9/14/17

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF PENERAPAN MEDIA PAPAN LEMPAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD

PENERAPAN MEDIA PAPAN LEMPAR TERHADAP HASIL BELAJAR
 MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGRI JOMBLANG 01
KOTA SEMARANG TAHUN 2015/2016


A.      Latar Belakang Masalah          
Dewasa ini bangsa Indonesia sedang berupaya meningkatkan sumber daya manusia. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan kecerdasakan sumber daya manusia. Hal tersebut juga tidak lepas usaha untuk dapat bersaing di era globalisasi. Upaya mencerdaskan manusia Indonesia dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan.  Upaya mencerdaskan manusia Indonesia, juga telah jelas dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, pasal 3 yang menyebutkan bahwa.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Sisdiknas No 20 tahun 2003).
Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta menceradaskan kehidupan bangsa adalah pendidikan nasional. Oleh sebab itu pendidikan nasional harus mempunyai kualitas yang baik, sehingga mampu untuk mencapai fungsi dan tujuan dari pendidikan di Indonesia. Sementara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 juga menyebutkan bahwa:
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokkratis dan bertanggung jawab.
Undang-Undang tersebut juga dengan jelas menyampaikan bahwa yang menjadi tujuan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik. Peserta didik disini adalah siswa yang ada di sekolah dan potensi yang dimaksut adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa.
Mengingat pada fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional tersebut maka jelas bahwa diharapkan melalui pendidikan nasional sumber daya manusia indonesia menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Artinya kita akan melihat manusia indonesia yang berintelektual, manusia Indonesia yang berkarakter dan dapat berprestasi untuk bersaing di dunia.
Namun dewasa ini pendidikan di Indoenesia berada pada tingkat yang rendah. Dikutip DetikNews.com (2014) disebutkan bahwa hasil survei dari PISA (Program for International Student Assesment) tahun 2012 memperlihatkan bahwa negara Indonesia berada diperingkat rendah. Negara yang paling rendah dalam peringkat ini adalah Peru dan Indonesia. Lebih lanjut dikutip dari MetrotvNews.com (2013) disampaikan bahwa tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke-61 dari 65 negara anggota PISA. Indonesia hanya mengumpulkan skor membaca 396 poin. Untuk literasi matematika, pelajar Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 375. Adapun skor literasi sains berada di peringkat 64 dengan skor 382. Sedangkan dikutip dari Kompas.com (2012) disebutkan bahwa hasil research dari Firma Pendidikan Pearson sistem pendidikan Indoensia berada di posisi terbaFwah bersama Meksiko dan Brazil. Dari hasil tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan di Indonesia masihlah rendah dan jauh dibandingkan dengan negara-negara lain.
Kondisi tersebut jelas menunjukan bahawa terjadinya ketimpangan yaitu anatar harapan dengan kenyataan. Harapan dari adanya pendidikan nasional yaitu mampu mengembangkan kualitas sumber daya manusia, sehingga dapat bersaing di era global dengan negara-negara lain. Namun kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, pendidikan nasional belum mampu secara maksimal mengembangkan manusia indonesia yang mampu bersaing di era global. Ketimpangan tersebut menjadikan adanya masalah yaitu kualitas pendidikan nasilan yang masih kurang.
Kualitas pendidikan salah satunya ditentukan oleh suasana kondusif dalam proses belajar. Suasana kondusif sangat mempengaruhi kondisi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut Rianto (2007:1), tingkat keberhasilan pembelajaran amat ditentukan oleh kondisi yang terbangun selama pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang semakin kondusif, maka tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi dan sebaliknya. Lebih lanjut kondusifitas proses belajar di kelas juga dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengajar. Kemapuan guru dalam memfasilitasi perserta didik dalam belajar meliputi kemampuan guru dalam menyajikan pembelajaran, menggali kemampuan siswa dan mengembangkan potensi dari siswa.
Oleh sebab itu untuk menginkatkan kualitas dari pendidikan nasional dapat dilakukan oleh guru dengan meningkatkan kemampuannya dalam memfasilitasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Rusman (2015: 21) “pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya”. Komponen-komponen yang saling berhubungan dalam pembelajaran yaitu tujuan, materi, media dan strategi pembelajaran. Maka dengan kemampuan guru mengorganisir pembelajaran dengan baik, dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Namun, kondisi yang terjadi di sekolah, tidak sepenuhnya terjadi seperti yang diharapkan yaitu terjadinya proses pembelajaran yang terorganisir dengan baik. Sebaliknya yang terjadi adalah kurang optimalnya proses belajar mengajar yang terdapat di sekolah.  Dari pengamatan yang dilakukan oleh penulis pada proses belajar siswa di kelas IV SD  Jomblang 01 Kota Semarang  ditemukan kondisi-kondisi sebagaimana berikut yaitu, kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, siswa kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru serta hasil belajar siswa, dimana sebanyak 22 anak tidak mampu untuk mencapai nilai KKM pelajaran matematika.
Sementara dari hasil wawancara dengan guru kelas yaitu Ibu Anjar S.Pd menyampaikan bahwa konsentrasi belajar siswa memang tidak lama, konsentrasi maksimal siswa hanya mencapai 10-15 menit dalam awal proses pembelajaran selebihnya kurang optimal. Siswa juga kurang antusias dalam belajar sehingga kurang mampu memahami materi.
Kondisi-kondisi yang terjadi di sekolah tersebut adalah kelemahan dalam proses pembelajaran yang perlu segera diatasi. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan meningkatkan minat siswa dalam belajar. Untuk itu penggunaan media pembelajaran dapat membantu untuk mengatasi minat siswa dan konsentrasi siswa dalam proses belajar. Lebih lanjut penggunaan media dalam proses belajar juga dijelaskan oleh Hamalik (1986) dalam Arsyad (2013: 19) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. pendapat dari Hamalik tersebut menjalaskan bahwa untuk menginkatkan.
Penjelasan diatas menjelaskan bahwa media mampu untuk membangkitkan keinginan dan minat serta motivasi dan menrangsang siswa dalam belajar. Maka dengan begitu utnuk mengatasi masalah dalam proses pembelajaran, penggunaan media ini dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Menurut Arsyad (2013: 3) “media dalam proses belajar mengajar cendrung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau electronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal”. Pengertian dari Arsyad menekankan media adalah alat yang digunakan untuk menyusun kembali informasi visual atau verbal yang memudahkan siswa menerima pesan. Media menjadi alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Mempermudah peserta didik dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh guru.
Mengingat kembali pada permasalahan dalam proses pembelajaran dan mengingat bahwa media mampu untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut, maka penulis hendak meneliti pengaruh dari penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar. media yang hendak penulis teliti dalam hal ini adalah media papan lempar.
Media papan lempar terbuat dari  bahan kayu dan bergambarkan poin-poin, bisa berbentuk kotak atau bulat. Pemanfaatan media papan lempar dilakukan dengan siswa melemparkan mata jarum atau anak panah ke arah papan lemparyang bergambarkan poin soal yang akan dijawab oleh siswa itu sendiri. Dengan media ini diharapkan memberikan manfaat kepada proses pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa, memotivasi siswa, meningkatkan fokus dari siswa serta yang terakhir yaitu meningkatkan hasil belajar dari siswa.
Atas dasar pembahasan di atas maka penulis mencoba untuk mengetahui keefektifan penerapan media papan lempar terhadap hasil belajar siswa. yang kemudian menjadi bahwan analsisi skripsi dengan judul “Penerapan Media Papan Lempar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun 2015/2016”
B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat diidentifikasi masalah penelitian antara lain:
1.      Kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.
2.  Siswa hanya mampu berkonsentrasi secara maksimal pada 10-15 menit awal pembelajaran, selebihnya kurang optimal.
3.      Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran.
4.      Hasil belajar siswa yang masih dibawah KKM.

C.      Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian ini dibatasi pada penerapan media papan lempar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun ajar 2015/2016.


D.      Rumusan Masalah
Dari ulasan pembahasan yang telah dipaparkan pada latar belakang, maka penulis dalam hal ini merumuskan masalah dalam pengembangan dan penelitian ini adalah bagaimana penerapan media papan lempar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun ajar 2015/2016?

E.       Tujuan Pengembangan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan media papan lempar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun ajar 2015/2016.

F.       Manfaat penelitian
1.   Secara Teoritis
Hasil dari penelitian ini dapat menjadi landasan dalam pengembangan media pembelajaran atau penerapan media pembelajaran secara lebih lanjut. Selain itu juga menjadi sebuah nilai tambah khasanah pengetahuan ilmiah dalam bidang pendidikan di Indonesia.
2. Secara Praktis
a)     Bagi siswa, hasil penelitian diharapkan dapat  meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD negri jomblang 01 Kota Semarang 2015/2016 dengan penerapan media.
b)    Bagi guru, penerapan media papan lempar dalam pembelajaran dapat memfasilitasi siswa dalam belajar dan mempelajari materi dengan mudah dan bermakna.
c)   Bagi sekolah, hasil dari penelitian penerapan media papan lempar ini memberikan referensi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Serta sekolah dapat mendukung guru untuk menciptakan media yang lebih bervariasi lagi.
d)  Bagi peneliti, peneliti mampu menerapkan media yang sesuai dalam materi pembelajaran tertentu. Serta peneliti mempunyai pengetahuan dan wawasan mengenai materi dan media pembelajaran yang sesuai.

G.      Kajian Teori
1.      Belajar dan Pembelajaran
a.         Belajar
Beberapa ahli telah menyampaikan definisi dari belajar, dianataranya yaitu Surya (1997) dalam Rusman (2015: 13), belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan prilaku secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman pribadi itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sementara menurut Slameto (2010: 2) menyampaikan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi tersebut menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses, artinya belajar tidak dilakukan secara singkat melainkan terus menerus (continu). Belajar adalah usaha, yang dilakukan oleh individu untuk menjadi lebih baik, dan merupakan hasil dari perilaku sebelumnya yang berupa pengalaman.
Sementara Rusman (2015: 12) berpendapat bahwa belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Pendapat tersebut menempatkan belajar sebagai faktor dalam pembentukan karakter dan perilaku. Pembentukan pribadi dan prilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kegiatan belajarnya, misal dia tidak dapat belajar dengan baik, maka akan menghasilkan pembentukan pribadi dan prilaku tidak baik begitupun sebaliknya.
Cronbach dalam Rusman (2015: 13) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar ditunjukan dari perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pendapat dari Cronbach mengungkapkan bahwa belajar harus menunjukan perubahan, dan perubahan tersebut merupakan hasil dari pengalaman. Belajar menghasilkan out come, yaitu terjadinya perubahan perilaku.
Howard L. Kingskey dalam Rusman (2015: 13) mengatakan bahwa learning is process by which behavior (in the broader sence) os originated or changed through practice or traning. Belajar adalah proses yang mana perilaku (dalam arti luas)  ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. Pendapat terebut mirip dengan pendapat dari Slameto, yang menekankan belajar sebagai proses. Seseorang dianggap belajar ketika mempunyai tujuan yang hendak dicapai secara sadar dan merencanakannya.
Berdasarkan pendapat ahli diatas, hal yang paling utama dalam belajar adalah terjadinya perubahan prilaku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses secara sadar yang dilakukan untuk mencapai tujuan, belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku secara menyeluruh yang diakibatkan oleh interaksi secara individu maupun secara kelompok.
Menurut berbagai macam definisi yang telah disampaikan oleh para ahli, maka inti dari belajar adalah terjadinya perubahan perilaku. Selanjutnya menurut Surya (1997) dalam Rusman (2015: 14) ada delapan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu: 1) perubahan yang disadari dan disengaja, 2) perubahan yang berkesinambungan, 3) perubahan yang fungsional, 4) perubahan yang bersifat positif, 5) perubahan yang bersifat aktif, 6) perubahan yang bersifat permanen, 7) perubahan yang bertujuan dan terarah, 8) perubahan perilaku secara keseluruhan.
Sedangkan menurut Slameto (2010: 3) menyampaikan bahwa ciri-ciri dari perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar, yaitu: 1) perubahan terjadi secara sadar, 2) perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional, 3) perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, 4) perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, 5) perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah, 6) perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Sedangkan menurut Bloom, ciri-ciri perubahan perilaku dapat dilihat dari tiga aspek yaitu, afektif, kognitif dan psikomotorik beserta tingkatannya. Bloom menyusunnya dalam bentuk tabel, yang disebut dengan Taksonomi tingkah laku Bloom atau Taksonomibloom.
Tabel 1 

Taksonomi Tingkah laku Bloom (Rusman 2015: 18)

COGNITIVE
(Think)
PSYCHOMOTOR
(Doing)
          AFFEVTIVE
(Feeling)
Knowledge
Perception
Receiving (Attending)
Comprehension
Set
Responding
Aplication response
Guided Mechanism
Valueing
Analysis
Complex over response by velue or velue complex
Organisation of value
Syntetis
Originating
Characterisation
Evaluation



Proses belajar setiap individu mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Terdapat individu yang mudah belajar dengan melihat, misal dia siswa yang lebih paham materi tentang nama daerah di Indonesia, ketika melihat peta secara langsung. Sementara individu lainnya lebih mudah untuk belajar dengan cara mendengar, misal seorang siswa jauh lebih mudah memahami materi tentang sejarah bangsa indonesia ketika mendengarkan cerita dari gurunya. Sedangkan terdapat juga individu yang lebih mudah belajar dengan cara melakukan, misal siswa yang jauh lebih mudah memahami materi belajar dengan cara melakukan atau mempraktekkan secara langsung bahan belajar. “Ada beberapa gaya belajar yang harus dicermati guru, yaitu: gaya belajar visual (visual learner), gaya belajar autitif (auditory learner) dan gaya belajar kinestetik (tactual learner)” (Rusman 2015: 42).
b.        Pembelajaran
Menurut Rusman (2015: 21) “Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari  berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya”. Komponen-komponen dalam pembelajaran diantaranya adalah tujuan, materi, media, strategi pembelajaran, evaluasi. Seluruh komponen dalam pembelajaran harus diperhatikan dengan baik. Guru harus mampu untuk mengorganisasikan komponen-komponen tersebut sehingga tercapai hasil pembeljaran yang maksimal.
Sedangkan Warsita (2008) dalam Rusman (2015: 21) “Pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik”. Pendapat tersebut sama halnya dengan belajar adalah sebuah usaha untuk menciptakan proses belajar. Dalam pembelajaran siswa belajar sesuatu dari perlakuan yang diberikan oleh guru.
Sementara dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20 “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dalam pembelajaran terdapat interaksi, yaitu interaksi antara peserta didik dengan pendidik, peserta didik dengan sumber belajar, pendidik dengan sumber belajar, yang berada dalam suatu ruang lingkup lingkungan belajar.
Berdasarkan berbagai pendapat ahli tentang pembelajaran maka terdapat unsur utama dalam pembelajaran yaitu adanya hubungan atau interaksi antara komponen dalam pembelajaran. Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah interaksi antar komponen-komponen pembelajaran sebagai usaha untuk membuat peserta didik belajar.
2.      Media Pembelajaran
a.         Definisi Media Pembelajaran
Ditinjau dari segi bahasa, menurut Arsyad (2013: 3) media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’. Sementara ditinjau secara istilah menurut Heinich, dan kawan kawan (1982) dalam Arsyad (2013: 3) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Definisi tersebut menekankan istilah media sebagai sebuah perantara. Media berfungsi untuk menghubungan sebuah informasi dari satu pihak ke pihak lainnya.
Sementara dalam dunia pendidikan kata ‘media’ disebut dengan media pembelajaran. Arsyad (2013: 10) menyampaikan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaiakan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa dalam belajar. Lebih lanjut Gagne dan Briggs (1975) dalam Arsyad (2013: 4) secara eksplisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Dari kedua pengertian tersebut media adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan materi pembeljaraan. Alat ini dapat berupa alat-alat grafis, visual, elektronis dan audio yang digunakan untuk mempermudah informasi yang disampaikan kepada siswa.
Berdasarkan definisi atau pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat yang digunakan dalam proses belajar untuk menyampaiakan pesan, gagasan atau ide yang berupa materi pembelajaran kepada siswa oleh guru.
b.        Landasan Penggunaan Media
Menurut Piaget dalam Slameto (2010: 13) menyampaikan bahwa ada tiga tahap perkembangan mental anak, yaitu: 1) berfikir secara intuitif + 4 tahun, 2) beroprasi secara kongkrit + 7 tahun, 3) beroprasi secara formal + 11 tahun. Proses pembelajaran di lingkungan belajar siswa harus disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa. Anak usia sekolah dasar umumnya berada pada tahap perkembangan mental beroprasi secara kongkrit. Oleh sebab itu pada pembelajarana di sekolah dasar guru harus memberikan kondisi pembelajaran yang nyata.
Media pembelajaran dapat digunakan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang nyata. Dengan penggunaan media pembelajaran, pesan yang sifatnya abstrak dapat diubah menjadi pesan yang kongkrit. Misalnya guru menyampaikan pesan tentang teknik membaca memindai, ketika guru hanya menjelaskan maka siswa akan kesulitan memahami teknik membaca memindai, namun ketika guru menggunakan sebuah majalah, buku atau koran sebagai media dan menunjukan secara langsung bagaimana teknik membaca memindai, maka siswa mudah menerima pesan yang disampaikan guru.
Selanjutnya, landasan teori penggunaan media dalam proses belajar disampaikan oleh Dale (1969) dalam Arsyad (2013:  13) yaitu Dale’s Cone of experience (Kerucut Pengalaman Dale) “Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikeluarkan oleh Burner”. Dalam kerucut tersebut dijelaskan bahwa pengalaman secara langsung (kongkrit) memberikan hasil belajar paling tinggi. Dilanjutkan oleh benda tiruan, dramatisasi, karyawisata, televisi, gambar hidup pameran, gambar diam, lambang visual dan lambang kata (abstrak) yang memberikan porsi paling sedkit. Meskipun begitu  Arsyad (2013: 13) menyampaikan bahwa urutan-urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu pengalaman langsung, tetapi dimualai dari pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya berikut ini merupakan Kerucut Pengalaman Dale.


c.         Manfaat Media Pembelajaran
Disampaikan oleh Daryanto (2013: 5) bahwa proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Dalam proses belajar terdapat pesan yang hendak disampaikan. Pesan tersebut dapat berupa informasi yang mudah diserap oleh penerima, namun juga dapat berupa infomrasi yang abstrak atau sulit untuk diterima.  Ketika pesan yang disampaikan tidak dapat diterima oleh penerima maka diperlukan solusi yang dapat mengantarkan pesan tersebut. Media merupakan sarana atau alat yang digunakan untuk mengantarkan pesan dari pengirim ke penerima pesan, dengan tujuan untuk mengingkatkan pemahaman penerima pesan tersebut.
Sudjana dan Rivai (2013: 2) menyampaikan bahwa media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu:1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. 2) Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik. 3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata penuturan verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. Sehingga siswa tidak bosan, dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengjar untuk setiap jam pelajaran. 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
Lebih lanjut Sudjana dan Rivai (2013: 3) menambahkan bahwa media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berfikir siswa. Hal tersebut juga sejalan dengan teori perkembangan mental piaget, yang menyampaikan bahwa terdapat tahap perkembangan mental seorang individu. Tahap berfikir manusia mengikuti tahap perkembangan berfikir dari kongkrit menuju abstrak.
Hamalik (1986) dalam Arsyad (2013: 19) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Lebih lanjut Levie & Lentz (1982) dalam Arsyad (2013: 20) mengemukakan bahwa ada empat fungsi media pembelajaran, yaitu 1) fungsi atensi, 2) fungsi afektif, 3) fungsi kognitif, 4) fungsi kompensatoris.  Fungsi atensi adalah kemampuan media untuk menigkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran. Fungsi afektif adalah kemampuan untuk dapat terlihat dan dapat dinikmati oleh siswa ketika belajar. Fungsi kognitif dapat diperoleh temuan-temuan informasi dari media tersebut. Dan fungsi kompensatoris memberikan konteks untuk membantu siswa memahami materi.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan media dapat memberikan banyak manfaat. Dianatar manfaat yang didapat dalam penggunaan media adalah menarik perhatian siswa, memperjelas makna atau pesan dalam pembelajaran, siswa tidak bosan, siswa melakukan banyak kegiatan belajar dan pembelajaran akan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
d.        Jenis Media Pembelajaran
Pengelompokan media pembelajaran dapat dilakukan dengan cara mengelompokan berdasarkan perkembangan teknologi. Oleh Seels Glasgow dalam Arsyad (2013: 35) “Media tersebut dikelompokan atas media tradisional dan media moderen”, yang mana sebagai berikut ini:
Tabel 2. 

Jenis Media Pembelajaran

No
Media Tradisional
Jenis
Bentuk
1
Visual diam yang diproyeksikan
a.    proyeksi apaque (tak-tembus pandang).
b.    proyeksi overhead. 3)slides.
c.    Filmstrips
2
Visual yang tak diproyeksikan
a.    gambar poster.
b.    foto.
c.    charts, grafik, diagram.
d.    pameran, papan info, papan-bulu.
3
Audio
a.    rekaman piringan.
b.    pita kaset, reel catridge.
4
Penyajian Multimedia
a.    slide plus suara.
b.    multi-image.
5
Visual Dinamis
a.    filem.
b.    televisi.
c.    Vidio
6
Cetak
a.    buku teks.
b.    modul, teks terprogram.
c.    workbook.
d.    majalah ilmiah, berkala.
e.    lembaran lepas (hand-out)
7
Permainan
a.    teka-teki.
b.    simulasi.
c.    permainan papan.
8
Realita
a.    model.
b.    specimen (contoh).
c.    manipulatif (peta, boneka).

Media Teknologi Muktahir

Jenis
Bentuk
1
Media berbasis telekomunikasi
a.    telekonfren.
b.    kuliah jarak jauh.

2
Media berbasis mikroprosesor
a.    computer assisted intruction.
b.    permainan komputer.
c.    sistem tutor intelejen.
d.    interaktif.

e.         Memilih Media Pembelajaran
Media adalah perantara atau penghubung. Media pemebelajaran adalah alat yang digunakan sebagai perantara informasi dari pemberi pesan ke penerima pesan. Media pembelajaran memberikan manfaat dalam pembelajaran di kelas, diantaranya meningkatkan perhatian siswa, motivasi siswa, meningkatkan efektifitas pembelajaran dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Pengunaan media yang tepat akan memberikan manfaat yang baik dalam pembelajaran, namun sebaliknya jika pemilihan media pembelajaran tidak tepat, maka tidak akan memberikan hasil yang baik dalam pembelajaran.
Oleh sebab itu, pemilihan media pembelajaran harus tepat dan sesuai dengan materi, kondisi siswa, dan metode yang digunakan guru dalam belajar. Selanjutnya  menurut Arsyad (2013: 69) pada tingkat yang menyeluruh dan umum pemilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:
1) Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas dan peralatan yang tersedia, waktu yang tersedia (waktu mengajar dan pembangunan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia (manusia dan material). 2) Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pembelajaran beragam dari sisi tugas yang ingin dilakukan siswa, misalnya: penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikirantingkatan yang lebih tinggi. 3) Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik, dan menggunakan komputer, dan karakteristik siswa lainnya. 4) Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan (preferensi lembaga, guru dan pelajar dan keefektifan biaya.
Lebih lanjut untuk menjelaskan tentang kriteria dalam pemilihan media, Arsyad (2013: 74) menyampaikan beberapa kriteria pemilihan media yaitu: 1) sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, 2) tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi, 3) praktis, luwes dan bertahan, 4) guru trampil menggunakannya, 5) pengelompokan sasaran, 6) mutu teknis.
Selain itu media pembelajaran yang baik harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan media yang sesuai dengan teori-teori belajar. Menurut Arsyad (2013: 71) prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah 1) Memotivasi siswa dalam belajar, 2) Memahami perbedaan individu, 3) Sesuai dengan tujuan pelajaran, 4) Isi yang terorganisasi, 5) Ketersiapaan siswa dalam belajar, 6) Menumbuhkan emosi siswa, 7) Menumbuhkan partisipasi siswa, 8) Memberikan umpan balik, 9) Penguatan, 10) Latihan dan pengulangan, 11) Penerapan.

3.      Media Papan Lempar
Papan lempar merupakan media yang berfungsi untuk meningkatkan minat siswa serta memotivasi siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Betuk dari media lempar ini adalah lingkaran. Dalam lingkaran tersebut terdapat bentuk-bentuk lingkaran mulai dari lingkaran terluar yang besar mengerucut pada lingkaran terkecil. Seperti papan sasaran panah.  Terdiri dari angkka 1-5. Angka-angka tersebut digunakan untuk menentukan berapa nilai yang akan didapat oleh siswa jika mampu menjawab soal yang diberikan oleh guru. Bagian lingaran terluar bernilai 1, sampai pada lingkaran terkecil atau terdalam yang bernilai paling tinggi yaitu 5. Siswa menentukan nilai berapa yang akan dia dapat dengan melemparkan anak panah yang dibuat untuk dapt menancap di papan lempar tersebut.
Media papan lempar dimainkan dalam proses pembelajaran dengan cara, siswa melemparkan anak panah dengan jarak 3m. Anak panah yang dilemparkan harus mencapai dan dapat tertancap pada papan lempar berbentuk lingkaran. Jika anak panah tertancap pada lingkaran dengan nilai 5, maka dia akan mendapatkan poin 5 jika mampu menjawab pertanyaan dari guru. Namun sebaliknya jika dia tidak dapat menjawab pertanyaan maka tidak akan mendapatkan nilai dari guru.

Untuk memperjelas viasualisasi media papan lempar, berikuti ini adalah prototipe atau rancangan dari media papan lempar.



 
H.      Metodologi Penelitian
1.    Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Penelitian jenis ini dipilih karena peneliti hendak melihat hasil belajar siswa setelah menggunakan atau menerapkan media papan lempar. Hasil belajar siswa ini dapat dilihat jika hanya menggunakan data-data konkrit yang dapat diamati oleh panca indra. Lebih lanjut data ini harus dapat diukur dengan jelas. Hal tersebut juga dikuatkan oleh pendapat dari Sugiono (2009: 10) yang menyampaikan bahwa metode kuantitatif berlandaskan pada filsafat positivisme, realitas dipandang sebagai sesuatu yang kongkrit, dapat diamati dengan panca indra, dapat dikategorikan dalam jenis, bentuk, warna,  dan prilaku, tidak berubah, dapat dikuru, dan diverifikasi.  Pendapat tersebut jelas menekankan bahwa penelitian yang berusaha untuk mengukur sesuatu hal, yang dapat dengan jelas diamati dengan panca indra,  serta harus dapat diverivikasi maka menggunakan metode kuantitatif.
Lebih lanjut pemilihan metode kuantitatif juga dilandasi oleh hubungan peneliti dengan yang diteliti, dimana pada penelitian ini, posisi peneliti berada diluar objek penelitian. penelitia secara objektif tidak mengenal individu-individu yang diteliti. Sehingga posisi peneliti adalah independen. Sugiono (2009: 11) menjelaskan bahwa dalam penelitian kuantitatif kebenaran itu di luar dirinya, sehingga hubungan antara peneliti dengan yang diteliti harus dijaga jaraknya sehingga bersifat independen.
Lebih lanjut pemiliahan metode kuantitatif juga dilandasi oleh variabel dalam penelitian, dalam hal ini penulis hendak mengetahui sebab akibat dari penelitian ini. Sebab akibat yang ingin ditujukan dalam penelitian ini adalah adanya sebab dari penggunaan media dan akibat yang ditimbulkan dalam hasil belajar siswa. Dalam hal ini, penelitian ini membutuhkan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau sebab, sementara variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau akibat. “Peneliti kuantitatif dalam melihat hubungan variabel terhadap obyek yang diteliti lebih bersifat sebab dan akibat (kausal), sehingga dalam penelitiannya ada variabel independen dan dependen” (Sugiono: 2009: 11).
Selanjutnya dipilih metode penelitian eksperimen karena dalam penelitian ini terdapat perlakuan, perlakuan atau treatmen yang diberikan yaitu penggunaan media papan lempar dalam proses belajar. Sugiono (2009: 72) jelas menyampaikan bahwa dalam penelitian eksperimen terdapa perlakuan (treatment).
Metode eksperimen dalam penelitian ini adalah true experiment design, pemilihan tersebut dugunakan agar peneliti dapat mengkontrol bahwa tidak ada variabel – variabel luar yang ikut mempengaruhi variabel dependen dalam penelitian ini. Artinya jelas bahwa yang mempengaruhi variabel dependen hanya variabel independen atau dalam hal ini yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah penggunaan media papan lempar. “Dikatakan true experiment design (ekperimen yang benar-benar) karena dalam desain ini, peneliti dapat mengkontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannyaeksperiemen” (Sugiono: 2009: 75).
Dan metode eksperimen yang digunakan dalam true experiment design adalah metode posttest-only control disign. Sugiono (2009: 76) menyampaikan bahwa dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara rabdom (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompo yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.  Selanjutnya untuk melihat pengaruh adanya perlakuan adalah (O1 : O2). Dalam penelitan ini pengaruh dari penerapan media dianalisis dengan menggunakan uji beda, menggunakan statistik t-test. Dan jika terdapat perbedaan yang siknifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol maka dapat dikatakan bahwa perlakukan memberikan pengaruh secara siknifikan. Untuk lebih memperjelas, berikut ini merupakan tabel experiment dengan metode posttest-only control disign.
Keterangan :

            R              : Kelompok Random
Q2            : Hasil tes akhir kelompok ekperimen yang diberikan perlakuan.
Q4            : Hasil tes akhir kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan.
X              : Perlakuan

2.    Tempat dan Waktu Penelitian
a.        Tempat penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negri Jomblang 01 Semarang
b.        Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016.

3.    Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang berfungsi sebagai variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen adalah variabel yang mempengaruhi atau perlakuan. Sementara variabel independen adalah variael yang dikenai perlakuan. Menurut Sugiono (2009: 39)  variabel ini (independen) sering disebut sebagai variabel, stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa indonesia sering disebut variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Selanjutnya Suginio (2009: 35) juga menjelaskan bahwa variabel dependen sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengarhui atau yang menjadi akibat adanyavariabel bebas.
Dalam penelitian dengan judul penerapan media papan lempar terhadap hasil belajar  siswa kelas IV SD N Jomblang Kota Semarang tahu 2015/2016. Variabel bebasnya adalah media papan lempar sementara variabel terikat adalah hasil belajar siswa kelas IV SD N Jomblang Semarang.
4.    Populasi, sample dan sampling
Arikunto (2006: 130) menyampaikan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek adalah siswa kelas IV SD N Jomblang 01 Semarang. Populasi dalam penelitian ini hanya merujuk pada jumlah siswa. Sementara jumlah populasi siswa dalam penelitian ini adalah 130 siswa yang merupakan seluruh siswa kelas IV yang terdapt di SD N Jomblang 01 Semarang Tahun ajaran 2015/2016.
Sedangkan sample adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mereduksi jumlah subek yang diteliti. Penggunaan sample ini digunakan mengingat pada keterbatasan waktu, tenaga dan dana dari peneliti. Menuru Sugiono (2009: 81) sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sample dalam penelitian ini menentukan kelas yang akan dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. Pada perinsipnya sample ini dilakukan dengan cara membuat undian anatara kelas IV A, B, dan C. dari undian itu didapat kelas yang menjadi sample kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Teknik pengambilan sample yang digunakan dalam penleitian ini adalah teknik Cluster Sampling. Teknik atau pengambilan berdasarkan pada rumpun atau kelompok. Asumsi dasar dari Cluster Sampling adalah beresiko adanya kemungkinan salah mengambil sampel lebih besar. Namun menurut Soegeng (2006: 80) kemungkinan salah ini dapat diperkecil dengan memperbesar jumlah anggota sample yang diambil. Mengambil sampel dengan cata membuat undian kertas dari seluruh kelas untuk dambil kelas mana yang akan digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas mana yang menjadi kotrol.
5.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh penulis untuk mengumpulkan data penelitian. Soegeng (2009: 137) menyampaikan bahwa kualitas pengumpulan data berkenaan dengan cara-cara yang digunaan untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data ini dilakukan dengan cara seting laboratorium. Sementara sumber data ini merupaakan sumber data primer. Sumber data dinyatakan sebagai sumber data primer ketika data dari objek langsung diterima oleh penulis, tanpa melalui orang lain. Sementara teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan hasil tes.
Teknik observasi digunakan penulis untuk melihat perubahan sikap dari siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiono (2006: 145) yang menyampaikan bahwa teknik pengumpulan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Sementara dalam prosesnya teknik observasi yang dilakukan adlaah observasi berperan serta. Seperti pada namanya teknik ini menempatkan peneliti untuk berperan serta secara langsung dalam kegiatan objek. Dalam hal ini penliti sebagai guru ikut serta mengajar dan mengamati perilaku dari siswa dalam kelas.Lebih lanjut teknik observasi ini dapat dikatakan sebagai teknik observasi terstruktur, artinya bahwa penelitia telah merancang terlebih dahulu, ahal apa saja yang akan diamati dalam prosesnya.
6.    Instrumen Penelitian
Intrumen adalah alat yang digunakan oleh peneliti dalam sebuah penelitian. Instumen yang baik akan mempengaruhi kualitas dari penelitian. Menurut Soegeng (2009: 222) dalam penelitian kuantitatif, kualitas instrumen berkenaan dengan validitas dan reabilitas. Untuk menciptakan istrumen penelitian yang baik, diperlukan valditas dan reabilitas instrumen. Instrumen dalam penelitian ini adalah Silabus, RPP, lembar penilaian sikap, lembar penilaian psikomotorik, lembar penilaian kognitif, kisi-kisi soal dan soal, serta lembar jawaban tes siswa.
Dalam hal ini pembuatan RPP disusun berdasarkan silabus, Selanjutnya untuk melihat hasil belajar peneliti melihat tigas aspek yaitu sikap, keterampilan dan pengetahuan. Untuk mengetahui sikap maka peneliti membuat daftar indikator peneilaian sikap, begitupun dengan keterampilan, peneliti membuat indikatro penilaian keterampilan dari siswa. Smeentara yang terakhir yaitu kognitif atau pengetahuan, peneliti membuat soal-soal yang sebelum digunakan terlebih dahulu di validitas. Sehingga instrumen soal yang digunakan dikatakan sudah valid.

7.    Analisis Perangkat Tes
a.         Validitas
Aarikunto (2006: 168) menyampaikan bahwa validitas adalah ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu isntrument. Suatu istrumen yang valid mempunyai validitas yang tinggi, namun sebaliknya instumen yang tidak valid sudah pasti mempunyai validitas yang rendah.
Untuk menentukan suatu isntrumen valid atau tidak, peneliti menggunakan rumus korelasi product mement. Adapun rumusnya sebagai berikut.
Keterangan:
rxy                : Koofisien korelasi antara skor item dan skor total
N              : Jumlah responden
X           : Jumlah skor butir
Y           : Jumlah skor total
X2          : jumlah kuadrat skor butir
Y2          : Jumlah kuadrat skor total
XY        : Jumlah perkalian skor item (X) dan skor toal (Y)
b.        Reabilitas

Menurut Arikunto (2006: 178) reabilitas menunjukan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik untuk mengukur. Reabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus alpha. Adapaun sebagai berikut ini.





8.    Teknik Analisis Data
Data yang didapat dalam penelitian ini berupa angka-anakga yang di dapatkan dari posttest kepada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Pada analisis dilakukan uji normalitas, uji homogonitas dan uji anova dan uji t.
a.         Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data yang akan dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Maka digunakan uji Liliefors. Berdasarkan sampel maka akan diuji hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya, yaitu:
Ho            : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.          
Ha            : Sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal.
Adapun langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :
1)   Pengamatan x1, x2, x3, ... , xn dijadikan bentuk baku z1, z2, z3, ... ,zn dengan
2)   menggunakan rumus   ( masing-masingmerupakan rata-rata dan simpangan baku sampel).
3)   Untuk tiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluangnya: F (zi) = P (z ≤ zi).
4)   Selanjutnya dihitung proporsi z1, z2, z3, ...,zn yang ≤ zi. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S(zi) maka;
5)   Hitung selisih F (zi) - S(zi)kemudian tentukan harga mutlaknya.
6)   Ambil harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak selisih tersebut, sebutlah harga terbesar ini L0.
Untuk menerima atau menolak H0, kita bandingkan L0 ini dengan nilai Ltabel­. Dengan taraf signifikanα = 5%, maka terima H0 jika L0 < Ltabel (Sudjana, 2013: 466 – 467)
b.        Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk menguji kesamaan varians dua populasi yang berdistribusi normal. Tepatnya, misalkan dipunyai dua buah populasi berdistribusi normal masing-masing dengan varians  dan  akan diuji hipotesis
( varians homogen )
( varians tidak homogen )
Keterangan:
 =  varians kelompok eksperimen
 = varians kelompok kontrol
Statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis H0 adalah:
F = Dengan kriteria pengujian, tolak H0 hanya jika F ≥ F α(v1, v2) dengan F α(v1, v2) didapat daru daftar distribusi F dengan peluang α, sedangkan derajat kebebasan v1dan v2 masing-masing sesuai dengan dk pembilang dan penyebut serta α = taraf nyata. (Sudjana, 2013: 250).

c.         Uji Hipotesis
Teknik yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah tekik t-test. Yang diuji adalah perbedaan antara Q2 dengan Q4. Kalau terdapat perbedaan dimana Q2 lebih besar dari Q4 maka berpengaruh positif. Uji ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol, Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho            : µ1 =  µ1
Ha            : µ1 > µ2
Keterangan:
µ1             : rata-rata hasil belajar eksperimen dengan perlakuan atau menggunakan media papan lempar.
µ2             : rata-rata hasil belajar kontrol tanpa diberi perlakuan atau menggunakan media papan lempar.
Pengujian Ho dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut

Jika t> t1-α maka Ho diterima, berarti hasil belajar kelompok eksperimen dengan media papan lempar lebih baik dar pada kelompok kontrol.
                                           


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rinika Cipta.
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Depok: PT Rajagrafindo Persada
Berita hasil survei PISA. “m.detik.com”. Diakses pada tanggal 31 Januari 2016.
Berita. 2012. Sistem Pendidikan Indonesia Terendah di Dunia. http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/27/15112050/Sistem.Pendidikan.Indonesia.Terendah.di.Dunia. Diakses pada tanggal 31 Januari 2016
Daryanto. 2013. Media Pembelajaran Perannya Sangat Penting Dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran. Yogyakarta: GAVA MEDIA
Rianto, Milan. 2007. Pengelolaan Kelas Model Pakem. Jakarta: Dirjen PMPTK Depdiknas.
Rusman. 2015. Pembelajaran Tematik Terpadu Teori Praktik Dan Penilaian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.
Soegeng, A.Y. Ysh. 2006. Dasar-Dasar Penelitian. Semarang: IKIP PGRI SEMARANG PRESS.
Sudjana, Nana.2013. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset
Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad. 2011. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset
Swasty, Renata. 2013. Pendidikan Indonesia Peringkat 64 dari 65 Negara. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:1ZC7P8WbfeUJ:www.metrotvnews.com. Diakses pada tanggal 31 januari 2016
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Rineka Cipta






EmoticonEmoticon