11/17/17

Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Pendidikan : Pengaruh Model pembelajaran Jig Saw dan STAD Terhadap Hasil Belajar

Pengaruh metode pembelajaran Jig Saw dan metode pembelajaran STAD  terhadap hasil belajar IPA Siswa Kelas 5 SDN Rowosari 01

BACA JUGA
                           
                                      
BAB I
PENDAHULUAN

I.1  Latar Belakang
Pendidikan IPA sebagai salah satu aspek pendidikan yang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan. IPA sangat penting bagi kehidupan dan berkaitan dengan kegiatan yang ada di lingkungan sekitar siswa. Melalui IPA siswa mampu memecahkan masalah - masalah yang ada di lingkungan. Pelajaran IPA juga dapat menumbuhkan dan mengembangkan siswa untuk berpikir kreatif, kritis dan inovatif. Untuk itu pembelajaran IPA harus dilaksanakan secara komprehensif yang menyangkut ranah kognitif, dan psikomotor sehingga tertanam sikap yang baik dalam diri peserta didik.

Proses belajar mengajar merupakan aktifitas sehari – hari yang dilakukan guru. Materi yang disajikan oleh guru kepada siswa akan langsung diserap oleh siswa sehingga siswa dapat memahami isi materi tersebut. Pada materi pelajaran IPA banyak konsep – konsep IPA yang sulit untuk dipahami siswa pada usia anak sekolah dasar. Selain itu pembelajaran yang dilakukan masih secara konvensional dengan dominasi guru melalui ceramah dan metode yang di gunakan guru kurang bervariasi. Akibatnya hasil belajar yang diperoleh siswa  kurang memuaskan.
Kenyataannya, hanya 12 siswa dari 30 siswa atau 40 % siswa yang mencapai ketuntasan belajar minimal 75. Sehingga guru menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan agar materi yang di sampaikan dapat dipahami dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu kegiatan belajar yang menyenangkan menggunakan pembelajaran secara kooperatif yang bertujuan untuk menanamkan ketrampilan kerja sama antar siswa dengan diskusi kelompok. Dalam berdiskusi sering-kali peserta didik mampu menjelaskan gagasan sulit yang disampaikan guru dengan menerjemahkan ke dalam bahasa anak-anak yang lebih mudah diterima oleh peserta didik (Slavin, 2011). Dari beberapa penelitian yang dilakukan Slavin bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dengan pembelajaran kooperatif dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik untuk belajar berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka (Slavin, 2011).
Menurut Riyanto (2012) pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill. Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen (Rusman, 2012). Salah satu pembelajaran kooperatif yang di gunakan untuk pembelajaran adalah menggunakan model pembelajaran jigsaw yang di padukan dengan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division).
Metode pembelajaran Jigsaw dan metode pembelajaran STAD merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keahlian dalam menyelesaikan persoalan tertentu. Untuk dapat menguasai semua materi pelajaran maka peserta didik harus saling tergantung dengan teman satu timnya. Dengan demikian peserta didik harus dapat bekerja sama dalam kelompok untuk dapat memahami materi pelajaran. Dengan melakukan kerja sama dalam memahami materi pelajaran, memungkinkan peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
Berdasarkan paparan diatas peneliti ingin membuat siswa mudah memahami suatu materi yang disampaikan guru dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Penggunaan metode pembelajaran Jigsaw dan metode pembelajaran STAD untuk menumbuhkan siswa lebih kreatif , berpikir kritis, dan bekerja sama dalam memahami pelajaran IPA dan meningkatkan hasil belajar.


I.2  Identifikasi masalah
Pembelajaran IPA yang masih dianggap sulit dipahami bagi Siswa SDN Rowosari 01 kelas V dikarenakan beberapa faktor seperti :
a.       Pembelajaran yang dilakukan masih secara konvensional
b.      Metode pembelajaran kurang bervariasi
c.       Penjelasan guru kurang jelas
d.      Siswa kurang konsentrasi
e.       Tujuan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA kurang optimal
Dari faktor di atas, seharusnya guru dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menarik agar siswa tertarik dan paham tentang materi yang disampaikan. Guru juga dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi dan memanfaatkan media atau lingkungan disekitar sekolah untuk mendukung materi yang akan disampaikan kepada siswa.
I.3  Batasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang disebutkan diatas maka peneliti akan membatasi permasalahan agar penelitian yang dilakukan lebih spesifik dan fokus. Permasalahan yang hendak dikaji adalah pengaruh metode pembelajaran Jigsaw yang dipadukan dengan metode pembelajaran STAD dan hasil belajar pada pelajaran ipa pada siswa kelas V SDN Rowosari 01.
I.4  Rumusan masalah
Masalah dalam Peneliti adalah 
1. Bagaimana cara menerapkan metode pembelajaran Jigsaw dan STAD pada siswa kelas V?2. Apakah pengaruh metode pembelajaran Jigsaw dan STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPA?
  
I.5  Tujuan penelitian
Tujuan yang diteliti adalah
1. Menerapkan metode pembelajaran Jigsaw dan STAD pada siswa kelas V
2. Mengetahui pengaruh metode pembelajaran Jigsaw dan STAD untuk meningkatkan hasil belajar IPA

I.6  Manfaat Penulisan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaruh metode pembelajaran dalam merespon materi pembelajaran dan motivasi belajar dari guru terhadap hasil belajar siswa.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca atau pihak – pihak yang berkepentingan. Sedangkan manfaat secara praktisnya yaitu :
1.      Bagi Siswa
Siswa diharapkan mendapatkan pengalaman baru dalam proses belajar dan dapat meningkatkan motivasi untuk aktif dalam kegiatan belajar sehingga terpacu untuk terus berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam prestasi.
2.      Bagi Guru atau Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan penulis dan semua pihak yang berkepentingan dapat lebih memahaminya.

3.      Bagi Sekolah
Penelitian ini difokuskan kepada siswa kelas V SD dengan mata pelajaran yang diamati adalah mata pelajaran IPA  sebagai objek dan materinya. Sehingga para pembaca, guru, atau pihak-pihak lain yang berkepentingan diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan dalam aplikasi dalam proses pembelajarannya. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan untuk meningkatkan komitmen sekolah dalam meningkatkan meningkatkan kualitas peserta didik menjadi semakin baik lagi.
I.7  Batasan istilah
1.      Berdasarkan dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Metode Jig saw adalah proses belajar siswa secara kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa dan saling bekerja sama dalam mempelajari suatu materi yang di berikan serta materi yang sudah dikuasai disampaikan kepada anggota kelompok lain.
2.   Berdasarkan dari para ahli, maka dapat di simpulkan bahwa metode pembelajaran STAD merupakan suatu pembelajaran yang mengacu pada belajar kelompok. Yang di bentuk heterogen menurut tingkat kinerja, jenis kelamin dan suku. Anggota kelompok menggunakan lembar kerja untuk menyelesaikan materi dan di lakukan dengan cara diskusi dan kuis.

3.  Berdasarkan dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu yang lama bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik, sehingga akan merubah cara berfikir serta menghasilkan  perilaku kerja yang lebih baik. 


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1  Pengertian Pembelajaran kooperatif
Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan alternative bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung secara efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menggunakan pembelajaran kooperatif merubah peran guru dari peran yang berpusat pada gurunya ke pengelolaan siswa dalam kelompok – kelompok kecil. Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi social dan hubungan antar manusia.
Model pembelajaran kooperatif merupakan terjemahan dari istilah cooperative learning. Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama – sama dengan saling membantu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim (Isjoni,2009).

Menurut Lie (2008) Model pembelajaran kooperatif merupakan system pelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas – tugas yang terstruktur.

Menurut Slavin (2008) Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok- kelompok kecil untuk saling membantu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran.

Menurut Johnson dan Johnson dalam Isjoni (2009) Model pembelajaran kooperatif adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.

2.1.1        Unsur-unsur Pokok Model Pembelajaran Kooperatif
Ada 4 unsur pokok model pembelajaran kooperatif, yaitu: 1. adanya peserta dalam kelompok, 2. adanya aturan kelompok, 3. adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan 4. adanya tujuan yang akan dicapai (Sanjaya, 2009: 241).
1. Adanya Peserta dalam Kelompok
Peserta pembelajaran kooperatif adalah para siswa yang melakukan kegiatan belajar secara berkelompok. Pengelompokan siswa bisa dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan, misalnya minat, bakat kemampuan akademis, dst. Pertimbangan apapun yang dipilih dalam mengelompokkan siswa, tujuan pembelajaran harus yang diutamakan.
2. Adanya Aturan Kelompok
Aturan kelompok merupakan sesuatu yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik maupun siswa sebagai anggota kelompok.
3. Adanya Upaya Belajar Setiap Anggota Kelompok
Upaya belajar merupakan segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuan, baik kemampuan yang telah dimiliki, maupun kemampuan yang baru. Aktivitas belajar siswa dilakukan secara berkelompok, sehingga diantara mereka terjadi saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan.
4. Adanya Tujuan yang Akan Dicapai
Aspek tujuan dalam model pembelajaran ini dimaksudkan untuk memberikanb arah pada perencanaan, pelaksanaan, dan juga evaluasi. Dengan adanya tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap aktivitas belajar.

Berdasarkan para ahli maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama dalam menyelesaikan persoalan materi yang di berikan oleh guru serta meningkatkan pemahaman pada suatu materi pelajaran.

2.2  Pengertian Metode Pembelajaran Jigsaw
Ada beberapa metode dalam pembelajaran kooperatif. Salah satunya adalah metode pembelajaran Jig saw.
Menurut Slavin. Metode Jigsaw adalah salah satu dari metode-metode kooperatif yang paling fleksibel. Metode pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu variasi model Collaborative Learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota.

Menurut Sudrajat (2008) Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.

Menurut Zaini (2008). Model pembelajaran Jigsaw merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain.
Menurut arens metode Jig saw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
2.2.1 Karakteristik Metode Jigsaw
Metode Jigsaw dikembangkan dan diuji oleh Elliot Aronson dan rekan-rekan sejawatnya (Arends, 2008: 13). Dalam metode Jigsaw para siswa dari suatu kelas dikelompokkan menjadi beberapa tim belajar yang beranggotakan 5 atau 6 orang secara heterogen. Guru memberikan bahan ajar dalam bentuk teks kepada setiap kelompok dan setiap siswa dalam satu kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari satu porsi materinya. Para anggota dari tim-tim yang berbeda tetapi membahas topik yang sama bertemu untuk belajar dan saling membantu dalam mempelajari topic tersebut. Kelompok semacam ini dalam metode Jigsaw disebut kelompok ahli (expert group).

2.2.2  Sintaks metode Jigsaw
Pelaksanaan metode Jigsaw terdiri dari 6 langkah kegiatan (Trianto, 2007) sebagai berikut.
Fase ke-1: Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok belajar. Setiap kelompok
                   beranggotakan 5 – 6 orang siswa.
Fase ke-2: Guru memberikan materi ajar dalam bentuk teks yang telah terbagi menjadi
                  beberapa sub materi untuk dipelajari secara khusus oleh setiap anggota
                  kelompok.
Fase ke-3: Semua kelompok mempelajari materi ajar yang telah diberikan oleh guru.
Fase ke-4: Kelompok ahli bertemu dan membahas topik materi yang menjadi tanggung
                  jawabnya.
Fase ke-5 : Anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing
                  (home teams) untuk membantu kelompoknya.
Fase ke-6: Guru mengevaluasi hasil belajar siswa secara individual.

Berdasarkan dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Metode Jig saw adalah proses belajar siswa secara kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa dan saling bekerja sama dalam mempelajari suatu materi yang di berikan serta materi yang sudah dikuasai disampaikan kepada anggota kelompok lain.

2.3  Pengertian STAD (Student Teams Achievement Division)
Menurut Ibrahim, (2000) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah suatu pembelajaran yang mengacu pada belajar kelompok siswa menyajikan informasi dengan menggunakan presentasi verbal atau teks, dimana di dalamnya siswa diberikan kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebayanya dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan
Menurut Rachmadiarti (2001) Student Teams Achievmet Division (STAD) merupakan pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD adalah model pembelajaran kooperatif berupa pendekatan yang dikembangkan dengan melibatkan siswa menelaah materi dalam bentuk diskusi kelompok.

Menurut  Nur Citra Utomo dan C. Novi Primiani (2009: 9), “STAD merupakan desain untuk memotivasi siswa-siswa supaya kembali bersemangat dan saling menolong untuk mengembangkan keterampilan yang diajarkan oleh guru”.

Menurut Mohamad Nur (2008: 5), pada model ini siswa dikelompokkan dalam tim dengan anggota 4 siswa pada setiap tim. Tim dibentuk secara heterogen menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku.

Model pembelajaran STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan temantemannya di Universitas John Hopkins. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri atas laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui diskusi dan kuis.
2.3.1  Karakteristik Metode STAD
STAD kependekan dari Student Team Achievement Divisions. Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dkk. dari Universitas John Hopkins. Dalam metode STAD guru membagi siswa suatu kelas menjadi beberapa kelompok kecil atau tim belajar dengan jumlah anggota setiap kelompok 4 atau 5 orang siswa secara heterogen. Setiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan saling membantu untuk menguasai materi ajar melalui Tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim. Secara individual atau kelompok setiap satu atau dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap materi yang telah mereka pelajari. Setelah itu seluru siswa dalam kelas tersebut diberikan materi tes tentang materi ajar yang telah mereka pelajari. Pada saat menjalani tes mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
2.3.2  Sintaks Metode STAD
Sintaks metode STAD terdiri atas 6 fase (Trianto, 2007: 54), yaitu sebagai berikut ini.
Fase ke-1: menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk aktif belajar.
Fase ke-2: menyajikan materi ajar kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau melalui bahan bacaan.
Fase ke-3: menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar .
Fase ke-4: membimbing setiap kelompok belajar untuk belajar dan bekerja.
Fase ke-5: mengevaluasi hasil belajar dan kerja masing-masing kelompok.
Fase ke-6: Guru memberikan penghargaan pada para siswa baik sebagai individu maupun kelompok, baik karena usaha yang telah mereka lakukan maupun karena hasil yang telah meerka capai.
Berdasarkan dari para ahli, maka dapat di simpulkan bahwa metode pembelajaran STAD merupakan suatu pembelajaran yang mengacu pada belajar kelompok. Yang di bentuk heterogen menurut tingkat kinerja, jenis kelamin dan suku. Anggota kelompok menggunakan lembar kerja untuk menyelesaikan materi dan di lakukan dengan cara diskusi dan kuis.

2.4   Pengertian IPA

IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan.

Menurut Abdullah (1998:18), IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.

Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya.

Carin (Marleviandra, 2009) mendefinisikan natural science/science sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, yang di dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan science tidak hanya ditunjukkan oleh kumpulan fakta saja, tetapi juga oleh timbulnya metode ilmiah dan sikap ilmiah.

Pendidikan IPA menurut Tohari (1978:3) merupakan “usaha untuk menggunakan tingkah laku siswa hingga siswa memahami proses-proses IPA, memiliki nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap IPA serta menguasi materi IPA berupa fakta, konsep, prinsip, hokum dan teori IPA”.

Pendidikan IPA menurut Sumaji (1998:46) merupakan “suatu ilmu pegetahuan social yang merupakan disiplin ilmu bukan bersifat teoritis melainkan gabungan (kombinasi) antara disiplin ilmu yang bersifat produktif”.

Menurut Maslichah Asy'ari (2006: 7) Sains adalah pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh dengan cara yang terkontrol. Penjelasan ini mengandung maksud bahwa sains selain menjadi sebagai produk juga sebagai proses. Sains sebagai produk yaitu pengetahuan manusia dan sebagai proses yaitu bagaimana mendapatkan pengetahuan tersebut.



Menurut Bube, seorang ahli fisika. Science adalah pengetahuan tentang dunia alamiah yang diperoleh dari interaksi indera dengan dunia tersebut.
Pernyataan ini memberikan suatu ketelitian yang menarik terhadap dua aspek tentang bagaimana observasi terjadi (berlangsung) :
1. Observasi gejala-gejala alam (yang merupakan dasar-dasar otoritas dimana pengetahuan ilmiah berlaku) melalui pikiran dan indra seseorang.
2. Proses observasi menyangkut dua jalur interaksi antara pengamat (orang yang melakukan observasi) dan objek (sesuatu yang diobservasi)

Berdasarkan teori dari para ahli , maka  dapat disimpulkan bahwa IPA adalah gejala-gejala alam dan kebendaan yang diperoleh dengan cara observasi, eksperimen/penelitian, erupakan pengetahuan manusia tentang atau uji coba yang berdasarkan pada hasil pengamatan manusia. Pengamatan manusia dapat berupa fakta-fakta, aturan-aturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip, teori-teori dan lain sebagainya. Pendidika IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki tujuan agar setiap siswa dapat mengembangkan potensi yang ada di alam untuk dijadikan sebagai sumber ilmu dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

2.5   Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi bagi guru tentang kemajuan siswa dalam mencapai tujuan –tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.

Menurut Hamalik (2006: 155), memberikan gambaran bahwa hasil belajar yang diperoleh dapat diukur melalui kemajuan yang diperoleh siswa setelah belajar dengan sungguh-sungguh. Hasil belajar tampak terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur melalui perubahan sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

Menurut Dimyati dan Mudjiono, (2006), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran. 

Menurut Udin S. Winataputra (2007), hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai siswa. dimana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Dalam hal ini belajar meliputi ketrampilan proses,keaktifan, motivasi juga prestasi belajar. Prestasi adalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu kegiatan.

Menurut Slameto (2008:7) hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa”. Lebih lanjut Slameto (2008:8) mengemukakan bahwa ”hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan dan tes hasil belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa.

Menurut Cece Rahmat dalam Abidin (2004 :1) hasil belajar adalah penggunaan angka pada hasil tes atau prosedur penilaian sesuai dengan aturan tertentu, atau dengan kata lain untuk mengetahui daya serap siswa setelah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan
Berdasarkan Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melaui tiga kategori ranah antara lain,
1. Kognitif, yaitu berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri ats 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisisi, sintesis, dan penilaian.
2.   Afektif, yaitu berkenaan dengan siskap dan nilai. Ranah afektif meliputi jenjang kemampuan  yaitu menerima, menjawab atau mereaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atu kompleks nilai.
3. Psikomotor, yaitu meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular ( menghubungkan, mengamati ).

Berdasarkan teori dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu yang lama bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik, sehingga akan merubah cara berfikir serta menghasilkan  perilaku kerja yang lebih baik.
Sehubungan dengan itu, Gagne (dalam Sudjana, 2010: 22) mengembangkan kemampuan hasil belajar menjadi lima macam antara lain:
1)      hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingsikolastik.
2)   strategi kognitif yaitu mengatur cara belajar dan berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya termaksuk kemampuan memecahkan masalah.
3) sikap dan nilai, berhubungan dengan arah intensitas emosional dimiliki seseorang sebagaimana disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang dan kejadian.
4)     informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta.
5)  keterampilan motorik yaitu kecakapan yang berfungsi untuk lingkungan hidup serta memprestasikan konsep dan lambang.
Untuk mengetahui hasil belajar seseorang dapat dilakukan dengan melakukan tes dan pengukuran. Tes dan pengukuran memerlukan alat sebagai pengumpul data yang disebut dengan instrumen penilaian hasil belajar. 

2.1   Penelitian yang relevan
Beberapa hasil penelitian yang relavan adalah :
1.  Penelitian yang dilakukan oleh Cornelius Sri Murdo Yuwono(2014) yang berjudul “PENINGKATAN KETRAMPILAN METAKOGNISI SISWA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW- MODIFIKASI”. Di muat di Jurnal Santiaji, Universitas Mahasaraswati. ISSN : 2087 – 9016. Dari hasil penelitian peneliti menyimpulkan bahwa Produk perangkat pembelajaran hasil pengembangan model pembelajaran kooperatif Jigsaw-Modifikasi berupa Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa, dan Assesmen melalui LS dalam meningkatkan keterampilan metakognisi berdasar rubrik pada siswa berkemampuan akademik atas dan bawah.
2.   Penelitian yang dilakukan oleh Umi Romadiyah (2014) yang berjudul “PEMBELAJARAN STAD DAN TSTS BERMEDIA ICE CREAM STICK PADA OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT . Di muat di Jurnal Pendidikan Saint,. ISSN : 2338 – 9117. Dari hasil penelitian peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan Two Stay Two Stray (TSTS) berbantuan media Ice Cream Stick menghasilkan langkah-langkah pembelajaran model STAD dan Two Stay Two Stray berbantuan media Ice Cream Stick yaitu, 1) presentasi kelas; 2) kerja tim; 3) berbagi informasi antar kelompok; 4) mencocokkan hasil kerja kelompok; 5) kuis; 6) skor perkembangan individu; dan 7) penghargaan kelompok.
3.   Penelitian yang dilakukan oleh Nunung Sri Rochaniningsih, Muhsinatun Siasah Masruri (2015) yang berjudul “PENGGUNAAN METODE JIGSAW DENGAN BANTUAN MEDIA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KERJASAMA DAN HASIL BELAJAR IPS”. Di muat di Jurnal Pendidikan IPS,Universitas Negeri Yogyakarta. ISSN : 2356 – 1807. Dari hasil penelitian peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan keterampilan kerja sama setelah diterapkan metode jigsaw, baik dengan menggunakan media gambar maupun artikel ber-gambar pada pembelajaran IPS. 
4.  Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawan, Suyitno, Agoestanto (2013) yang berjudul “PENERAPAN JIGSAW II DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS BERBANTUAN ALAT PERAGA”. Di muat di Jurnal Kreno IPS,Universitas Negeri Semarang. ISSN : 2086 – 2334. Dari hasil penelitian peneliti menyimpulkan bahwa Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbantuan alat peraga pada materi pokok Segiempat efektif Dan  Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan alat peraga pada materi pokok Segiempat efektif.

2.2   Kerangka Pikir Penelitian
Keberhasilan siswa dalam memahami dan menguasai suatu mata pelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah pengaruh metode pembelajaran Jigsaw dan STAD yang menjadi perhatian dalam penelitian ini. Untuk mengajarkan pokok bahasan tertentu diperlukan cara mengajar yang tertentu pula. Hal ini disebabkan cara mengajar yang dianggap baik untuk suatu materi pelajaran belum tentu cocok untuk mengajarkan materi pelajaran yang lain.
Umumnya siswa beranggapan bahwa IPA merupakan mata pelajaran yang membosankan karena banyaknya konsep – konsep sulit dipahami  dan pembelajaran yang kurang bervariasi. Emosi dan kesan negatif siswa ini secara langsung maupun tidak langsung akan sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif pembelajarannya bertujuan agar siswa mudah memahami materi pelajaran dan menyenangkan.di dalam pembelajaran kooperatif berisi metode yang efektif dan dapat di gunakan untuk meningkatkan hasil belajar misalnya metode Jig saw maupun STAD karena metode tersebut pembelajarannya dengan adanya kerja sama dalam kelompok.misalnya metode Jig saw pada pembelajaran yang menggunakan metode Jigsaw terdapat beberapa kelompok. Setiap kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa. Di dalam kelompok tersebut siswa diberikan materi pelajaran untuk dipahami bersama anggota kelompoknya. Setelah menerima materi, setiap kelompok mendiskusikan materi tersibut. Jika sudah paham, anggota kelompok menyampaikan hasil diskusinya kepada kelompok lain.dengan cara tersebut setiap siswa akan mudah memahami materi pelajaran.

Berdasarkan gambar diatas variable (Y) dipengaruhi oleh variable metode pembelajaran
Jigsaw(X1) dan Variabel metode pembelajaran STAD (X2)
2.1   Hipotesis
Berdasarkan pada kerangka berpikir.
1)        Hipotesis Nol (Ho)
Ho1  : Tidak ada pengaruh antara metode pembelajaran Jigsaw terhadap Hasil belajar IPA   
Ho2  : Tidak ada pengaruh antara metode pembelajaran STAD terhadap hasil belajar
2)         Hipotesis Alternatif (Ha)
Ha1  :    Ada pengaruh antara metode pembelajaran Jigsaw terhadap hasil belajar IPA
Ha2  :    Ada pengaruh antara metode pembelajaran STAD terhadap hasil belajar IPA
3)         Hipotesis Total
Ho4  :    Tidak ada pengaruh metode pembelajaran Jigsaw dan pembelajaran STAD terhadap hasil belajar IPA
Ha4  :    Ada pengaruh metode pembelajaran Jigsaw dan pembelajaran STAD terhadap hasil belajar IPA

BAB III
METODE PENELITIAN

1.1  Metode Pengumpulan Data
Sesuai dengan permasalahan penelitian sebagaimana telah dirumuskan, Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Survey. Metode Survey digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah ( bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data.
1.2  Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono,2015). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa  kelas V SDN Rowosari 01.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang di ambil dari populasi.
Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Pada sampel penelitian ini menggunakan Teknik probability sampling. Adapun metode yang digunakan adalah simple random sampling. Simple random sampling  dikatakan sederhana karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
1.3  Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes dalam bentuk tes. Instrumen tes yang berupa tes obyektif  terdiri dari 10 butir soal.

1.4  Teknik pengumpulan data
Teknik yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data adalah menggunakan kuesioner (angket).  Koesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

1.5  Analisis Instrumen
Sebelum instrumen digunakan untuk mengumpulkan data, instrumen tersebut harus benar-benar sudah teruji kehandalannya. Validitas dan reliabilitas merupakan dua persyaratan pokok yang harus diuji coba peneliti terhadap instrumennya (Suharsimi, 2007: 167).

a.       Validitas Butir Soal
Cara untuk menghitung validitas butir soal dapat menggunakan rumus:

b.       Taraf Kesukaran (Difficulty Index)
Taraf kesukaran menunjukkan kemampuan butir soal untuk menyaring banyaknya peserta tes yang dapat mengerjakan dengan benar. Semakin banyak subjek yang menjawab soal dengan benar, maka taraf kesukaran soal tersebut tinggi. Jika taraf kesukarannya tinggi maka soal tersebut tergolong mudah.
Seperti dituliskan Y. Padmono (2002: 214) taraf kesukaran (P) dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

      c.       Daya Beda (Discriminating Power)
Suharsimi Arikunto (2006: 211) menyebutkan bahwa daya pembeda tes adalah kemampuan tes tersebut dalam memisahkan antara subjek yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan subjek yang bodoh (berkemampuan rendah).
Seperti dituliskan Y. Padmono (2002: 214) cara menghitung daya beda soal adalah sebagai berikut:

      d.    Reliabilitas
Reliabilitas merupakan keterandalan atau sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap subjek yang sama akan diperoleh hasil yang relatif sama. Rumus untuk menghitung koefisien reliabilitas instrumen dengan menggunakan Cronbach Alpha adalah sebagai berikut:

     E.     Teknik Pengumpulan Data
1.      Teknik non tes yaitu dilakukan dengan:
a.    Wawancara oleh observer dan peneliti yaitu untuk mengetahui minat siswa dalam merespon materi pembelajaran yang mempengaruhi hasil belajar ipa
b.    Dokumentasi untuk mengumpulkan data hasil belajar ipa
c.    Angket, diisi oleh siswa untuk mengumpulkan data kebutuhan belajar anak.

2.      Teknik tes dilakukan dengan tes tertulis yaitu untuk mengumpulkan data kuantitatif (nilai) dari hasil belajar IPA.

   F.      Teknik Analisis Data
Uji Prasyarat
            Uji prasyarat yang dipakai dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji homogenitas.
1. Uji Normalitas
       Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Lilliefors. Adapun prosedur ujinya adalah sebagai berikut:
a.  Hipotesis
H0 : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
H1 : sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal
b. Taraf signifikansi : a = 0,05
c. Statistik Uji



Daftar Pustaka

Abidin Zainal.2004. Evaluasi Pengajaran. Padang : UNP
Abdullah Aly & Eny Rahma. (1998). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta:  Bumi Aksara
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran Cetakan Ke-3Jakarta: Rineka Cipta
Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara
Marleviandra, Anto. 2009. Definisi IPA. (Online), (http://techonly13.wordpress.com/2010/06/10/definisi-ipa-2, diakses pada 16 Juli 2015).
Maslichah Asy'ari .(2006: 7). Definisi IPA. (Online (http://teoriku.blogspot.com/2013/03/pengertian-ilmu-pengetahuan-alam-ipa.html, di akses pada 20 Juli 2015)
Slameto. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Cet. XV). Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya.
Sumaji, Soehakso, Mangun Wijaya, dkk. (1998). Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisus
Thohari Mustamar. (1978). Program Pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Yogyakarta
Udin S Winataputra dkk.2007.Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka
Slavin, R.E. (2011). Cooperative Learning: Teori, riset dan praktik. (Terjemahan Nurulita Yusron). Bandung: Nusa Media.
Rianto,Y. 2012. Paradigma Baru Pembelajaran. Sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Lie, Anita.2008. Cooperative Leraning.Jakarta: Grasindo
Slavin, R. E. 2008. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media
Sugianto. 2010. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka.
Zaini, Hisyam dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Sugiyono.2015. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung : Alfabeta
Romadiyah,Umi. Pembelajaran STAD dan TSTS bermedia ice cream stick pada operasi hitung bilangan bulat.( http://journal.um.ac.id/index.php/jps/article/download/4502/975) di akses pada 24 juli 2015.