11/28/17

18 Cara mengatasi anak malas belajar di usia dini

Cerita mama

Hari hari ku begitu buruk, setiap hari harus memaksa anak untuk aktif dan belajar. Saya harus bilang "Yossi. . bersihkan mainanmu".


Terkadang juga harus berteriak "Yossi mama sudah bilang, ini waktu kamu untuk belajar, jangan nonton televisi terus!!!"

Saya tidak ingin berteriak setiap waktu sebenarnya. Namun apa hendak di lakukan. Setiap hari Yossi menunjukan perilaku malasnya. Dia malas belajar, malas membersihkan mainannya, bahkan untuk sekedar makan dia juga malas.

Kini usia Yossi sudah menginjak 5 tahun. Saya tidak tau apakah usia ini sebenarnya sudah harus diajarkan untuk rajin belajar atau tidak. Namun yang ku tau. Semakin dini anak belajar maka akan semakin baik hasilnya. Bahkan yang ku dengan bahwa usia emas otak manusia berada di usia di bawah 5 tahun.

Aku selalu mencoba mengajarkan dia menjadi anak rajin.

Tentu itu keinginan setiap orang tua bukan. Melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang aktif dan rajin.

Begitupun diriku ingin melihat Yossi menjadi anak yang aktif, rajin dan mencintai belajar.


Mencari solusi

Masalah yang di alami oleh mama Yossi, juga dialami oleh banyak orang tua lainnya dalam mendidik anak.

Kebingungan, bagaimana membuat anak menjadi rajin. Bagaimana berkomunikasi pada anak agar anak menuruti perintah kita. Bagaimana agar anak memahami yang mama inginkan.

Meskipun kita semua percaya bahwa setiap mama dianugerahi oleh kemampuan mendidik sebagai ibu yang hebat. Namun belajar untuk memahami secara lebih detail tentang anak adalah kerja keras yang luar biasa. Yang menunjukan dedikasi rasa cinta seorang ibu kepada anaknya. Untuk melihat anaknya tumbuh kembang menjadi pribadi yang luar biasa.

Maka dari itu, artikel ini akan berbagi informasi tentang cara mengatasi malas pada anak, lebih khusus anak usia dini.

Pada artikel ini akan dijelaskan mengenai:
1. Definisi malas
2. Ciri-ciri yang menunjukan anak malas
3. Dampak negatif anak yang malas dan dampak positif sifat rajin anak.
4. Faktor-faktor yang menyebabkan anak malas
5. Solusi untuk mengatasi anak malas.

silahkan di simak sampai akhir

Sumber : projectsubmarine.com
Definisi Malas

Memahami masalah yang kita hadapi adalah langkah pertama yang harus kita lakukan.

Bagaimana bisa kita mengatasi suatu masalah jika kita tidak tau masalahnya apa. Bagaimana kita bisa menulis di laptop jika laptop itu kita tidak tau (misalnya).

Maka dari itu hal awal yang harus di pahami yaitu apa itu malas.

From Collinsdictionarry.com menjelaskan bahwa malas (seseorang yang malas) adalah orang yang tidak mau beraktifitas atau tidak mau berusaha untuk melakukan apapun

Menurut Edy Zeqeus malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya ia lakukan.

Pengertian pengertian di atas semua menuju pada definisi malas sebagai tindakan seseorang yang tidak ingin melakukan sesuatu. Lebih lanjut dikatakan malas jika ia tidak ingin melakukan sesuatu pada hal yang memang dia harus lakukan.

Jadi dalam hal ini. Anak dikatakan malas, jika ia tidak mau melakukan sesuatu yang harusnya ia kerjakan.

Contoh :
Yossi memiliki tanggung jawab untuk membereskan mainan yang telah ia gunakan untuk bermain. Namun Yossi menolak untuk membereskan dan enggan melakukannya. Maka kondisi tersebut dikatakan sebagai perilaku malas.

Namun jika Yossi enggan melakukan sesuatu yang bukan keharusan baginya. Misalnya Yossi menolak pergi ke museum. Karena itu bukan keharusan dan kewajiban darinya maka keengganan dari Yossi tidak dapat disebut sebagai malas.

Setelah kita tau malas, maka coba bayangkan. Seorang anak yang tidak mau melakukan, kemudian dipaksa untuk melakukan. Kondisi tersebut tentu akan menimbulkan konflik antara anak yang tidak ingin melakukan sesuatu vs bunda (misal) yang menyuruh anak untuk melakukan tanggung jawabnya.

Apakah konflik tersebut baik? tidak. . .

Jadi sebisa mungkin hindari konflik tersebut.

Bagaimana caranya? Inilah yang akan bunda temukan di artikel ini yaitu cara mengatasi anak malas di usia dini.

Sebelum memulai untuk mengetahui solusi dari cara mengatasi anak malas.

Sebagai orang tua juga mesti paham terlebih dahulu, apa penyebab anak malas.

Atau dengan kata lain, faktor apa yang membuat anak menjadi malas. Tanpa mengetahui faktor-faktor tersebut maka akan sulit bagi orang tua menentukan cara untuk mengatasi masalah tersebut.

Faktor-faktor penyebab anak malas yaitu:

Penyebab anak malas dapat dibagi menjadi dua bagian.

Kedua bagian itu yaitu
1. Faktor dari dalam anak itu sendiri yang disebut faktor intrinsik.
2. Faktor yang berasal dari luar anak, seperti lingkungan rumah, sekolah, masyarakat, hubungan dengan teman, dll. Itu disebut faktor ekstrinsik.

Faktor Intrinsik

Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri. Artinya bahwa anak menjadi malas itu bukan berasal dari luar. Iya sendiri yang membuat ia malas. Ada beberapa macam hal sebagai falrot instrinsik yang membuat anak menjadi malas, diantaranya yaitu :

a. Motivasi
Faktor utama yang membuat anak malas. Enggan melakukan aktifitas atau hal hal yang seharusnya iya lakukan yaitu disebabkan oleh tidak adanya motivasi.

Sebenarnya ini sama seperti orang dewasa yang melakukan setiap aktifitas berdasarkan motivasi. Misal ayah bekerja agar memperoleh uang dimana motivasi seorang ayah uang tersebut dapat digunakan untuk menghidupi keluarganya. Adanya motivasi tersebut membuat kerja ayah bersemangat, dia tidak pernah malas karena jika dia malas, dia tau dia tidak akan mendapatkan uang untuk keluarganya.

Pada posisi anak, jika anak tidak memiliki motivasi untuk melakukan suatu hal, ia akan cendrung untuk tidak melakukannya. Walau hal itu sebenarnya harus di lakukan.

Seperti : anak yang harus belajar, namun karena dia tidak memiliki motivasi belajar, dia tidak tau apa tujuan belajar. Maka dia akan menilai bahwa belajar adalah kegiatan yang sia-sia. Sehingga dia enggan untuk melakukannya lagi.

b. Kondisi psikis
Faktor psikis atau psikologi atau dapat disebut juga sebagai faktor mental. Ketika mental seorang anak sedang terganggu pada hal hal lain maka hal tersebut dapat mempengaruhi anak untuk malas tidak nya belajar

Kondisi metal anak harus selalu pada kondisi yang baik. Perasaan tertekan, tidak nyaman dapat membuat keinginan untuk beraktifitas menjadi berkurang. keinginan untuk memberikan usaha-usaha menjadi terbentur oleh kondisi kondisi tertentu. Sehingga akan nampak keengganan dari diri anak untuk melakukan sesuatu.

Contoh : seorang anak yang tinggal berada di rumah dengan ayah dan ibu. Mendapati setiap hari kedua orang tuanya baku cekcok, saling marah. Hal tersebut membuat kondisi mental anak terganggu. Mental ini lah yang membuat anak menjadi malas untuk belajar.

c. Kondisi Fisik
Tidak semua anak memiliki kondisi fisik yang sama. Beberapa anak di lahirkan dengan kondisi fisik yang sehat yang membuat dia bisa beraktifitas lebih banyak lebih padat dibandingkan dengan anak lainnya. Sementara ada juga anak yang lemah kondisi fisiknya. Dia sering kelelahan saat setelah melakukan aktifitas tertentu yang bahkan sebenarnya aktifitas tersebut tidak terlalu melelahkan untuk orang pada umumnya.

Kondisi fisik ini lah yang juga ikut serta mempengaruhi anak menjadi malas atau tidak belajar. Jika anak kondisi fisiknya lemah maka olahraga, terlalu banyak main, terlalu banyak aktifitas dapat membuatnya kehilangan banyak energi sehingga saat tiba waktu belajar dia sudah kelelahan.

Ketika kondisi fisik sudah terlalu lelah, maka anak akan cendrung untuk malas dalam belajar. Dia enggan untuk melakukan tugas-tugas yang seharusnya ia kerjakan.

d. Gaya belajar anak
Perlu di ketahui bahwa setiap anak memiliki gaya belajarnya sendiri-sendiri. Ada anak yang memiliki gaya belajar dengan mendengarkan, anak dengan type ini akan lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan.

Ada juga yang memiliki type visual, audio visual, atau kinestetik yang lebih mudah belajar dengan melakukan.

Anak yang mendapatkan cara belajar tidak sesuai dengan type belajarnya cendrung kesulitan untuk memahami materinya.

Misal anak dg type visual dimana anak ini akan lebih mudah memahami materi dengan melihat subjek apa yang ia pelajari. Di satu sisi dia mendapatkan bimbingan belajar dengan cara mendengarkan. Apa yang terjadi anak akan mereka kesulitan menangkap materi dan malas. Itu membuat anak tidak merasa nyaman.

Faktor Ekstrinsik

Faktor ekstinsik adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Artinya bahwa anak malas bukan karena dia memang asli malas. Melainkan karena lingkungan disekitarnya menjadikan dia malas. Lingkungan disini bisa meliputi lingkungan keluarga, sekolah, teman bermain, dan masyarakat.

berikut ini beberapa penjelasannya

a. Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga adalah faktor utama yang juga mempengaruhi perilaku malas tidaknya anak dalam belajar.

Mengapa? Karena keluarga adalah tempat awal anak belajar. Anak belajar dengan melihat dan menirukan. Ketika anak tumbuh di lingkungan dengan contoh yang sangat baik maka besar kemungkinan anak akan meniru setiap kebiasaan-kebiasaan baik tersebut. Namun jika yang terjadi sebaliknya maka hasil nya pun kurang baik.

Sikap awal anak akan terbentuk dari lingkungan keluarga. Maka bagaimana sikap yang ditunjukan orang tua pada anak akan memberikan stimulus pada sikap-sikap anak. Termasuk pada malas tidaknya anak tumbuh.

b. Tempat ia belajar
Sebuah tempat yang nyaman, menarik, dan bebas dari gangguan dapat menjadi tempat yang memunculkan motivasi anak untuk belajar. Itu mengapa tempat belajar adalah salah satu faktor luar yang mempengaruhi malas tidaknya anak belajar.

Jika anak belajar pada lokasi yang tidak memiliki pencahayaan ruang maksimal. kemudian terganggu oleh suara-suara gaduh. Maka itu dapat menurunkan motivasi belajarnya. Maka untuk itu memperhatikan lingkungan atau tempat anak belajar juga menjadi bagian tak kalah penting.

c. Hubungan dengan guru
Guru adalah orang yang memiliki peran besar untuk mendidik anak.  Anak dapat menjadi sangat termotivasi untuk giat belajar jika guru memiliki kemampuan untuk mengajar dengan baik dan menarik minat siswa.

Namun tidak sedikit guru yang kurang begitu baik dalam.menjalankan tugasnya itu. Sehingga hubungan tersebut tidak berjalan dengan baik. Ketika itu terjadi maka minat siswa untuk belajar bisa saja hilang.

Sebagai orang tua tentu harus membantu hal itu dengan selalu berkomunikasi dengan guru atau waki kelas anak kita di sekolah.

d. Hubungan dengan teman
Teman adalah tempat anak berkembang dengan pesat. Dengan teman anak banyak belajar hal baru, berdiskusi, mencoba dan lain sebagainya. perilaku anak juga dapat mudah sekali terpengaruh oleh pergaulan dengan temannya.

Teman yang baik tentu tidak masalah karena akan membawa pengaruh yang positif pula. Menjadi sebuah problem ketika teman dari anak kita memberikan dampak yang negatif.

Setelah kita mengetahui apa saja penyebab anak malas. Selanjutnya yaitu bagaimana cara mengatasi anak yang malas.

Disini akan di jelaskan 20 cara mengatasi anak yang malas.

1. Berhenti memanggil anak kamu malas
Labeling teori mengatakan bahwa ketika kamu melihat anak kamu malas, dan kamu mengatakan dia adalah anak yang malas. Secara langsung kamu sudah melabeli dirinya sebagai anak yang malas.

Hal itu adalah hal yang perlu di hindari. Karena melabeli anak dengan sebutan pemalas sama saja dengan meminta anak untuk terus menjadi pemalas. Dia akan merasa kalau dia memang seorang pemalas. Buat apa dia berubah menjadi rajin. Paling tidak itulah yang di katakan orang tua mereka bahwa dia pemalas.

Berhenti untuk memanggilnya pemalas adalah cara terbaik. Ubah pandangan anda meskipun anak masih malas. Ubahlah pandangan untuk melihat sebagai anak yang memiliki masalah yang harus segera di atasi sehingga menjadi anak yang kembali rajin.

2. Menjadi Inspirasi
Saat kamu ingin menghentikan sikap malas, maka hanya menasehati mereka untuk tidak berperilaku malas bukanlah hal yang bisa diterima oleh mereka.

Maka berikanlah juga inspirasi pada mereka. Seperti kita ketahui bersama bahwa anak cendrung belajar dengan menirukan apa yang ada disekitarnya. Maka tunjukan lah tindakan inspiratif yang dapat menginspirasi mereka untuk rajin.

3. Biarkan anak membuat pilihannya sendiri dan berhadapan dengan konsekuensi yang akan dia hadapi
Memberikan kesempatan pada mereka untuk memilih pilihannya sendiri dan menghadapi konsekuensi dari pilihannya adalah cara terbaik untuk mengajarkan dampak dari sikap yang mereka pilih.

sebagai contoh, ketika anak malas belajar. Berikan dia pilihan apa yang akan terjadi jika dia tidak belajar.

Misal :
jika nanti kamu belajar, kamu akan bisa mengerjakan soal-soal di kelas. Dan jika nilai kamu bagus aku akan mengajak kamu liburan di akhir tahun.

Sebaliknya

Jika nanti kamu tidak belajar, saat ulangan nilai kamu akan buruk, dan segala bentuk liniram di bataklan.

Memberikan kesempatan kepada anak juga akan memberikan atau mengajarkan anak untuk bertanggung jawab pada apa yang ia kerjakan.

Sumber : drdownkingston.com
4. Bangun hubungan terbuka dengan anak, saling menghormati dan positif.
Membuat hubungan yang baik dengan anak adalah kunci untuk memotivasi anak menjadi anak yang tumbuh sebagai anak yang rajin.

Selalu terbuka untuk mendiskusikan segala sesuatu dengannya. Memberikan komunikasi dua arah dimana saling mengutarakan pendapat adalah cara yang baik.

Suatu saat anak akan berbuat salah, dan itu wajar. Tidak peduli seberapa besar masalah yang dibuatnya membentak, memukul, berteriak atau memberikan respon respon negatif hanya akan memperburuk suasana. Maka bersikaplah lebih potisitf.

5. Membuat Jadwal
Tidak memiliki jadwal yang tepat membuat mereka tidak mempersiapkan kegiatan hariannya.

Contoh anak yang tidak memiliki jadwal belajar rutin, terkadang iya bersikap sepele dengan menghabiskan energinya untuk bermain seharian. Ketika malam tiba dimana kita meminta anak belajar dia sudah terlalu lelah, dan itu bukanlah hal yang baik.

Bandingkan jika anak sudah memiliki jadwal yang tetap. Itu akan membuat anak terbiasa mengatur waktu belajarnya. Terlebih jika anak sudah benar-benar terbiasa denga. jadwal rutinitas hariannya. Itu akan membantu anak untuk menjadi anak yang Rajin.

Dalam membuat jadwal hal terbaik yang dapat dilakukan yaitu membuatnya bersama dengan anak kita. Diskusikan waktu yang tepat untuk belajar, bermain, dan istirahat. Buat persetujuan bersama dan dia mau mentaatinya.

6. Membuat suasana belajar yang nyaman
Seperti kita ketahui bahwa suasana belajar dapat mempengaruhi motivasi anak belajar. Ketika suasana belajar anak nyaman anak akan lebih termotivasi untuk belajar.

Membuat ruangan yang memiliki cukup penerangan, benda-benda yang dapat menstimulis anak belajar, dan menghindarkan dari gangguan-gangguan yang ada di sekitar ruangan yang dapat mengganggu konsentrasi anak belajar adalah hal yang dapat kita lakukan sebagai orang tua.

7. Memberikan dukungan
Alih-alih memahari anak karena anak malas untuk belajar. Mengetahui penyebab anak malas perlu di ketahui orang tua.

Saat kitaengetahui bahwa anakengalami kendala saat belajar, dimana dia kesulitan untuk belajar materi pelajaran yang sedang ia pelajari dan membuatnya malas. Maka memberikan dukungan pada anak adalah hal yang wajib di lakukan.

Jangan biarkan mereka merasa sendiri untuk menghadapi kesulitan yang sedang ia hadapi. Pastikan bahwa dia merasa orangtuanya selalu berada di sampingnya untuk selalu mendukung mereka dalam kondisi apapun.

8. Mengulangi pelajaran di sekolah
Hal yang membuat anak malas utamanya karena mereka kesulitan untuk mengerjakan suatu hal.

Saat anak mengalami kesulitan, belajar dengan lebih giag adalah solusinya. Dengan belajar lebih giat akan membuat materi yang sulit menjadi mudah. Jika anak sudah mudah mengerjakan materi-materi pelajarannya maka tidak akan malas dia untuk belajar.

peran orang tua disini yaitu membantu dan membimbing anak untuk belajar lebih lanjut.
Menemani mereka dapat menambah rasa semangat nya untuk belajar lebih.

9. Belajar menjelang tidur
Masih pada trik untuk membuat anak belajar lebih mudah agar anak tidak malas belajar. Yaitu belajar menjelang tidur.

Belajar menjelang tidur adalah waktu yang baik bagi anak untuk belajar.

Tidur adalah waktu dimana otak memproses, menata dan mengorganisir data-data dindalamnya. Ketika kita tidur pengetahuan yang kita pelajari akan di n simpan boleh otak dan kembali di tata dengan rapi. Sehingga saat bangun kita masih bisa membuka ingatan itu kembali dengan mudah.

10. Berikan batasan pada waktu belajar
Tidak hanya waktu belajar yang di tetapkan. Berapa lama waktu belajar juga harus di tetapkan. Belajar terlalu lama juga tidak baik karena belum tentu anak bisa menguasai materi yang terlalu banyak.

Waktu belajar yang terlalu panjang juga akan membuat anak cepat bosan dengan aktifitas belajar. Dan itu tidak baik untuk perkembangan anak.

Maka mengatur berapa lama waktu belakar menjadi salah satu kunci yang harus diperhatikan.

11. Memahami tipe belajar anak
Salah satu penyebab anak malas belajar yaitu ketika anak belajar tidak sesuai dengan cara dia belajar. Ketika anak belajar tidak sesuai dengan cara belajarnya akan membuat anak kesulitan memahami materi yang ia pelajari.

Seperti kita ketahui hal yang sulit dan bahkan terlalu sulit dapat membuat anak menjadi malas untuk mempelajarinya.

Maka dari itu anak harus mendapatkan cara pengajaran yang tepat dengan gaya belajarnya.

Gaya belajar anak ada gaya belajar auditif (mendengar), visual (melihat), adudio visual (mengsengar dan melihat), kinestetik (melakukan).

12. Mendampingi anak belajar
Alih-alih hanya memberikan nasehat kepada anak untuk belajar. Hal itu hanya akan membuat anak yang tidak mau belajar tetap tidak mau belajar. Yang terjadi jika orang tua tetap memaksa anak untuk belajar yaitu terjadinya konflik antara keduanya.

Oleh sebab itu hal yang lebih baik untuk dilakukan dari pada hanya menyuruh anak belajar yaitu menemani mereka untuk belajar. Dengan menyuruh anak akan mendapatkan kesan yang lebih positif khususnya pada hubungan antara anak dan orang tua.

13. Memberikan reward dan penghargaan
Motivasi adalah masalah utama anak. Untuk meningkatkan motivasi maka memberikan hadiah adalah salah satu cara yang dapat dilakukan.

Misal : "kamu akan mendapatkan jalan-jalan di akhir semester, jika kamu mendapat nilai bagus".

Reward yang akan di dapat anak akan membuat anak lebih termotivasi untuk belajar.

14. Berikan penjelasan manfaat dari belajar dengan memberikan contoh nyata
Jika di sekitarmu terdapat orang yang pantas menjadi teladan bagi anak kita maka tunjukan lah pada anak kita.

Menjelaskan saja manfaat belajar tidaklah cukup. Memberikan contoh nyata akan jauh lebih baik.

Misal : Jika dia memiliki seorang kakak yang berprestasi, misal dia memperoleh pekerjaan sebagai seorang pilot atau doktor kamu bisa memberikan nasehat pada anak bahwa untuk bisa menjadi pilot atau dokter perlu belajar dengan keras. Mintalah sang kakak untuk menasehati adiknya bahwa sang adik juga perlu belajar dengan keras jika ingin menjadi seperti kakaknya.

15. Belajar sambil bermain
Bagaimanapun juga belajar yang kurang bervariatif akan membuat anak menjadi bosan belajar. Malas belajar.

Makan berikan variasi dalam belajar. Tidak ada salahnya sebagai orang tua mengajarkan cara belajar sambil bermain pada anak.

Lebih lanjut belajar sambil bermain membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan. Anak betah untuk belajar berla-lama dan menganggap bahwa belajar menjadi kegiatan yang mengasikkan.

16. Beli buku-buku yang menarik
Salah satu hal yang membuat anak malas belajar yaitu tidak adanya stimulus untuk belajar. Stimulus di dapat dari hal-hal yang menarik.

Kenapa anak suka pada game? Karena game menghadirkan permainan yang menarik. Terkadang belakarenjadi kurang menarik karena bukunya kurang menarik.

Maka untuk mengatasi hal itu, membeli buku yang menarik dan memberikan kepada anak dapat membuat anak termotivasi untuk belajar.

17. Berbicara tentang pengalaman belajar
Untuk menggali lebih banyak pengetahuan kita atau pemahaman kita tentang diri anak. Maka hal yang dapat kita lakukan yaitu sering berkomunikasi dengan mereka.

Buatlah percakapan tentang pengalaman belajar anak. Dengan begitu kita akan mengetahui hal-hal yang ia sukai tentang belajar dan tidak sukai tentang belajar.

Hal terbaik ketika kita dapat mengetahui apa hal yang dapat kita bantu pada anak, agar membuat anak lebih menyukai dan nyaman dalam belajar.

18. Mengajak anak melakukan variasi aktifitas.
Meningkatkan motivasi dan mencegah kejenuhan dapat membuat anak meninggalkan rasa malas nya.

Sama seperti orang dewasa yang membutuhkan liburan setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan. Anak juga memerlukan hal yang sama.

Mengunjungi museum,
Pergi ke berbagai tempat wisata alam,
Mengajak pergi anak je perputakaan,
Melakukan aktifitas olahraga bersama

Dapat menjadi selingan rutinitas untuk menghindari kebosanan.