10/16/17

Pengertian Hakikat Belajar Menurut Para Ahli dan Hakekat Pembelajaran Menurut Para Ahli

A. Hakikat Belajar
Hakikat Belajar
Manusia memiliki kemampuan untuk selalu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Kemampuan manusia semakin bertambah dengan banyaknya pengalaman yang didapat. Belajar merupakan proses di mana manusia mencari pengalaman untuk terus bertahan hidup. Menurut Burton (1984) dalam Siregar (2014: 4), “belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya”. Gagne dan Berliner (1983: 252) dalam Rifa’i (2011: 82) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya sebagai hasil dari pengalaman.


Fontana (1981) dalam Winataputra (2007: 1.8) berpendapat bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Seperti Fontana, Gagne (1985) dalam Winataputra (2007: 1.8) juga menyatakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan”.

Slameto (2010: 2) menyampaikan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi tersebut menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses, artinya belajar tidak dilakukan secara singkat melainkan terus menerus (continu). Belajar adalah usaha, yang dilakukan oleh individu untuk menjadi lebih baik, dan merupakan hasil dari perilaku sebelumnya yang berupa pengalaman.

Sementara Surya (1997) dalam Rusman (2015: 13), menjelasakan bahwa belajar sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan prilaku secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman pribadi itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Suraya menjelaskan bahwa belajar adalah proses, artinya bahwa belajar adalah hasil dari sebuah tindakan yang dilakukan atau tidak tiba-tiba berubah. Lebih lanjut belajar itu merupakan suatu tindakan yang disengaja. Tindakan yang disengaja itu adalah untuk mencapai perubahan yang bertujuan. Rusman (2015: 12) berpendapat bahwa belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Pendapat tersebut menempatkan belajar sebagai faktor dalam pembentukan karakter dan perilaku. Pembentukan pribadi dan prilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kegiatan belajarnya, misal dia tidak dapat belajar dengan baik, maka akan menghasilkan pembentukan pribadi dan prilaku tidak baik begitupun sebaliknya.

Howard L. Kingskey dalam Rusman (2015: 13) mengatakan bahwa learning is process by which behavior (in the broader sence) os originated or changed through practice or traning. Belajar adalah proses yang mana perilaku (dalam arti luas)  ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. Pendapat tersebut hampir sama dengan pendapat dari Surya yang menjelaskan bahwa belajar merupakan hasil dari proses. Proses yang dimaksud oleh Howard L kingkey berupa latihn atau praktik. Selanjutnya berdasarkan pendapat ahli diatas, hal yang paling utama dalam belajar adalah terjadinya perubahan prilaku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses secara sadar yang dilakukan untuk mencapai tujuan, belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku secara menyeluruh yang diakibatkan oleh interaksi secara individu maupun secara kelompok.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu sebagai akibat dari pengalaman yang berupa interaksi dengan lingkungan sekitar. Melihat dari berbagai pendapat ahli, Rifa’i (2011: 82-83) menyebutkan bahwa konsep belajar mengandung tiga unsur utama yaitu:

1. Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku.
Dalam kegiatan belajar di sekolah, perubahan perilaku siswa mengacu pada kemampuan mengingat atau menguasai berbagai bahan belajar dan kecenderungan siswa memiliki sikap dan nilai-nilai yang diajarkan oleh pendidik. Untuk mengukur apakah seseorang telah belajar atau belum belajar, diperlukan adanya perbandingan antara perilaku sebelum dan setelah mengalami kegiatan belajar. Apabila terjadi perbedaan perilaku, maka dapat disimpulkan bahwa itu telah belajar.

2. Perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman.
Pengalaman dapat membatasi jenis-jenis perubahan perilaku yang dipandang mencerminkan belajar. Perubahan perilaku karena pertumbuhan dan kematangan fisik, seperti tinggi badan, berat badan, dan kekuatan fisik, tidak dipandang sebagai hasil belajar. Kematangan pada diri seseorang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik, dan kematangan itu menjadi prasyarat untuk belajar.

3. Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.
Seseorang yang mampu memahami proses belajar dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari belajar pada kehidupan nyata, maka ia akan mampu menjelaskan segala sesuatu yang ada di lingkungannya. Belajar mengacu pada perubahan perilaku yang terjadi sebagai akibat dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Apa yang dipelajari seseorang dapat diuraikan dan disimpulkan dari perubahan yang terjadi.

Perubahan perilaku pada setiap individu berbeda-beda bergantung dari pengalaman yang mereka dapatkan. Pengalaman yang bermakna akan membentuk perilaku yang jauh lebih kuat. Sama halnya dengan proses belajar pada siswa, ketika proses belajar kurang bermakna akan mengakibatkan perubahan perilaku yang terjadi bersifat sementara. Karenanya dibutuhkan proses pembelajaran yang variatif yang mampu memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya, mencari dan mencoba sendiri apa yang sedang mereka pelajari. Kegiatan semacam ini memberi kesan tersendiri bagi siswa sebagai hal yang menarik dan tidak membosankan yang berujung pada kebermaknaan sebuah pembelajaran. Dengan demikian, perubahan perilaku sebagai hasil proses belajar akan maksimal.

Ciri - Ciri Belajar
Menurut Surya (1997) dalam Rusman (2015 :14) ada delapan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu: 1) perubahan yang disadari dan disengaja, 2) perubahan yang berkesinambungan, 3) perubahan yang fungsional, 4) perubahan yang bersifat positif, 5) perubahan yang bersifat aktif, 6) perubahan yang bersifat permanen, 7) perubahan yang bertujuan dan terarah, 8) perubahan perilaku secara keseluruhan.

Perubahan yang disadari atau disengaja artinya adalah bahwa perubahan merupakan hasil dari sebuah pemikiran. Perubahan dilakukan tanpa adanya paksaan dan terjadi atas dasar keinginan. Perubahan berkesinambungan artinya bahwa perubahan yang terjadi merupakan kelanjutan dari pengetahuan atau hasil dari perubahan sebelumnya. Perubahan yang fungsional artinya bahwa perubahan yang baik, perubahan yang baik dimaksudkan bahwa perubahan yang terjadi akibat dari belajar adalah perubahan yang dapat berfungsi untuk hal hal yang bersifat positif. Perubahan yang bersifat aktif artinya adalah perubahan tersebut merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan, bukan karena sebuah perlakuan dari luar. Perubahan bersifat permanen diartikan sebagai perubahan yang berlangsung lama, dan tetap. Perubahan tersebut bukan yang bersifat sementara. Perubahan yang terarah artinya perubahan tersebut sudah direncanakan sedemikian rupa atau diartikan lagi sebaai sebuah perubahan yang disadari. Dan perubahan perilaku secara keseluruhan mempunyai arti bahwa perubahan yang terjadi secara menyeluruh tidak bagian per bagian.

Sedangkan menurut Slameto (2010: 3) menyampaikan bahwa ciri-ciri dari perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar, yaitu: 1) perubahan terjadi secara sadar, 2) perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional, 3) perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, 4) perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, 5) perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah, 6) perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

B. Hakikat Pembelajaran
Hakikat Pembelajaran

Kata pembelajaran diambil dari kata dasar “ajar” ditambah awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi kata “pembelajaran”, diartikan sebagai proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar (Susanto 2013: 19). Pembelajaran menurut Briggs (1992) dalam Rifa’i (2011:191) adalah “seperangkat peristiwa (events) yang mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga peserta didik itu memperoleh kemudahan”. Seperangkat peristiwa itu membangun suatu pembelajaran yang bersifat internal jika peserta didik  melakukan  self  instruction  dan  bersifat  eksternal  dengan  guru  sebagai pendidik. Sedangkan menurut Winkel (1991) dalam Siregar (2014:12), “pembelajaran  adalah  seperangkat tindakan  yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa”.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dengan sengaja dirancang untuk memudahkan siswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal.

Pembelajaran pada dasarnya bertujuan untuk mengarahkan bagaimana siswa berperilaku. Perilaku yang ditunjukan siswa harus sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dalam tujuan sebagai hasil dari pembelajaran. Hasil belajar akan diperoleh secara maksimal ketika pembelajaran tersebut memberi makna bagi siswa. Untuk itu, kreativitas guru dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Gagne (1977) dalam Siregar (2014: 16-17) mengemukakan ada 9 prinsip yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran, sebagai berikut:
  1. Menarik perhatian yaitu hal yang menimbulkan minat siswa dengan mengemukakan sesuatu yang lucu, aneh, kontradiksi atau kompleks.
  2. Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai siswa setelah selesai mengikuti pelajaran.
  3. Mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari.
  4. Menyampaikan materi pelajaran.
  5. Memberikan bimbingan belajar yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan.
  6. Memperoleh kinerja/penampilan siswa yaitu siswa diminta untuk menunjukan apa yang telah dipelajari.
  7. Memberikan balikan yaitu memberitahu seberapa jauh ketepatan penampilan siswa.
  8. Menilai hasil belajar yaitu memberikan tes / tugas.
  9. Memperkuat retensi dan transfer belajar yaitu merangsang kemampuan mengingat-ingat dan mentransfer dengan memberikan rangkuman.

Ketika guru mampu melaksanakan pembelajaran sesuai prinsip yang ada, diharapkan akan tercipta pembelajaran yang bervariasi. Pembelajaran yang menarik akan mampu menarik minat belajar siswa yang akan diiringi dengan hasil belajar yang meksimal.


C. Hasil Belajar
 
Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:3) hasil belajar merupakan  hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Pendapat tersebut menekankan bahwa hasil belajar berasal dari suatu interaksi. Interaksi adalah komunikasi anatar guru dan peserta didik. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar.

Sedangkan menurut Suprijono (2009:5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan ketrampilan. Hal ini berarti hasil belajar merupakan cerminan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Cerminan ini merupakan akibat dari terjadinya suatu proses interaksi anatar guru dan murid yang disebut dengan proses pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran dilandasi oleh sebuah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar yang telah diperoleh siswa. Rifa’i (2011: 85) mengatakan “hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar”. Sejalan dengan pernyataan Rifa’i, Susanto (2013: 5) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Gagne dalam Purwanto (2014: 42) menambahkan bahwa “hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan yang menyediakan skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam dan diantara kategori-kategori”.

Hasil belajar harus menunjukan suatu perubahaan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif dan disadari (Anitah 2009: 2.19). Gagne dalam Suprijono (2012: 5-6) mengemukakan bahwa hasil belajar berupa: (1) informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis; (2) keterampilan intelektual, yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang; (3) strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri; (4) keterampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani; (5) sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

Keberhasilan siswa dalam mencapai hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor. Wasliman (2007) dalam Susanto (2013: 12-13) menyebutkan bahwa hasil belajar yang dicapai peserta didik merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya, faktor tersebut yaitu:
  1. Faktor internal: merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar serta kondisi fisik dan kesehatan.
  2. Faktor eksternal: merupakan faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.


Berdasarkan penjelasan  di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil  belajar merupakan  perubahan  perilaku  siswa  sebagai  akibat  dari  proses  belajar  yang dipengaruhi oleh faktor dalam dirinya maupun dari luar. Perubahan perilaku pada siswa haruslah bersifat menyeluruh menyangkut semua aspek. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan secara seksama supaya perilaku tersebut dapat dicapai sepenuhnya oleh siswa. Guru merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Susanto (2013: 13) menjelaskan bahwa peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting. Sebab, siswa merupakan organisme yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan orang dewasa. Guru harus mampu melihat siswanya sebagai pribadi yang berbeda-beda, di mana kebutuhan setiap siswa akan berbeda dengan siswa lain. Perlakuan yang tepat oleh guru akan membantu siswa dalam memperoleh hasil belajar yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES Press.
Purwanto. 2014. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Susanto,  Ahmad.  2013.  Teori  Belajar  dan  Pembelajaran  di  Sekolah  Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Winataputra, Udin S dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta

Rusman
. 2013. Model-model pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar.


EmoticonEmoticon