10/2/18

10 Contoh Essay Ilmiah Pendidikan √ Pengertian dan Langkah-Langkah Membuatnya Lengkap 100% Terbaik

Essay sering kita buat biasanya digunakan kita untuk memenuhi tugas-tugas kegiatan belajar kita baik sebagai siswa di sekolah atau mahasiswa di universitas yang singgahi. Untuk mempermudah teman teman dalam membuat essay kali ini karyatulisku akan berbagi kepada teman-teman beberapa contoh essay ilmiah di bidang pendidikan dilengkapi oleh pengertian dan langkah-langkah membuatnya.

Definisi Essay

Dalam bahasa Inggris essay adalah a short literary composition on a particulartheme or subject, usually in prose andgenerally analytic, speculative, orinterpretative. Yang artinya yaitu sebuah komposisi sastra pendek tentang suatu hal khusus atau subjek, biasanya dalam bentuk prosa dan secara umum bersifat analitik, spekulatif, atau interpretatif.

Dikutip dari ukessay.com Essay adalah An essay is a piece of writing, usually from an author’s personal point of view. Essays are non-fictional but often subjective; while expository, they can also include narrative. Essays can be literary criticism, political manifestos, learned arguments, observations of daily life, recollections, and reflections of the author.

Essai adalah tulisan pendek yang  biasanya berasal dari sudut pandang peneliti. Esai bukanlah sebuah tulisan non fiksi, namun sering berisi opini. Essay mencakup narasi. Essay dapat berupa kritik, sastra, politik, argumen dari pengamatan dalam kehidupan sehari-hari kenang-kenangan dan refleksi penulis.

Lebih lanjut, Merujuk pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah ‘esai’ diartikan sebagai suatu karangan atau karya tulis yang termasuk dalam prosa yang membahas suatu masalah (kajian) secara sekilas dari sudut pandang pribadi sang penulis. Hal serupa juga dikemukakan ahli, Soetomo, yang mendefinisikan esai sebagai suatu karangan pendek berdasarkan cara pandang seseorang dalam menyikapi suatu masalah. 

Berdasarkan dua definisi yang dijelaskan sebelumnya, dapat kita simpulkan jika esai sangat dipengaruhi sudut pandang penulis dalam menilai suatu masalah, sehingga tulisan pada esai pastilah mengandung opini yang bersifat subjektif serta argumentatif. Meskipun bersifat subjektif, namun argumen yang disampaikan dalam esai tetaplah harus bersifat logis, dapat dipahami dengan baik, serta berdasarkan pada teori atau data serta fakta yang ada di lapangan.

Dengan begitu, esai tidak hanya menjadi tulisan fiktif atau imajinasi dari sang penulis saja. Secara umum, esai memiliki kesamaan dengan tajuk rencana yang terdapat pada surat kabar, yakni memiliki tujuan untuk meyakinkan masyarakat terhadap sudut pandang penulis mengenai suatu isu, atau dengan kata lain menggiring opini publik. Bedanya, tajuk rencana hanya ditulis oleh seorang kepala editor, sedangkan esai dapat ditulis oleh siapa saja.

Ciri-Ciri Essay

Setelah kita mengetahui apa itu essay maka sebenarnya kita sudah dapat sedikit sedikit menerka apa ciri-ciri dari essai itu sendiri. Seperti di ungkapkan dalam penjelasan di atas bahwa essay secara singkat berisikan pendapat peneliti namun tidak sebatas tulisan khayalan namun memiliki data-data yang akurat.

Berikut ini ciri-ciri dari Essay

1. Essay merupakan karangan pendek
Essay adalah jenis prosa yang ditulis. Essay ini ditulis dalam jumlah kalimat yang pendek hal ini karena essai adalah sebuah kajian yang padat dan jelas sehingga mudah dipahami oleh khalayak banyak (umum). Essay

2. Essai memiliki bahasa yang khas
Essay ditulis oleh seseorang dan ditulis berdasarkan sudut pandang orang tersebut. Itulah kenapa essay sangat kental dengan bahasa yang khas. Karena sangat dipengaruhi oleh gaya bahasa penulisnya masing-masing. Tentu tulisan essai akan memiliki bahasa yang khas dengan ciri dari penulisnya masing-masing.



Bagian-Bagian Essay





Agar kita mudah dalam menulis essay, ada beberapa hal yang perlu pembaca ketahui. Hal itu yaitu struktur atau bagian dari Essay. Dalam menulis essay kita terlebih dahulu dapat mengelompokkan essay menjadi 3 bagian yaitu bagian pendahuluan, isi dan penutup

Berikut ini penjelasan selengkapnya  :



1. Pendahuluan
Pendahuluan dapat di katakan sebagai awalan. Sebelum kamu memulai pembahasan pada inti dari Essay yang kamu buat. Maka kamu akan memulai dengan membuat pendahuluan terlebih dahulu.

Pendahuluan merupakan struktur awal pembangun kerangka dari esai. Artinya dalam pendahuluan kamu akan membuat kerangka pemikiran yang membuat kamu menulis essay ini. Pendahuluan biasanya akan mengungkapkan secara sekilas topik atau tema yang akan diangkat pada keseluruhan esai. Pada bagian ini pula, dijabarkan latar belakang yang mendasari penulisan esai tersebut, biasanya dapat berupa data atau fakta di lapangan.

Selain itu, pada bagian ini penulis juga mengungkapkan sedikit pendapatnya tentang tema yang akan dibahas lebih lanjut. Singkatnya, pendahuluan akan menjadi pengantar atau gambaran pembaca agar dapat memahami topik yang akan dibawakan suatu esai, sehingga pembaca akan mudah memahami isi esai yang akan disampaikan pada bagian selanjutnya

2. Isi atau Pembahasan
Bagian ini merupakan bagian inti dari struktur pembangun esai. Pada bagian ini, topik atau tema yang telah dipilih sebelumnya akan dibahas dan dijelaskan secara lebih rinci dan mendetail.

Di pembahasan, menulis akan menjabarkan opininya serta argumennya secara kronologis atau berurutan sehingga esai yang ditulis nantinya bersifat koheren. Dalam isi juga dijelaskan tentang dasar dasar dari penyusun argument tersebut, seperti teori para ahli yang dikombinasikan dengan data dan fakta fata yang ada di lapangan. Teori, data, dan fakta inilah yang akan lebih meyakinkan pembaca untuk mempercayai opini penulis yang disampaikan dalam esai.

3. Penutup atau Kesimpulan
Seperti namanya, bagian penutup merupakan bagian terakhir dalam menyusun sebuah esai. Bagian ini berisi kesimpulan yang berupa kalimat yang merangkum poin-poin utama yang telah disampaikan sebelumnya di bagian pendahuluan dan pembahasan. Kesimpulan harusnya bersifat singkat, padat, dan jelas, serta tidak melebar ke topik lainnya. Beberapa esai juga menambahkan saran penulis bagi pihak ketiga untuk menyikapi permasalahan yang di bahas pada bagian penutup.

Selain mengikuti struktur penulisan esai seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, berikut ini ada pula beberapa langkah yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menulis esai, yakni

1. Menentukan Tema
2. Membuat garis besar dari ide pokok yang dikembangkan dalam paragraf pembahasan
3. Mengembangkan ide pokok dari paragraf pembahasan yang disertai dengan pendapat dari penulis terhadap gagasan yang dia miliki. Dalam menulis pendapat harus didasarkan pada teori ahli, data-data dan fakta yang ada sehingga pendapat yang diutarakan dapat dipercaya.

4. Menyimpulkan pokok atau inti dari gagasan yang telah di sampaikan.

Essay Ilmiah

Apakah Essay ilmiah itu? Sebelumnya kita ketahui bersama bahwa essay adalah pendapat yang dituliskan oleh penulis tentang tema tertentu yang ditulis berdasarkan data-data dan fakta yang absolut.  Sebuah essay akan makin baik jika seseorang bisa menggabungkan antara fakta dengan imajinasi oleh penulis. Essay dikatakan ilmiah ketika memenuhi kaidah-kaidah ilmiah.

Lalu apakah kaidah penulisan ilmiah. Yang dimaksud penulisan memperhatikan kaidah ilmiah yaitu penulis menyusun essay dengan dengan sistematis dan mengikuti aturan penulisan yang sesuai ketentuan yang berlaku.

Sehingga essay ilmiah harus disusun dengan sistematis runtut dibuat dari mulai menentukan masalah, menentukan hipotesis, mengumpulkan data, menganaktirikan dan menyimpulkan. Artinya opini yang penulis berikan sudah dianalisis sedemikian rupa mengikuti sistematika ilmiah.
Itulah yang dimaksud dengan essay ilmiah.

Contoh Essay Pendidikan Ilmiah

Untuk memberikan lebih banyak contoh dan referensi terbaik dalam menulis essay berikut ini saya berikan beberapa contoh essay terbaik ilmiah di bidang pendidikan.

Judul : PERANKU BAGI INDONESIA


“Saya adalah orang yang banyak menerima dibandingkan memberikan karena lahir dan besar di keluarga yang sederhana. Salah satu hal yang saya terima dari negeri ini adalah pendidikan, di mana saya dapat menempuh pendidikan hingga S1 berkat beasiswa Bidikmisi, dan hal tersebut telah mengajarkan saya arti dari pemberian yang harus dipertanggungjawabkan bagi sesama.





Banyak menerima bantuan lantas membuat saya berfikir untuk bisa membalas dan berbagi atas apa yang sudah saya peroleh selama ini. Salah satu langkah konkret yang bisa saya lakukan ketika saya duduk di bangku SMA adalah dengan menjadi seorang pengajar ekstrakurikuler Pramuka di beberapa sekolah dasar. Menganggap mengajar adalah hal yang menyenangkan karena selalu mengasah ilmu dan komunikasi, saya melanjutkan kegiatan mengajar ketika menjadi mahasiswa di UIN Jakarta, untuk mejadikan diri ini lebih bermanfaat sesuai dengan “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Sehingga saya memutuskan untuk bergabung sebagai relawan pengajar, Mobil Kelas Berjalan (MKB) di mana kami bergerak bersama untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung dalam hal ekonomi dan mereka yang kehilangan kesempatan belajar karena harus bekerja sebagai pemulung, serta membantu anak-anak yang kurang mampu dalam memenuhi biaya sekolah dengan mencarikan donatur ke beberapa lembaga pengelola zakat. Di sisi lain, saya juga mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Bogor dan Jogjakarta selama sebulan.





Selepas kuliah dengan beasiswa Bidikmisi, menyadarkan saya akan tanggungjawab kepada negara yang sudah memberikan beasiswa, sehingga saya memutuskan untuk mengabdikan diri selama setahun di daerah tertinggal sebagai wujud rasa syukur dan terimakasih kepada republik ini. Saya ditugaskan sebagai Pengajar Muda di Desa Muning Dalam, Kabupaten  Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan melalui Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, di sana saya melakukan pemberdayaan masyarakat, mengajar di sekolah dasar, serta pelibatan masyarakat untuk merubah entitas perilaku dan sama-sama menyadari bahwa pendidikan adalah tanggungjawab kita bersama. Tinggal bersama masyarakat di daerah terpencil yang jauh dari akses transportasi dan komunikasi, mengharuskan saya membina hubungan positif dengan banyak pihak dari tingkat desa,  kecamatan, hingga  kabupaten. Saya mengajak  masyarakat untuk  terlibat aktif dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa, pelatihan guru-guru kreatif di kecamatan, pembinaan ekstrakurikuler di sekolah, dan pelatihan untuk murid berbakat dalam bidang sains, olahraga, dan seni. Selain itu, saya bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) melakukan inisiasi lokakarya yang dibungkus dengan tema Kegiatan Bermain dan Belajar (KBB) untuk meningkatkan kualitas guru-guru dalam hal pembelajaran. Materi yang disampaikan terkait pembelajaran kreatif yang berbasis lingkungan yang dikelola oleh guru-guru pembelajar di kecamatan. Saya juga menginisiasi diadakannya pelatihan kesenian daerah seperti tari tradisional, menyanyi  lagu  daerah,  dan  berbalas  pantun  untuk  meningkatkan  pengenalan  dan  pengamalan budaya daerah. Selain suskses dengan menggerakan K3S dan KKG, saya juga mengajak guru serta penggerak lokal yang berlatar belakang dari berbagai profesi untuk melaksanakan Kelas Inspirasi, di mana kami bergerak bersama untuk mewadahi para profesional agar bisa berkontribusi bagi pendidikan di sekolah dasar di kabupaten Hulu Sungai Selatan.





Meskipun saya telah menyelesaikan pengabdian sebagai Pengajar Muda di kabupetan Hulu Sungai Selatan, namun saat ini saya masih terlibat aktif untuk membina gerakan sosial pendidikan di sana melalui Kelas Inspirasi. Saya mengajak berbagai pihak agar mau berkontribusi dan turun tangan langsung ke sekolah dasar dengan mengajarkan profesi mereka selama sehari. Beberapa pihak yang saya ajak ialah pemuda lokal, pemerintah terkait, para profesional, dan relawan-relawan pendidikan dari berbagai provinsi.





Dari semua proses yang telah saya jalani, menjadikan saya pribadi yang lebih peka terhadap masalah sosial di tengah masyarakat. Termasuk masyarakat di perkotaan yang masih berkutat dengan masalah kemacetan, sehingga saya bermimpi bahwa suatu hari Indonesia mampu menghadirkan transportasi massal yang aman, nyaman, cepat, dan terjangkau sesuai dengan semangat nawacita ketiga, di mana membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Sebagai lulusan Fisika Material, saya ingin bekerja bagi masyarakat dan negara ini di PT. Mass Rapid Transit  (MRT) Jakarta, divisi Reseacrh and Development, di mana saya bisa mengembangkan sistem pelapisan pada rel kereta agar tidak terjadi oksidasi dan korosi sehingga Jakarta bisa memiliki trasnportasi massal yang baik, namun untuk mewujudkan itu semua, saya harus belajar lebih dalam lagi mengenai Fisika Material, khususnya sistem pelapisan di The University of Manchester guna mendukung kemampuan akademis dan pengalaman saya.”




Download juga contoh Essay Juara Nasional


Berikut ini adalah tiga esai yang dinyatakan sebagai pemenang lomba Esai Mahasiswa Nasional 2016.













Contoh Essay Juara


Crack Code Bahasa “Walikan” Malang sebagai Refleksi Kritis





Resistansi Bahasa Daerah di Era“Westernisasi





Penulis: Komang Budi Mudita




Indonesia adalah negara dengan total populasi manusia sejumlah 250 juta jiwa dan merupakan negara dengan jumlah penduduk tertinggi keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika serikat (Worldbank, 2013). Tingginya populasi manusia didukung kondisi geografis yang kaya pulau, menyebabkan Indonesia kaya akan budaya, suku, maupun bahasa. Data Etnologue tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 707 bahasa daerah dan merupakan 10 persen dari total 7.102 bahasa di dunia. 707 bahasa daerah tersebut digunakan oleh setidaknya 221 juta orang penduduk Indonesia (Etbologue dalam Budiwiyanto, 2015).





Meskipun Indonesia kaya akan bahasa daerah, sayangnya di tahun 2010 tercatat 146 bahasa daerah di indonesia terancam punah dan 12 diantaranya telah punah (Moseley dalam Budiwiyanto, 2015).  Tingginya tingkat kepunahan bahasa ini disebabkan oleh rendahnya penutur bahasa tersebut. Bahasa Jawa memiliki penutur kurang lebih 75,2 juta jiwa, bahasa Sunda 27 Juta jiwa, bahasa Melayu 20 juta jiwa dan bahasa lainnya yang bahkan berada dibawah satu juta jiwa, dan beberapa bahasa hanya memiliki penutur 10 jiwa hingga hanya 1 jiwa (Crystal dalam Cece Sobarna, 2007). Padahal prinsip daya tahan suatu bahasa adalah use of the linguistic system by an unisolated community of native speakers (Stewart dalam Muhammad darwis, 2011:4), dimana pengurangan penutur suatu bahasa akan berimplikasi pada tingkat kerentanan suatu bahasa untuk punah.





Muhammad Darwis (2011: 3) mengambil analogi spesies biologi, Krauss (1992) dalam mangategorikan daya hidup bahasa menjadi 3 tingkatan. Tingkat pertama yaitu moribund, yaitu bahasa yang tidak lagi dipelajari anak-anak sebagai bahasa ibu. Tingkat kedua yaituendangered,  yaitu bahasa yang meskipun sekarang masih dipelajari atau diperoleh oleh anak-anak, tetapi sudah tidak digunakan pada abad yang akan datang. Ketiga, safe, yaitu bahasa yang secara resmi didukung oleh pemerintah dan memiliki penutur yang sangat banyak. Menurut Darwis kondisi yang saat ini terjadi adalah bahasa daerah sudah tidak diperoleh dan dipelajari oleh semua anak maupun usia dewasa dalam kelompok etnik masing-masing (Muhammad Darwis, 2011: 4).





Rendahnya minat masyarakat khususnya pemuda dan anak-anak dalam menggunakan bahasa daerah dipengaruhi oleh banyak hal. Darwis menemukan faktor kemunculan TK (Taman Kanak-kanak) di pedesaan yang notabene menggunakan bahasa Indonesia menjadi pemicu utama minimnya minat anak-anak menggunakan bahasa daerah (Muhammad Darwis, 2011: 4). Faktor lainnya yang sangat jelas terlihat yaitu pengaruh globalisasi yang membuat masyarakat lebih berpikir global dan berorientasi internasional daripada lokal. Hal ini membuat sekolah-sekolah di Indonesia lebih memilih menggunakan bahasa Inggris sebagai muatan lokal dari pada bahasa daerah. Bahkan nilai bahasa Inggris menjadi penentu dalam seleksi perguruan tinggi maupun seleksi kerja.





Tingginya prioritas penggunaan bahasa nasional dan bahasa internasional dalam lingkungan akademik dan pekerjaan, sebenarnya dilatarbelakangi banyak hal. Tuntutan Indonesia terhitung sejak 1 Januari 2016 telah resmi memasuki pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan saat ini Indonesia dikabarkan akan memasuki TPP (Trans-Pasific Partnership) yang digagas oleh Amerika Serikat. Menghadapi MEA dikabarkan 1000 supir taxi Pilipina dan orang-orang Tailand belajar bahasa Indonesia (Tribunnews.com, 2016 dan beritasatu.com, 2014). Melihat kondisi tersebut banyak orang Indonesia yang mulai berlomba-lomba menguasai bahasa internasional. Apalagi melihat program nawa cita  yang diusung presiden Indonesia, Joko Widodo, dimana ia menargetkan peningkatan ekonomi sebesar 7 persen tahun 2019 (Liputan6.com, 2016). Alhasil Mayarakat akan lebih terpaksa belajar bahasa asing daripada bahasa daerah.





Menjadikan bahasa daerah sebagai anak tiri di daerah maupun dalam pelajaran sekolah sebenarnya tidak sejalan dengan peraturan yang ditetapkan Undang-undang. Undang-undang tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan pasal 42 ayat (1) menyatakan bahwa “Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.” Pemerintah jelas berusaha untuk melindungi bahasa daerah sebagai kearifan lokal yang harus dijaga dan dibangun dalam pola pikir masyarakat setiap saat, agar tidak terjadi dead languageatau kepunahan bahasa daerah.





Usaha-usaha dalam menjaga keutuhan bahasa daerah baik dari pihak pemerintah maupun akademisi sudah sangat banyak dilakukan. Beberapa diantaranya meliputi: Menjadikan bahasa daerah sebagai salah satu mata pelajaran wajib di sekolah; Melakukan pelatihan, penelitian, dan seminar bahasa daerah, oleh pemerintah daerah maupun akademisi (mahasiswa dan dosen); Serta menyediakan program studi bahasa daerah di perguruan tinggi. Memasukkan bahasa daerah kedalam kurikulum wajib, membuat bahasa daerah harus dipelajari oleh siswa. Ekspektasi dari kegiatan ini adalah, bahasa daerah dapat digunakan sehari-hari dan tetap bertahan di masyarakat. Namun sayangnya, yang terjadi adalah, siswa bertendensi melupakan bahasa daerah di luar konteks pelajaran dan tidak menjadikan bahasa daerah sebagai prioritas utama. Begitupun seminar dan pembukaan program studi bahasa daerah peminatnya sangat rendah, dan tidak bisa menjamin informasi dapat terdistribusi dengan baik ke seluruh masyarakat. Sehingga beberapa upaya tersebut dirasa sangat tidak efektif sebagai bentuk usaha revitalisasi bahasa daerah.





Salah satu harapan yang tersisa dari rapuhnya dan rentannya bahasa daerah yaitu masih ada beberapa bahasa daerah dengan penutur diatas satu juta jiwa, bahkan berpuluh-pulu juta jiwa. Hal ini sebenarnya menjadi sebuah refleksi bagi para ahli dan masyarakat Indonesia. Bahasa ini seperti bahasa Jawa khususnya di Malang, masih menjadi bahasa yang tetap bertahan di era globalisasi bahkan era westernisasi yang kini diadapi Indonesia. Konteks era globalisasi hanya melunturkan batas-batas geografis suatu negara, namun konteks westernisasi sudah mengarah pada ranah penyerapan suatu budaya, gaya hidup, dan aktivitas sosial dari negara Barat. Inilah klimaks dari ancaman budaya yang sebenarnya di hadapi Indonesia saat ini. Namun beberapa bahasa daerah masih bisa bertahan dan mampu melawan arus westernisasi yang melanda Indonesia, poin kunci inilah yang seharusnya dapat menjadi solusi  yang efektif dalam menghadapi degradasi bahasa daerah yang kian masif terjadi.





Daerah Malang, Jawa timur menggunakan bahasa Jawa yang memiliki dialek Jawa Timuran dan bahasa Madura. Selain dialek tersebut, ada pula dialek khas Malang yang disebut sebagai "Boso Walikan" (malangkota.go.id).  Bahasa Walikan memiliki ciri khas yaitu menggunakan kata-kata secara terbalik, seperti arek-kera, sedia-aides, sego-oges, pecel-lecep, mabuk-kubam, dan lainnya. Bukan hanya pembalikan huruf-huruf dalam kata tetapi juga meliputi perubahan letak fonem seperti fonem /i/ dan /u/ pada kata ‘bingung’ yang kemudian berubah menjadi ‘ngingub’ (Icuk Prayogi, 2013:2). Menurut penutur asli bahasa Walikan, inversi kata-kata ini sangat bebas dan terbentuk karena kesepakatan bersama, hal ini disebabkan oleh beberapa kata yang sulit diucapkan jika dibalik konstruksinya.





Sejarah linguistis bahasa Walikan sebenarnya sudah digunakan pada masa kolonialisasi oleh bangsa asing di Indonesia. Menurut beberapa literatur bahasa ini digunakan Kelompok Gerilya Kota (GRK) Malang pada zaman agresi militer II setelah kemerdekaan. Penggunaan bahasa ini dilatarbelakangi oleh penyusupan mata-mata Belanda untuk mengusust keberadaan Laskar Mayor Hamidi Rusdi, yang gugur pada tanggal 8 Maret 1949. Demi menjamin kerahasiaan informasi, para pejuang kala itu membuat suatu identitas bahasa Walikan, guna mengenali sesamanya. Dan identitas inilah yang sampai saat ini terus digunakan oleh arema, atau sebutan anak muda untuk 'Orang Malang' (Icuk Prayogi, 2013: 3 bandingkan Yunan Salimow (2009) dan Halomalang.com (2015)).





Eksistensi bahasa Walikan tetap bertahan di era westernisasi disebabkan oleh dukungan yang sangat besar dari semua pihak. Munculnya rubrik Ebes Ngalam dalam Harian Malang Post menunjukkan ada identitas kultural yang coba disampaikan dan dipertahankan oleh masyarakat, hal ini juga menunjukkan peminat bahasa Walikan sangat tinggi (Nurdiani Galuh M., 2010). Selanjutnya kontinuasi peran pemuda, anak-anak, dan orang tua yang tidak pernah berhenti menggunakan bahasa Walikan, membuat eksistensi bahasa Walikan mengalahkan bahasa asing yang masuk ke dalam area masyarakat.





Usia anak-anak adalah usia yang sangat baik untuk menanamkan nilai-nilai moral dan budaya pada dirinya. Dalam sosiologi anak-anak akan mengalami masa preparatory stage (tahap persiapan, usia 1-5 tahun) dan play stage (tahap meniru, usia 6-12 tahun) yang akan memungkinkan anak-anak untuk merekognisi hal-hal yang akan membentuk kebiasaan mereka. Selanjutnyagame stage (tahap mulai menyadari tindakan, usia 13-17 tahun) dan generalized stage (Tahap penerimaan norma kolektif, usia 17 tahun ke atas) akan membuat anak-anak memahami arti penting penggunaan bahasa daerah dan mampu menjadi agen sosialisasi yang baik terhadap generasi yang baru dalam suatu masyarakat. Inilah teori normatif yang sebenarnya aplikatif dalam masyarakat Malang, dan telah terintegrasi dengan baik melalui pemahaman semua tingkat generasi.





Pihak mahasiswa sebagai agent of changesocial control, dan iron stock tidak kalah penting dalam afirmasi bahasa Walikan. Dalam konteks agent of changemahasiswa daerah Malang bukan sekelompok penggagas  nilai dan norma yang memperisai daerah Malang dari pengaruh westernisasi. Mahasiswa Malang memposisikan diri sebagai sekelompok  generalized stage masyarakat intelek, yang menggunakan bahasa Walikan sehari-hari dan menjaga keutuhan bahasa Walikan tersebut melalui penelitian, sosialisasi masyarakat langsung, dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya keutuhan bahasa daerah. Dalam konteks social controlmahasiswa tidak bertindak sebagai agen keamanan yang menggunakan senjata dalam mengontrol kehidupan sosial, melainkan menggunakan intelektual sebagai penguat masyarakat dan keutuhan sosial tanpa menolak pengaruh positif yang bisa diterima dari luar daerah. Bahkan sampai saat ini sudah banyak paguyuban-paguyuban yang digagas mahasiswa Malang dalam menjaga keutuhan bahasa daerah. Tindakan-tindakan mahasiswa dalam ranahagent of change dan social controlsebenarnya sudah menunjukkan bahwa mahasiswa malang adalah iron stock yang berpotensi menjadi pemimpin-pemimpin masa depan dan mempu mempertahankan bahasa daerah Malang.





Itulah poin-poin penting yang seharusnya digunakan dalam melestarikan bahasa daerah. Refleksi eksistensi bahasa Walikan seharusnya mampu menjadi contoh guna mempertahankan keutuhan bahasa daerah lainnya yang diprediksi akan mengalami kepunahan. Langkah pertama jika berkaca pada kesuksesan bahasa Walikan yaitu mulai menggunakan bahasa daerah sehari-hari, utamanya dari keluarga kecil. Bahasa daerah akan lebih mudah dipahami dan mejadi kebiasaan bila intensifitas penggunaanya tinggi, dan hal ini sangat sesuai dengan lingkungan rumah, dimana anak-anak biasanya menghabiskan 60-80% waktunya dirumah. Selanjutnya intensifitas penggunaan bahasa daerah oleh pemuda. Jika melakukan analogi pada bahasa daerah dengan bahasa Walikan, maka kita bisa melihat bahwa pengaruh arema akan eksistensi bahasa daerah sangat besar, bahkan lebih besar dari pengaruh pemerintah daerah. Arema menggunakan bahasa daerah di lingkungan sosial masyarakat, media sosial, sekolah, kampus, bahkan terkesan menimbulkan fanatisme yang tinggi. Alhasil bahasa daerah dapat bertahan ditengah arus westernisasi dan globalisasi. Langkah inilah yang seharusnya menjadi cerminan bagi daerah lainnya.





Meskipun penggunaan bahasa daerah wailikan terkesan fanatis, hal ini sangat dipercaya tidak akan menimbulkan etnosentrisme bahkan primordialisme. Pasalnya lingkungan akadik formal, seminar, maupun acara formal, masyarakat Malang tetap menggunakan bahasa Indonesia, dan bahkan tidak sedikit juara debat bahasa Inggris di kota Malang tetap menggunakan bahasa Malang dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai kearifan lokal bukan sebuah hal yang memperkecil kesempatan untuk bisa meningkatkan taraf hidup. Bahkan Malang tetap menerima penghargaan baik nasional maupun interansional meskipun seluruh aspek kehidupan masyarakat Malang masih mengintegrasikan kultur yang ada. Tahun 2016 Malang mendapatkan penghargaan Global Water Award oleh uni Emirat Arab (malang.merdeka.com, 2016) bahkan jika dilihat tahun 2015 Malang mendapatkan penghargaan oleh Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia karena keaktifannya dalam hal budaya (bakesbangpol, 2015).





Demikianlah kondisi yang terjadi pada Indonesia saat ini, saat ancaman penggulingan rezim tidak lagi menjadi urgensi dalam agenda rapat negara, kini saatnya degradasi budaya khususunya bahasa, terancam akan punah dan hilang dari peradaban. Penggunaan bahasa daerah semakin hari semakin minim digunakan, perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak agar tetap menjadi local geniusyang mengandung nilai-nilai sejarah dan memiliki daya jual tersendiri. Inilah tujuan penulis menmbongkar kode (crack code) rahasia dari bahasa Walikan, agar mampu menjadi refleksi guna mempertahankan bahasa daerah di era westernisasi. Dari keseluruhan gagasan ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guna meningkatkan penggunaan bahasa daerah secara efektif. Hal pertama yaitu penggunaan bahasa daerah harus dintensifkan baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat, untuk mendukung terciptanya penggunaan bahasa daerah. Dukungan pemerintah khususnya Menteri Pariwisata dan kebudayaan, Pemerintah daerah, serta komunitas-komunitas peduli bahasa daerah  perlu mendukung program-program pengembangan budaya baik yang dilakukan pihak swasta maupun mahasiswa. Dengan integrasi pihak-pihak yang terkait serta penanaman penggunaan bahasa daerah sejak dini, niscaya suatu bahasa daerah tidak akan punah begitu saja. Jika 5 dari 10 orang mampu menggunakan bahasa daerah, maka tahun 2010 bukan 12 bahasa yang punah, tetapi hanya 6 saja, dan relevansinya akan sangat tinggi jiga 9 dari 10 orang mampu menggunakan bahasa daerah setiap harinya.






10 Essay Ilmiah Bidang Pendidikan

Silahkan download essay di bawah ini:





FILE ESSAY TENTANG PENDIDIKAN








FILE ESSAY TENTANG LINGKUNGAN











FILE ESSAY TENTANG BUDAYA






. . .


. . .


EmoticonEmoticon