4/12/16

Teknik Pengumpulan Data (Wawancara, Angket dan Observasi)

Kali ini karyatulisku.com akan membahas topik artikel tentang teknik pengumpulan data.

Jika kita melakukan penelitian, ada dua hal yang menjadi atau mempengaruhi hasil penelitian.

Kedua hak tersebut yaitu kuaalitas instrumen penelitian dan kualitas dari oengumpulan data. Kualitas instrumen adalah kualitas dari alat yang kita gunakan untuk mengumpulkan data. 

Kualitas instrumen berkenaan dengan validitas dan reliabilitas. sementara kualitas dari pengumpulan data berkaitan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan dalam mengumpulkan data. 

Sebelum mulai untuk mengumpulkan data, lebih baik coba untuk memahami proses dari penelitian itu sendiri, silahkan simak pada artikel berikut ini.

PENGERTIAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF : PERBEDAAN PROSES PENELITIAN KEDUANYA

Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: interview (wawancata), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan dari ketiganya. Lah selanjutnya saya akan menjelaskan satu per satu dari keempat cara yang dapat dilakukan dalam pengumpulan data.

1. Interview (Wawancara)

Teknik Pengumpulan Data dengan Wawancara
Wawancara

Wawancara menurut Nazir (1988) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Walaupun wawancara adalah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab dengan tatap muka, wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk suatu penelitian. Beberapa hal dapat membedakan wawancara dengan percakapan sehari-hari adalah antara lain:


  • Pewawancara dan responden biasanya belum saling kenal-mengenal sebelumnya.
  • Responden selalu menjawab pertanyaan.
  • Pewawancara selalu bertanya.
  • Pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban, tetapi harus selalu bersifat netral.
  • Pertanyaan yang ditanyakan mengikuti panduan yang telah dibuat sebelumnya.
  • Pertanyaan panduan ini dinamakan interview guide.
Wawabcara digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang harus diteliti. Selain itu wawancara juga digunakan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondenya sedikit/kecil.

Untuk melakukan wawancara, ada anggapan yang harus atau perlu dipegang yaitu:


  1. Bahawa subyek atau responden adalah yang paling tau tentang dirinya sendiri.
  2. Bahwa yang idinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah hal yang sebenar-benarnya.
  3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimasksud oleh peneliti.
Wawancara dapat dilakukan dengan berbagai cara. Wawancara juga dapat dibendakan menjadi wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. 

a. Wawancara Terstruktur

Wawancara terstruktur lebih sering digunakan dalam penelitian survey atau penelitian kuantitatif, walaupun dalam beberapa situasi, wawancara tersetruktur juga dalam penelitian kualitatif. Wawancara bentuk ini sangat terkesan seperti interogasi karena sangat kaku, dan pertukaran informasi antara peneliti dengan subyek yang diteliti sangat minim. Dalam melakukan wawancara tersetruktur, fungsi peneliti sebagian besar hanya mengajukan pertanyaan dan subyek penelitian hanya bertugas menjawab pertanyaan saja. Terlihat adanya garis yang tegas antara peneliti dengan subyek penelitian. Selam proses wawancara harus sesuai dengan pedoman wawancara (guideline interview) yang telah dipersiapkan. Beberapa ciri-ciri wawancara terstruktur adalah sebagai berikut:


1. Dafatar pertanyaan dan kategori jawaban terlah dipersiapkan
Dalam wawancara tersetruktur, daftar pertanyaan sudah tertulis dalam form pertanyaan serta dengan kategori jawaban yang telah disediakan. Biasanya dalam bentuk pedoman wawancara. Peneliti hanya tinggal membacakan pertanyaan yang telah tertulis, sementara subyek penelitian hanya tinggal menjawab sesuai dengan jawaban yang telah disediakan.

2. Kecepatan wawancara terkendali

Karena jumlah pertanyaan dan jumlah pilihan jawaban sudah tersedia,dan kemungkinan jawaban yang akan diperoleh sudah dapat diperediksi, tentu saja waktu dan kecepatan wawancara dapat terkendali dan telah diperhitungkan sebelumnya oleh peneliti. Peneliti dapat melakukan simulasi terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara, dan mencatat waktu yang dibutuhkan selama wawancara tersebut.

3. Tidak ada fleksibilitas (pertanyaan atau jawaban)

Fleksibilitas terhadap pertanyaan atau jawaban hamper tidak ada. Peneliti tidak perlu lagi membuat pertanyaan lain dalam proses wawancara karena semua pertanyaan yang dibuat sudah disimulasikan terlebih dahulu dan biasanya sudah “fix” ketika turun kelapanga. Begitu juga dengan jawaban.

4. Mengikuti Pedoman/Guideline Wawancara (dalam urutan pertanyaan, penggunaan kata dan kalimat, pilihan jawaban dan tidak improvisasi)

Pedoman wawancara mencakup serangkaian pertanyaan beserta urutannya yang telah diatur dan disesuaikan dengan alur pembicaraan. Tidak diperkenankan menggunakan Bahasa atau kata-kata yang tidak tertulis dalam pedoman wawancara.

5. Tujuan wawancara biasanya untuk mendapatkan penjelasan tentang suatu fenomena

Wawancara tersetruktur biasanya digunakan dalam rangka untuk mendapatkan penjelasan saja dari suatu fenomena atau kejadian, dan bukan tujuan untuk memahami fenomena tersebut. Karena alasan tersbut biasanya wawancara terstruktur lebih sering digunakan dalam penelitian survey atau kuantitatif ketimbang penelitian kualitatif walaupun wawancara tersetruktur juga bias digunakan dalam penelitian kualitatif. 


Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancar, maka pengumpulan data juga dapat melengkapi diri dengan menggunakan alat-alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan atau material material lain yang dibutuhkan. 


b. Wawacara Tidak Terstruktur

Jenis wawancara yang ketiga adalah wawancara tidak tersetruktur. Hampir mirip dengan bentuk wawancara semi tersetruktur, hanya saja wawancara semi tersetruktur memiliki kelonggaran dalam banyak hal termasuk dalam pedoman wawancara. Salah satu kelemahan wawancara tidak tersetruktur adalah pembicaraan akan mudah menjadi “ngalor-ngidul” dengan batasan yang kurang tegas. Untuk sebuah penelitian kualitatif, kami tidak menyarankan untuk menggunakan wawancara jenis wawancara tidak tersetruktur karena kurang terfokus pada apa yang akan digali. Penggalian akan bersifat meluas, bukan mendala. Wawancara tidak tersetruktur lebih tepat digunakan dalam konteks wawancara santai dengan tujuan yang tidak terlalu terfokus, konteks talk-show, kontek seminar atau kualiah umum, dan konteks  lainnya yang bertujuan untuk mencari keluasan bahasam. Wawancara tidak tersetruktur memiliki ciri-ciri seperti dibawah ini.



1. Pertanyaan yang diajukan bersifat sangat terbuka, jawaban subyek bersifat meluas dan bervariasi

Peneleliti dapat berimprovisasi sebebas-bebasnya dalam bertanya dengan membentuk pertanyaan yang sangat terbuka, hampir tidak ada pedoman yang digunakan sebagai kontrol. Demikian pula pada halnya dengan jawaban dan subyek/interviewee, dapat sangat luas bervariasi. Batasan pertanyaan pun tidak tegas sehingga sangat memungkinkan pembicaraan akan meluas. 



2. Kecepatan wawancara sulit diprediksi

Layaknya mengobrol santai, kecepatan waktu wawancara lebih sulit diprediksi karena sangat tergantung dari alur pembicaraan yang kontrolnya sangat fleksibel dan lunak. Akhir dari wawancara tidak terstruktur juga terkadang tidak mendapatkan kesimpulan yang cukup jelas dan mengrucut.



3. Sangat Fleksibel ( dalam hal pertanyaan maupun jawaban)

Pertanyaan yang diajukan oleh peneliti/interviewer dan jawaban yang diperoleh dari subyek penelitian/interviewee sangat fleksibel. Bahkan terkesan seperti ngobrol santai “ngalor-ngidul”. Jika peneliti yang memilih bentuk wawancara ini belum berpengalaman atau yang memiliki jam terbang yang kurang, maka akan mengalami kedala dalam merumuskan tema serta menarik kesimpulan wawancara.  Maka dari itu jika peneliti masih belum cukup pengalaman sebaiknya tidak menggunakan bentuk wawancara tidak terstruktur.



4. Pedoman wawancara (guideline interview) sangat longgar urutan pertanyaan, penggunaan kata, alur pembicaraan, dan lain sebagainya.

Hampir sama seperti wawancara semi tersetruktur, dalam wawancara tidak terstruktur pedoman wawancara tetap masih diperlukan. Hanya saja, wawancara semi terstruktur, masih terdapat tema-tema yang dibuat sebagai kontrol atau pembicaraan yang mengacu pada satu tema sentral, pada pedoman wawancara tidak terstruktur tidak terdapat topik-topik yang mengatur alur pembicaraan, tetapi hanya terdapat tema sentral saja yang digunakan peneliti/interviewer sebagai kontrol alur pembicaraan selama wawancara berlangsung.



5. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui suatu fenomena

Dalam hal tujuan, terdapat kesamaan dengan wawancara semi terstruktur yaitu untuk memahami suatu fenomena, hanya dalam kedalaman pembahasan dan pengendalian data tidak seakurat wawancara semi terstruktur sehingga bentuk wawancara semi terstruktur kurang sesuai untuk digunakan dalam penelitian kualitatif.


2. Kuesioner (Angket)

Teknik Pengumpulan Data Menggunakan Angket
Angket


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kuesioner merupakan alat riset atau survey yang terdiri atas serangkaian pertanyaan tertulis, bertujuan mendapatkan tanggapan dari kelompok orang terpilih melalui wawancara pribadi atau melalui pos, daftar pertanyaan. Menurut Sugiyono (2011), angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukkan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang efisien jika peneliti mengetahui dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu yang tidak bisa diharapkan dari responden. Angket sebagai teknik pengumpulan data sangat cocok untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar. Definisi lainnya dari angket adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang diberikan kepada subjek penelitian untuk dijawab sesuai dengan keadaan subjek yang sebenarnya. Yang dapat dijaring dengan menggunakan kuesioner adalah hal-hal mengenai diri responden, dengan asumsi bahwa respondenlah yang paling mengetahui tentang dirinya dan pengalamannya sendiri, bahwa apa yang dinyatakan oleh responden kepada peneliti adalah benar, bahwa penafsiran subjek terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti. Justru anggapan-anggapan inilah yang menjadi kelemahan dari metode angket. Karena dalam kenyataan responden dapat memberikan keterangan-keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Menurut Uma Sekaran sebagaimana yang dikutip oleh Sugiyono (2007:163), ada beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data, yaitu prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik


Prinsip penulisan angket menyangkut beeberapa faktor antara lain:



  1. Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur, maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
  2. Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah bahasa inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa inggris.
  3. Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau tertutup.
  4. Pertanyaan tidak mendua artinya pertanyaan tidak mengandung dua arti yang akan menyulitkan responden.
  5. Tidak menanyakan yang sudah lupa atau tidak menanyakan pertanyaan yang menyebabkan responden berpikir keras.
  6. Pertanyaan tidak menggiring responden.
  7. Pertanyaan tidak boleh terlalu panjang atau terlalu banyak. Kalau terlalu panjang atau banyak, akan menyebbkan responden merasa jenuh untuk mengisinya.
  8. Urutan pertanyaan dimulai dari yang umum sampai ke spesifik, atau dari yang mudah menuju ke yang sulit, atau di acak.

Prinsip pengukuran memuat seperangkat uji coba instrument. 

Artinya, sebelum menyebarkan angket, perlu dilakukanbeberapa percobaan sehingga selain diketahui validitas dan realibilitasnya, juga akan diperoleh estimasi waktu pengerjaan, tingkat kesulitan dan berbagai hal lainnya.

Penampilan fisik merupakan salah satu daya tarik dan keseriusan responden dalam mengisi angket. 

Namun tentu saja, angket yang bagus terkesan resmidan memerlukan biaya uang lebih besardibanding angket yang di cetak di atas kertas seadanya.

Jenis –jenis angket (kuesioner)


1. Angket terbuka dan tertutup


Angket terbuka atau  open ended questionnaire memberi kesempatan kepada responden untuk memberi jawaban secara bebas dengan menggunakan kalimatnya sendiri. Misalnya:


Bagaimana pendapat anda kalau :



  1. Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dihapus? . . . .
  2. Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dijadikan mata pelajaran pilihan? . . . .

Untuk menjawab pertanyaan ini responden bebas menggunakan kalimatnya sendiri.

Angket tertutup atau closed questionare
Angket tertutup adalah angket yang jawabanya telah disediakan, responden tinggal memilih jawaban yang sesuai. Misalnya:

Bagaimana pendapat anda kalau :
1). Pelajaran bahasa Inggris diberikan di SD?
      A. sangat setuju       B. setuju       C. kurang setuju       D. tidak setuju
2). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dihapus?
      A. sangat setuju      B. setuju       C. kurang setuju        D. tidak setuju
3). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dijadikan mata pelajaran pilihan?
      A. sangat setuju      B. setuju       C. kurang setuju        D. tidak setuju

Untuk menjawab pertanyaan ini responden tinggal memilih jawaban mana yang dianggap sesuai atau benar. 

Angket semi terbuka

Merupakan angket yang pertanyaan atau pernyataanya memberikan kebebasan pada respondenya untuk memberikan jawaban dan pendapat menurut pilihan-pilihan jawaban yang telah disediakan.

b. Angket langsung dan tidak langsung
Angket langsung kalu responden ditanya mengenai dirinya, pengalamanya, keyakinanya atau diminta untuk menceritakan tentang dirinya sendiri. Misalnya :
  1. Apakah Anda suka belajar Matematika?
  2. Apakah Anda pernah mengikuti PKG?
  3. Metode apa yang Anda gunakan untuk mengajar membaca?



Sebaliknya angket tak langsung jika responden diminta untuk memberikan jawaban tentang orang lain. Misalnya angket yang diberikan kepada kepala sekolah yang menanyakan tentang keadaan guru disekolah yang dipimpimnya.
Menurut pendapat Anda apakah
  1. Guru matematika di sekolah ini disukai siswanya?
  2. Guru matematika di sekolah ini dapat mengajar dengan baik?


 3. Observasi

Teknik Pengumpulan Data dengan Observasi
Observasi atau Pengamatan

Observasi atau pengamatan adalah salah satu metode dalam pengumpulan data saat membuat sebuah karya tulis ilmiah. Nawawi dan Martini mengungkapkan bahwa observasi adalah pengamatan dan juga pencatatan sistematik atas unsur-unsur yang muncul dalam suatu gejala atau gejala-gejala yang muncul dalam suatu objek penelitian. Hasil dari observasi tersebut akan dilaporkan dalam suatu laporang yang tersusun secara sistematis mengikuti aturan yang berlaku.

Sedangkan menurut Prof. Heru, observasi adalah studi yang dilakukan secara sengaja dan sistematis, terarah dan terencana pada tujuan tertentu dengan mengamati dan mencatat fenomena-fenomena yang terjadi dalam suatu kelompok orang dengan mengacu pada syarat-syarat dan aturan penelitian ilmiah. Dalam suatu karya tulis ilmiah, penjelasan yang diutarakan harus tepat, akurat, dan teliti, tidak boleh dibuat-buat sesuai keinginan hati penulis.

Ada 2 indra yang diutamakan di dalam melakukan pengamatan, yaitu telinga dan mata. Kedua indra tersebut harus benar-benar sehat. Dalam melakukan pengamatan, mata lebih dominan dibandingkan dengan telinga. Mata ini memiliki kelemahan yaitu mudah letih. Untuk mengatasi kelemahan yang bersifat biologis tersebut, maka perlu melakukan hal-hal berikut.
1. Dengan menggunakan kesempatan yang lebih banyak untuk melihat data-data.
2. Dengan menggunakan orang lain untuk turut sebagai pengamat (observers).
3. Dengan mengambil data-data sejenis lebih banyak.
Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan yang bersifat psikologis, yaitu :
1. Dengan meningkatkan daya penyesuaian (adaptasi).
2. Dengan membiasakan diri.
3. Dengan rasa ingin tahu.
4. Dengan mengurangi prasangka.
5. Dengan memiliki proyeksi.
Dalam observasi diperlukan ingatan terhadap observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Karena manusia memiliki sifat pelupa, maka diperlukan catatan-catatan (check-list), alat-alat elektronik seperti kamera, video dan sebagainya; lebih banyak menggunakan pengamat; memusatkan perhatian pada data-data yang relevan; mengklasifikasikan gejala dalam kelompok yang tepat; menambah bahan persepsi mengenai objek diamati.


Alat bantu yang dipergunakan di dalam observasi antara lain, yaitu daftar riwayat kelakuan (anecdotal record); catatan berkala; daftar catatan (check list); rating scale, yaitu pencatatan gejala menurut tingkatannya; alat-alat optik elektronik.
Tingkat kecermatan observasi sangatlah dipengaruhi oleh faktor prasangka dan keinginan observee; terbatasnya kemampuan pancaindra dan ingatan; terbatasnya wilayah pandang, yaitu kecenderungan observe menaruh perhatian dengan membandingkannya kepada kejadian lainnya; kemampuan observer dalam menangkap hubungan sebab akibat; kemampuan menggunakan alat bantu; ketelitian pencatatan; pengertian observer terhadap gejala yang diukur.

Jenis-Jenis Observasi

Jenis jenis observasi, sebagai berikut :

1. Jenis Observasi Partisipasi

Pengertian Observasi Partisipasi adalah observasi yang dilakukan dengan observer terlibat langsung secara aktif dalam objek yang diteliti. Keadaan yang sebaliknya disebut nonobservasi partisipasi. Sedangkan kehadiran observer yang berpura-pura disebut kuasi observasi partisipasi.

2. Jenis Observasi Sistematis atau Observasi Berkerangka

Pengertian Observasi Sistematis adalah observasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu kerangkanya. Kerangka tersebut memuat faktor-faktor yang akan diobservasi menurut kategorinya.

3. Jenis Observasi Eksperimen

Pengertian Observasi Eksperimen adalah observasi yang dilakukan terhadap situasi yang disiapkan sedemikian rupa untuk meneliti sesuatu yang dicobakan.
Sekian dari informasi ahli mengenai pengertian observasi dan jenis jenis observasi, semoga tulisan informasi ahli mengenai pengertian observasi dan jenis jenis observasi dapat bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA

Nazir. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta

BACA JUGA

Cara Membuat Skripsi yang Baik dan Benar : Panduan Lengkap Menyusun Skripsi

Contoh Kata Pengantar dalam Makalah, Laporan Praktikum, Penelitian dan Skripsi

Cara Membuat Daftar Isi Manual dan Otomatis Pada Ms. Word Lengkap Dengan Contoh Daftar Isi

Cara Membuat Judul Penelitian Kuantitatif yang Baik dan Benar (Contoh Judul Penelitian Kuantitatif)

Contoh Daftar Pustaka Buku, Skripsi, Internet, Jurnal, Surat Kabar dan Makalah

Pengertian Variabel dan Contohnya : Variabel Bebas, Terikat, Moderator, dan Kontrol

Contoh Hipotesis Penelitian Skripsi (Hipotesis Deskriptif, Hipotesis Komparatif dan Hipotesis Asosiatif)

Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif : Wawancara, Angket, dan Observasi 100% LENGKAP

Cara membuat rumusan masalah yang baik pada proposal skripsi

Langkah-Langkah dan Contoh Membuat Latar Belakang Proposal Skripsi

Langkah-Langkah menghitung Validitas Soal Pilihan Ganda Dengan Excel

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Cara Membuat Judul Karya ilmiah, Proposal, Skripsi


Cara Membuat Latar Belakang Skripsi, penelitian, atau KTI