10/8/17

Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung



Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung


Judul Proposal PTK

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI OPERASI
HITUNG CAMPURAN MELALUI MEDIA PATUNG PADA SISWA
KELAS IV SD N 2 KEMBANG JEPARA




A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal tersebut juga telah dicantumkan dalam Undang Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Menurut Purwanto (2014:39) belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya. Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap. Tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai apabila guru mampu mewujudkan suatu proses belajar mengajar yang baik. Guru harus mampu mengetahui karakteriktistik siswa dan juga materi yang akan disampaikan. Salah satu mata pelajaran yang siswanya sering mengalami kesulitan yaitu matematika. Hal tersebut dikarenakan siswa merasa tidak mampu berpikir secara abstrak, selain itu guru tidak menampilkan media-media yang dapat membantu siswa memahami materi.
Pelajaran matematika merupakan pelajaran berhitung yang dirasakan sulit oleh sebagian besar siswa. Data di sekolah menunjukkan bahwa nilai rata-rata matematika kelas IV lebih rendah dibandingkan dengan pelajaran yang lain misal bahasa indonesia, IPA, IPS.
Tabel 1. Nilai rata-rata mata pelajaran siswa SD Negri 2 Kembang
No
Mata Pelajaran
Nilai Rata-Rata
1
Matematika
63
2
Bahasa Indonesia
75
3
IPA
73
4
IPS
80

Kesulitan siswa pada mata pelajaran matematika terletak pada materi operasi hitung campuran. Data hasil ulangan harian siswa kelas IV SD N 2 Kembang menunjukkan dari 14 siswa, terdapat 4 siswa yang memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) dan 10 siswa lainnya mendapatkan nilai kurang dari KKM. Nilai KKM dari mata pelajaran matematika adalah 70.
Tabel 2. Hasil ulangan harian siswa kelas IV SD Negri 2 Kembang
Keterangan
Jumlah Siswa
Persentase (%)
Nilai dibawah KKM
4
28,6%
Nilai diatas KKM
10
71,4%

Hasil belajar siswa yang kurang pada materi operasi hitung campuran di kelas IV diakibatkan oleh kelemahan guru dan siswa. Kelemahan guru tersebut adalah kurangnya kemampuan untuk menarik perhatian siswa, kurangnya kemampuan untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan kurangnya kemampuan untuk menciptakan media-media pembelajaran yang inovatif. Sebaliknya kelemahan siswa adalah kesulitan memahami materi pemelajaran dan cepat bosan dalam menerima materi.
Media pembelajaran PATUNG (Papan Berhitung) dapat menjadi alternatif dalam membantu guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi operasi hitung campuran. Media PATUNG membantu partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran, hal itu diharapkan dapat meningkatnya hasil belajar siswa. Media pembelajaran PATUNG adalah media visual dan merupakan media grafis yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima. Media PATUNG adalah singkatan dari “Papan Hitung” media ini berbentuk papan yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan operasi bilangan dan dilengkapi oleh soal-soal latihan. Media PATUNG ini menekankan pada pengulangan kalimat yang terdapat pada media. Kalimat pada media tersebut dibacakan oleh siswa sebelum menyelesaikan soal yang disediakan oleh guru. Setelah membacakan kalimat yang tertera pada papan berhitung, siswa mengerjakan soal yang disediakan oleh guru di media papan berhitung tersebut. Kemudian soal dibahas bersama-sama oleh guru dan siswa.
Secara bahasa media berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘medium’. Menurut Heinich, dan kawan kawan (1982) dalam Arsyad (2013:3) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Pendapat itu menenkankan bahwa medium atau media merupakan alat bantu yang digunakan untuk mempermudah pesan yang disampaikan untuk diterima. Sementara menurut Arsyad (2013:3) media dalam proses belajar mengajar cendrung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau electronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Pengertian dari Arsyad menekankan media adalah alat yang digunakan untuk menyusun kembali informasi visual atau verbal yang memudahkan siswa menerima pesan. Media menjadi alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Mempermudah peserta didik dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh guru.
Berdasarkan definisi media menurut ahli di atas, dapat dikatakan bahwa media memberikan manfaat, yaitu mempermudah siswa dalam menerima pesan yang disampaikan oleh guru. Lebih lanjut media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi, perhatian dan minat siswa dalam belajar
Berdasarkan pembahasan di atas maka, untuk mengatasi masalah belajar anak peneliti mencoba untuk menyelesaikan masalahnya.  Penyelesaian masalah tersebut dilakukan peneliti dengan cara menerapkan media PATUNG dalam pembelajaran. Selanjutnya untuk melihat hasil dari implementasi media PATUNG peneliti merumuskan membuat Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Operasi Hitung Campuran Melalui Media PATUNG Pada Siswa Kelas IV SD N 2 Kembang Jepara”.

B.     Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Hasil belajar siswa rendah. 
  2. Guru tidak menggunakan media dalam pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran.
  3. Guru tidak dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif. 
  4. Siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran. 
  5. Guru selalu menggunakan metode ceramah. 

C.    Pembatasan Masalah
Peneliti melakukan batasan-batasan masalah yang akan dibahas, meliputi: Peningkatan hasil belajar melalui media pembelajaran PATUNG dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara yang berjumlah 14 siswa. Adapun materi yang dipilih oleh peneliti adalah operasi hitung campuran pada semester genap. Dalam hal ini peneliti akan melakukan tindakan/treatment dalam dua siklus melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut: Apakah penerapan media pembelajaran PATUNG pada materi operasi hitung campuran dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara? 
E.     Pemecahan Masalah
Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah media pembelajaran PATUNG. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat langkah pada setiap siklus yaitu perencanaan (planning), aksi atau tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). 
F.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan peneliti, maka tujuan dari PTK;
1.  Secara umum yang menjadi tujuan dalam PTK ini adalah untuk meningkatkan sikap profesionalitas guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran di SD N 2 Kembang Jepara sehingga dapat memiliki nilai akademik yang baik.
2.       Secara khusus penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan media pembelajaran PATUNG pada materi operasi hitung campuran dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara. 
G.    Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi Sekolah; Memberikan kontribusi yang baik mengenai media-media pembelajaran yang inovatif dalam rangka peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran di sekolah.
2.    Bagi Guru; Mengetahui media-media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, serta profesionalitas guru juga akan semakin meningkat.
3.   Bagi Siswa; Membiasakan siswa untuk belajar aktif dan juga siswa mampu meningkatkan kemampuan berhitung yang secara otomatis akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.

1.      Belajar
Skinner dalam Walgito (2009:166) memberikan definisi belajar “Learning is a process of progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progersif. Ini berarti bahwa sebagai akibat dari belajar adanya sifat progresivitas, adanya tendensi ke arah yang lebih sempurna atau lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sementara Mc Geoch dalam Walgito (2009:167) memberikan definisi mengenai belajar “Learning is a change in performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan (practice). Pengertian latihan atau practice mengandung arti bahwa adanya usaha dari individu yang belajar.
Piaget dalam Dimyati dan Mudjiono (2009:13) berpendapat pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Selain itu Morgan, dkk. memberikan definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which occurs as a result of practice or experience ”. Hal yang muncul dalam definisi ini ialah bahwa perubahan perilaku atau performance itu relatif permanen (Walgito, 2009:167). Di samping itu juga dikemukakan bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan (practice) atau karena pengalaman (experience).
Berdasarkan berbagai pengertian belajar yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses untuk memperoleh perubahan perilaku sebagai hasil dari latihan atau pengalaman dari seseorang.

2.      Hasil Belajar
Hasil belajar juga merupakan suatu komponen yang sangat penting bagi pembelajaran. Hasil belajar menjadi variabel dependen atau variabel yang dipengaruhi. Artinya bahwa hasil belajar merupakan hasil dari sebuah tindakan yang diberikan dalam proses pembelajaran. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:3) hasil belajar merupakan  hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Pendapat tersebut menekankan bahwa hasil belajar berasal dari suatu interaksi. Interaksi adalah komunikasi anatar guru dan peserta didik. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar.
Sedangkan menurut Suprijono (2009:5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan ketrampilan. Hal ini berarti hasil belajar merupakan cerminan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Cerminan ini merupakan akibat dari terjadinya suatu proses interaksi anatar guru dan murid yang disebut dengan proses pembelajaran.
Bersasarkan berbagai pengertian hasil belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh seseorang setelah melakukan proses pembelajaran dengan cara mengevaluasi untuk mengetahui tercapai tidaknya suatu tujuan pembelajaran.
Terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu: (Slameto, 2010:54)
a.       Faktor Intern
Faktor intern yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Dalam faktor intern terdapat tiga faktor penting yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor psikologis sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yaitu: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan juga kesiapan.
b.        Faktor Ekstern
Faktor Ekstern yaitu faktor yang ada di luar individu. Faktor ekstern dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Faktor keluarga memberikan berbagai macam interaksi yang memberikan pengaruh kepada siswa, berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran,waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Sedangkan dalam faktor masyarakat meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi jasmaniah, sikologis, dan kelelahan sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat.

3.      Operasi Hitung Campuran
Operasi hitung campuran bilangan bulat merupakan materi pokok dari kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) SD. Mata pelajaran matematika operasi hitung campuran terdapat pada kelas 4 dengan SK 1 yaitu memahami dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah dan KD 1.4 yaitu melakukan operasi hitung bilangan campuran. Materi tersebut merupakan lanjutan dari materi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang telah mulai dipelajari sejak kelas 2 yang terdapat pada SK 1 dengan KD 1.4 yaitu melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500. Prasyarat materi yang harus dikuasai siswa sebelum mempelajari materi operasi hitung campuran adalah operasi hitung dasar dan pemahaman tentang bilangan bulat (positif dan negatif). Beberapa kendala yang sering ditemukan dalam mengajarkan operasi hitung campuran adalah materi prasyarat yang dikuasai siswa masih lemah. Di samping itu pula, masih banyak siswa yang tidak mengerti mana yang harus didahulukan dalam penghitungan hitung campuran.
Kompetensi yang dituntut dalam mempelajari operasi hitung campuran bilangan bulat  adalah siswa dapat melakukan operasi hitung campuran bilangan bulat dan memecahkan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan operasi hitung campuran bilangan bulat. Kompetensi ini sering tidak tercapai karena siswa tidak memahami teori dasar melakukan operasi hitung campuran, serta karena lemahnya pada operasi hitung dasar  dan kurangnya ketelitian siswa terhadap tanda bilangan dan tanda operasinya. Selain itu siswa juga kurang memeahami sifat-sifat pengerjaan operasi hitung campuran. Adapun sifat-sifat operasi hitung campuran sebagai berikut: a) Operasi penjumlahan (+) dan pengurangan (-) sama kuat, artinya operasi yang terletak di sebelah kiri dikerjakan terlebih dahulu. b) Operasi perkalian (x) dan pembagian (:) sama kuat, artinya operasi yang terletak di sebelah kiri dikerjakan terlebih dahulu. c) Operasi perkalian (x) dan pembagian (:) lebih kuat dari pada operasi penjumlahan (+) dan pengurangan (-), artinya operasi perkalian (x) dan pembagian (:) dikerjakan terlebih dahulu dari pada operasi penjumlahan (+) dan pengurangan (-).
Untuk mencapai tujuan belajar pada materi operasi hitung campuran maka proses belajar mengajar di dalam kelas harus berlangsung secara aktif bagi siswa. Berdasarkan paradigma kontruktivisme Rusman (2015:51) menjelaskan bahwa belajar adalah kegiatan aktif siswa untuk membangun pengetahuannya. Siswa belajar dengan aktif untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dipelajari. Belajar dengan malakukan secara mandiri dan guru hanya sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat secara aktif menemukan pengetahuan. 

4.      Media Pembelajaran
Menurut Heinich, dkk (1993) dalam Hernawan, dkk (2007:3) Media merupakan alat saluran komunikasi, yang berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan menurut Criticos (1996) dalam Daryanto (2012:4)
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau sarana untuk berkomunikasi dengan siswa dalam proses pembelajaran yang digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar.
Jenis-jenis media pembelajaran  menurut Hernawan, dkk (2007:22-34) adalah sebagai berikut:
a.         Media Visual
Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan  indera penglihatan.
1)        Media Visual yang Diproyeksikan
Media visual yang diproyeksikan adalah media yang menggunakan alat proyeksi (projector) sehingga gambar atau tulisan nampak pada layar (screen).
2)    Media Visual Tidak Diproyeksikan
Media visual yang tidak diproyeksikan adalah media visual yang ditampilkan tanpa alat proyeksi (projector) sehingga gambar ditampilkan secara langsung, seperti:

a)      Gambar Fotografik
Gambar fotografik adalah gambar diam/mati (still picture), misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan  isi/ bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
b)      Grafis
Media grafis adalah media pandang dua dimensi (bukan fotografik) yang didalamnya terdapat unsur gambar dan tulisan yang dirancang secara khusus  untuk mengkomunikasikan pesan pembelajaran.
c)      Media Tiga Dimensi
Media tiga dibagi menjadi tidua jenis, yaitu  media realita dan media model. Media realita merupakan model atau objek langsung dari benda nyata, sedangkan media model merupakan tiruan dari objek nyata.
b.    Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif  (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar.
c.   Media Audio-Visual
Media Audio-Visual merupakan kombinasi audio dan visual yang biasa disebut media pandang dengar. Kriteria umum pemilihan media menurut Hernawan, dkk (2007:64-66) adalah sebagai berikut: 1) kesesuaian dengan tujuan (instructional goals), 2) kesesuaian dengan materi pembelajaran, 3) kesesuaian dengan karakteristik siswa, 4) kesesuaian dengan teori, 5) kesesuaian dengan gaya belajar siswa, 6) kesesuaian dengan lingkungan.
Kriteria khusus pemilihan media menurut Hernawan, dkk (2007:66-67) merumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari access, cost, technology, interactivity, organization dan novelty. Lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut; 1) Access, yaitu pertimbangan mengenai akses dalam penggunaan media.  Siswa memiliki akses seperti izin penggunaan atau pun sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat menggunakan media tersebut, 2) Cost, yaitu pertimbangan mengenai biaya. Mahalnya biaya yang dikeluarkan harus mempertimbangkan aspek manfaatnya, 3) Technology, yaitu pertimbangan teknologi yang tersedia. Dengan terknologi yang tersedia apakah media media tersebut dapat digunakan atau tidak. 4) Interactivity, yaitu pertimbangan interaktivitas. Media yang baik dapat memunculkan komunikasi dua arah, 5) Organization, yaitu pertimbangan organisasi. Hal ini seperti dukungan dari kepala sekolah atau yayasan serta pengorganisasiannya, 6) Novelty, yaitu pertimbangan kebaruan media. Media yang baru biasanya lebih menarik bagi siswa.
Suatu media pengajaran tentunya terdapat nilai praktisnya. Menurut Nana Sudjana (1991) dalam Djamarah dan Zain (2010:135) mengemukakan nilai-nilai praktis media pengajaran adalah; 1) Dengan media dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir. 2) Dengan media dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar. 3) Dengan media dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap. 4) Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiripada setiap siswa. 5)Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan. 6) Membantu tumbuhnya pemikiran dan memantu berkembangnya kemampuan berbahasa. 7) Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna. 8) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa macam kriteria atau pertimbangan dalam pemilihan sebuah media. Pemilihan media tidak semata-mata hanya seberapa menarik media tersebut, tetapi juga melihat pertimbangan-pertimbangan lain sehingga media tersebut dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran dan tujuan pembelajaran itu sendiri dapat tercapai.

5.      Media PATUNG (Papan Berhitung)
Sebuah penelitian menunjukan bahwa penggunaan media papan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Marifah Hermin yang menyatakan bahwa Media pembelajaran papan napier memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa materi operasi hitung perkalian bagi kelas III SD Dapuan Surabaya. Hal tersebut diketahui dengan adanya peningkatan yang sangat baik dengan diperoleh presentase nilai aktivitas guru dalam proses pembelajaran pada siklus I 67,64% dan pada siklus II 89,21%, presentase nilai aktivitas siswa pada proses pembelajaran pada siklus I 70,00% dan pada siklus II 89,94%, serta ketuntasan belajar siswa secara klasikal, yaitu siklus I (65,00%) dengan rata-rata 64,75 dan siklus II (85,00%) dengan rata-rata 81,35.
Menurut Marifah media papan napier yang digunakan peneliti dalam penelitian tersebut merupakan modifikasi dari teknik perkalian napier yang diwujudkan ke dalam bentuk media yang berupa papan visual yaitu papan tulis putih atau whiteboard yang terbuat dari papan kayu triplek. Papan napier adalah papan tulis putih yang terdapat susunan atau pola yang sama dengan teknik perkalian napier yaitu dengan menuliskan semua hasil perkalian dua bilangan pada susunan kotak yang memiliki garis diagonal/garis miring.
Media PATUNG atau media papan berhitung merupakan media visual dan termasuk media grafis yang berbentuk papan. Sebagaimana halnya media yang lain media PATUNG berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang dituangkan dalam bentuk grafis. Media papan hitung adalah media papan dua dimensi yang berbentuk persegi panjang. Mempunyai panjang 100 cm dengan lebar 70 cm. Pada papan tersebut terdapat penjelasan cara melakukan operasi hitung campuran. Lebih lanjut dalam media tersebut juga terdapat kolom soal dan kolom untuk mengerjakan soal tersebut.
Media PATUNG ini menekankan pada pengulangan kalimat yang terdapat pada media tersebut yang dibacakan oleh siswa sebelum menyelesaikan soal yang disediakan oleh guru. Setelah membacakan kalimat yang tertera pada papan berhitung, siswa mengerjakan soal yang disediakan oleh guru di media papan berhitung tersebut. Kemudian soal dibahas bersama-sama oleh guru dan siswa. Pengulangan terus – menerus pada materi yang dibacakan oleh salah satu siswa akan membuat siswa yang lain lebih ingat tentang materi yang disampaikan, dan penyampaian materi oleh teman sebaya akan lebih mudah dipahami oleh siswa tersebut.
Papan napier sebagai media pembelajaran mempunyai kesamaan dengan media PATUNG yang peneliti gunakan, dimana media papan napier adalah media yang terbuat dari papan yang ditunjukan kepada siswa untuk meningkatkan fokus siswa dalam menjawab soal-soal yang diberikan guru. Sama dengan media napier, media PATUNG juga terbuat dari papan. Kesamaan lain ada pada fungsinya dimana kedua media ini berfungsi untuk membantu siswa menghitung secara langsung pada papan media.
Penerapan media PATUNG akan menjadikan pembelajaran mudah dipahami oleh siswa. Dengan mendemostrasikan cara mengerjakan soal-soal materi operasi bitung campuran. Melalui media PATUNG siswa dapat melihat secara nyata bagaimana sebuah soal dapat dikerjakan atau diperoleh solusi penyelesaiannya. Dengan beberapa siswa yang mengerjakan soal didepan kelas dengan menggunakan media PATUNG maka siswa akan secara aktif mencoba untuk mengerjakannya. Lebih lanjut suasana kelas akan menjadi lebih kondusif karena perhatian siswa tertuju pada materi pelajaran dengan menggunakan media PATUNG.




6.      Kerangka Berpikir
Hasil belajar yang baik, idealnya tercapai karena proses belajar mengajar berlangsung dengan baik pula. Sehingga tercapai tujuan dari proses belajar yang telah ditetapkan. Namun dalam sebuah kelas yang terdapat di SD N 2 Kembang Jepara khusunya di kelas 4, pada mata pelajaran matematika dengan materi pembelajaran operasi hitung campuran tujuan pembelajaran tersebut tidak tercapai, hal tersebut ditandai dengan nilai pelajaran pada mata pelajaran matematika yang lebih rendah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Lebih lanjut nilai ulangan siswa kelas 4 SD N 2 Kembang juga menunjukan rata-rata nilai yang belum mencapai KKM.
Rendahnya hasil belajar pada siswa kelas 4 SD N 2 Kembang diakibatkan oleh prsoses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu peneliti melakukan PTK  dengan dua siklus. Pada siklus pertama akan diberikan tindakan yaitu guru menggunakan media PATUNG pada pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran. Setelah tindakan dilakukan selanjutnya peneliti mengamati hasil belajar dengan penggunaan treatmean tersebut. Jika hasil tersebut belum mencapai target peningkatan yang ditetapkan maka dilakukan treatmeant atau tindakan pada siklus yang kedua yaitu dengan guru menggunakan media PATUNG dalam pembelajaran materi operasi hitung campuran. Dari hasil siklus tersebut diharapkan terjadi peningkatan siknifikan pada hasil belajar siswa. Artinya bahwa penerapan media PATUNG dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi operasi hitung campuran siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara.








7.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: Pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran dengan menggunakan media pembelajaran PATUNG dapat meningkatkan hasil belajar siswa.







I.    Metodologi Penelitian




1. Setting Penelitian
a. Subjek Penelitian
Subjek yang akan diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara yang berjumlah 14 siswa.
b. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas IV SD N 2 Kembang yang beralamat di Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.
c. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 minggu, yaitu pada tanggal 8 Februari 2016 sampai dengan tanggal 20 Februari 2016.




2. Prosedur Penelitian



Prosedur penelitian adalah langkah-langkah atau cara yang harus dilakukan secara teratur dan sistematis oleh peneliti untuk mencapai tujuan-tujuan penelitiannya. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus yang berulang yang di dalamnya terdapat empat tahapan utama yaitu: (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi.
Perencanaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk membuat rencana yang akan dijadikan acuan dalam melakukan tindakan. Pelaksanaan tindakan adalah aktifitas yang dilakukan oleh guru berdasarkan pada rancangan atau rencana yang telah disusun. Pengamatan adalah tindakan yang dilakukan guru untuk mengamati dan mencatat hal-hal yang diperlukan dan terjadi dalam proses pelaksanaan tindakan berlangsung. Refleksi adalah proses untuk melihat kembali atau mengulas kembali tentang perubahan yang terjadi pada proses tindakan yang telah dilakukan. Untuk lebih jelasnya digambarkan pada gamabr berikut ini:







a.         Sikuls 1
1)        Perencanaan tindakan I
Agar pelaksanaan tindakan dapat berjalan dengan lancar serta perubahan akibat tindakan dapat direkam dengan baik maka dalam perencanaan ini harus disiapkan dengan lengkap. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
(a)     Merancang program pelaksanaan pembelajaran yang konsisten dengan metode atau model yang akan dilakukan (RPP).
(b)     Menyusun lembar observasi aktivitas siswa.
(c)     Merancang dan menyiapkan media atau alat pelajaran yang akan digunakan.
(d)     Menyusun instrumen evaluasi dan uji instrumen.
2)      Pelaksanaan tindakan I
Pada tahapan ini rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan RPP yang telah disusun.
3)      Pengamatan/Pengumpulan data I
Tahapan ini terkait dengan pelaksanaan tindakan kelas. Kegiatan ini dengan menggunakan lembar observasi yang meliputi aktivitas siswa serta hasil belajar.
4)      Refleksi I
Tahapan refleksi ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan pada setiap siklus, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Kegiatan yang dilakukan adalah analisis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang telah dilakukan. Hasil refleksi digunakan untuk dasar perbaikan dalam menyusun perencanaan pada siklus berikutnya.
b.        Siklus 2
1)        Perencanaan tindakan II
Agar pelaksanaan tindakan dapat berjalan dengan lancar serta perubahan akibat tindakan dapat direkam dengan baik maka dalam perencanaan ini harus disiapkan dengan lengkap. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
(a)     Merancang program pelaksanaan pembelajaran yang konsisten dengan metode atau model yang akan dilakukan (RPP).
(b)     Menyusun lembar observasi akivitas siswa.
(c)     Merancang dan menyiapkan media atau alat pelajaran yang akan digunakan.
(d)     Menyusun instrumen evaluasi dan uji instrumen.
2)        Pelaksanaan tindakan II
Pada tahapan ini rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan RPP yang telah disusun.
3)        Pengamatan/Pengumpulan data II
Tahapan ini terkait dengan pelaksanaan tindakan kelas. Kegiatan ini dengan menggunakan lembar observasi yang meliputi aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.
4)        Refleksi II
Tahapan refleksi ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan pada setiap siklus, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Kegiatan yang dilakukan adalah analisis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang telah dilakukan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.

 
3.   Teknik Pengumpulan Data
a.         Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan daftar siswa kelas IV, jumlah siswa kelas IV, baik laki-laki maupun perempuan, dan daftar nilai siswa kelas IV.
b.        Tes
Tes dilakukan setiap akhir siklus untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas IV khususnya untuk peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan media PATUNG . Data hasil belajar siswa ini didapat dari hasil evaluasi setiap akhir siklusnya.
c.         Pengamatan (observasi)
Pengamatan betujuan untuk memperoleh data tentang proses berlangsungnya belajar mengajar yang meliputi aktivitas siswa, suasana atau situasi belajar siswa.
Instrumen Penelitian
Sebelum dilaksanakannya PTK, maka disusun berbagai instrumen terlebih dahulu yang akan digunakan pada saat dilakukannya PTK yaitu sebagai berikut:
a.         Membuat input instrumental yang digunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK, yaitu menyusun RPP dan juga menyusun perangkat pembelajaran berupa lembar pengamatan.
b.        Membuat output instrumental  yang digunakan untuk menganalisis data setelah memberi perlakuan PTK, instrumennya adalah butir tes.
Langkah-langkah yang dilakukan sebelum menyusun instrumen penelitian diantaranya adalah sebagai berikut:
1)        Menyusun kisi-kisi
Tujuan penyusunan kisi-kisi tes adalah untuk menjaga agar tes yang akan disusun sesuai dengan materi.
2)        Menentukan tipe tes
Tipe tes yang digunakan adalah pilihan ganda.
3)        Menentukan jumlah soal
Jumlah yang digunakan untuk uji coba sebanyak 25 soal pilihan ganda dengan alokasi waktu 30 menit.

4.   Teknik Analisis Data
a.         Analisis Instrumen Penelitian
Data dalam penelitian ini, dikumpulkan melalui catatan harian dan pengamatan guru. Setelah instrumen diujicobakan kemudian dianalisis, untuk mendapatkan soal yang baik dan memenuhi kriteria. Menganalisa hasil tes ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1)        Validitas
Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman (Arikunto, 2009:65). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment dengan angka kasar, yaitu:



Sebuah tes dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor tiap butir soal menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa sebuah butir soal memiliki validitas yang tinggi jika skor pada tiap butir soal mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi sehingga untuk mengetahui validitas tiap butir soal digunakan rumus korelasi tersebut di atas. Dengan berkonsultasi ke tabek harga kritik r product moment sehingga dapat diketahui signifikan tidaknya korelasi tersebut. Jika harga rXY> rtabel maka korelasi tersebut signifikan atau valid, dan sebaliknya (Arikunto, 2009 : 75).
Untuk soal-soal bentuk objektif skor untuk butir soal biasa diberikan dengan 1 (bagi soal yang dijawab benar) dan 0 (bagi soal yang dijawab salah), sedangkan skor total selanjutnya didapat dari jumlah keseluruhan skor untuk semua butir soalnya.
2)        Reliabilitas
Suatu tes dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut memberikan hasil yang tetap. Arti tetap tidak selalu harus sama, tetapi mengikuti perubahan secara ajeg yaitu sama dalam kedudukan siswa di antara anggota kelompok yang lain (Arikunto, 2009:86). Analisis realibilitas tes pilihan ganda menggunakan rumus K-R. 20, yaitu:
 
Setelah diperoleh harga kemudian dibandingkan dengan produk moment dengan =5%. Instrumen dikatakan reliabel jika 







3)      Taraf kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi(Arikunto, 2009: 207). Untuk menghitung besarnya indeks kesukaran tiap butir soal, peneliti menggunakan rumus sebagai berikut :


Arikunto (2009:210) mengatakan bahwa indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:
0 < P ≤ 0,3           : sukar
0,3< P ≤ 0,7         : sedang
0,7< P ≤ 1,0         : mudah
4)        Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu  soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah) (Arikunto, 2009:211).Cara menentukan daya pembeda yaitu dengan rumus sebagai berikut:


Klasifikasi daya beda adalah(Arikunto, 2009:218):
D : 0,00 – 0,20 = jelek (poor)
D : 0,20 – 0,40 = cukup (satisfactory)
D : 0,40 – 0,70 = baik (good)
D : 0,70 – 1,00 = baik sekali (exellent)

b.   Analisis Data.
Teknik analisis data yang digunakan perlu dikemukakan secara jelas dan rinci sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan pada saat dilakukannya kegiatan observasi.
1)        Data hasil belajar siswa
Data mengenai hasil belajar diambil dari kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal.
a)        Menghitung nilai rata-rata
Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata yaitu:
 


5.      Indikator Keberhasilan
Sebagai tolak ukur keberhasilan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
a.     Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dengan nilai rata-rata kelas ≥ 70, ketuntasan belajar individu mencapai ≥ 70% dan ketuntasan belajar klasikal mencapai ≥ 70%
b.      Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat dengan kriteria tinggi dan mencapai persentase ≥ 75%


  

DAFTAR PUSTAKA

Arief S.Sadiman, dkk. (2009). Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta: Rajawali Pers. .
Arikunto, Suharsimi.2009.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Daryanto. 2012. Media Pembelajaran. Bandung: Satu Nusa.
Depdiknas.2003.Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dimyati dan Mudjiono.2009.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain.2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hernawan, Asep Herry, dkk.2007.Media Pembelajaran sekolah Dasar.Bandung:UPI PRESS.
Marifah, Hermin. Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Perkalian Bersusun Ke Bawah dengan Media Papan Napier Pada Pembelajaran Matematika Bagi Siswa Kelas III SD Dapuan Surabaya. http://ejournal.unesa.ac.id/article/1315/18/article.pdf diakses pada 24 Mei 2016.
Purwanto, M.N. 2013. Prnsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rusman. 2015. PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU Teori Praktik dan Penilaian. Jakarta: PT RAJA GRAFINDO PERSADA.
Slameto.2010.Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.Jakarta:Rineka Cipta.
Suprijono, Agus.2009.Cooperative Learning:Teori&Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta:Pustaka Belajar.
Walgito, Bimo.2009.Pengantar Psikologi Umum.Yogyakarta:ANDI.
 
Baca Juga :
Contoh Proposal PTK SD Kelas 4 : Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Pendekatan Matematika Realistic
Contoh penelitian Tidakan Kelas PAUD : Peningkatan Keterampilan Bicara Anak Usia 3-4 Tahun
Contoh proposal penelitian Tindakan Kelas (PTK) : Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung
Download PTK SD Lengkap Kelas 1, 2, 3, 4, 5, 6 Dengan Sekali KLIK
Contoh PTK Peningkatan Hasil Belajar



Proposal Penelitian PTK ini ditulis oleh Guru SD yaitu Toni Eko Nugroho. S.Pd