4/22/16

Penerapan Model Pemebelajaran Cooperative Learning Pada Sekolah Dasar

A. Pengertian Pembelajaran Cooperative Learning

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.

Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yaitu  Hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.

Definisi lain menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Belajar Cooperative Learning dapat diartikan juga sebagai belajar kelompok adalah model pembelajaran yang sudah dipraktikkan dalam dunia pendidikan kita sejak lama. Biasanya diterapkan utnuk mengerjakan tugas-tugas di rumah, bisa berupa PR atau mengerjakan proyek. Atau bisa juga dilakukan secara mandiri, biasanya saat-saat menjelang ulangan atau ujian ketika siswa merasa tidak memahami materi atau ingin mengerjakan latihan soal bersama-sama. Tanpa ditugaskan oleh gurupun terkadang siswa melakukannya sendiri karena kebutuhan. Biasanya dilakukan berkelompok di luar kelas atau di rumah salah satu anggota kelompok dimana salah satu anggota kelompok ada yang dianggap sebagai narasumber karena paling pintar. Namun pembelajaran kelompok menurut Cooperative Learning adalah kelompok yangmana anggotanya  harus heterogen artinya tingkat kemampuannya beragam, dimaksudkan agar dapat terjadi sharing. Ada pembagian tugas sesuai kemampuan. Ini akan memudahkan guru untuk mengevaluasi, sehingga terdeteksi nilai individu dan nilai kelompok. Nilai kelompok adalah nilai akhir proyek (tugas), sedangkan nilai individu adalah nilai berdasarkan kontribusi masing-masing siswa. Oleh karenanya ada hasil yang harus dicapai oleh tiap-tiap kelompok dalam satu satuan waktu, dapat berupa laporan maupun presentasi hasil.

Demikian pembahasan tentang definisi Model pembelajaran Cooperative Learning.

B. Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Cooperative Learning  

Prinsip model pembelajaran kooperatif  yaitu 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5) evaluasi proses kelompok (Lie, 2000) Jadi model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, seperti yang diungkapkan oleh Lie yaitu :
1.Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

2.Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.

3.Tatap muka.
Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.

4. Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.

5. Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

Apabila 5 unsur ini terpenuhi, seharusnya proses pembelajaran akan sangat ideal dan efektif. Berbagai hal positif yang dapat diambil oleh siswa dengan menerapkan metode ini di antaranya:
  • Belajar bekerjasama
  • Belajar berbicara dan menyampaikan pendapat
  • Belajar berargumen
  • Belajar menghargai pendapat orang lain
  • Belajar mengidentifikasi masalah
  • Belajar menarik kesimpulan
  • Belajar mempersentasikan sebuah masalah dan solusinya.
  • Memungkinkan ditemukannya informasi baru oleh kelompok yang tidak didapatkan dari buku sekolah. Bahkan mungkin juga terjadi sang gurupun belum mengetahui.
Jika dievaluasi maka hal di atas lebih kepada penilaian kecerdasan yang bersifat motorik, Bagaimana dengan evaluasi yang menyentuh ranah kognitif ? Akan sangat ideal di akhir sesi diberikan kuis antar kelompok. Akan tetapi kemungkinan yang terjadi di lapangan tentunya tidak seideal konsepnya. Beberapa hal yang mungkin jadi kendala adalah :
  • Waktu, 2x40 atau 45 menit adalah waktu yang terlalu singkat untuk mengerjakan tugas berkelompok sampai membuat presentasi. Perlu jadwal yang ketat agar tidak terjadi kelebihan waktu yang berkepanjangan, karena akan mengganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) jam berikutnya.
  • Sangat riskan diterapkan pada pembelajaran yang menggunakan sistem moving class
  • Tidak semua materi efektif diberikan menggunakan metode Cooperative Learning terutama materi-materi yang bersifat konsep (rumus).
  • Suasana kelas akan lebih gaduh karena kegiatan diskusi di tiap kelompok.
  • Dibutuhkan form khusus untuk evaluasi agar semua proses pembelajaran dapat terevaluasi dengan baik.
  • Jika tiap kelompok menyajikan topik yang sama, maka akan membuat "bosan" pendengarnya. Apalagi biasanya siswa belum terlatih menjadi presenter.
Lalu dimana peran guru dalam hal ini? Keuntungan apa yang didapat oleh guru ketika menggunakan metode ini? Apapun guru tetap memegang peran penting dalam pembelajaran. Siswa sepertinya sedang belajar dan mengajar sendiri, tapi gurulah yang menciptakan sistem atau lingkungan belajar. Apa saja tugas guru dalam pembelajaran ini?
  • Sebagai desainer sistem pembelajaran.
  • Memberikan apersepsi/wawasan sebelum memulai pembelajaran.
  • Memberikan referensi dalam setiap kesulitan yang dialami oleh siswa
  • Membagi kelompok sesuai dengan potensi dan kemampuan siswa.
  • Mengarahkan jalannya presentasi
  • Mengevaluasi
  • Memberikan reward dengan mengumumkan nilai.
Metode Cooperative Learning ini memiliki orientasi yang paling kuat pada pilar ke 3 pada hasil pembelajaran yaitu Learning to Live Together dibandingkan dengan metode-metode pembelajaran yang lain. Jika dilaksanakan dengan benar maka diharapkan akan menghasilkan siswa-siswa unggul yang cerdas emosi, cerdas sosial dan cerdas menghadapi keberagaman yang akan menjadi tantangan terbesar di era komunikasi global.

 

C. Langkah-langkah pembelajaran cooperative learning

Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini:
Langkah Indikator Tingkah Laku Guru
Langkah 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
Langkah 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa
Langkah 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menginformasikan pengelompokan siswa
Langkah 4 Membimbing kelompok belajar Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompokkelompok belajar
Langkah 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah  dilaksanakan
Langkah 6 Memberikan penghargaan Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

 

D. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:

1. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

2. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

3. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

 

E. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Cooperative Learning

Beberapa keuntungannya antara lain: mengajarkan siswa menjadi percaya pada guru, kemampuan untuk berfikir, mencari informasi dari sumber lain dan belajar dari siswa lain; mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya; dan membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah, juga menerima perbedaan ini.

Sementara Kelemahan diantaranya yaitu: 1) Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu; 2) agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai; 3) selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan; 4) saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif”.

F. Hambatan dan Cara Mengatasinya

Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran kooperatif diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran kooperatif.
  2. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.
  3. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran kooperatif.
  4. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
  5. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Agar pelaksanaan pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran kooperatif di kelas dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
  2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
  3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran kooperatif.
  4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
  5. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Cooperative Learning. http://eliku08.blogspot.com/2012/06/cooperative-learning.html. diakses tanggal 19 oktober 2012.
Emildadiany, Novi. 2008.Cooperative Learning Teknik Jigsaw.http://Akhmadsudrajat.Wordpress.Com/2008/07/31/Cooperative-Learning-Teknik-Jigsaw/. diakses tanggal 19 oktober 2012.
Slavin, Robert E.2005.COOPERATIVE LEARNING Teori, Riset, dan Praktik diterjemahkan oleh Narilita Yusron.Bandung:Penerbit Nusa Media.
Sunartombs. 2009. Pengertian Cooperative Learning.   http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/20/pengertian-cooperative-learning/. diakses tanggal 19 oktober 2012.
Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_kooperatif . 2016

 


EmoticonEmoticon