Showing posts with label PROPOSAL. Show all posts
Showing posts with label PROPOSAL. Show all posts

9/8/18

Download 5+ Contoh Proposal Penelitian Kesehatan Dalam PDF

Download 5+ Contoh Proposal Penelitian Kesehatan Lingkungan, Gizi, dan Anak Dalam PDF

Apakah Proposal Itu?

 
Mulai Kerjakan Skripsimu

Salah satu tugas yang menjadi momok bagi mahasiswa tingkat akhir yaitu menyelesaikan tugaas akhir berupa penelitian. 

Proses penelitian dapat dikatakan tidaklah mudah, anda dituntut untuk terlebih dahulu mencari masalah apayang hendak kalian pecahkan. masalah tersebut selanjutnya dicarikan solusi dengan berbagai dasar dan data-data yang kuat.

11/17/17

Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Pendidikan : Pengaruh Model pembelajaran Jig Saw dan STAD Terhadap Hasil Belajar

10/8/17

Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung



Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung

10/2/17

3 Contoh Latar Belakang Masalah Penelitian Pendidikan

Latar belakang adalah dasar atau dapat kita sebut juga sebagai alasan yang menjadi titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar tentang apa yang ingin kita sampaikan.

Latar bekalang biasanya kita  buat pada saat kita membuat artikel ilmiah atau karya tulis ilmiah, seperti: makalah, skripsi, PTK dll.

Dalam menulis latar belakang kita harus menuliskannya dengan jelas. Mulai dari masalah yang ditemui, data-data yang menunjukan masalah tersebut, landasan yuridisnya, landasan teoritis yang relevan, sehingga menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.

Dalam menulis latar belakang masalah pendidikan, susunannya tidak terlalu berbeda dengan penyusunan latar belakang pada umumnya, ada 4 hal sekiranya yang menjadi inti dari penulisan latar belakang yang baik yaitu:
  1. Menemukan Masalah
  2. Data Pendukung sebagai bukti ditemukannya masalah
  3. Ada solusi dari masalah yang didukung oleh (teori-teori yang relevan)
  4. Adanya pengajuan hipotesis (jawaban sementara)

Setelah memahami tentang langkah-langkahnya. berikut ini saya lampirkan contoh latar belakang pendidikan.
Contoh Latar Belakang Masalah Pendidikan
Contoh Latar Belakang Masalah Pendidikan

Contoh 1 : Pengaruh Metode Pembelajaran Ekspositori Terhadap Motivasi Belajar Siswa
sumber : eprints.uny.ac.id/1394/2/Bab_I_-_Daftar_Pustaka.doc

Latar Belakang

Dalam suatu lembaga pendidikan keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Hasil belajar tersebut merupakan prestasi belajar peserta didik yang dapat diukur dari nilai siswa setelah mengerjakan soal yang diberikan oleh guru pada saat evaluasi dilaksanakan. Keberhasilan pembelajaran di sekolah akan terwujud dari keberhasilan belajar siswanya. Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun dari luar individu. Faktor dari dalam individu, meliputi faktor fisik dan psikis, di antaranya adalah motivasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat memberikan dukungan yang positif dalam belajar, namun dapat juga menghambat proses belajar. Hambatan-hambatan yang terjadi berakibat pada hasil belajar individu yang mengalami proses belajar tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Keadaan-keadaan tersebut berdampak pada timbulnya masalah pada proses belajar selanjutnya. Motivasi belajar siswa yang rendah akan menjadi hambatan yang sangat berarti pada proses pembelajaran, karena dapat mengakibatkan prestasi belajar siswa rendah. Oleh karena itu guru diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

Permasalahan belajar seperti yang diungkapkan tersebut terjadi pada siswa di SMK Negeri 7 Yogyakarta kelas XI Penjualan. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian nilai matematika yang rendah. Banyak siswa yang memperoleh nilai matematika di bawah 60, tidak sesuai yang diharapkan oleh guru. Anggapan tentang sulitnya belajar matematika sering mendominasi pemikiran siswa sehingga banyak di antara mereka kurang berminat untuk mempelajari matematika dan siswa kurang termotivasi dalam belajar. Selain itu, pembelajaran juga masih terpusat pada guru. Guru banyak menjelaskan dan siswa kurang diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan temannya.

Berdasarkan observasi peneliti di sekolah yang dilakukan pada bulan Februari-Maret tahun 2008 dan wawancara dengan guru matematika, 28 dari 37 siswanya kurang memahami pelajaran matematika hal ini dilihat dari nilai tes matematika yang kurang dari 60. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa  motivasi dan minat belajar matematika siswa rendah. Rendahnya motivasi dan minat belajar siswa dapat dilihat pada saat siswa menerima materi pelajaran.  Hal ini ditunjukkkan dengan sikap siswa yang cenderung ramai sendiri, mengobrol dengan teman, ada beberapa siswa yang mengerjakan PR pelajaran lain dan kurang memperhatikan pembelajaran yang sedang berlangsung. Bila siswa diberi latihan soal yang agak sulit, siswa tidak mengerjakan soal tersebut dan tidak termotivasi untuk mencari penyelesaian dari soal tersebut. Siswa lebih senang menunggu guru menyelesaikan soal tersebut. Hal ini disebabkan siswa kurang diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.

Mengingat bahwa siswa merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan, perlu diupayakan adanya pembenahan terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan optimalisasi prestasi belajar siswa. Sehubungan dengan keberhasilan belajar, Slameto (1988: 62) berpendapat bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi belajar siswa.
  1. Faktor internal, merupakan faktor di dalam diri siswa yang meliputi faktor fisik misalnya kesehatan dan faktor psikologis, misalnya motivasi, kemampuan awal, kesiapan, bakat, minat dan lain-lain.
  2. Faktor eksternal, merupakan faktor yang ada di luar diri siswa, misalnya keluarga, masyarakat,  sekolah dan lain-lain.

Selanjutnya mengenai keberhasilan belajar matematika Herman Hudoyo (1988: 6-7) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar matematika sebagai berikut.
  1. Peserta didik, meliputi: kemampuan, kesiapan, minat, motivasi, serta kondisi siswa pada saat mengikuti kegiatan belajar matematika.
  2. Pengajar, meliputi: pengalaman, kepribadian, penguasaan materi matematika dan cara penyampaian yang diberikan oleh guru.
  3. Prasarana dan sarana, meliputi ruangan, alat bantu belajar, buku tulis dan sumber belajar yang membantu kelancaran proses belajar-mengajar.
  4. Penilaian, digunakan untuk melihat hasil belajar matematika siswa sehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar dan memperbaiki hasil belajar selanjutnya.

Dari pendapat tersebut di atas ada beberapa faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan prestasi belajar siswa adalah meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika. Motivasi sebagai keseluruhan daya penggerak yang ada dalam diri siswa mampu menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki siswa dapat tercapai. Motivasi dapat berasal dari dalam diri siswa (intrinsik) maupun dari luar diri siswa (ekstrinsik).

Penggunaan metode pembelajaran ekspositori dengan pemberian kuis dapat menigkatkan motivasi belajar matematika sehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar matematika dan memperbaiki hasil belajar selanjutnya. Dengan menerapkan metode ini, pembelajaran tidak hanya terpusat pada guru tetapi siswa bisa lebih aktif dalam pembelajaran.

Berdasarkan pada permasalahan tersebut akan dilaksanakan penelitian pembelajaran matematika menggunakan metode ekspositori dengan pemberian kuis untuk memotivasi belajar matematika siswa. Metode pembelajaran ekspositori dengan pemberian kuis matematika ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi rendahnya motivasi belajar yang dialami oleh siswa.

Contoh 2 : Peranan Guru sebagai Motivator dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PAI (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung)
sumber : repo.iain-tulungagung.ac.id/1061/1/BAB%20I.doc

Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan usaha mencerdasakan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia  Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur. Hal ini sejalan dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3 yang menyebutkan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, diperlukan peningkatan dan penyempurnaan mutu pendidikan yang dalam hal ini berkaitan erat dengan peningkatan kualitas proses belajar mengajar. Sedangkan komponen peningkatan kualitas pendidikan meliputi: siswa, guru, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan sekolah, proses belajar mengajar, pengelolaan dana, supervisi dan monitoring, serta hubungan sekolah dengan lingkungan. Mutu pendidikan tersebut selanjutnya dapat dikenali melalui tanda-tanda operasional berupa: (1) keluaran/lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat; (2) nilai akhir prestasi belajar peserta didik; (3) persentase lulusan yang dicapai sekolah; dan (4) penampilan kemampuan dalam semua komponen pendidikan.

Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas / mutu proses belajar mengajar di kelas adalah kemampuan guru dalam mengajar. Sedangkan keberhasilan guru dalam mengajar tidak hanya ditentukan oleh hal-hal yang berhubungan langsung dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Seperti perumusan tujuan pengajaran dalam pembuatan rencana pembelajaran, pemilihan materi pelajaran yang sesuai, penguasaan materi pelajaran yang sesuai, pemilihan metode yang tepat serta lengkapnya sumber-sumber belajar dan yang memiliki kompetisi yang memadai untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Keberhasilan pengajaran dalam arti tercapainya tujuan-tujuan pengajaran, sangat tergantung kepada kemampuan kelas. Kelas yang dapat menciptakan situasi untuk memungkinkan anak didik dapat belajar dengan baik dengan suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran maka diperlukan motivator yang baik.
Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, setiap guru akan menghadapi berbagai masalah yakni masalah yang dapat dikelompokkan atas masalah pembelajaran dan masalah peranan guru sebagai motivator, misalnya tujuan pembelajaran tidak jelas, media pembelajaran tidak sesuai. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan sosok guru yang profesional, dimana guru yang profesional adalah guru yang tidak hanya menguasai prosedur dan metode pengajaran, namun juga sebagai motivator yang kondusif. Dalam motivasi yang kondusif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

Meningkatkan kualitas pembelajaran dalam pendidikan merupakan salah satu upaya yang sedang diprioritaskan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada proses kegiatan pembelajaran dimasa lalu banyak yang berjalan secara searah. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru menjadi amat dominan, guru sangat aktif tetapi sebaliknya siswa menjadi sangat pasif dan tidak kreatif dan kadang siswa juga dianggap sebagai obyek bukan sebagai subyek. Sehingga siswa kurang dapat dikembangkan potensinya.

Pada dasarnya guru sebagai pengajar tidak mendominasi kegiatan, tetapi membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta memberikan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreatifitasnya, melalui kegiatan belajar. Diharapkan potensi siswa dapat berkembang menjadi komponen penalaran yang bermoral, manusia-manusia aktif dan kreatif yang beriman dan bertaqwa.
Guru merupakan tenaga professional yang memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual dan harus mengetahui hal-hal yang bersifat teknis terutama hal-hal yang berupa kegiatan mengelola dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (pembelajaran). Dalam pendidikan guru dikenal adanya pendidikan guru berdasarkan kompetensi dengan sepuluh kompetensi guru yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru yaitu yang meliputi: menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/sumber, menguasai landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah serta memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Hal tersebut dianggap penting karena untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang tinggi maka harus melalui motivasi yang baik. Pada saat pengelolaan proses belajar mengajar disadari atau tidak disadari setiap guru menggunakan pendekatan dan menerapkan teknik-teknik motivator. Strategi yang biasa digunakan antara lain: memberikan nasihat, teguran, larangan, ancaman, teladan, hukuman, perintah dan hadiah. Selain itu ada guru yang memotivasi siswa dengan cara yang ketat yakni mengandalkan sikap otoriter tanpa memperhatikan kondisi emosional siswa dan ada pula yang membiarkan siswa secara penuh berbuat sesuka hati.

Lokasi yang dijadikan sasaran dalam penelitian ini adalah SMP Negeri I Kauman Tulungagung. Sekolah ini merupakan salah satu rintisan Sekolah Standard Nasional (SSN) di Tulungagung. Sehingga menarik minat saya untuk mengadakan penelitian di lembaga ini. Selain itu, di SMP Negeri I Kauman Tulungagung setiap tahunnya mampu mengantarkan siswanya lulus dengan nilai yang memuaskan.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, bahwa peran guru sebagai motivator sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Terwujudnya tujuan pendidikan tergantung pada motivasi yang dilakukan oleh guru. Maka peneliti mengambil judul "Peranan Guru sebagai Motivator dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PAI (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung)"


Contoh 3 : Penerapan Media Papan Lempar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun 2015/2016
Sumber : http://www.karyatulisku.com/2017/09/langkah-langkah-dan-contoh-membuat.html

Dewasa ini bangsa Indonesia sedang berupaya meningkatkan sumber daya manusia. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan kecerdasakan sumber daya manusia. Hal tersebut juga tidak lepas usaha untuk dapat bersaing di era globalisasi. Upaya mencerdaskan manusia Indonesia dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan.  Upaya mencerdaskan manusia Indonesia, juga telah jelas dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, pasal 3 yang menyebutkan bahwa.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Sisdiknas No 20 tahun 2003).
Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta menceradaskan kehidupan bangsa adalah pendidikan nasional. Oleh sebab itu pendidikan nasional harus mempunyai kualitas yang baik, sehingga mampu untuk mencapai fungsi dan tujuan dari pendidikan di Indonesia. Sementara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 juga menyebutkan bahwa:
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokkratis dan bertanggung jawab.
Undang-Undang tersebut juga dengan jelas menyampaikan bahwa yang menjadi tujuan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik. Peserta didik disini adalah siswa yang ada di sekolah dan potensi yang dimaksut adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa.
Mengingat pada fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional tersebut maka jelas bahwa diharapkan melalui pendidikan nasional sumber daya manusia indonesia menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Artinya kita akan melihat manusia indonesia yang berintelektual, manusia Indonesia yang berkarakter dan dapat berprestasi untuk bersaing di dunia.
Namun dewasa ini pendidikan di Indoenesia berada pada tingkat yang rendah. Dikutip DetikNews.com (2014) disebutkan bahwa hasil survei dari PISA (Program for International Student Assesment) tahun 2012 memperlihatkan bahwa negara Indonesia berada diperingkat rendah. Negara yang paling rendah dalam peringkat ini adalah Peru dan Indonesia. Lebih lanjut dikutip dari MetrotvNews.com (2013) disampaikan bahwa tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke-61 dari 65 negara anggota PISA. Indonesia hanya mengumpulkan skor membaca 396 poin. Untuk literasi matematika, pelajar Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 375. Adapun skor literasi sains berada di peringkat 64 dengan skor 382. Sedangkan dikutip dari Kompas.com (2012) disebutkan bahwa hasil research dari Firma Pendidikan Pearson sistem pendidikan Indoensia berada di posisi terbaFwah bersama Meksiko dan Brazil. Dari hasil tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan di Indonesia masihlah rendah dan jauh dibandingkan dengan negara-negara lain.
Kondisi tersebut jelas menunjukan bahawa terjadinya ketimpangan yaitu anatar harapan dengan kenyataan. Harapan dari adanya pendidikan nasional yaitu mampu mengembangkan kualitas sumber daya manusia, sehingga dapat bersaing di era global dengan negara-negara lain. Namun kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, pendidikan nasional belum mampu secara maksimal mengembangkan manusia indonesia yang mampu bersaing di era global. Ketimpangan tersebut menjadikan adanya masalah yaitu kualitas pendidikan nasilan yang masih kurang.
Kualitas pendidikan salah satunya ditentukan oleh suasana kondusif dalam proses belajar. Suasana kondusif sangat mempengaruhi kondisi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut Rianto (2007:1), tingkat keberhasilan pembelajaran amat ditentukan oleh kondisi yang terbangun selama pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang semakin kondusif, maka tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi dan sebaliknya. Lebih lanjut kondusifitas proses belajar di kelas juga dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengajar. Kemapuan guru dalam memfasilitasi perserta didik dalam belajar meliputi kemampuan guru dalam menyajikan pembelajaran, menggali kemampuan siswa dan mengembangkan potensi dari siswa.
Oleh sebab itu untuk menginkatkan kualitas dari pendidikan nasional dapat dilakukan oleh guru dengan meningkatkan kemampuannya dalam memfasilitasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Rusman (2015: 21) “pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya”. Komponen-komponen yang saling berhubungan dalam pembelajaran yaitu tujuan, materi, media dan strategi pembelajaran. Maka dengan kemampuan guru mengorganisir pembelajaran dengan baik, dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Namun, kondisi yang terjadi di sekolah, tidak sepenuhnya terjadi seperti yang diharapkan yaitu terjadinya proses pembelajaran yang terorganisir dengan baik. Sebaliknya yang terjadi adalah kurang optimalnya proses belajar mengajar yang terdapat di sekolah.  Dari pengamatan yang dilakukan oleh penulis pada proses belajar siswa di kelas IV SD  Jomblang 01 Kota Semarang  ditemukan kondisi-kondisi sebagaimana berikut yaitu, kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, siswa kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru serta hasil belajar siswa, dimana sebanyak 22 anak tidak mampu untuk mencapai nilai KKM pelajaran matematika.
Sementara dari hasil wawancara dengan guru kelas yaitu Ibu Anjar S.Pd menyampaikan bahwa konsentrasi belajar siswa memang tidak lama, konsentrasi maksimal siswa hanya mencapai 10-15 menit dalam awal proses pembelajaran selebihnya kurang optimal. Siswa juga kurang antusias dalam belajar sehingga kurang mampu memahami materi.
Kondisi-kondisi yang terjadi di sekolah tersebut adalah kelemahan dalam proses pembelajaran yang perlu segera diatasi. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan meningkatkan minat siswa dalam belajar. Untuk itu penggunaan media pembelajaran dapat membantu untuk mengatasi minat siswa dan konsentrasi siswa dalam proses belajar. Lebih lanjut penggunaan media dalam proses belajar juga dijelaskan olehHamalik (1986) dalam Arsyad (2013: 19) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. pendapat dari Hamalik tersebut menjalaskan bahwa untuk menginkatkan.
Penjelasan diatas menjelaskan bahwa media mampu untuk membangkitkan keinginan dan minat serta motivasi dan menrangsang siswa dalam belajar. Maka dengan begitu utnuk mengatasi masalah dalam proses pembelajaran, penggunaan media ini dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Menurut Arsyad (2013: 3) “media dalam proses belajar mengajar cendrung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau electronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal”. Pengertian dari Arsyad menekankan media adalah alat yang digunakan untuk menyusun kembali informasi visual atau verbal yang memudahkan siswa menerima pesan. Media menjadi alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Mempermudah peserta didik dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh guru.
Mengingat kembali pada permasalahan dalam proses pembelajaran dan mengingat bahwa media mampu untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut, maka penulis hendak meneliti pengaruh dari penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar. media yang hendak penulis teliti dalam hal ini adalah media papan lempar.
Media papan lempar terbuat dari  bahan kayu dan bergambarkan poin-poin, bisa berbentuk kotak atau bulat. Pemanfaatan media papan lempar dilakukan dengan siswa melemparkan mata jarum atau anak panah ke arah papan lemparyang bergambarkan poin soal yang akan dijawab oleh siswa itu sendiri. Dengan media ini diharapkan memberikan manfaat kepada proses pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa, memotivasi siswa, meningkatkan fokus dari siswa serta yang terakhir yaitu meningkatkan hasil belajar dari siswa.
Atas dasar pembahasan di atas maka penulis mencoba untuk mengetahui keefektifan penerapan media papan lempar terhadap hasil belajar siswa. yang kemudian menjadi bahwan analsisi skripsi dengan judul “Penerapan Media Papan Lempar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun 2015/2016”

Demikian Artikel Tentang Contoh Latar Belakang Masalah Penelitian Pendidikan.
Semoga dapat membantu para pembaca untuk menemukan referensi cara membuat karya tulis ilmiah.


9/14/17

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF PENERAPAN MEDIA PAPAN LEMPAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD

PENERAPAN MEDIA PAPAN LEMPAR TERHADAP HASIL BELAJAR
 MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGRI JOMBLANG 01
KOTA SEMARANG TAHUN 2015/2016

9/13/17

Contoh Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian : Cara membuat Tujuan dan Manfaat Penelitian yang baik dan Benar

Setelah selesai membuat konten tentang cara membuat latar belakang yang baik :

Langkah-Langkah Membuat Latar Belakang Proposal Pada Skripsi dan Juga Cara membuat Rumusan masalah yang baik pada proposal skripsi
Cara Membuat Tujuan Penelitian

Saya punya keinginan untuk melanjutkan tulisan saya dengan topik bahasan cara membuat penelitian ilmiah khususnya berkaitan dengan Skripsi Bidang Pendidikan sampai selesai.


Dengan di temani alunan musik klasik dan kopi hangat di pagi hari, saya semakin bersemangat untuk menulis ini dan itu. Selain menjadi bahan belajar bagi saya, saya juga senang berbagi dengan sahabat semua. 


Kali ini saya akan melanjutkan pada salah satu bagian yang tidak kalah penting pada saat menyusun sebuah karya ilmiah penelitian yaitu membuat Tujuan Penelitian 


Bagaimanakah cara membuat tujuan penelitian yang tepat?


Pertanyaan ini biasanya muncul ketika sahabat sudah selesai untuk membuat rumusan masalah.


Pada artikel sebelumnya saya telah menuliskan cara membuat latar belakang, dan cara membuat rumusan masalah. Jika belum membaca bagian itu saya sarankan kepada sahabat untuk membacanya terlebih dahulu:


Langkah-Langkah Membuat Latar Belakang Proposal Pada Skripsi  

Cara membuat Rumusan masalah yang baik pada proposal skripsi


Pengertian Tujuan Penelitian

Sebelum kita memulai untuk membuat dan memberikan contoh-contoh dari tujuan penelitian. Saya akan coba untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan Tujuan Penelitian itu sendiri. Jadi tujuan penelitian adalah kalimat yang menunjukan indikasi kearah mana penelitian dilakukan atau data data serta informasi apa yang akan di capai dari penelitian itu. Bentuk kalimat dari tujuan penelitian adalah sebuah pernyataan yang konkrit. Jadi bukan kalimat tanya. Kalau kalmiat tamnya itu sama kayak rumusan masalah oke.

Perlu diketahui bahwa tujuan penelitian ini ada tiga macam bentuknya. Penelitian biasanya bertujuan untuk menemukan ilmu yang baru, mengembangkan pengetahuan yang sudah ada dan yang terakhir yaitu  menguji pengetahuan yang ada. 

Sementara beberapa ahli mengatakan bahwa Tujuan penelitian itu dapat dibedakan menjadi;

  1. Eksploratif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menemukan suatu pengetahuan baru yang belum pernah ada.
  2. Verifikatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori yang sudah ada. Sehingga ditemukan suatu hasil penelitian yang dapat menggugurkan atau memperkuat pengetahuan atau teori yang suadh ada.
  3. Development atau pengembangan yaitu penelitian yang memiliki tujuan untuk mengembangkan penwlitian yang sudah ada.


Ada juga yang membagi tujuan penelitian menjadi umum dan khusus, jadi ada dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, berikut penejelasannya:

Tujuan Umum adalah tujuan penelitian secara keseluruan dari yang ingin dicapai dalam penelitian itu sendiri.
Tujuan Khusus adalah tujuan yang lebih spesifik. Biasanya menggunakan kata-kata operasional sehingga lebih jelas untuk dicapai. Tujuan khusus biasanya juga menjadi penjabaran dari tujuan umum.


Meskipun begitu dalam sebuah penelitian atau penulisan karya tulis ilmiah, tidak harus ada tujuan umum dan tujuan khsus. Jika tujuan umum yang dibuat sudah spesifik maka tidap perlu kita membuat tujuan khususnya. Begitupun sebaliknya jika kita sudah membuat tujuan yang spesifik amaka tidak perlu membuat tujuan umum. Cukup menuliskan dengan tujuan penelitian saja.


Lalu bagaimana cara menuliskan tujuan penelitian.

Cara membuat tujuan penelitian



  1. Untuk membuat tujuan penelitian kita harus kembali melihat rumusah masalah
  2. Mencari kata operasional yang tepat untuk menjawab rumusan masalah yang ada (contoh kata operasional: Mengidentifikasi, Mendeskripsikan,Mengukur, Menganalisi, Membandingkan, dll)
Baca Juga :100+ Contoh Rumusan Masalah Proposal Penelitian (Rumusan Masalah Deskriptif, Komparatif dan Asosiatif)

Contoh 1
Rumusan Masalah : Adakan kesamaan cara mengajar antara guru senior dengan guru baru?

Tujuan Penelitian adalah : Membandingkan cara mengajar guru senior dan guru baru


Contoh 2
Rumusan masalah : Adakah hubungan antara panjang rambut dengan keterampilan membaca siswa? 

Tujuan Penelitiannya adalah : Menidentifikasi hubungan antara panjang rambut dengan keterampilan membaca siswa

Contoh 3
Rumusan masalah : Adakah pengaruh metode pembelajaran Role Playing Terhadap Hasil Belajar Siswa?

Tujuan Penelitian : Mendeskripsikan pengaruh metode pembelajaran Role Playing terhadap hasil belajar siswa.

Contoh 4
Rumusan Masalah : Seberapa besar pengaruh rungan kelas yang nyaman terhadap motivasi belajar siswa?
Tujuan Penelitian : Mengukur pengaruh rungan kelas yang nyaman terhadap motivasi belajar siswa?


Jadi itu sedikit pembahasan tentang cara membuat tujuan penelitian, dan aku juga sudah berikan beberapa contoh tujuan penelitian yang di kembangkan dari rumusan masalah yang sudah aku buat di artikel sebelumnya. Jadi mudah sekali bukan, kalau kita sudah bsia membuat rumusan masalahnya tinggal mencari kata operasional yang tepat saja.

Setelah kita bisa membuat tujuan penelitian hal lainnya yang harus kita buat adalah manfaat penelitian. apa itu manfaat penelitian?

Manfaat penelitian ini berisikan uraian manfaat yang dihasilkan dari di laksanakannya penelitian itu. Jadi tinggal kita fikirkan saja,kira-kira manfaat apa yang dapat kita peroleh jika kita melakukan penelitian tersebut. 

Kemudian yang perlu kita ketahu bahwa manfaat penelitian itu dapat kita bagi menjadi dua yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis

Apa beda manfaat penelitian secara teoritis dan manfaat secara praktis?
Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

Manfat teoritis ini berlatar dari tujuan penelitian varifikatif, untuk mengecek teori yang sudah ada. Apakah akan memperkuat atau menggugurkan teori tersebut. Manfaat teoritis ini muncul berlatarkan ketidak puasaan atau keraguan terhadap teori yang sudah ada sehingga dilakukan penyelidikan kembali secara empiris.


Manfaat Praktis

Sementara manfaat praktis adalah manfaat yang berguna untuk memecahkan masalah praktis. Jadi misalnnya ada masalah njilai siswa yang rendah maka manfaat praktisnya dalah meningkatkan nilai siswa. 

Biasanya manfaat praktis tidak hanya untuk satu subjekm bisa berguna untuk lebih dari satu. Misalnya manfaat untuk siswa, manfaat untuk guru, manfaat untuk sekolah, dll.
Jadi kalau kamu pikir penelitian kamu memberikan manfaat untuk banyak subjek, maka tuliskan saja semuanya. Jangan ragu.


Contoh Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini dapat menjadi landasan dalam pengembangan media pembelajaran atau penerapan media pembelajaran secara lebih lanjut. Selain itu juga menjadi sebuah nilai tambah khasanah pengetahuan ilmiah dalam bidang pendidikan di Indonesia.


Manfaat Praktis


  1. Bagi siswa, hasil penelitian diharapkan dapat  meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD negri jomblang 01 Kota Semarang 2015/2016 dengan penerapan media.
  2. Bagi guru, penerapan media papan lempar dalam pembelajaran dapat memfasilitasi siswa dalam belajar dan mempelajari materi dengan mudah dan bermakna.
  3. Bagi sekolah, hasil dari penelitian penerapan media papan lempar ini memberikan referensi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Serta sekolah dapat mendukung guru untuk menciptakan media yang lebih bervariasi lagi.
  4. Bagi peneliti, peneliti mampu menerapkan media yang sesuai dalam materi pembelajaran tertentu. Serta peneliti mempunyai pengetahuan dan wawasan mengenai materi dan media pembelajaran yang sesuai.

Oke sahabat, demikian konten materi pembahasan tujuan dan manfaat penelitian, semoga memberikan informasi yang membantu ya, 3 jam lebih saya nulis artikel ini. 

Jangan lupa berikan kritik dan saran lewat kolom koment di bawah ya. Apapun itu tolong komen. Oke makasih, untuk konten selanjutnya.

9/12/17

Cara membuat rumusan masalah yang baik pada proposal skripsi

Apa si yang dimaksud dengan rumusan masalah?
Apakah sama antara masalah dan rumusan masalah?
Kalau rumusan masalah yang bagus seperti apa?
Cara membuat rumusan masalah yang baik bagaimana?

Tiga pertanyaan tersebut biasanya merupakan pertanyaan susulan yang sering di tanyakan. Termasuk saya dulu. Ya saya selalu bertanya kepada dosen saya bagaimana cara membuat rumusan maslaah yang baik dan benar. Istilahnya Tepat

Baca Juga :100+ Contoh Rumusan Masalah Proposal Penelitian (Rumusan Masalah Deskriptif, Komparatif dan Asosiatif)


Cara membuat rumusan masalah yang baik dan benar
Cara membuat rumusan masalah yang baik

Apakah Rumusan Masalah Itu?
Dosen saya pernah mengatakan pada saya bahwa walau rumusan masalah diperoleh dari masalah, namun rumusan masalah jelas berbeda dengan masalah. Maka seperti yang kita sudah ketahu masalah adalah adanya kesenjangan antara kondisi yang di harapkan dengan kondisi yang ada. Bentuknya adalah sebuah penyataan yang menunjukan adanya sebuah masalah. Sementara rumusan masalah adalah sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban. Jadi dari segi bentuk bahasa sudah beda bukan. Masalah bentuknya pernyataan yang menunjukan adanya sebuah masalah, sementara rumusan masalah berbentu pertanaan yang membutuhkan jawaban.

Meskipun begitu perlu diingat bahwa anatara masalah dan rumusan masalah memiliki keterikatan. Hal itu karena setiap rumusan masalah didasarkan oleh masalah yang ada. Jadi sebelum bisa membuat rumusan masalah harus bisa membuat masalah(menemukan masalah dalam penelitian) dulu ya

Beberapa ahli juga menjelaskan definisi dan pengertian RUmusan MAsalah,

Rumusan Masalah Menurut Para Ahli

Menurut Sugiyono, rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data, bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi.
Pariata Westra menjelasakan bahwa rumusan masalah adalah “Suatu masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.”
Sutrisno Hadi mendefinisikan rumusan maasalah sebagai “ kejadian yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa”.

Dari situ maka sudah jelas bukan, intinya rumusan masalah adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang di peroleh atau didasarkan pada masalah yang ada.

Lalu seperti apakah rumusan maslaah yang baik

Beberapa teman saya pernah mengatakan kepada saya, bahwa yang dimaksud dengan RUmusan maslaah yang baik adalah rumusan maslah yang jelas, berbentuk kalimat tanya, dan juga fokus untuk mencapai tujuan.

Jadi begini, Cara membuat rumusan masalah:

  1. Tentukan masalah dari penelitian kita, Contoh : Prestasi belajar siswa kelas 4 SD N Sendangmulyo Boyolali rendah
  2. Tentukan solusi, Contoh : Menerapkan model pembelajaran TPS (Think Pair Shere)
  3. Bukan kalimat tanya antara masalah dan solusi yang memiliki hubungan sebab akibat, Contoh: Adakah pengaruh siknifikan model pembelajaran TPS terhadap prestasi belajar siswa kelas 4 SD N Sendangmulyo Boyolali?
  4. Selesai 

Lebih lanjut agar memberikan pemahaman lebih mendalam tentang rumusan masalah yang baik, perhatikan beberapa kriteria rumusan masalah yang baik berikut ini:

  1. Rumusan masalah harus di tulis atau dirumuskan dengan jelas
  2. Rumusan masalah di tulis dalam bentuk kalimat tanya dengan alternatif tindakan yang dilakukan
  3. Rumusan masalah harus mengandung unsur pertanyaan yang dapat diuji secara empiris
  4. Rumusan masalah harus mengandung deskripsi tentang kenyataan dan keadaan yang diinginkan
  5. Rumusan masalah harus disusun dalam bahasa yang jelas dan singat, istilahnya padat berisi.
  6. Cakupan dari rumusan maslaah juga harus jelas.
  7. Pertanyaan dalam rumusan masalah harus memungkinkan untuk di jawab dengan metode ilmiah.

Lalu adalagi yang perlu diketahu pada saat menyusun rumusan masalah, yaitu batasan batasannya. 

Batasan penyusunan rumusan masalah adalah
  1. Rumusan masalah harus spesifik pada variabel varial yang diteliti
  2. Menggunakan Argumen yang masuk akal artinya dalam pembatasan harus rasional sesuai dengan logika
  3. Rumusan masalah ditentukan atau ditetapkan pada variabel yang tepat.

Lebih lanjut agar kita bisa membuat rumusan masalah yang baik pada proposal atau skripsi perlu di ketahui bahwa, rumusan maslah itu ada berbagai macam bentuknya. Dari buku yang di tulis oleh Prof. Dr. Sugiyono ada 3 bentuk umum rumusan masalah yaitu:

1. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah pada penelitian ini biasanya tidak mencari tau hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Variabelnya itu hanya satu dan berdiri sendiri. Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan. 
Contoh Rumusan masalah deskriptif:
  • Seberapa baik kinerja kepala sekolah?
  • Bagaimanakah sikap orang tua terhadap pemberlakuan fulldayschool?
  • Sebearapa tinggi efektifitas pembelajaran fulldayschool?
  • Seberapa tinggi tingkat kepuasan orang tua murid terhadap komunikasi sekolah?

2. Rumusan Masalah komparatif
Rumusan masalah komparatif ini membandingkan antara satu variabel atau lebih terhadap sampel yang berbeda dan pada waktu yang juga berbeda. Pada intinya penelitian ini mencoba untuk membandingkan variabel 1 jika diberlakukan terhadap dua sampel yang berbeda. Sehingga dapat diketahui pengaruhnya.
Contoh Rumusan Masalah Komparatif:
  • Adakah perbedaan produktifitas kinerja anatara guru PNS Sertifikasi, PNS non Setitifkasi dan honorer? (Satu Variabel 3 Sampel)
  • Adakan kesamaan cara mengajar antara guru senior dengan guru baru? (1 variabel 2 sampel)
  • Adakah perbedaan gaya belajar dan hasil belajar anatar siswa mampu dan siswa kurang mampu? (2 variabel dan 2 sampel)
  • Adakah perbedaan prestasi belajar sekolah negeri dan sekolah swasta?
3. Rumusan Masalah Assosiatif
Rumusan masalah assosiatif adalah rumusan masalah yang berusaha untuk menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. JAdi penelitian ini bertujuan utnuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Ingin mengetahu pengaruh dari adanya hubungan atau perlakuan antara variabel 1 dan variabel lainnya. Menurut Sugiyono ada 3 macam bentuk dari rumusan masalah assosiatuf ini; dianataranya hubungan simetris, hubungan kausal dan hubungan interaktif atau timbal balik.
Untuk definisi dari ketiga bentuk silahkan cari sendiri ya di Internet banyak hehe

Saya akan langsung berikan beberapa contoh dari Rumusan masalah Assosiatif
  • Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat manisnya buah? (Hubungan Simetris)
  • Adakah hubungan antara panjang rambut dengan keterampilan membaca siswa? (hubungan simetris)
  • Adakah pengaruh sistem pembelajaran Role Playing Terhadap Hasil Belajar Siswa? (hubungan Kausal)
  • Seberapa besar pengaruh rungan kelas yang nyaman terhadap motivasi belajar siswa? (hubungan kausal)

Jadi teman-teman rumusan masalah bukanlah hal yang terlalu sulit untuk di buat bukan, Beberapa informasi yang tadi sudah saya jelaskan semoga dapat menambahkan wawasan dari teman-teman tentang cara menulis rumusan masalah. Mungkin ada beberapa yang gak jelas ya, Jika memang ada dan saya yakin ada beberapa kalimat yang sulit di pahami maka tinggalkanlah ambil sekiranya informasi yang mudah untuk di pahami dan langsung kerjakan apa yang ingin kamu kerjakan yaitu membuat rumusan masalah yang baik pada proposal skripsimu.

Ingat skripsi adalah pekerjaan panjang, bukan kepintaran atau kecerdasan yang menentukan cepat lambat kamu menyelesaikannya, melainkan kegigihan dan ketekunan hehe.  JAdi jangan tunggu lama-lama langsung kebut dan kerjakan.

Ohh iya jangan lupa, kalau masih bingung tentang cara membuat latar belakang silahkan baca-baca postingan saya sebelumnya. Insyallah sudah di jelaskan dengan sangat jelas.


Demikian informasi tentang cara membuat rumusan masalah yang baik dpada proposal skripsi. Terimaksih sudah mau berkunjung ke Blog saya, Jika anda merasa bahwa artikel ini bermanfaat jangan lupa untuk Shaere ya. 

Lebih lanjut saya juga menerima kritikan atas setiap artikel yang sudah saya tulis. Berikan kritik dan saran melalui kolom komentar di bawah ini

BACA JUGA

Cara Membuat Skripsi yang Baik dan Benar : Panduan Lengkap Menyusun Skripsi

Contoh Kata Pengantar dalam Makalah, Laporan Praktikum, Penelitian dan Skripsi

Cara Membuat Daftar Isi Manual dan Otomatis Pada Ms. Word Lengkap Dengan Contoh Daftar Isi

Cara Membuat Judul Penelitian Kuantitatif yang Baik dan Benar (Contoh Judul Penelitian Kuantitatif)

Contoh Daftar Pustaka Buku, Skripsi, Internet, Jurnal, Surat Kabar dan Makalah

Pengertian Variabel dan Contohnya : Variabel Bebas, Terikat, Moderator, dan Kontrol

Contoh Hipotesis Penelitian Skripsi (Hipotesis Deskriptif, Hipotesis Komparatif dan Hipotesis Asosiatif)

Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif : Wawancara, Angket, dan Observasi 100% LENGKAP

Cara membuat rumusan masalah yang baik pada proposal skripsi

Langkah-Langkah dan Contoh Membuat Latar Belakang Proposal Skripsi

Langkah-Langkah menghitung Validitas Soal Pilihan Ganda Dengan Excel

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Cara Membuat Judul Karya ilmiah, Proposal, Skripsi

Cara Membuat Latar Belakang Skripsi, penelitian, atau KTI