11/24/17

10 Cara Mendidik dan Menasehati Anak yang Keras Kepala Agar Nurut

Cerita dimulai

Dua anak perempuanku bermain bersama teman-temannya. Mereka bermain boneka bersama-sama. Saya mengawasi mereka bermain dari kejauhan. Ketika keributan mulai menghampiri acara yang menyenangkan itu.


Si adik menarik boneka yang jatuh di depannya. Namun si kakak mengatakan bahwa itu adalah boneka miliknya "ini boneka ku, aku adalah ibu dari boneka ini" ucap kakak.

Namun si adik merasa dialah sekrang yang memegang boneka tersebut "aku juga berhak menjadi ibu dari boneka ini, nyonya Tua!!!!".

Sementara teman-teman lainnya hanya memandang tanpa berani berbuat apa-apa.

Keduanya tidak mau mengalah sampai pada akhirnya mereka berdua sama sama menangis. Suasana yang sebelumnya ceria menjadi kacau balau dengan jeritan kedua gadis kecil yang menyayat telinga ini.

Apa yang terjadi dengan kedua anak tersebut adalah keras kepala, atau bisa disebut dengan berkemauan keras, tidak mau mengalah, atau ingin selalu menang.

Jika kamu tinggal dengan satu diantara anak-anak tersebut apakah yang kamu lakukan untuk mendidiknya?

- Seorang anak seharusnya tidak diberikan kebebasan terlalu banyak agar tidak keras kepala -

Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Memberikan kebebasan kepada anak bukanlah hal yang akan membuat anak menjadi keras kepala.

Tidak benar bahwa anak yang diberikan kebebasan oleh orang tuanya, kemudian anak tersebut menjadi keras kepala.

Anak yang disiplin waktu tanpa disuruh belajar mereka akan belajar pada waktunya, begitupun waktu tidur, waktu bangun, waktu mandi, dan berbagai waktu lainnya.

Apakah anak yang diberikan kebebasan penuh dapat melakukan kedisiplinan waktu seperti gambaran di atas? Jawabannya adalah bisa.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa aturan-aturan ketat yang dibuat oleh orang tua agar anak patuh, bukan merupakan solusi untuk mendidik anak yang keras kepala.

Anak sudah terlanjur keras kepala

Anakku sudah terlanjur keras kepala, dia tidak mau menuruti perintah dari orang tua.

Ketika saya meminta anak saya untuk mandi, anak saya menutup telinganya dan tidak mau mendengarkan apa yang saya perintah.

Dia seperti ingin mengatakan bahwa "berhenti memerintah, saya tau apa yang harus saya lakukan, saya belum butuh mandi".

Membuat kesepakatan dengan mereka bagiku adalah tantangan yang luar biasa sulit.

Sampai akhirnya saya menemukan tips dari sebuah situs parenting "mom junction" bahwa ada beberapa cara atau tips untuk membuat kesepakatan dengan anak yang keras kepala.

Dalam artikel ini saya akan menjelaskan apa yang saya lakukan untuk membuat kesepakatan dengan anak yang keras kepala agar menurut.

Sebelum mengetahui apa saja tips untuk mengatasi anak yang keras kepala.

Alangkah lebih baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui karakteristik anak yang keras kepala.

Karakter anak yang keras kepala

Sebelum memberikan tindakan mengatasi anak yang keras kepala, lebih baik kita mengetahui ciri dari anak keras kepala.

1. Ingin diakui dan didengar
Anak yang keras kepala memiliki keinginan yang kuat untuk diakui dan didengar. Hal tersebut membuat seorang anak sering meminta perhatian kepada orang tua.

2. Mereka begitu independen
Anak yang keras kepala cendrung memiliki sikap independen yang tinggi. Independen artinya tidak ingin di pengaruhi siapa saja. Dia bisa berfikir, dia bisa bertindak dan akan melakukan apa yang dia mau karena dia meyakini hal tersebut.

3. Mereka Melakukan Apa yang Mereka Sukai
Anak yang keras kepala sudah memiliki komitmen untuk melakukan hal yang dia sukai dan tidak melakukan hal hal yang tidak dia sukai.

4. Lebih Sering Mengamuk
Ciri selanjutnya dari anak yang keras kepala adalah sering mengamuk. Oke, setiap anak pasti pernah dam wajar untuk mengamuk, merengek, dan menjerit. Tapi anak yang keras kepala lebih sering mengamuk dibandingkan dengan anak biasa lainnya.

5. Memiliki Sifat "Bossy/Seperti Bos"
Anak dengan karakter keras kepala memang  memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi. Lihat saja anak anak yang keras kepala di sekitar anda. Mereka cendrung lebih sering memimpin teman-teman seusianya.  Namun mereka juga cendrung bersikap bossy. Menggap bahwa dialah bosnua, dia yang mengatur segala hal disekitarnya.

Mengatasi anak yang keras kepala

Hal yang akan saya lakukan untuk mengatasi anak yang keras kepala yaitu melakukan trik trik licik.

Saya tidak dapat memaksakan argumen saya karena mereka akan menolaknya.
Jadi saya menjadi licik disini. Licik bukan berarti jahat, namun menggunakan cara cerdas untuk mengatasi anak yang keras kepala.

Kondisi 1 ;

Saya menemukan anak saya bermain mainan nya di ruang tamu. Setiap mainan berhamburan ke sana dan kemari membuat setiap sudut dari rumah nampak berantakan. Dia tidak mau membersihkannya.

Apa yang harus saya lakukan?
Trik : Tantangan Waktu

Seorang ahli psikologi bernama Susan Stiffelman menjelaskan bahwa anak keras kepala adalah anak yang juga tertarik pada permainan dan tantangan.

Alih-alih meminta anak memasukkan mainan, namun dia menolaknya dan kamuembentaknya yang akan berujung pada perkembangan hubungan yang tidak baik.

Tantangan waktu

Saya berikan tantangan kepada anak untuk menyimpan mainan nya dengan menggunakan waktu. Saya melihat bahwa hari pertama dia bisa membereskan mainan yang berserakan dalam waktu 5 menit. Tantanglah di hari hari berikutnya apakah dia mampu untuk mengalahkan waktu yang telah ia buat. Memberikan hadiah pada tantangan yang dia lakukan juga dapat lebih membuatnya bersemangat.

Trik 2 : Jadi Partner
Saya menanyakan pada anak saya "maukah kamu menjadi partner saya hari ini dalam membersihkan ruang tamu, saya melihat kamu bisa melakukan hal hal luas biasa ini. . . tenang kita akan melakukannya bersama-sama.

Trik 3 : Gunakan Kata-Kata Positif
saya tidak pernah berfikir bahwa kata-kata negatif akan berdampak positif. Maka dari itu menggunakan kata-kata positif adalah hal terbaik dalam berkomunikasi dengan anak.

Dalam kondisi disini, untuk meminta anak merapikan mainan nya, kita dapat mengubah penggunaan kata negatif yang sering tidak kita sadari "kalau mainan nya tidak dibereskan kita tidak ketaman".

Dapat diganti dengan "kita akan ke taman saat mainan ini selesai di bereskan"

kalimat kedua adalah contoh penggunaan kalimat positif.

Kondisi 2 : Menyelesaikan Mandi
Memperebutkan kekuasaan

Saat anak saya mandi, dia tidak lekas untuk selesai. Dia tau bahwa jika dia selesai mandi maka dia harus segera belajar. Oleh sebab itu tidak mungkin dia akan rela menyelesaikan mandi dengan cepat dan mengalihkan dirinya untuk segera belajar.

Trik 1 : Memainkan strategi "Ya"
Menyiapkan berbagai pertanyaan yang membuat anak menjawab dengan jawaban "ya". Setidaknya ajukan 3 pertanyaan berturut-turut dengan jawaban "ya".

Apakah kamu senang mandi dengan air hangat itu? (Yup, ini menyenangkan).
Apakah kamu ingat lagu dari filem Tayo?
(Tentu saja aku ingat).
Apakah kamu mau mendengarkannya lagi? (Yup, tentu aku menyukainya)
Kalau begitu ini Handuknya, cepat kita mainkan musik Tayo.

Tiga ya, hal itu akan membuat pertahanan anak menjadi runtuh tanpa harus memaksanya. Kamu juga membuat dia merasa di dengar dan dihormati.

Trik 2 : Memberikan Penawaran
Berikan dua pilihan.

Dari pada saya memberikan pertanyaan, "apakah mandi kamu sudah selesai?"

Maka berikanlah penawaran "apakah kamu mau mengeringkat badan dengan handuk sendiri, atau saya keringkan dengan handuk ini?

Memberikan dua opsi jawaban kepada anak yang mana setiap jawaban membuat mau tidak mau anak akan menyelesaikan mandinya.

Dalam posisi ini kita tidak memberitahukan bahwa waktu mandi telah habis.

Trik 3 : Buat Hubungan

Ketika anak saya sudah menyelesaikan kegiatan mandinya, seharusnya ini adalah waktu dia belajar. Tapi kemudian perhatiannya teralihkan pada sebuah Video Game pada HP milik mamanya.

Ini bukanlah posisi negatif, manfaatkan lah untuk membuat hubungan dengan anak lebih dekat.

Alih-alih melarang dan memarahinya, saya mendekatinya dan mengajak dia mengobrol "luci sekali game ini, pantas saja kamu suka" membuat hubungan dengan anak, masuk ke dalam kesukaannya.

Ketika hubungan sudah terjalin dengan dekat, seperti kata Susan Stifelman "ketika anak anda merasa terhubung dengan anda, mereka akan cendrung menuruti perintah dari anda".

Kondisi 3 : Memilih Makanan

Memilih makanan adalah hal yang baik.

Jika makanan yang di pilih adalah makanan yang bergizi.

Jika anak tidak memilih itu? Yaitu ketika anak tidak mau makan sayur, lebih memilih memakan makanan kering + lebih menyukai mie instan + tidak mau makan buah.

Apakah itu hal baik?
Saya yakin orang tua yang memperhatikan gizi anaknya tidak akan menyukai kondisi tersebut. Namun anak keras kepala tetap akan menolak jika dihidangkan makanan yang tidak disukainya.

Bagaimana kah cara mengatasinya?

Trik 1. Menyajikan berbagai hidangan dalam jumlah kecil

Cara terbaik adalah memaksa anak untuk makan sayur tanpa mengatakan "kamu harus memakan sayur".

Hidangkan berbagai jenis menu makanan, seperti sayur, ayam, tempe, nasi, dll.

Kita hanya menghidangkan dalam jumlah sangat sedikit (tidak akan membuat kenyang, jika anak hanya makan-makanan seperti ayam dan tempe saja).

Biarkan anak memilih makanan yang ia suka, dia akan memilih seperti ayam dan tempe. Namun karena jumlahnya yang sedikit akan membuat dia masih lapar. Termasuk hidangan penutup juga sajikan pada jumlah yang sedikit.

Kuncinya yaitu jangan mengatakan apapun tentang makanan sayur lebih baik dan bergizi atau apapun itu. Berbicaralah hal hal lain seperti kegiatan hari ini, di sekolah, teman kamu dan lain sebagainya tanpa menyinggung soal makanan.

Jika anak masih lapar(・∀・), dan pasti lapar. Mereka akan memakan apa yang telah anda siapkan.

Trik 2 ; Tetap Tenang
Beberapa anak akan mencoba untuk menahan laparnya, atau mereka mencoba untuk membuat makanannya sendiri. Beberapa anak usia di atas 7th sudah bisa menggoreng telur, tempe, memasak mie sendiri.

Maka yang harus kamu lakukan, tetap tenang. Amati bahwa mereka akan mulai bosan untuk membuat makanannya sendiri. Mereka akan lebih memilih untuk makan dari makanan apa yang telah di sajikan oleh orang tua. Beberapa anak yang sangat keras kepala akan lebih lama untuk menyerah tapo tenang itu pasti akan selesai.

Dari semua contoh yang sudah di jelaskan di atas. Kita dapat meringkas menjadi 10 tips yanf dapat orang taua lakukan untuk mendidik anak yang keras kepala.

10 Tips membuat kesepakatan dengan anak yang keras kepala

1. Dengarkan Mereka

Cara terbaik untuk membuat kesepakatan dengan anak yang keras kepala yaitu melakukan komunikasi 2 arah. Jika kamu ingin dia mendengarkan dirimu maka kamu harus menjadi pendengar darinya.

Anak-anak yang keras kepala memiliki berbagai macam alasan, pendapat yang sangat kuat untuk meyakinkan pada pendiriannya.

Anak anak dengan keras kepala akan menentang anda ketika dia merasa tidak di dengarkan. Maka saya akan memilih untuk membuat kesepakatan dengan mendekatinya dan mengajak dia berbicara dengan dekat.

2. Buatlah hubungan dengannya dan jangan memaksanya.

Seperti contoh di atas, ketika tiba waktu belajar dan anak memilih memainkan HP dan menonton filem kartun lucu. Maka memaksa anak yang keras kepala untuk belajar sepertinya bukan pilihan bijak.

Saya memilih untuk mendekati dia, bermain dengan dia, bercengkrama dengan dia mengatakan "betapa lucunya kartun ini" "kamu suka?".

Menunjukan bahwa kamu suka dan peduli dengan dia akan membuat anda memiliki hubungan yang erat dengan anak. Ketika hubungan sudah terjalin dengan erat maka dia akan mengikuti perintah kamu.

Beberapa anak yang keras kepala memerlukan waktu pendekatan yang lebih lama.

3. Berikan Opsi Pilihan
Serang anak memiliki pemikiran untuk melakukan apa yang ia suka atau tidak ingin dia lalukan. Dan khusus untuk anak dengan watak keras kepala dia akan memilih untuk melakukan apa yang ia sukai.

Ketika saya meminta anak yang keras kepala untuk tidur dan saya mengatakan "sudah jam 9, ini waktunya tidur" dengan jelas dia mengatan "tidak mau".

Jadi solusinya adalah berikan pertanyaan berupa opsi.

"kamu mau ke kamar tidur dan saya bacakan cerita dongeng A atau cerita dongeng B?"

beberapa akan tetap menjawab "aku tidak mau ke tempat tidur dan tidur"
Ketika saya mendapati jawaban tersebut, saya mencoba untuk tetap tenang "iti bukan jawaban dari pertanyaan ku".

Saya coba mengulangi pertanyaan tersebut lagi dan lagi. Gunakan suara lirih, anak yang tidak sabar akan memilih untuk menuju kamar tidur dan mendengarkan cerita dongeng darimu.

4. Tetap Tenang
Ketika saya berteriak dan menantang anak saya itu hanya akan memperburuk suasana. Hal yang mengubah percakapan antara anak dan orang tua menjadi pertarungan teriakkan antara keduanya.

Saya tidak ingin itu terjadi, tetap tenang adalah pilihan. Maka berlatih untuk selalu tenang menjadi pilihan yang saya ambil.

Bermeditasi, memainkan musik, relaksasi, membantu saya untuk menjadi lebih tenang. Memainkan musik musik relaksasi di rumah yang bahkan di dengar anak dapat membantu anak mendapatkan relaksasi. Beberapa waktu pilih lagu-lagi yang menjadi favoritnya.

5. Hormati Mereka
Saya memahami bahwa apa yang saya lakukan padanya akan memberikan contoh padanya untuk melakukan hal yang sama dengan saya. Jika saya ingin dia hormati maka yang saya lakukan yaitu menghormati dia. Jika kita tidak menghormatinya maka diapun tidak akan menghormati kita.

Anakku tidak dapat menerima perintah dariku ketika dia tau bahwa saya tidak menghormatinya.

Ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa hormat anak pada orang tua :


a. Membuat kerja sama, anak tidak ingin diperlakukan dengan cara disuruh-suruh. Perlakukan mereka seperti partnerku ajaklah bekerja sama pada hal-hal tertentu.

b. Konsisten menerapkan aturan-aturan yang telah di buat.

c. Berempati pada anak dengan cara tidak pernah mengabaikan perasaan mereka.

d. Percaya pada mereka dengan membiarkan mereka melakukan apa yang dia lakukan tanpa harus terlalu sering dicampuri. Berikan tanggung jawab pada mereka untuk mengerjakan apa yang mereka mau lakukan.

6. Kerja dengan mereka
Dari pada kita meminta agar anak belajar. Akan lebih baik untuk mengajak anak belajar dan kita bertugas mendampingi mereka.

Hal tersebut akan membuat anak merasa lebih di perhatikan dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari orang tua.

7. Negosiasi/Diskusi

Beberapa hal pada beberapa waktu tertentu kamu perlu untuk melakukan diskusi dengan mereka.
ketika saya mendapati anak saya tidak menginginkan belajar matematika, saya tidak dapat menekannya untuk terus belajar matematika.

Untuk menemukan hal yang dapat membuat dia belajar matematika, berdiskusi dengannya adalah sesuatu yang wajib saya lakukan.

8. Ciptakan lingkungan rumah yang menyenangkan
bagaimana anak belajar? Mereka belajar dari apa yang ia amati dan pengalaman apa yang ia peroleh dari lingkungan sekitarnya.

Rumah adalah lingkungan terdekat anak. Jika dirumah anak melihat berbagai macam masalah, perdebatan, antara kedua orang tua atau antara siapapun itu dalam rumah. Tentu itu akan menumbuhkan peran-peran sikap negatif pada dirinya.

9. Melihat dan memahami dari sudut pandang anak
ketika anak saya tidak mau untuk mengerjakan PR nya.

Kita tidak bisa menilai secara langsung bahwa dia pemalas. Coba untuk melihat dari sudut pandangnya kenapa dia tidak mau mengerjakan PR nya.

Misal : anak saya mendapatkan PR matematika, tapi dia tidak mau mengerjakannya. Kemudian saya coba melihat dari sudut pandangnya mulai dari melihat PR dia, seperti apa soalnya, pengetahuan apa yang telah dimilikinya.

Dengan memahami apa yang anak rasakan, maka kita akan lebih mudah menentukan solusi dan pembuatan kesepakatan dengan dia.

10. Gunakan Kata-kata positif
ketika anak ku lebih sering untuk mengatakan "tidak mau" atau jawaban negatif.

Coba kembali untuk melihat pada diri kita sendiri, selama ini kata-kata negatif atau positif yang sering keluar dari diri kita.

Contoh :
'bu saya ingin bermain sepeda' pinta anak.
"Tidak boleh, sebelum kamu membersihkan mainanmu di rumah".

Dari pada menggunakan kalimat berasumsi negatif.

Saya akan lebih memilih dengan mengganti sebagai kalimat positif
"Kamu bisa bersepeda, setelah kamu membereskan mainan kamu di rumah".