Showing posts with label Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Kuliah. Show all posts

12/10/17

Makalah Model Pembelajaran Jigsaw

Makalah Model Pembelajaran igsaw


BAB 1PENDAHULUAN

Menurut UNESCO, pendidikan pada abad ini harus diorientasikan terhadap pencapaian 4 pilar pembelajaran yaitu : (1) Learning to know (belajar untuk tahu), (2) learning to do (belajar untuk melakukan), (3) Lerning to be(belajar untuk menjadi diri sendiri), (4) learning to livetogether (belajar bersama dengan orang lain). Bila seorang guru dapat membekali siswanya dan memberi pondasi agar 4 pilar tadi dapat berdiri kokoh, betapa bahagianya siswa yang mempunyai guru atau pendidik yang berkualitas seperti itu. Dan betapa bangganya bangsa dan negara ini bila pendidikan bisa menjadi tonggak berdirinya suatu negara yang kokoh. Untuk mendapatkan hasil dari proses pendidikan yang maksimal tentunya diperlukan pemikiran yang kreatif dan inovatif serta didukung dengan faktor pendanaan yang mencukupi. Inovasi pendidikan tidak hanya pada inovasi sarana dan prasarana pendidikan serta kurikulum saja melainkan juga proses pendidikan itu sendiri.


Inovasi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan guna meningkatkan prestasi kearah yang maksimal. Inovasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran. Kewajiban sebagai pendidik atau guru , tidak hanya transfer of Knowlegde tapi juga dapat mengubah prilaku, memberikan dorongan yang positif sehingga siswa termotivasi, memberi suasana belajar yang menyenangkan agar mereka bisa berkembang semaksimal mungkin. Guru tidak hanya mengolah otak siswanya tapi juga mengolah jiwa anak didiknya, bila seorang guru hanya mengolah otak tanpa mempedulikan jiwa anak didiknya, alhasil mereka tumbuh menjadi manusia robot yang tidak berhati.


Anak yang cerdas, bukan saja anak yang nilai ulangannya baik, nilai rapornya tinggi, tapi emosional dan fungsi motoriknya berjalan dengan baik hingga tugas guru adalah menciptakan iklim belajar dalam pembelajaran yang sehat dan menyenangkan, memberikan dorongan kepada para siswanya agar mempunyai motivasi yang tinggi. Karenanya guru harus mengetahui model model pembelajaran sebagai bagian dalam perencanaan mengajarnya, agar siswa dapat memahami yang berikan oleh gurunya secara seksama.
Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan metode yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses pembelajaran. Guru harus senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Terdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru antara lain ; meode ceramah, metode Tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional. Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional  adalah dengan menggunakan model pembelajaran tipe jigsaw. Pembelajaran  model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam suatu perencanaan kegiatan. Dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun pada kelompoknya.

Dalam masalah ini akan dipaparkan pengertian pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Bagaimana langkah-langkah menerapkannya, kelebihan dan kelemahan model pembelajaran ini, serta bagaimana mengatasi kelemahan-kelemahan dalam menerapkan model sehingga mengarah pada pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang inovatif.
BAB II. PEMBAHASAN
Dalam era global, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga informasi lebih mudah diperoleh. Hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa  dalam proses belajar mengajar. Keaktifan disini berarti keaktifan mental walaupun untuk ini sedapat mungkin dipersyaratkan keterlibatan langsung keaktifan fisik dan tidak hanya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru yang hanya mengandalkan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru maembuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berakibat pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif maupun empat aspek, yaitu 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya; 3) interaksi social, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkunga sosial, dan 4) ekulibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Hal ini juga diperkuat oleh teori belajar kognitif lainnya yaitu oleh teori Vygotsky yang dikenal dengan “scaffolding”. Scaffolding adalah memberikan kepada seorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjekan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah kedalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
A. Metode Pembelajaran Jigsaw
Pada awalnya metode ini dikembangkan oleh Elliot Arronson dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin (Nurhadi, 2004:65). Metode  jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian
Langkah-langkah dalam pembelajaran dengan menggunakan metode Jigsaw adalah:
  1. Kelas dibagi menjadi beberapa tim atau kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang dengan karakteristik yang berbeda.
  2. Setiap siswa yang ada di “kelompok awal” mengkhususkan diri pada satu bagian dari sebuah unit pembelajaran. Para siswa kemudian bertemu dengan anggota kelompok lain yang ditugaskan untuk mengerjakan bagian yang lain, dan setelah menguasai materi lainnya ini mereka akan pulang ke kelompok awal mereka dan menginformasikan materi tersebut ke anggota lainnya.
  3. Semua siswa dalam “kelompok awal” telah membaca materi yang sama dan mereka bertemu serta mendiskusikannya untuk memastikan pemahaman.
  4. Mereka kemudian berpindah ke “kelompok jigsaw” – dimana anggotanya berasal dari kelompok lain yang telah membaca bagian tugas yang berbeda. Dalam kelompok-kelompok ini mereka berbagi pengetahuan dengan anggota kelompok lain dan mempelajari materi-materi yang baru.
  5. Setelah menguasai materi baru ini, semua siswa pulang ke “kelompok awal” dan setiap anggota berbagi pengetahuan yang baru mereka pelajari dalam kelompok “jigsaw.” Seperti dalam “jigsaw puzzle” (teka-teki potongan gambar), setiap potongan gambar – analogi dari setiap bagian pengetahuan – adalah penting untuk penyelesaian dan pemahaman utuh dari hasil akhir.

Jigsaw adalah teknik pembelajaran aktif yang biasa digunakan karena teknik ini mempertahankan tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi. Menurut Arends(1997) Fasilitator / guru dapat mengatur strategi jigsaw dengan dua cara:
Pengelompokkan Homogen :
Instruksi: Kelompokkan para peserta yang memiliki kartu nomor yang sama. Misalnya, para pe serta akan diorganisir ke dalam kelompok diskusi berdasarkan apa yang mereka baca. Oleh karena itu, semua peserta yang membaca Bab 1, Bab 2, dst, akan ditempatkan di kelompok yang sama.
Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di atas meja.
Kelebihan: Pengelompokan semacam ini memungkinkan peserta berbagi perspektif yang ber beda tantang bacaan yang sama, yang secara potensial diakibatkan oleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap salah satu bab. Potensi yang lebih besar untuk memunculkan proses analisis daripada hanya sekedar narasi sederhana.
Kelemahan: fokusnya sempit (satu bab) dan kemungkinan akan berlebihan.

Pengelompokkan Hiterogen
Instruksi: Tempatkan para peserta yang memiliki nomor yang berbeda-beda untuk duduk ber sama. Misalnya, setiap kelompok diskusi kemungkinan akan terdiri atas 4 individu: satu yang telah membaca Bab 1, satu yang telah membaca Bab 2, dsb.
Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di setiap meja. Biarkan para peserta mencari tempatnya sendiri sesuai bab yang telah mereka baca berdasarkan “siapa cepat ia dapat”.
Kelebihan: Memungkinkan “peer instruction” dan pengumpulan pengetahuan, memberikan pe serta informasi dari bab-bab yang tidak mereka baca.
Kelemahan: Apabila satu peserta tidak membaca tugasnya, informasi tersebut tidak dapat dibagi/ didiskusikan. Potensi untuk pembelajaran yang naratif (bukan interpretatif) dalam berbagi informasi.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Jigsaw

B. Kelebihan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

Menurut Ibrahim dkk (2000) menyatakan bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa belajar lebih banyak dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada dari guru. Ratumanan (2002) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Menurut Kardi & Nur (2000) belajar kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnis dalam kelas multibudaya dan memperbaiki hubungan antara siswa normal dan siswa penyandang cacat. Davidson (1991) memberikan sejumlah implikasi positif dalam belajar matematika dengan menggunakan strategi belajar kooperatif, yaitu sebagai berikut:
  1. Kelompok kecil memberikan dukungan sosial untuk belajar matematika. Kelompok kecil membentuk suatu forum dimana siswa menanyakan pertanyaan, mendiskusikan pendapat, belajar dari pendapat orang lain, memberikan kritik yang membangun dan menyimpulkan penemuan mereka dalam bentuk tulisan.
  2. Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi semua siswa dalam matematika. Interaksi dalam kelompok dirancang untuk semua anggota mempelajari konsep dan strategi pemecahan masalah.
  3. Masalah matematika idealnya cocok untuk diskusi kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstrasikan secara objektif. Seorang siswa dapat mempengaruhi siswa lain dengan argumentasi yang logis.
  4. Siswa dalam kelompok dapat membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka-teki, atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.
  5. Ruang lingkup matematika dipenuhi oleh ide-ide menarik dan menantang yang bermanfaat bila didiskusikan. Belajar kooperatif dapat berbeda dalam banyak cara, tetapi dapat dikategorikan sesuai dengan sifat berikut (1) tujuan kelompok, (2) tanggung jawab individual, (3) kesempatan yang sama untuk sukses, (4) kompetisi kelompok, (5) spesialisasi tugas, dan (6) adaptasi untuk kebutuhan individu (Slavin-1995).

C. Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi ‘pengganjal’ aplikasi metode ini dilapangan yang harus kita cari jalan keluar atau solusinya, menurut (Roy Killen, 1996) adalah:
  1. Prinsip utama pola pembelajaran ini adalah “peer teaching”, pembelajaran oleh teman sendiri, ini akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan di diskusiskan bersama dengan siswa lain. Dalam hal ini pengawasan guru menjadi hal mutlak di perlukan, agar jangan sampai terjadi “missconception”.
  2. Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan meteri pada teman, jika siswa tidak punya rasa percaya diri. Pendidik harus mempu memainkan perannya mengorkestrasikan metode ini.
  3. Rekord siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelas tersebut.
  4. Awal penggunaan metode ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.
  5. Aplikasi metode ini pada kelas yang besar (lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit. Tapi bisa diatasi dengan model “team teaching”.


Berdasarkan uraian di atas, dapat di sederhanakan baik kelebihan maupun kelemahan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu:
  1. Guru berperan sebagai pedamping, penolong, dan mengarahkan siswa dalam mem[elajari materi pada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada teman-temannya.
  2. Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat.
  3. Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.

Sementara dalam penerapannya sering dijumpai beberapa permasalahan atau kelemahan-kelemahan, yaitu:
  1. Pembagian kelompok yang tidak heterogen, dimungkinkan kelompok yang anggotanya lemah semua.
  2. Penugasan anggota kelompok untuk menjadi ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.
  3. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi.
  4. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi ketika sebagai tenaga ahli sehingga dimungkinkan terjadinya kesalahan(miskonsepsi)
Solusi MEngatasi Kelemahan Model Pembelajaran Jigsaw
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang muncul dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Pengelompokan dilakukan dengan terlebih dahulu mengurutkan kemampuan matematika siswa dalam kelas (siswa tidak perlu tahu).  Misalnya jumlah siswa dalam kelas 32 orang, kita bagi dalam bagian 25% (rangking 1-8) kelompok sangat baik, 25% (rangking 9-16) kelompok baik, 25 % selanjutnya (rangking 17-24) kelompok sedang. 25% (rangking 25-32) rendah. Selanjutnya kita akan membaginya menjadi 8 grup (A-H) yang isi tiap-tiap grupnya heterogen dalam kemampuan matematika, berilah indeks 1 untuk siswa dalam kelompok sangat baik, indek 2 untuk kelompok baik, indek 3 untuk kelompok sedang dan indek 4 untuk kelompok rendah.
  2. Sebelum tim ahli kembali ke kelompok asal yang akan bertugas sebagai tutor sebaya, perlu dilakukan tes penguasaan materi yang menjadi tugas mereka. Bila ditemukan ada anggota ahli yang belum tuntas, maka dilakukan remedial yang dilakukan oleh teman satu tim.

BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:

  1. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat mendorong siswa untuk menjadi siswa yang mandiri dan otonom.
  2. Pergeseran peran guru selama pembelajaran sehingga mendorong adanya pembelajaran yang berpusat pada siswa. 
B. Saran
  1. Dalam menerapkan pembelajarn kooperatif tipe jigsaw harus memperhatikan tingkat heterogenitas masing-masing kelompok asal danb pemberian tugas yang akan menjadi tim ahli sesuai dengan kemampuan siswa.
  2. Guru harus selalu memupuk tanggung jawab individu maupun kelompok dalam pembelajaran.

11/17/17

Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Pendidikan : Pengaruh Model pembelajaran Jig Saw dan STAD Terhadap Hasil Belajar

11/15/17

Makalah Tentang Bahasa : Pengertian dan Hakikat Bahasa

Makalah Tentang Bahasa
Makalah Tentang Bahasa
Makalah Tentang Bahasa

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. selain sebagai alat komunikasi juga sebagai lambang identitas suatu bangsa. Bahsa di Negara kita yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sangatlah penting penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi antar warga yang satu dengan yang lain. bahasa Indonesia juga merupakan bahasa nasional Indonesia yang mana setiap warga wajib mengetahuinya dan bahasa Indonesia juga merupakan bahasa persatuan Negara kita. Oleh karena hal itu, sebelumnya kita harus mengetahui hakikat bahasa terlebih dahulu.

3 Contoh Analisis Jurnal Pendidikan Ilmiah

Hal yang pertama kali yang diajarkan kepada mahasiswa sebelum mereka memulai untuk belajar menulis karya tulis ilmiah yaitu mengenal karya tulis ilmiah itu sendiri.

Karya tulis ilmiah dapat disajikan salah satunya dalam bentuk jurnal.

11/13/17

8 Keterampilan Dasar Mengajar yang Harus Dikuasai Guru Lengkap!!

Keterampilan Dasar Mengajar Guru

Dalam proses pembelajaran guru memegang peran yang sangat penting.
Beberapa pendapat mengakatan guru merupakan kunci kesuksesan dari proses pembelajaran.

8 keterampilan dasar mengajar
8 keterampilan dasar mengajar

11/10/17

Artikel Pendidikan Karakter : Penerapan Nilai-Nilai Karakter Melalui Mata Pelajaran PKN

Pada postingan sebelumnya telah dijelaskan tentang pengertian pendidikan karakter beserta tujuannya. Selain itu juga telah diberikan penerapan contoh dari pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

11/9/17

Contoh pendidikan karakter dalam kehidupan sehari -hari

Pendidikan Karakter
Sebelumnya kuta sudah menuliskan pengertian dan tujuan pendidikan karakter pada postingan sebelumnya. Silahkan di baca pada pengertian dan tujuan pendidikan karakter.

Pada artikel tersebut disebutkan bahwa pendidikan karakter bersumber dari 2 kata yaitu pendidikan dan karakter.
Pendidikan artinya adalah usaha yang dilakukan untuk merubah ke arah yang lebih baik dari yang tidak tau menjadi tau, proses mendewasakan diri melalui belajar atau pelatihan.

Semenraea karakter merupakan sifat sifat atau prilaku, akhlak yang dimiliki seseorang. Akhlak dalak konteks karakter ini lebih bersifat positif bukan netral dan tidak negatif. Artinya sifat dalam konteks karakter adalah sifat yang baik.

Dari situ kita mengetahui bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan untuk memberikan identitas sikap yanv positif kepada individu atau kelompok.

 

Pendidikan karakter identik dilaksanakan di sekolah

Selama ini kita mengenal pendidikan karakter ada di sekolah. Ya sekolah mengenalkan pendidikan karakter dalam upaya untuk mencapai tujuan nasional pendidikan. Seperti yang sudah tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang pada intinya menyebutkan bahwa pendidikan di indonesia berupaya untuk menciptakan manusia indonesia yang berkahlak mulia, beriman, bertaqwa, terampil, kreatif, dll.

Dalam upayanya tersebut maka pendidik di sekolah dalam hal ini guru membuat pembelajaran berbasis karakter. Tujuannya agar dalam pembelajaran (materi) yang diberikan juga terdapat muatan implementasi penumbuhan karakter. Ini sering tertuang dalam rencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP).

RPP berkarakter di susun guna memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk belajar dan secara langsung mengimplementasikan pendidikan karakter. Dari situ maka diharapkan pendidikan karakter dapat di terima dan tercermin dalam perilaku individu/siswa sekolah.

Meskipun begitu nyatanya implementasi pendidikan karakter tidak semata mata hanya dilaksanakan di Sekolah.
Pendidikan karakter juga dapat dilaksanakan di kehidupan sehari-hari.

Bagaimana caranya?

Menjalankan Sholat Bersama
Untuk menunjukan nya, perhatikan contoh-contoh implementasi pendidikan karakter dalam kehidupan sehari hari.

Contoh :
1. Mengajarkan Sholat 5 waktu bersama keluarga

Nyatanya untuk menumbuhkan nilainkarakter religius tidak selamanya harus dilaksanakan di sekolah. Di rumah pun bisa dilakukan. Dengan mengajak ayah, ibu dan anak anak untuk menjalankan sholat 5 waktu secara berjamaah juga dapat mengajarkan nilai nilai religius.

Orang tua yang bersedia untuk memberikan waktunya bersama sama menjalankan sholat bersama keluarga. Akan memberikan contoh yang bagus kepada anak. Mereka akan nyaman dan dengan sendirinya akan meniru setiap nilai nilai yang terkandung dalam kegiatan sholat berjamaah tersebut.

Berbicara dengan anak
2. Berkomunikasi dengan Anak dan Meminta Selalu Mengatakan Sebenarnya

Dalam kehidupan sehari hari, seseorang dapat melakukan tindakan bohong. Bohong biasanya terjadi untuk melindungi diri agar tidak kena marah, membuat diri sendiri senang, dan berbagai macam alasan lainnya.

Seorang anakpun begitu, mereka dapat berbohong. Biasanya terjadi jika mereka merasa takut. Mereka takut untuk berkata sebenarnya dengan alasan takut kena marah dan lain lain.

Kebiasaan tersebut tidaklah baik, sikap berbohong akan ada dalam diri anak jika tidak segera di selesaikan. Untuk itu orang tua dapat melakukan komunikasi yang menyenanglan dengan anak. Komunikasi yang menyenangkan adalah komunikasi yang tidak membuat anak tertekan dan takut.

Dengan komunikasi yang menyenangkan orang tua dapat membuat anak selalu berkata jujur. Walau mereka berbuat salah, mereka akan menyampaikan bahwa mereka salah. Selanjutnya adalah membentuk tanggung jawab. Yaitu kondisi setelah seorang anak mengetahui mereka melakukan kesalahan dan menjalankan konsekuensi dari kesalahan yang telah diperbuat atau tanggung jawab.

Toleransi antar umat beragama
3. Bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai macam perbedaan latar belakang.

Indonesia adalah negara yang beragam dengan ragam aneka suku, agama, dan budaya. perbedaan tersebut tidak boleh menjadi kelemahan yang akan mencerai berai negara kita. sebaliknya dengan perbedaan akan menjadi satu negara utuh yang kuat dan saling melengkapi.

dalam kehidupan sehari hari, kesempatan bersosialisasi dengan berakenaragam individu dengan latar berbeda beda dapat menumbuhkan nilai toleransi. oleh sebab itu sosialisasi tidak baik untuk dibatasi khusunya pembatasan berdasarkan RAS.

4. Mengajarkan Anak untuk mengerjakan setiap tugasnya

Dalam kehidupan sehari hari, anak memiliki tugas masing masing, entah tugas sekolah, tugas rumah seperti membersihkan tempat tidur, mencuci sepatu sendiri, makan sendiri, dll.

Mengajarkan anak untuk mengerjakan setiap tugas secara mandiri dapat menumbuhkan karakter disiplin seorang anak tersebut. Oleh sebab itu penting dalam kehidupan sehari hari seorang anak mengerjakan setiap tugasnya secara mandiri. Sehingga kedisiplinan dia akan terbentuk sejak dini.

Berdiskusi dengan keluarga
5. Berdiskusi untuk menentukan warna baju keluarga.

Untuk menumbuhkan nilai nilai demokrasi dalam kehidupan sehari hari. Mengapa kita tidak mulai dengan hal sederhana.

Seperti : selalu melakukan diskusi dengan anggota keluarga untuk memilih warna baju yang senada.
Hal kecil tersebut dapat.menjadi contoh untuk melatih demokrasi pada anak. Bahwa segala hal di kehidupan kita dapat di bicarakan untuk menemukan jalan keluar yang disepakati oleh semua pihak.
Kita juga dapat melakukan berbagai macam hal lainnya.
Seperti menentukan rumah makan secara bersama sama.
Berdiskusi memilih lokasi liburan keluarga, dll.

Suporter Timnas
6. Menonton TIMNAS bertanding

Untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Ternyata sangat mudah. Kita sering melihat sepak bola, atau bulu tangkis. Dimana timnasional kita bertanding dengan negara lain. Ternyata dengan menonton dan memberikan dukungan kepada atlet yang bertanding dapat juga menumbuhkan karakter kecintaaan kita terhadap tanah air.

Dalam kehidupan sehari hari kita sering menonton Timnas Sepak Bola, misalkan timnas kita mengalami kekalahan kita akan merasa sedih jika Timnas kita menang kita bahagia  itu adalah perasaan yang sudah mendalam bahwa kita mencintai negara Indonesia atau tanah air. Jika itu dilakukan terus menerus maka karakter kuta akan meningkat dari hari ke hari.

Demikian beberapa contoh dari pendidikan karakter dalam kehidupan sehari hari.

Ternyata dapat dengan mudah di terapkan. Dari situ kita ketahui bahwa nyatanya pendidikan karakter tidak hanya dapat dilakukan di sekolah dan dilakukan oleh guru saja. Orang tua, teman, masyarakat juga dapat berperan untuk memberikan pendidikan karakter terhadap individu individu lainnya.

Demikia Artikel ini ditulis. Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa untuk shere artikel ini jika dirasakan bermanfaat.

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli

Salah satu nilai yang gencar gencarnya di masukan dalam pendidikan oleh pemerintah saat ini adalah karakter. Sekolah diharapkan oleh pemerintah mampu menyelenggarakan pendidikan berbasis karakter atau yang disebut dengan pendidikan karakter.

Bahkan pendidikan karakter atau nilai karakter juga sering kita temui saat guru membuat RPP.


Data Google Trend Menunjukan Jumlah Pencarian Kata RPP Berkarakter

Dari data yang diperoleh dari google trend, dapat terlihat bahwa pencarian dengan kata kunci "rpp berkarakter" cukup banyak. Hal tersebut menunjukan bahwa banyak guru mencoba untuk mengetahui bagaimana atau seperti apa contoh rpp berkarakter.

Contoh RPP Berkarakter K13 revisi 2017


  


Pendidikan karakter nampaknya memang benar benar gencar di informasikan kepada para pendidik. Tujuannya jelas agar pendidik (guru) di sekolah dapat mengimplementasikan pendidikan berbasis karakter di sekolah.


Definisi Pendidikan Karakter

Apakah yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Rupanya walau sudah banyak yang mencoba menerapkan pendidikan karakter dalam kelas, tidak semua sudah memahami pendidikan karakter secara utuh.

Berikut ini penjelasan tentang pendidikan karakter :

Pendidikan karakter berasal dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter.

Pendidikan memiliki arti sebagaui proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Pendidikan juga disebut sebagai media untuk pengubahan individu dari tau menjadi tidak tahu atau arena untuk belajar.

Sementara karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter ini lebih cendrung kepada sifat sifat, akhlak yang positif bukan yang netral apalagi negatif.

sehingga pendidikan karakter ini adalah pengajaran atau proses untuk membentuk sifat sifat yang positif.

untuk lebih jelasnya perhatikan pengertian pendidikan karakter menurut ahli.


Definisi pendidikan karakter

1. Depdiknas (2010)
Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik�.

Pengertian yang disampaikan oleh Depdiknas tersebut menekankan bahwa guru adalah seseorang yang berperan dalam tercapainya pendidikan karakter. Guru diharapkan mampu untuk membentuk karakter dari peserta didik. Oleh sebab itu guru harus bisa menunjukan atau memberikan teladan kepada peserta didik tentang karakter yang meliputi cara bersosialisasi, cara menyampaikan materi, cara berperilaku dan hal lainnya.

Pendidikan karakter memberikan kesempatan kepada individu untuk memiliki perilaku yang positif. Meski begitubkarakter seseorang tumbuh bersamaan dengan lingkungan sosial disekitarnya. Hal tersebut membuat lingkungan sekitar ikut berperan dalam membentuk karakter seseorang. Sehingga guru harus mengambil peran lebih lagi supaya karakter tersebut tidak tergerus oleh hal hal negatif.

2. Menurut Suyanto (2009)
Mengemukakan pendidikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara

3. T. Ramli (2003)
Menurutnya pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah untuk membentuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga negara yang baik.

4. Elkind (2004)
Pendidikan karakter ialah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

5. Thomas Lickona
Menyatakan bahwa pendidikan karakter merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nilai-nilai etika yang pokok.

6. Jhon W. Santrock
Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain.

7. Menurut Kartajaya
Pendidikan karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individe tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.

8. Menurut Kamus Psikologi
Menurut kamus psikologi pendidikan karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. (Dali Gulo, 1982).


Dari berbagai macam pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa : pejdidikan karakter adalah usaha atau pendekatan atau cara yang dilakukan guna memberikan ciri, pengetahuan dan identitas pada diri individu tertentu.

Pendidikan karakter disebut cara karena ini merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk membentuk ciri khas positif pada individu.


Bagaimanakah cara membentuknya?
Berikut ini pendapat para ahli tentang cara membentuk karakter individu.

Ridwan (2012:1) menjelaskan ada tiga hal pembentukan karakter yang perlu
diintegrasikan yaitu: �

1. Knowing the good, artinya anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan yang harus diambil dan mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Membentuk karakter anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut. �

2. Feeling the good, artinya anak mempunyai kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Pada tahap ini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. Sehingga jika kecintaan ini sudah tertanam maka hal ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa dari dalam diri anak untuk melakukan kebaikan dan mengurangi perbuatan negatif.�

3. Active the good, artinya anak mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya. Pada tahap ini anak dilat untuk melakukan perbuatan baik sebab tanpa anak melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan akan ada artinya (http://www.adzzikro.com)�


Tujuan Pendidikan Karakter

Apakah tujuan dari pendidikan karakter itu?
Coba perhatikan UU No. 20 Th 2003 Tentang Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan nasional pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Akibat dari tujuan tersebut yaitu pendidikan harus mampu untuk membentuk manusia yanf memiliki ciri seperti tercantum dalam tujuan pendidikan di atas. Semua ciri individu yanf disebutkan di atas adalah sifat sifat positif yang mana dapat diperoleh salah satunya yaitu dengan menerapkan blpendidikan karakter (usaha yang dilakukan untuk membentuk individu yang berkarakter).

Sehingga secara sederhana kita dapat menyebutkan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk mencapai tujuan nasional pendidikan yaitu membentuk manusia yang bertaqwa, beriman, berakhlak, berilmu, berketerampilan, mulia, sehat, mandiri, dan kreatif.

Untuk lebih memperjelas karakter apa saja yang diharapkan muncul dalam suatu pendidikan. Maka pemerintah merinci dalam 18 karakter dalam pendidikan.


18 Karakter yg Harus Dimiliki oleh Siswa

1. Religius
Adalah sikap dan perilaku untuk berketuhanan, patuh menjalankan ajaran agama, menghormati atau toleran dengan agama lainnya, atau hidup rukun dengan penganut agama lainnya.

2. Jujur
Merupakan perilaku tidak suka berbohong, mengatakan sesuai dengan fakta, prilaku ini menjadikan orang lain percaya terhadap perkataan, tindakan dan pekerjaan.

3.Toleransi
Perilaku untuk saling menghargai perbedaan antara agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan dari orang lain yang berbeda dengan diri individu.

4. Disiplin 
Perilaku yang menunjukan adanya kepatuhan terhadap ketertiban dan aturan yang berlaku pada suatu lingkungan.

5. Kerja Keras
perilaku yang menunjukan keseriusan dalam mengerjakan setiap tugas yang dia hadapi. hal tersebut akan nampak dalam usaha nya yang ulet dan pantang menyerah.

6. Kreatif 
kemampuan berfikir untuk dapat memberikan ide ide baru dalam usaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

7. Mandiri 
sikap untuk tidak mudah bergantung terhadap orang lain. perilaku ini menunjukan adanya keinginan untuk menyelesaikan tugas tugasnya tanpa ada ketergantungan. 

8.Demokratis 
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain

9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar

10.Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

11. Cinta Tanah Air 
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa

12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 

13. Bersahabat/Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. 

14.Cinta Damai 
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. 

15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. 

16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi

17. Peduli Sosial 
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung-jawab 
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Referensi :
http://jurnalmadi.blogspot.co.id/2012/06/tujuan-pendidikankarakter-adalah.html?m=1

http://www.spengetahuan.com/2016/03/6-pengertian-pendidikan-karakter-menurut-para-ahli.html

https://pndkarakter.wordpress.com/category/tujuan-dan-fungsi-pendidikan-karakter/


10/19/17

Model Pembelajaran TGT : Pengertian, Karakteristik, SIntaks, Kelebihan dan Kekurangan

Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

A. Pengertian Model Pembelajaran

 
Model Pembelajaran TGT (Berkelompok)
Model Pembelajaran TGT (Berkelompok)
Joyce (dalam Trianto, 2007:5) menyatakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas dengan menentukan perangkat-perangkat pembelajaran untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Joyce dan Weil (dalam Prastowo, 2013:69) menyatakan model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum dan pembelajaran jangka panjang, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di dalam atau di luar kelas.

Pengertian Aktivitas Belajar Menurut Para Ahli

Pengertian Aktivitas Belajar Siswa

  Aktivitas Belajar
Aktivitas Belajar
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, aktivitas belajar adalah kegiatan mengolah pengalaman data praktik dengan cara mendengar, membaca, menulis, mendiskusikan, merefleksikan rangsangan, dan memecahkan masalah. Menurut Rusman (2013:388) menyatakan penerapan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dapat dilakukan melalui pengembangan berbagai ketrampilan belajar yaitu: (1) berkomunikasi lisan dan tertulis secara efektif; (2) berpikir logis, kritis, dan kreatif; (3) rasa ingin tahu; (4) penguasaan teknologi dan informasi; (5) pengembangan personal dan sosial; (6) belajar mandiri.

10/18/17

10 Cara Membentuk Kebiasaan Belajar yang Baik dan Kebiasaan Belajar yang tidak Baik

Pengertian Kebiasaan Belajar

Menurut Djaali(2014:128) mengemukakan bahwa pengertian kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis. Sedangkan menurut Slameto (2013:82), belajar bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan, dan keterampilan, cara-cara yang dipakai itu akan menjadi kebiasaan. Menurut Burghardt dalam Syah (2009:120), kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang.

7 Prinsip-Prinsip Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhi Belajar

Pengertian Belajar

Menurut Sudjana (2014:28), belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Sedangkan menurut Slameto (2010:2) menyatakan bahwa, belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pendapat lain menurut Crow and Crow dalam Hamdani (2010:21) mengemukakan bahwa, belajar adalah upaya pemeroleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap baru.

10/17/17

Pengertian, Langkah-Langkah, Kelebihan dan Kekurangan Metode Field Trip (karya wisata)

Metode Field Trip (karya wisata)

Pengertian Metode Field Trip (karya wisata)

Metode Field Trip (karya wisata)
Metode Field Trip (karya wisata)

Model Pembelajaran Team Assisted Individualization : Pengertian, Langkah-Langkah dan Keuntungan serta Kelemahan

Model Pembelajaran

Berbagai cara telah dilakukan guru agar dapat membuat siswa tertarik mengikuti pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran. Menurut Rusman (2014:144) model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Menurut Dahlan (dalam Sutikno 2014:57) model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran ataupun setting lainnya.

10/16/17

Pengertian Hasil Belajar Menurut Para Ahli dan Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa

Hasil Belajar, Jenis Hasil Belajar dan Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
A. Pengertian Hasil Belajar
Pengertian Hasil Belajar

Kemampuan yang dimiliki siswa berbeda-beda setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Bloom (dalam Suprijono 2013:6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif terdiri dari knowledge (pengetahuan, ingatan); comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh); application (menerapakan); analysis (menguraikan, menentukan hubungan); synthesis (mengorganisasikan, merencanakan); dan evaluating (menilai). Kemampuan afektif terdiri dari receiving (sikap menerima); responding (memberikan respon), valuing (nilai); organization (organisasi); characterization (karakterisasi. Kemampuan psikomotorik meliputi initiatory, pre-rountie, dan rountinized.

KAJIAN TEORI : MEDIA PEMBELAJARAN, PENGERTIAN, LANDASAN, MANFAAT, JENIS, dan CARA MEMILIH MEDIA

Media Pembelajaran

A. Pengertian Media Pembelajaran
Pengertian Media Pembelajaran

Ditinjau dari segi bahasa, menurut Arsyad (2013: 3) media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’. Sementara ditinjau secara istilah menurut Heinich, dan kawan kawan (1982) dalam Arsyad (2013: 3) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Definisi tersebut menekankan istilah media sebagai sebuah perantara. Media berfungsi untuk menghubungan sebuah informasi dari satu pihak ke pihak lainnya.

Pengertian Hakikat Belajar Menurut Para Ahli dan Hakekat Pembelajaran Menurut Para Ahli

A. Hakikat Belajar
Hakikat Belajar
Manusia memiliki kemampuan untuk selalu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Kemampuan manusia semakin bertambah dengan banyaknya pengalaman yang didapat. Belajar merupakan proses di mana manusia mencari pengalaman untuk terus bertahan hidup. Menurut Burton (1984) dalam Siregar (2014: 4), “belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya”. Gagne dan Berliner (1983: 252) dalam Rifa’i (2011: 82) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya sebagai hasil dari pengalaman.

10/7/17

Teori Belajar Behaviorisme Skinner dan Penerapannya Dalam Pembelajaran di Kelas

Belajar menurut pandangan Skinner.
Jadi skinner berpandangan bahwa belajar adalah sebuah perilaku. Skinner berpendapat seseorang yang belajar akan memiliki Respon yang lebih baik, sebaliknya jika seseorang tidak belajar maka responnya akan menurun.

10/6/17

Pengertian, Fungsi dan Ruang Lingkup SKL (Standar Kompetensi Lulusan)

Pengertian, Fungsi dan Ruang Lingkup SKL (Standar Kompetensi Lulusan)
Pengertian, Fungsi dan Ruang Lingkup SKL (Standar Kompetensi Lulusan)

A.      Pengertian Standar Kompetensi lulusan (SKL)
Kompetensi adalah kemapuan bersikap, berpikir dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki peserta didik. Standar kompetensi adalah ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.

10/2/17

3 Contoh Latar Belakang Masalah Penelitian Pendidikan

Latar belakang adalah dasar atau dapat kita sebut juga sebagai alasan yang menjadi titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar tentang apa yang ingin kita sampaikan.

Latar bekalang biasanya kita  buat pada saat kita membuat artikel ilmiah atau karya tulis ilmiah, seperti: makalah, skripsi, PTK dll.

Dalam menulis latar belakang kita harus menuliskannya dengan jelas. Mulai dari masalah yang ditemui, data-data yang menunjukan masalah tersebut, landasan yuridisnya, landasan teoritis yang relevan, sehingga menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.

Dalam menulis latar belakang masalah pendidikan, susunannya tidak terlalu berbeda dengan penyusunan latar belakang pada umumnya, ada 4 hal sekiranya yang menjadi inti dari penulisan latar belakang yang baik yaitu:
  1. Menemukan Masalah
  2. Data Pendukung sebagai bukti ditemukannya masalah
  3. Ada solusi dari masalah yang didukung oleh (teori-teori yang relevan)
  4. Adanya pengajuan hipotesis (jawaban sementara)

Setelah memahami tentang langkah-langkahnya. berikut ini saya lampirkan contoh latar belakang pendidikan.
Contoh Latar Belakang Masalah Pendidikan
Contoh Latar Belakang Masalah Pendidikan

Contoh 1 : Pengaruh Metode Pembelajaran Ekspositori Terhadap Motivasi Belajar Siswa
sumber : eprints.uny.ac.id/1394/2/Bab_I_-_Daftar_Pustaka.doc

Latar Belakang

Dalam suatu lembaga pendidikan keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Hasil belajar tersebut merupakan prestasi belajar peserta didik yang dapat diukur dari nilai siswa setelah mengerjakan soal yang diberikan oleh guru pada saat evaluasi dilaksanakan. Keberhasilan pembelajaran di sekolah akan terwujud dari keberhasilan belajar siswanya. Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun dari luar individu. Faktor dari dalam individu, meliputi faktor fisik dan psikis, di antaranya adalah motivasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat memberikan dukungan yang positif dalam belajar, namun dapat juga menghambat proses belajar. Hambatan-hambatan yang terjadi berakibat pada hasil belajar individu yang mengalami proses belajar tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Keadaan-keadaan tersebut berdampak pada timbulnya masalah pada proses belajar selanjutnya. Motivasi belajar siswa yang rendah akan menjadi hambatan yang sangat berarti pada proses pembelajaran, karena dapat mengakibatkan prestasi belajar siswa rendah. Oleh karena itu guru diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

Permasalahan belajar seperti yang diungkapkan tersebut terjadi pada siswa di SMK Negeri 7 Yogyakarta kelas XI Penjualan. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian nilai matematika yang rendah. Banyak siswa yang memperoleh nilai matematika di bawah 60, tidak sesuai yang diharapkan oleh guru. Anggapan tentang sulitnya belajar matematika sering mendominasi pemikiran siswa sehingga banyak di antara mereka kurang berminat untuk mempelajari matematika dan siswa kurang termotivasi dalam belajar. Selain itu, pembelajaran juga masih terpusat pada guru. Guru banyak menjelaskan dan siswa kurang diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan temannya.

Berdasarkan observasi peneliti di sekolah yang dilakukan pada bulan Februari-Maret tahun 2008 dan wawancara dengan guru matematika, 28 dari 37 siswanya kurang memahami pelajaran matematika hal ini dilihat dari nilai tes matematika yang kurang dari 60. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa  motivasi dan minat belajar matematika siswa rendah. Rendahnya motivasi dan minat belajar siswa dapat dilihat pada saat siswa menerima materi pelajaran.  Hal ini ditunjukkkan dengan sikap siswa yang cenderung ramai sendiri, mengobrol dengan teman, ada beberapa siswa yang mengerjakan PR pelajaran lain dan kurang memperhatikan pembelajaran yang sedang berlangsung. Bila siswa diberi latihan soal yang agak sulit, siswa tidak mengerjakan soal tersebut dan tidak termotivasi untuk mencari penyelesaian dari soal tersebut. Siswa lebih senang menunggu guru menyelesaikan soal tersebut. Hal ini disebabkan siswa kurang diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.

Mengingat bahwa siswa merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan, perlu diupayakan adanya pembenahan terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan optimalisasi prestasi belajar siswa. Sehubungan dengan keberhasilan belajar, Slameto (1988: 62) berpendapat bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi belajar siswa.
  1. Faktor internal, merupakan faktor di dalam diri siswa yang meliputi faktor fisik misalnya kesehatan dan faktor psikologis, misalnya motivasi, kemampuan awal, kesiapan, bakat, minat dan lain-lain.
  2. Faktor eksternal, merupakan faktor yang ada di luar diri siswa, misalnya keluarga, masyarakat,  sekolah dan lain-lain.

Selanjutnya mengenai keberhasilan belajar matematika Herman Hudoyo (1988: 6-7) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar matematika sebagai berikut.
  1. Peserta didik, meliputi: kemampuan, kesiapan, minat, motivasi, serta kondisi siswa pada saat mengikuti kegiatan belajar matematika.
  2. Pengajar, meliputi: pengalaman, kepribadian, penguasaan materi matematika dan cara penyampaian yang diberikan oleh guru.
  3. Prasarana dan sarana, meliputi ruangan, alat bantu belajar, buku tulis dan sumber belajar yang membantu kelancaran proses belajar-mengajar.
  4. Penilaian, digunakan untuk melihat hasil belajar matematika siswa sehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar dan memperbaiki hasil belajar selanjutnya.

Dari pendapat tersebut di atas ada beberapa faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan prestasi belajar siswa adalah meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika. Motivasi sebagai keseluruhan daya penggerak yang ada dalam diri siswa mampu menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki siswa dapat tercapai. Motivasi dapat berasal dari dalam diri siswa (intrinsik) maupun dari luar diri siswa (ekstrinsik).

Penggunaan metode pembelajaran ekspositori dengan pemberian kuis dapat menigkatkan motivasi belajar matematika sehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar matematika dan memperbaiki hasil belajar selanjutnya. Dengan menerapkan metode ini, pembelajaran tidak hanya terpusat pada guru tetapi siswa bisa lebih aktif dalam pembelajaran.

Berdasarkan pada permasalahan tersebut akan dilaksanakan penelitian pembelajaran matematika menggunakan metode ekspositori dengan pemberian kuis untuk memotivasi belajar matematika siswa. Metode pembelajaran ekspositori dengan pemberian kuis matematika ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi rendahnya motivasi belajar yang dialami oleh siswa.

Contoh 2 : Peranan Guru sebagai Motivator dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PAI (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung)
sumber : repo.iain-tulungagung.ac.id/1061/1/BAB%20I.doc

Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan usaha mencerdasakan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia  Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur. Hal ini sejalan dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3 yang menyebutkan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, diperlukan peningkatan dan penyempurnaan mutu pendidikan yang dalam hal ini berkaitan erat dengan peningkatan kualitas proses belajar mengajar. Sedangkan komponen peningkatan kualitas pendidikan meliputi: siswa, guru, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan sekolah, proses belajar mengajar, pengelolaan dana, supervisi dan monitoring, serta hubungan sekolah dengan lingkungan. Mutu pendidikan tersebut selanjutnya dapat dikenali melalui tanda-tanda operasional berupa: (1) keluaran/lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat; (2) nilai akhir prestasi belajar peserta didik; (3) persentase lulusan yang dicapai sekolah; dan (4) penampilan kemampuan dalam semua komponen pendidikan.

Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas / mutu proses belajar mengajar di kelas adalah kemampuan guru dalam mengajar. Sedangkan keberhasilan guru dalam mengajar tidak hanya ditentukan oleh hal-hal yang berhubungan langsung dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Seperti perumusan tujuan pengajaran dalam pembuatan rencana pembelajaran, pemilihan materi pelajaran yang sesuai, penguasaan materi pelajaran yang sesuai, pemilihan metode yang tepat serta lengkapnya sumber-sumber belajar dan yang memiliki kompetisi yang memadai untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Keberhasilan pengajaran dalam arti tercapainya tujuan-tujuan pengajaran, sangat tergantung kepada kemampuan kelas. Kelas yang dapat menciptakan situasi untuk memungkinkan anak didik dapat belajar dengan baik dengan suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran maka diperlukan motivator yang baik.
Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, setiap guru akan menghadapi berbagai masalah yakni masalah yang dapat dikelompokkan atas masalah pembelajaran dan masalah peranan guru sebagai motivator, misalnya tujuan pembelajaran tidak jelas, media pembelajaran tidak sesuai. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan sosok guru yang profesional, dimana guru yang profesional adalah guru yang tidak hanya menguasai prosedur dan metode pengajaran, namun juga sebagai motivator yang kondusif. Dalam motivasi yang kondusif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

Meningkatkan kualitas pembelajaran dalam pendidikan merupakan salah satu upaya yang sedang diprioritaskan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada proses kegiatan pembelajaran dimasa lalu banyak yang berjalan secara searah. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru menjadi amat dominan, guru sangat aktif tetapi sebaliknya siswa menjadi sangat pasif dan tidak kreatif dan kadang siswa juga dianggap sebagai obyek bukan sebagai subyek. Sehingga siswa kurang dapat dikembangkan potensinya.

Pada dasarnya guru sebagai pengajar tidak mendominasi kegiatan, tetapi membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta memberikan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreatifitasnya, melalui kegiatan belajar. Diharapkan potensi siswa dapat berkembang menjadi komponen penalaran yang bermoral, manusia-manusia aktif dan kreatif yang beriman dan bertaqwa.
Guru merupakan tenaga professional yang memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual dan harus mengetahui hal-hal yang bersifat teknis terutama hal-hal yang berupa kegiatan mengelola dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (pembelajaran). Dalam pendidikan guru dikenal adanya pendidikan guru berdasarkan kompetensi dengan sepuluh kompetensi guru yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru yaitu yang meliputi: menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/sumber, menguasai landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah serta memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Hal tersebut dianggap penting karena untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang tinggi maka harus melalui motivasi yang baik. Pada saat pengelolaan proses belajar mengajar disadari atau tidak disadari setiap guru menggunakan pendekatan dan menerapkan teknik-teknik motivator. Strategi yang biasa digunakan antara lain: memberikan nasihat, teguran, larangan, ancaman, teladan, hukuman, perintah dan hadiah. Selain itu ada guru yang memotivasi siswa dengan cara yang ketat yakni mengandalkan sikap otoriter tanpa memperhatikan kondisi emosional siswa dan ada pula yang membiarkan siswa secara penuh berbuat sesuka hati.

Lokasi yang dijadikan sasaran dalam penelitian ini adalah SMP Negeri I Kauman Tulungagung. Sekolah ini merupakan salah satu rintisan Sekolah Standard Nasional (SSN) di Tulungagung. Sehingga menarik minat saya untuk mengadakan penelitian di lembaga ini. Selain itu, di SMP Negeri I Kauman Tulungagung setiap tahunnya mampu mengantarkan siswanya lulus dengan nilai yang memuaskan.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, bahwa peran guru sebagai motivator sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Terwujudnya tujuan pendidikan tergantung pada motivasi yang dilakukan oleh guru. Maka peneliti mengambil judul "Peranan Guru sebagai Motivator dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PAI (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung)"


Contoh 3 : Penerapan Media Papan Lempar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun 2015/2016
Sumber : http://www.karyatulisku.com/2017/09/langkah-langkah-dan-contoh-membuat.html

Dewasa ini bangsa Indonesia sedang berupaya meningkatkan sumber daya manusia. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan kecerdasakan sumber daya manusia. Hal tersebut juga tidak lepas usaha untuk dapat bersaing di era globalisasi. Upaya mencerdaskan manusia Indonesia dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan.  Upaya mencerdaskan manusia Indonesia, juga telah jelas dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, pasal 3 yang menyebutkan bahwa.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Sisdiknas No 20 tahun 2003).
Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta menceradaskan kehidupan bangsa adalah pendidikan nasional. Oleh sebab itu pendidikan nasional harus mempunyai kualitas yang baik, sehingga mampu untuk mencapai fungsi dan tujuan dari pendidikan di Indonesia. Sementara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 juga menyebutkan bahwa:
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokkratis dan bertanggung jawab.
Undang-Undang tersebut juga dengan jelas menyampaikan bahwa yang menjadi tujuan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik. Peserta didik disini adalah siswa yang ada di sekolah dan potensi yang dimaksut adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa.
Mengingat pada fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional tersebut maka jelas bahwa diharapkan melalui pendidikan nasional sumber daya manusia indonesia menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Artinya kita akan melihat manusia indonesia yang berintelektual, manusia Indonesia yang berkarakter dan dapat berprestasi untuk bersaing di dunia.
Namun dewasa ini pendidikan di Indoenesia berada pada tingkat yang rendah. Dikutip DetikNews.com (2014) disebutkan bahwa hasil survei dari PISA (Program for International Student Assesment) tahun 2012 memperlihatkan bahwa negara Indonesia berada diperingkat rendah. Negara yang paling rendah dalam peringkat ini adalah Peru dan Indonesia. Lebih lanjut dikutip dari MetrotvNews.com (2013) disampaikan bahwa tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke-61 dari 65 negara anggota PISA. Indonesia hanya mengumpulkan skor membaca 396 poin. Untuk literasi matematika, pelajar Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 375. Adapun skor literasi sains berada di peringkat 64 dengan skor 382. Sedangkan dikutip dari Kompas.com (2012) disebutkan bahwa hasil research dari Firma Pendidikan Pearson sistem pendidikan Indoensia berada di posisi terbaFwah bersama Meksiko dan Brazil. Dari hasil tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan di Indonesia masihlah rendah dan jauh dibandingkan dengan negara-negara lain.
Kondisi tersebut jelas menunjukan bahawa terjadinya ketimpangan yaitu anatar harapan dengan kenyataan. Harapan dari adanya pendidikan nasional yaitu mampu mengembangkan kualitas sumber daya manusia, sehingga dapat bersaing di era global dengan negara-negara lain. Namun kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, pendidikan nasional belum mampu secara maksimal mengembangkan manusia indonesia yang mampu bersaing di era global. Ketimpangan tersebut menjadikan adanya masalah yaitu kualitas pendidikan nasilan yang masih kurang.
Kualitas pendidikan salah satunya ditentukan oleh suasana kondusif dalam proses belajar. Suasana kondusif sangat mempengaruhi kondisi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut Rianto (2007:1), tingkat keberhasilan pembelajaran amat ditentukan oleh kondisi yang terbangun selama pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang semakin kondusif, maka tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi dan sebaliknya. Lebih lanjut kondusifitas proses belajar di kelas juga dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengajar. Kemapuan guru dalam memfasilitasi perserta didik dalam belajar meliputi kemampuan guru dalam menyajikan pembelajaran, menggali kemampuan siswa dan mengembangkan potensi dari siswa.
Oleh sebab itu untuk menginkatkan kualitas dari pendidikan nasional dapat dilakukan oleh guru dengan meningkatkan kemampuannya dalam memfasilitasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Rusman (2015: 21) “pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya”. Komponen-komponen yang saling berhubungan dalam pembelajaran yaitu tujuan, materi, media dan strategi pembelajaran. Maka dengan kemampuan guru mengorganisir pembelajaran dengan baik, dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Namun, kondisi yang terjadi di sekolah, tidak sepenuhnya terjadi seperti yang diharapkan yaitu terjadinya proses pembelajaran yang terorganisir dengan baik. Sebaliknya yang terjadi adalah kurang optimalnya proses belajar mengajar yang terdapat di sekolah.  Dari pengamatan yang dilakukan oleh penulis pada proses belajar siswa di kelas IV SD  Jomblang 01 Kota Semarang  ditemukan kondisi-kondisi sebagaimana berikut yaitu, kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, siswa kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru serta hasil belajar siswa, dimana sebanyak 22 anak tidak mampu untuk mencapai nilai KKM pelajaran matematika.
Sementara dari hasil wawancara dengan guru kelas yaitu Ibu Anjar S.Pd menyampaikan bahwa konsentrasi belajar siswa memang tidak lama, konsentrasi maksimal siswa hanya mencapai 10-15 menit dalam awal proses pembelajaran selebihnya kurang optimal. Siswa juga kurang antusias dalam belajar sehingga kurang mampu memahami materi.
Kondisi-kondisi yang terjadi di sekolah tersebut adalah kelemahan dalam proses pembelajaran yang perlu segera diatasi. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan meningkatkan minat siswa dalam belajar. Untuk itu penggunaan media pembelajaran dapat membantu untuk mengatasi minat siswa dan konsentrasi siswa dalam proses belajar. Lebih lanjut penggunaan media dalam proses belajar juga dijelaskan olehHamalik (1986) dalam Arsyad (2013: 19) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. pendapat dari Hamalik tersebut menjalaskan bahwa untuk menginkatkan.
Penjelasan diatas menjelaskan bahwa media mampu untuk membangkitkan keinginan dan minat serta motivasi dan menrangsang siswa dalam belajar. Maka dengan begitu utnuk mengatasi masalah dalam proses pembelajaran, penggunaan media ini dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Menurut Arsyad (2013: 3) “media dalam proses belajar mengajar cendrung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau electronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal”. Pengertian dari Arsyad menekankan media adalah alat yang digunakan untuk menyusun kembali informasi visual atau verbal yang memudahkan siswa menerima pesan. Media menjadi alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Mempermudah peserta didik dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh guru.
Mengingat kembali pada permasalahan dalam proses pembelajaran dan mengingat bahwa media mampu untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut, maka penulis hendak meneliti pengaruh dari penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar. media yang hendak penulis teliti dalam hal ini adalah media papan lempar.
Media papan lempar terbuat dari  bahan kayu dan bergambarkan poin-poin, bisa berbentuk kotak atau bulat. Pemanfaatan media papan lempar dilakukan dengan siswa melemparkan mata jarum atau anak panah ke arah papan lemparyang bergambarkan poin soal yang akan dijawab oleh siswa itu sendiri. Dengan media ini diharapkan memberikan manfaat kepada proses pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa, memotivasi siswa, meningkatkan fokus dari siswa serta yang terakhir yaitu meningkatkan hasil belajar dari siswa.
Atas dasar pembahasan di atas maka penulis mencoba untuk mengetahui keefektifan penerapan media papan lempar terhadap hasil belajar siswa. yang kemudian menjadi bahwan analsisi skripsi dengan judul “Penerapan Media Papan Lempar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun 2015/2016”

Demikian Artikel Tentang Contoh Latar Belakang Masalah Penelitian Pendidikan.
Semoga dapat membantu para pembaca untuk menemukan referensi cara membuat karya tulis ilmiah.