejak dini, kelas satu, dan kelas dua SD.
Apabila diperhatikan dengan cermat pembelajaran bahasa yang ada dalamGBPP Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar semuanya berupa kegiatan siswa. Dalam belajar berbahasa siswa harus ikut terlibat, ikut melakukan, turut melaksanakan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Latihan seperti: bermain peran, bercerita, bercakap – cakap, berdiskusi, bertelepon, da berwawancara, dan lain – lain sangat baikuntuk meningkatkan keterampilan berbahasa sebagai basis kemampuan berkomunikasi. Harus diingat latihan itu tidak boleh memberatkan siswa.
Dalam kegiatan belajar bahasa, siswa melakukan kesalahan dalam pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kata, dan kalimat. Hal itu adalah hal yang lumrah karena kesalahan berbahasa merupakan bagian integral dari proses belajar bahasa.
GBPP Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Kurikulum 1994 menganut prinsip keanekaan dalam penentuan sumber belajar siswa. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa guru bukan satu – satunya sumber belajar siswa. Sumber belajar siswa guru dapat dari berbagai sumber lain.
Sumber belajar siswa dapat digunakan sumber – sumber berikut ini.
       a)      Buku – buku :
~     Buku – buku pelajaran yang diwajibkan atau buku paket
~     Buku pelajaran yang pernah dipakai dan masih relevan
~     Buku pelengkap yang disyahkan oleh departemen
~     Buku bacaan
~     Bunga rampai
~     Kamus
~     Ensiklopedia

      b)      Media Cetak :
~     Surat kabar
~     Majalah

      c)      Media Elektronika :
~     Radio
~     Kaset
~     Televisi
~     Video

      d)     Lingkungan :
~     Alam
~     Sosial
~     Budaya
e)      Narasumber
f)       Pengalaman dan Minat Anak
g)      Hasil Karya Siswa

Paling sedikit ada tujuh ciri – ciri pengajaran bahasa komunikatif yang tersirat dalam
uraian tersebut diatas. Ketujuh ciri – ciri pengajaran bahasa komunikatif dapat disimpulkan seperti berikut :
a.       Pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi
b.      Pembelajaran bahasa berlangsung secara kontekstual dan fungsional
c.       Makna lebih dipentingkan daripada struktur bahasa
d.      Kegiatan berbahasa lisan dan tulisan dapat dimulai sejak kelas 1 dan 2 SD
e.       Cara belajar aktif
f.       Kesalahan berbahasa adalah bagian dari proses belajar
g.      Keanekaan sumber belajar.
 
Dari frasa pengajaran bahasa terpadu ditemukan ada empat ciri – ciri pengajaran bahasa terpadu. Dari frasa pengajaran komunikatif ditemukan tujuh ciri – ciri pengajaran bahasa komunikatif. Kesimpulannya, ciri – ciri pengajaran dan komunikatif ada sebelas butir seperti tertulis berikut.
Ciri – ciri Pengajaran Bahasa Terpadu dan Komunikatif
1.      Terpadu dalam tujuan
2.      Terpadu dalam bahan dengan mata pelajaran
3.      Terpadu dalam kegiatan belajar
4.      Terpadu dalam wadah pembelajaran (Tematis)
5.      Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi
6.      Pembelajaran bahasa berlangsung secara kontekstual dan fungsional
7.      Makna lebih dipentingkan dan pada struktur bahasa
8.      Membaca dan menulis dapat dimulai sejak dini
9.      Cara belajar aktif

      10.  Kesalahan berbahasa adalah bagian dari proses belajar
      11.  Keanekan sumber belajar





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pengajaran dapat diartikan pelatihan, penugasan, penyediaan kondisi, dan indoktrinasi untuk tujuan tertentu. Dalam pelaksanaannya, pengajaran merupakan serangkaian kegiatan yang terdapat antara pelatihan, penugasan, penyediaan kondisi dan indoktrinasi dengan komponen kurikulum, bahan ajar, metode, media, lingkungan, guru, siswa serta masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu.
Pengajaran bahasa ditujukan untuk meningkatkan potensi (kemampuan) siswa
dalam menguasai suatu bahasa, baik secara lisan ataupun secara tertulis. Untuk pengajaran bahasa Indonesia, siswa diharapkan untuk menguasai bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pengajaran bahasa Indonesia dapat dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang terpadu antara pelatihan, penugasan, penyediaan kondisi dan indoktrinasi dengan komponen kurikulum, bahan ajar, metode, media, lingkungan, guru, siswa serta masyarakat untuk peningkatan potensi siswa dalam menguasai bahasa Indonesia baik secara lisan ataupun tulisan.
Agar pengajaran dapat mencapai tujuan secara optimal, ada sejumlah tahap pengajaran yang harus dirumuskan lebih awal. Agar perumusan itu dapat menghasilkan serangkaian teori landasan pengajaran bahasa dan pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua yang harus dipertimbangkan. Oleh karena itu, tahap-tahap pengajaran bahasa Indonesia dapat dirumuskan setelah seseorang memiliki pengetahuan tentang teori landasan pengajaran bahasa dan teori pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Anda sudah mempelajari materi yang terdapat dalam kegiatan belajar ini, maka anda sudah memiliki teori landasan pengajaran bahasa kedua dan pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Dengan berlandas tumpukan pada teori landasan tersebut, anda dapat merumuskan tahap-tahap pengajaran bahasa Indonesia untuk dipraktikkan di Sekolah Dasar.







DAFTAR PUSTAKA

Tarigan Djago dkk. 1999. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta : Universitas terbuka.











































EmoticonEmoticon