11/26/17

Anak Malas? Ini 10 Penyebab Anak Malas Belajar Menurut Para Ahli

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang rajin belajar. Sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa melihat anak melalui hari-harinya dengan penuh semangat dalam belajar.


Anak tertarik untuk membaca buku-buku pelajarannya, senang berhitung, dan berlatih mengerjakan soal-soal yang ada di buku kepunyaannya. Adalah contoh yang diharapkan orang tua sebagai bentuk kerajinan anak dalam belajar.

Namun pada kenyataannya harapan tersebut tidak selalu terwujud. Ada anak yang pada kenyataanya tidak tertarik untuk belajar materi materi pelajaran di sekolahnya. Ia tidak mau untuk membaca pelajaran bahasa indonesia, IPA, atau sejarah miliknya, begitupun dengan berlatih untuk berhitung dari pelajaran matematika di sekolahnya serta untuk berlatih bahasa inggris.

Ia sama sekali tidak menginginkan untuk mempelajari hal tersebut sama sekali.

Melihat kondisi tersebut beberapa orang tua memilih untuk memaksa anak-anak belajar. Bahkan tidak jarang untuk memarahi dan mengomeli anak mereka yang tidak mau belajar.

Pada kenyataannya memberi marah kepada anak bukanlah solusi yang baik.

Pada tahun 2011 kementrian pendidikan di Inggris menemukan bahwa anak yang terpapar oleh pola asuh yang tidak baik memiliki kecendrungan dua kali lipat untuk berperilaku menyimpang. Pola asuh yang tidak tepat yang dimaksud di sini adalah penerapan disiplin yang tidak konsisten, pengawasan terhadap anak yang buruk, pemberian hukuman fisik kepada anak.

Sementara di kutip dari healthyline.com disebutkan bahwa memarahi anak dengan berteriak keras hanya akan berdampak buruk pada anak. Ketika orang tua memarahi anak dengan bersuara keras, pesan yang disampaikan nyatanya tidak jelas untuk di dengar. Begitupun yang dirasakan anak dia tidak jelas menangkap apa pesan yang ingin di sampaikan oleh orang tua mereka.

Sementara hal buruk yang di dapat dari memarahi anak dengan berteriak yaitu anak cendrung akan lebih agresif, membuat mereka ketakutan, dan membuat mereka merasa tidak dicintai.

Tentu itu hal yang sebenarnya tidak kita inginkan tapi itu yang dirasakan anak.

Jadi hal baik jika kita merubahnya.

Ketika menemukan bahwa anak kita malas untuk belajar, mulailah dengan mencoba untuk memahami penyebab anak malas untuk belajar.

Dan ini adalah beberapa penyebab yang membuat anak tidak tertarik atau malas belajar.

Penyebab anak malas belajar

Sumber :spielgaban.com
Ada dua faktor utama yang membuat anak malas. Dua faktor tersebut yaitu faktor interen dan faktor eksteren.

Faktor interen adalah faktor dari dalam diri anak. Artinya bahwa yang menyebabkan anak menjadi malas berasal dari dalam dirinya sendiri.

Sebaliknya faktor eksteren adalah faktor dari luar. Artinya bahwa penyebab anak malas belajar berasal dari luar dirinya seperti lingkungan keluarga, teman, sekolah dan masyarakat.

Berikut penjelasan lebih lengkapnya.
Menurut spielgaben ada 10 alasan anak malas untuk belajar yaitu ;

1. Kesulitan untuk berkonsentrasi.

Tanda yang yang menunjukan bahwa anak anda memiliki masalah dalam berkonsentrasi yaitu ia tidak bisa membaca buku atau pelajarannya dalam waktu yang lama. ia mudah kelelahan saat belajar karena ia membutuhkan energi yang lebih dalam belajar.

solusi untuk mengatasi hal tersebut yaitu memberikan dia latihan untuk meningkatkan konsentrasinya.

Beberapa terapi untuk meningkatkan kemampuan belajar seperti terapi lilin, terapi mencium bau, dan berbagai macam terapi lainnya dapat dijadikan solusinya. Lebih lanjut menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak dalam belajar akan membantu ia lebih berkonsentrasi seperti tidak menyalakan televisi ketika anak belajar.

Baca : Latihan atau Terapi untuk mengatasi kurang konsentrasi 

2. Tidak merasa nyaman dengan lingkungannya

Penyebab lainnya yang membuat anak menjadi malas belajar yaitu kenyamanan dari lingkungannya. Ketika anak belajar, kemudian dia mendapati suara berisik yang mengganggu konsentrasinya maka ia tidak akan nyaman untuk belajar. Hal lain disebabkan tidak adanya stimulus pada lingkungan ruang yang dapat menarik anak untuk belajar, bahkan cahaya ruang yang terlalu redup dapat membuat anak lebih nyaman untuk tidur dari pada belajar.

Menyiapkan ruangan yang nyaman buat anak belajar adalah solusinya. Siapkan ruangan khusus untuk anak belajar, pastikan bahwa ruangan tersebut bebas dari gangguan-gangguan suara yang berisik, menempatkan beberapa gambar atau poster serta barang-barang lain yang dapat memberikan stimulus anak dalam belajar adalah cara lain meningkatkan semangat anak dalam belajar dan yang tidak boleh terlupakan yaitu mengatur ruangan agar cukup cahaya.

Sumber : pinterest
3. Tidak Menyukai Pelajaran yang Ia Pelajari

Tidak semua bidang studi yang ada di sekolahan di sukai oleh anak. Beberapa anak mungkin memiliki mata pelajaran faforit dan sebagian menjadi pelajaran yang tidak ia sukai. Hal itu wajar karena sifat manusia adalah menyukai sesuatu dan tidak menyukai sesuatu.

Misal ada anak yang tidak menyukai mata pelajaran matematika. Ketidak sukaan tersebut membuat anak malas setiap harus belajar matematika.

Maka yang harus orang tua lakukan yaitu merubah pandangan anak yang sebelumnya tidak menyukai matematika menjadi menyukai matematika. Membuat matematika menjadi menyenangkan adalah salah satu solusinya, temani anak belajar dan menunjukan mengajari matematika dengan bermain game akan lebih baik. Selain itu mengajarkan matematika dengan melihat fungsinya dalam.kehidupan sehari-hari akan membuat anak memahami berapa pentingnya untuk belajar matematika.

4. Tidak merasa tertantang dengan materi pelajaran dia

Sumber : vitalrecord.edu
Anak-anak yang cedar dan pintar terkadang mulai merasa bahwa pelajaran yang ia pelajari membosankan. Hal itu karena dia tidak merasa tertantang dengan materi pelajaran yang begitu-begitu saja. Tentu itu kurang baik untuk perkembangan anak.

Meski anak kita sudah pintar dan cerdas, kita menginginkan anak untuk terus berkembang menjadi lebih baik. Oleh sebab itu kita tidak menginginkan anak malas belajar.

Untuk mengatasi hal itu, ide yang dapat dilakukan untuk membuat anak tertantang dalam belajar yaitu memberikan test yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Ide lain yaitu menetapkan tujuan yang harus di capai oleh anak. Setting tujuan dalam belajar bersama anak (yang lebih tinggi dari kemampuan anak) dan berikan waktu pada anak untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan.

Hal diatas akan membantu ia menjadi lebih tertantang dan termotivasi untuk belajar dan mencapai tujuan mereka. Jika cara di atas dirasa belum mampu meningkatkan motivasi anak dalam belajar, maka menambahkan lebih banyak tantangan dapat menstimulus otak untuk lebih keras dalam belajar.

5. Siswa tidak percaya bahwa usahanya akan meningkatkan kemampuannya

Jika anak tidak percaya bahwa usahanya dalam belajar tidak meningkatkan kemampuannya. Dia tidak akan memiliki motivasi untuk belajar.

Jika seorang anak percaya bahwa belajar itu cepat dan mudah, kemudian saat belajar suatu hal dia menemukan materi yang sulit di pelajari. Itu akan mengubah kepercayaan mereka dan membuat motivasi belajar mereka berkurang.

Begitupun jika anak percaya bahwa pengetahuan itu adalah suatu ilmu bawaan. ia percaya bahwa orang pintar itu memang dari asalnya, misal saya seorang penulis (saya tidak perlu belajar karena saya sudah pintar belajar) sedangkan saya tidak bisa matematika maka tidak perlu belajar matematika karena itu sia-sia.

Kepercayaan seperti itu tentu membuat anak menjadi malas belajar.

Dan hal itulah yang harus orang tua atasi.

Jika kasus tersebut terjadi pada anda. Maka ide untuk mengatasi hal ini yaitu dengan menyiapkan strategi belajar yang dapat membuat anak tertarik. Buat pembelajaran yang mudah dan memberikan hasil pada anak. Sebaliknya jangan berikan materi yang terlalu sulit untuk dia.

Misalkan anak anda merasa bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan dia tidak bisa mengerjakannya. Maka buatlah beberapa soal yang mudah. Ajarkan pada mereka dan berikan mereka kesempatan untuk menjawab soal tersebut. Pastikan bahwa soal adalah soal yang bisa dikerjakan oleh anak sehingga menambah keyakinan anak bahwa dengan belajar mereka bisa mengerjakan soal-soal tersebut.

Terakhir berikan feedbeck dengan nasehat-nasehat yanv memotivasi mereka bahwa mereka bisa melakukan hal-hal hebat dengan belajar. Buat mereka percaya bahwa setiap usaha yang mereka lakukan akan memberikan hasil yang sepadan.

6. Tidak Mendapatkan Imbalan sesuai dengan usaha yang dia keluarkan

Sumber ; educhatindia
Layaknya orang dewasa jika kita mengerjakan tugas yanf berat kemudian seseorang memberikan imbalan yang kecil dan tentu itu tidak sesuai dengan usaha yang telah kita keluarkan. Maka motivasi kita untuk mengerjakan tugas tersebut menjadi hilang.

Begitupun siswa, jika dia merasa bahwa usaha mereka tidak sebanding dengan reward yang ia harapkan mereka akan kehilangan motivasi untuk memberikan usaha-usaha terbaiknya.

Misal dalam kelas ia diberikan tugas dari guru nya untuk belajar materi sejarah perang dunia ke II. Setelah anak belajar, guru memberikan latihan atau ujian pada siswa. Ketika siswa mendapatkan nilai bagus dari ujiannya namun guru tidak memberikan reward atau bahkan memasukan nilai tersebut pada kolom nilai siswa. Hal tersebut dapat menghancurkan motivasi siswa untu belajar karena dia merasa bahwa hasil belajarnya tidak dihargai sama sekali. Usaha keras yang telah ia keluarkan tidak mendapatkan imbalan seperti yang sepadan.

Akibatnya pada hari-hari kedepannya dia tidak termotivasi sama sekali untuk belajar.

Untuk mengatasi hal tersebut maka memberikan reward yang sesuai dengan usaha yang telah dicurahkan anak adalah cara terbaik. Buat beberapa goal untuk anak dan berikan hadiah pada setiap tujuan yang telah ia capai.

7. Gagal Mencapai Tujuan

Terkadang anak sudah belajar dengan keras, fokus dengan penuh konsentrasi tetapi ia tidak mencapai tujuan yang sudah di tetapkan. Dengan kata lain anak tersebut telah gagal mencapai tujuan belajar. Jika itu terjadi motivasi anak akan belajar menjadi berkurang.

Tugas yang harus dilakukan orang tua bukan memberikan komentar negatif atau memarahi anak karena gagal mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Orang tua harus membuat anak tetap fokus dan mencapai tujuan yang dapat anak capai.

8. Tidak belajar dengan baik bersama guru di sekolah

Beberapa anak dapat bekerja baik dengan guru mereka, namun terkadang ia tidak belajar dengan baik dengan gurunya. Dalam kondisi tersebut itu dapat membuat anak memberontak atau mundur.

Namun tentu hal tersebut memberikan dampak negatif yanf berkepanjangan. Bayangkan saja jika anak belajar dengan guru yang membuatnya tidak nyaman. Dan bayangkan jika guru tidak memperhatikan kondisi tersebut.

Oleh sebab itu jika kasus ini menimpa diri anda, maka berkomunikasi dengan bapak/ibu guru mereka adalah solusi terbaik. Sampaikan dengan segala hormat bahwa ada masalah yang di hadapi oleh anaknya di sekolah. Diskusikan dan temukan solusi yang tepat untuk perkembangan anak. Perubahan-perubahan akan diperlukan dalam hal ini untuk menumbuhkan kembali semangat anak dalam belajar.

9. Gaya belajar yang tidak tepat dengan anak

Setiap anak dilahirkan dengan keunikannya masing masing. Itu mengapa setiap anak itu berbeda. Jika anak itu tidak sama dengan anak lainnya. Begitupun dalam belajar setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda.

Beberapa anak belajar dengan visual lebih baik, beberapa dengan audio lebih baik, atau belajar dengan lebih baik dengan gaya belajar kinestetik.

Ketika pembelajaran yang dilakukan di sekolah tidak sesuai dengan gaya belajar siswa maka hasil yang di peroleh tidaklah maksimal sehingga akan mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar.

Kembali lagi, karena ini bukan di bawah naungan orang tua saja. Melainkan juga dibawah tanggung jawab guru maka berhubungan dengan guru menjadi solusinya.

Diskusi dan menyampaikan masalah-masalah dari anak menjadi hal yang sangat penting.
Namun sebelumnya orang tua juga perlu untuk mengetahui gaya belajar dari anak mereka.

10. Terlalu lelah

Dapatkah kamu bayangkan jika anak harus bersekolah dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang. Di rumah dia masih harus mengikuti berbagai macam kursus seperti musik, berenang dan lain sebagainya yang tentu menyita waktunya. Selain itu aktivitas bermain juga akan membuat tenaga anak menjadi terkuras.

Kehabisan tenaga dapat membuat anak menjadi malas dalam belajar. Ketika anak sudah menghabiskan tenaganya untuk hal-hal lain, dan di malam hari orang tua meminta anak untuk belajar maka akan ada saat dimana ia sudah terlebih dahulu kelelahan.

Untuk mengatasinya maka memenejemen waktu anak dengan tepat adalah solusi terbaik. Menetapkan waktu yang tepat untuk bersekolah, bermain, istirahat cukup dan belajar adalah hal yang dapat membuat anak dapat membagi tenaganya dengan tepat.