Showing posts with label CARA MEMBUAT PROPOSAL. Show all posts
Showing posts with label CARA MEMBUAT PROPOSAL. Show all posts

4/12/16

Teknik Pengumpulan Data (Wawancara, Angket dan Observasi)

Kali ini karyatulisku.com akan membahas topik artikel tentang teknik pengumpulan data.

Jika kita melakukan penelitian, ada dua hal yang menjadi atau mempengaruhi hasil penelitian.

Kedua hak tersebut yaitu kuaalitas instrumen penelitian dan kualitas dari oengumpulan data. Kualitas instrumen adalah kualitas dari alat yang kita gunakan untuk mengumpulkan data. 

Kualitas instrumen berkenaan dengan validitas dan reliabilitas. sementara kualitas dari pengumpulan data berkaitan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan dalam mengumpulkan data. 

Sebelum mulai untuk mengumpulkan data, lebih baik coba untuk memahami proses dari penelitian itu sendiri, silahkan simak pada artikel berikut ini.

PENGERTIAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF : PERBEDAAN PROSES PENELITIAN KEDUANYA

Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: interview (wawancata), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan dari ketiganya. Lah selanjutnya saya akan menjelaskan satu per satu dari keempat cara yang dapat dilakukan dalam pengumpulan data.

1. Interview (Wawancara)

Teknik Pengumpulan Data dengan Wawancara
Wawancara

Wawancara menurut Nazir (1988) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Walaupun wawancara adalah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab dengan tatap muka, wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk suatu penelitian. Beberapa hal dapat membedakan wawancara dengan percakapan sehari-hari adalah antara lain:


  • Pewawancara dan responden biasanya belum saling kenal-mengenal sebelumnya.
  • Responden selalu menjawab pertanyaan.
  • Pewawancara selalu bertanya.
  • Pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban, tetapi harus selalu bersifat netral.
  • Pertanyaan yang ditanyakan mengikuti panduan yang telah dibuat sebelumnya.
  • Pertanyaan panduan ini dinamakan interview guide.
Wawabcara digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang harus diteliti. Selain itu wawancara juga digunakan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondenya sedikit/kecil.

Untuk melakukan wawancara, ada anggapan yang harus atau perlu dipegang yaitu:


  1. Bahawa subyek atau responden adalah yang paling tau tentang dirinya sendiri.
  2. Bahwa yang idinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah hal yang sebenar-benarnya.
  3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimasksud oleh peneliti.
Wawancara dapat dilakukan dengan berbagai cara. Wawancara juga dapat dibendakan menjadi wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. 

a. Wawancara Terstruktur

Wawancara terstruktur lebih sering digunakan dalam penelitian survey atau penelitian kuantitatif, walaupun dalam beberapa situasi, wawancara tersetruktur juga dalam penelitian kualitatif. Wawancara bentuk ini sangat terkesan seperti interogasi karena sangat kaku, dan pertukaran informasi antara peneliti dengan subyek yang diteliti sangat minim. Dalam melakukan wawancara tersetruktur, fungsi peneliti sebagian besar hanya mengajukan pertanyaan dan subyek penelitian hanya bertugas menjawab pertanyaan saja. Terlihat adanya garis yang tegas antara peneliti dengan subyek penelitian. Selam proses wawancara harus sesuai dengan pedoman wawancara (guideline interview) yang telah dipersiapkan. Beberapa ciri-ciri wawancara terstruktur adalah sebagai berikut:


1. Dafatar pertanyaan dan kategori jawaban terlah dipersiapkan
Dalam wawancara tersetruktur, daftar pertanyaan sudah tertulis dalam form pertanyaan serta dengan kategori jawaban yang telah disediakan. Biasanya dalam bentuk pedoman wawancara. Peneliti hanya tinggal membacakan pertanyaan yang telah tertulis, sementara subyek penelitian hanya tinggal menjawab sesuai dengan jawaban yang telah disediakan.

2. Kecepatan wawancara terkendali

Karena jumlah pertanyaan dan jumlah pilihan jawaban sudah tersedia,dan kemungkinan jawaban yang akan diperoleh sudah dapat diperediksi, tentu saja waktu dan kecepatan wawancara dapat terkendali dan telah diperhitungkan sebelumnya oleh peneliti. Peneliti dapat melakukan simulasi terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara, dan mencatat waktu yang dibutuhkan selama wawancara tersebut.

3. Tidak ada fleksibilitas (pertanyaan atau jawaban)

Fleksibilitas terhadap pertanyaan atau jawaban hamper tidak ada. Peneliti tidak perlu lagi membuat pertanyaan lain dalam proses wawancara karena semua pertanyaan yang dibuat sudah disimulasikan terlebih dahulu dan biasanya sudah “fix” ketika turun kelapanga. Begitu juga dengan jawaban.

4. Mengikuti Pedoman/Guideline Wawancara (dalam urutan pertanyaan, penggunaan kata dan kalimat, pilihan jawaban dan tidak improvisasi)

Pedoman wawancara mencakup serangkaian pertanyaan beserta urutannya yang telah diatur dan disesuaikan dengan alur pembicaraan. Tidak diperkenankan menggunakan Bahasa atau kata-kata yang tidak tertulis dalam pedoman wawancara.

5. Tujuan wawancara biasanya untuk mendapatkan penjelasan tentang suatu fenomena

Wawancara tersetruktur biasanya digunakan dalam rangka untuk mendapatkan penjelasan saja dari suatu fenomena atau kejadian, dan bukan tujuan untuk memahami fenomena tersebut. Karena alasan tersbut biasanya wawancara terstruktur lebih sering digunakan dalam penelitian survey atau kuantitatif ketimbang penelitian kualitatif walaupun wawancara tersetruktur juga bias digunakan dalam penelitian kualitatif. 


Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancar, maka pengumpulan data juga dapat melengkapi diri dengan menggunakan alat-alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan atau material material lain yang dibutuhkan. 


b. Wawacara Tidak Terstruktur

Jenis wawancara yang ketiga adalah wawancara tidak tersetruktur. Hampir mirip dengan bentuk wawancara semi tersetruktur, hanya saja wawancara semi tersetruktur memiliki kelonggaran dalam banyak hal termasuk dalam pedoman wawancara. Salah satu kelemahan wawancara tidak tersetruktur adalah pembicaraan akan mudah menjadi “ngalor-ngidul” dengan batasan yang kurang tegas. Untuk sebuah penelitian kualitatif, kami tidak menyarankan untuk menggunakan wawancara jenis wawancara tidak tersetruktur karena kurang terfokus pada apa yang akan digali. Penggalian akan bersifat meluas, bukan mendala. Wawancara tidak tersetruktur lebih tepat digunakan dalam konteks wawancara santai dengan tujuan yang tidak terlalu terfokus, konteks talk-show, kontek seminar atau kualiah umum, dan konteks  lainnya yang bertujuan untuk mencari keluasan bahasam. Wawancara tidak tersetruktur memiliki ciri-ciri seperti dibawah ini.



1. Pertanyaan yang diajukan bersifat sangat terbuka, jawaban subyek bersifat meluas dan bervariasi

Peneleliti dapat berimprovisasi sebebas-bebasnya dalam bertanya dengan membentuk pertanyaan yang sangat terbuka, hampir tidak ada pedoman yang digunakan sebagai kontrol. Demikian pula pada halnya dengan jawaban dan subyek/interviewee, dapat sangat luas bervariasi. Batasan pertanyaan pun tidak tegas sehingga sangat memungkinkan pembicaraan akan meluas. 



2. Kecepatan wawancara sulit diprediksi

Layaknya mengobrol santai, kecepatan waktu wawancara lebih sulit diprediksi karena sangat tergantung dari alur pembicaraan yang kontrolnya sangat fleksibel dan lunak. Akhir dari wawancara tidak terstruktur juga terkadang tidak mendapatkan kesimpulan yang cukup jelas dan mengrucut.



3. Sangat Fleksibel ( dalam hal pertanyaan maupun jawaban)

Pertanyaan yang diajukan oleh peneliti/interviewer dan jawaban yang diperoleh dari subyek penelitian/interviewee sangat fleksibel. Bahkan terkesan seperti ngobrol santai “ngalor-ngidul”. Jika peneliti yang memilih bentuk wawancara ini belum berpengalaman atau yang memiliki jam terbang yang kurang, maka akan mengalami kedala dalam merumuskan tema serta menarik kesimpulan wawancara.  Maka dari itu jika peneliti masih belum cukup pengalaman sebaiknya tidak menggunakan bentuk wawancara tidak terstruktur.



4. Pedoman wawancara (guideline interview) sangat longgar urutan pertanyaan, penggunaan kata, alur pembicaraan, dan lain sebagainya.

Hampir sama seperti wawancara semi tersetruktur, dalam wawancara tidak terstruktur pedoman wawancara tetap masih diperlukan. Hanya saja, wawancara semi terstruktur, masih terdapat tema-tema yang dibuat sebagai kontrol atau pembicaraan yang mengacu pada satu tema sentral, pada pedoman wawancara tidak terstruktur tidak terdapat topik-topik yang mengatur alur pembicaraan, tetapi hanya terdapat tema sentral saja yang digunakan peneliti/interviewer sebagai kontrol alur pembicaraan selama wawancara berlangsung.



5. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui suatu fenomena

Dalam hal tujuan, terdapat kesamaan dengan wawancara semi terstruktur yaitu untuk memahami suatu fenomena, hanya dalam kedalaman pembahasan dan pengendalian data tidak seakurat wawancara semi terstruktur sehingga bentuk wawancara semi terstruktur kurang sesuai untuk digunakan dalam penelitian kualitatif.


2. Kuesioner (Angket)

Teknik Pengumpulan Data Menggunakan Angket
Angket


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kuesioner merupakan alat riset atau survey yang terdiri atas serangkaian pertanyaan tertulis, bertujuan mendapatkan tanggapan dari kelompok orang terpilih melalui wawancara pribadi atau melalui pos, daftar pertanyaan. Menurut Sugiyono (2011), angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukkan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang efisien jika peneliti mengetahui dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu yang tidak bisa diharapkan dari responden. Angket sebagai teknik pengumpulan data sangat cocok untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar. Definisi lainnya dari angket adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang diberikan kepada subjek penelitian untuk dijawab sesuai dengan keadaan subjek yang sebenarnya. Yang dapat dijaring dengan menggunakan kuesioner adalah hal-hal mengenai diri responden, dengan asumsi bahwa respondenlah yang paling mengetahui tentang dirinya dan pengalamannya sendiri, bahwa apa yang dinyatakan oleh responden kepada peneliti adalah benar, bahwa penafsiran subjek terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti. Justru anggapan-anggapan inilah yang menjadi kelemahan dari metode angket. Karena dalam kenyataan responden dapat memberikan keterangan-keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Menurut Uma Sekaran sebagaimana yang dikutip oleh Sugiyono (2007:163), ada beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data, yaitu prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik


Prinsip penulisan angket menyangkut beeberapa faktor antara lain:



  1. Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur, maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
  2. Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah bahasa inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa inggris.
  3. Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau tertutup.
  4. Pertanyaan tidak mendua artinya pertanyaan tidak mengandung dua arti yang akan menyulitkan responden.
  5. Tidak menanyakan yang sudah lupa atau tidak menanyakan pertanyaan yang menyebabkan responden berpikir keras.
  6. Pertanyaan tidak menggiring responden.
  7. Pertanyaan tidak boleh terlalu panjang atau terlalu banyak. Kalau terlalu panjang atau banyak, akan menyebbkan responden merasa jenuh untuk mengisinya.
  8. Urutan pertanyaan dimulai dari yang umum sampai ke spesifik, atau dari yang mudah menuju ke yang sulit, atau di acak.

Prinsip pengukuran memuat seperangkat uji coba instrument. 

Artinya, sebelum menyebarkan angket, perlu dilakukanbeberapa percobaan sehingga selain diketahui validitas dan realibilitasnya, juga akan diperoleh estimasi waktu pengerjaan, tingkat kesulitan dan berbagai hal lainnya.

Penampilan fisik merupakan salah satu daya tarik dan keseriusan responden dalam mengisi angket. 

Namun tentu saja, angket yang bagus terkesan resmidan memerlukan biaya uang lebih besardibanding angket yang di cetak di atas kertas seadanya.

Jenis –jenis angket (kuesioner)


1. Angket terbuka dan tertutup


Angket terbuka atau  open ended questionnaire memberi kesempatan kepada responden untuk memberi jawaban secara bebas dengan menggunakan kalimatnya sendiri. Misalnya:


Bagaimana pendapat anda kalau :



  1. Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dihapus? . . . .
  2. Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dijadikan mata pelajaran pilihan? . . . .

Untuk menjawab pertanyaan ini responden bebas menggunakan kalimatnya sendiri.

Angket tertutup atau closed questionare
Angket tertutup adalah angket yang jawabanya telah disediakan, responden tinggal memilih jawaban yang sesuai. Misalnya:

Bagaimana pendapat anda kalau :
1). Pelajaran bahasa Inggris diberikan di SD?
      A. sangat setuju       B. setuju       C. kurang setuju       D. tidak setuju
2). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dihapus?
      A. sangat setuju      B. setuju       C. kurang setuju        D. tidak setuju
3). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dijadikan mata pelajaran pilihan?
      A. sangat setuju      B. setuju       C. kurang setuju        D. tidak setuju

Untuk menjawab pertanyaan ini responden tinggal memilih jawaban mana yang dianggap sesuai atau benar. 

Angket semi terbuka

Merupakan angket yang pertanyaan atau pernyataanya memberikan kebebasan pada respondenya untuk memberikan jawaban dan pendapat menurut pilihan-pilihan jawaban yang telah disediakan.

b. Angket langsung dan tidak langsung
Angket langsung kalu responden ditanya mengenai dirinya, pengalamanya, keyakinanya atau diminta untuk menceritakan tentang dirinya sendiri. Misalnya :
  1. Apakah Anda suka belajar Matematika?
  2. Apakah Anda pernah mengikuti PKG?
  3. Metode apa yang Anda gunakan untuk mengajar membaca?



Sebaliknya angket tak langsung jika responden diminta untuk memberikan jawaban tentang orang lain. Misalnya angket yang diberikan kepada kepala sekolah yang menanyakan tentang keadaan guru disekolah yang dipimpimnya.
Menurut pendapat Anda apakah
  1. Guru matematika di sekolah ini disukai siswanya?
  2. Guru matematika di sekolah ini dapat mengajar dengan baik?


 3. Observasi

Teknik Pengumpulan Data dengan Observasi
Observasi atau Pengamatan

Observasi atau pengamatan adalah salah satu metode dalam pengumpulan data saat membuat sebuah karya tulis ilmiah. Nawawi dan Martini mengungkapkan bahwa observasi adalah pengamatan dan juga pencatatan sistematik atas unsur-unsur yang muncul dalam suatu gejala atau gejala-gejala yang muncul dalam suatu objek penelitian. Hasil dari observasi tersebut akan dilaporkan dalam suatu laporang yang tersusun secara sistematis mengikuti aturan yang berlaku.

Sedangkan menurut Prof. Heru, observasi adalah studi yang dilakukan secara sengaja dan sistematis, terarah dan terencana pada tujuan tertentu dengan mengamati dan mencatat fenomena-fenomena yang terjadi dalam suatu kelompok orang dengan mengacu pada syarat-syarat dan aturan penelitian ilmiah. Dalam suatu karya tulis ilmiah, penjelasan yang diutarakan harus tepat, akurat, dan teliti, tidak boleh dibuat-buat sesuai keinginan hati penulis.

Ada 2 indra yang diutamakan di dalam melakukan pengamatan, yaitu telinga dan mata. Kedua indra tersebut harus benar-benar sehat. Dalam melakukan pengamatan, mata lebih dominan dibandingkan dengan telinga. Mata ini memiliki kelemahan yaitu mudah letih. Untuk mengatasi kelemahan yang bersifat biologis tersebut, maka perlu melakukan hal-hal berikut.
1. Dengan menggunakan kesempatan yang lebih banyak untuk melihat data-data.
2. Dengan menggunakan orang lain untuk turut sebagai pengamat (observers).
3. Dengan mengambil data-data sejenis lebih banyak.
Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan yang bersifat psikologis, yaitu :
1. Dengan meningkatkan daya penyesuaian (adaptasi).
2. Dengan membiasakan diri.
3. Dengan rasa ingin tahu.
4. Dengan mengurangi prasangka.
5. Dengan memiliki proyeksi.
Dalam observasi diperlukan ingatan terhadap observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Karena manusia memiliki sifat pelupa, maka diperlukan catatan-catatan (check-list), alat-alat elektronik seperti kamera, video dan sebagainya; lebih banyak menggunakan pengamat; memusatkan perhatian pada data-data yang relevan; mengklasifikasikan gejala dalam kelompok yang tepat; menambah bahan persepsi mengenai objek diamati.


Alat bantu yang dipergunakan di dalam observasi antara lain, yaitu daftar riwayat kelakuan (anecdotal record); catatan berkala; daftar catatan (check list); rating scale, yaitu pencatatan gejala menurut tingkatannya; alat-alat optik elektronik.
Tingkat kecermatan observasi sangatlah dipengaruhi oleh faktor prasangka dan keinginan observee; terbatasnya kemampuan pancaindra dan ingatan; terbatasnya wilayah pandang, yaitu kecenderungan observe menaruh perhatian dengan membandingkannya kepada kejadian lainnya; kemampuan observer dalam menangkap hubungan sebab akibat; kemampuan menggunakan alat bantu; ketelitian pencatatan; pengertian observer terhadap gejala yang diukur.

Jenis-Jenis Observasi

Jenis jenis observasi, sebagai berikut :

1. Jenis Observasi Partisipasi

Pengertian Observasi Partisipasi adalah observasi yang dilakukan dengan observer terlibat langsung secara aktif dalam objek yang diteliti. Keadaan yang sebaliknya disebut nonobservasi partisipasi. Sedangkan kehadiran observer yang berpura-pura disebut kuasi observasi partisipasi.

2. Jenis Observasi Sistematis atau Observasi Berkerangka

Pengertian Observasi Sistematis adalah observasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu kerangkanya. Kerangka tersebut memuat faktor-faktor yang akan diobservasi menurut kategorinya.

3. Jenis Observasi Eksperimen

Pengertian Observasi Eksperimen adalah observasi yang dilakukan terhadap situasi yang disiapkan sedemikian rupa untuk meneliti sesuatu yang dicobakan.
Sekian dari informasi ahli mengenai pengertian observasi dan jenis jenis observasi, semoga tulisan informasi ahli mengenai pengertian observasi dan jenis jenis observasi dapat bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA

Nazir. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta

BACA JUGA

Cara Membuat Skripsi yang Baik dan Benar : Panduan Lengkap Menyusun Skripsi

Contoh Kata Pengantar dalam Makalah, Laporan Praktikum, Penelitian dan Skripsi

Cara Membuat Daftar Isi Manual dan Otomatis Pada Ms. Word Lengkap Dengan Contoh Daftar Isi

Cara Membuat Judul Penelitian Kuantitatif yang Baik dan Benar (Contoh Judul Penelitian Kuantitatif)

Contoh Daftar Pustaka Buku, Skripsi, Internet, Jurnal, Surat Kabar dan Makalah

Pengertian Variabel dan Contohnya : Variabel Bebas, Terikat, Moderator, dan Kontrol

Contoh Hipotesis Penelitian Skripsi (Hipotesis Deskriptif, Hipotesis Komparatif dan Hipotesis Asosiatif)

Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif : Wawancara, Angket, dan Observasi 100% LENGKAP

Cara membuat rumusan masalah yang baik pada proposal skripsi

Langkah-Langkah dan Contoh Membuat Latar Belakang Proposal Skripsi

Langkah-Langkah menghitung Validitas Soal Pilihan Ganda Dengan Excel

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Cara Membuat Judul Karya ilmiah, Proposal, Skripsi


Cara Membuat Latar Belakang Skripsi, penelitian, atau KTI


Langkah-Langkah menghitung Validitas Soal Pilihan Ganda Dengan Excel

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam melakukan penelitian penggunaan alat pengumpul data atau instrumen haruslah valid. Sebuah instumen dikatakan valid apa bila dapat digunakan tepat untuk memperoleh data yang diinginkan. Untuk memahami tentang devinisi tentang validitas, silahkan baca pada artikel sebelumnya Pengertian Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Berikut ini langkah-langkah untuk melakukan validitas instrumen soal pilihan ganda.
1. Buatlah tabel validitas soal, seperti pada gambar dibawah ini.
Keterangan :
- UC-01 - UC n  = Jumlah Siswanya, jika siswa anda ada 40 maka buatlah UC 1- UC 40 berderet vertikal.
- Bilangan 1 - n yang berderet horizontal adalah  jumlah soal yang diujikan, maka jika jumlah soal ada 50, buatlah bilangan horizontal dari 1- 50.
- Mengisi tabel hasil jawaban dari siswa, jika jawaban siswa benar maka tabelnya diisi dengan bilangan "1", sementara jika tabel salah maka diisi dengan bilangan "0".

#Isi Semua data diatas dengan tepat.
2. Hitunglah tabel-tabel diatas dengan menggunakan, rumus dibawah ini:
Keterangan :
rxy                     : koefisien korelasi tiap item
N                       : jumlah subyek
ΣX                     : jumlah skor item
ΣY                     : jumlah skor total
ΣXY                  : jumlah perhatian skor item dengan skor total

Selanjutnya untuk menentukan valid tidaknya item digunakan taraf signifikansi 5%.

Untuk menghitung, rumus-rumus diatas, langkah-langkahnya adalah:
a. Mencari N = N adalah jumlah subjek, jumlah seluruh subjek adalah jumlah seluruh siswa.
b. Mencari Y dan Y^ (Kuadrat)
    "Y" adalah jumlah skor bener yang dijawab siswa.
    "Y^" adalah jumlah skor benar yang dijawab siswa dikuadratkan.

c. Setelah langkah diatas selesai, selanjutnya yaitu menghitung. X^
   "X^" adalah skor siswa dikuadratkan.
    Buat tabel disamping tabel tadi, hitunglah X dikuadratkan.

 d. Selanjutnya yaitu mencari atau menghitung xy, perhatikan gambar dibawah ini.
"xy" adalah jumlah dari perkalian "x dan y" maka carilah hasilnya dengan menggunakan rumus excel yaitu = SUM (x*y).

e. Untuk memperudah perhitungan, maka lakukanlah rekapitulasi dan memasukan dalam rumus.
    1)  Merekapirulasi jumlah x tiap nomor
    2)  Merekapitulasi jumlah x^ tiap nomor
    3)  Merekapitulasi jumlah y tiap nomor
    4)  Merekapitulasi jumlah y^ tiap nomor
    5)  Merekapitulasi jumlah xy tiap nomor

Rekapitulasi tiap skor sebanyak jumlah skor. Jika ada 50 soal, maka buatlah sebanyak 50 rekapitlasi berderet horizontal.

f. Menghitung Rumus Validitas,
   Hitunglah dengan menggunakan excel per bagian pembilang dan penyebut.
  
Perhatikan rumus diatas, kita hitung satu persatu, bagian atas dan bagian bawahnya. Bagian atas disebut dengan pembilang dan bagian bawah disebut dengan penyebut.
Menghitung Bagian Atas/ Pembilang
Hitung dengan Excel dengan rumus: = (Jumlah n * jumlah XY) - (jumlah X * Jumlah Y)
Menghitung bagian bawah/penyebut
Hitung dengan Excel dengan rumus =
Bagian 1 = (Jumlah Siswa * Jumlah X Kuadrat) - (jumlah X Kuadrat)
Bagian 2 = (Jumlah Siswa * Jumlah Y Kuadrat) - (Jumlah Y Kuadrat)
Bagian 3 = Akar dari (bagian 1 * bagian 2) atau SQRT(Bagian 1*bagian 2)


Untuk mendapatkan hasil dari perhitungan rumus diatas maka, langkah yang dilakukan yaitu melakukan pembagian antara Pembilang dengan penyebut. Tuliskan pada tabel dibawahnya pada setiap aspek skor.

Setelah mendapatkan hasi, selanjutnya buat tabel horizontal dengan menuliskan bilangan "r tabel" angka r tabel diperoleh dari r tabel. Baca tentang r tabel.

dan tentukan apakah butir butir soal diatas dinyatakan valid atau tidak.



Keterangan : 
-Hasil merupakan hasil pembagian dari pembilang dan penyebut
-bilangan "0,404 diperoleh dari r tabel.
-Invalid menunjukan keterangan bahwa soal diatas tidak valid
-dan valid menunjukan bahwa soal diatas valid. 
-Rumus menuliskan keterangan valid dan invalid yaitu = =IF(C45>C48;"VALID";"invalid") dengan C45 hasil dan C48 adalah r tabel.

Dengan menyelesaikan langkah-langkah diatas maka anda telah menemukan validitas dari butir-butir soal pilihan ganda.


Terimakasih kepada Ary Zuqnil sudah membantu pembuatan artikel ini.
Terimakasih kepada Anang Wahyu sudah berikan contoh cara menghitung validitas soal pilihan Ganda.



Share Jika Menurut Kalian Artikel Ini Membantu

Download Contoh Validasi Soal Pilihan Ganda
Klik di sini


BACA JUGA

Cara Membuat Skripsi yang Baik dan Benar : Panduan Lengkap Menyusun Skripsi

Contoh Kata Pengantar dalam Makalah, Laporan Praktikum, Penelitian dan Skripsi

Cara Membuat Daftar Isi Manual dan Otomatis Pada Ms. Word Lengkap Dengan Contoh Daftar Isi

Cara Membuat Judul Penelitian Kuantitatif yang Baik dan Benar (Contoh Judul Penelitian Kuantitatif)

Contoh Daftar Pustaka Buku, Skripsi, Internet, Jurnal, Surat Kabar dan Makalah

Pengertian Variabel dan Contohnya : Variabel Bebas, Terikat, Moderator, dan Kontrol

Contoh Hipotesis Penelitian Skripsi (Hipotesis Deskriptif, Hipotesis Komparatif dan Hipotesis Asosiatif)

Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif : Wawancara, Angket, dan Observasi 100% LENGKAP

Cara membuat rumusan masalah yang baik pada proposal skripsi

Langkah-Langkah dan Contoh Membuat Latar Belakang Proposal Skripsi

Langkah-Langkah menghitung Validitas Soal Pilihan Ganda Dengan Excel

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Cara Membuat Judul Karya ilmiah, Proposal, Skripsi

Cara Membuat Latar Belakang Skripsi, penelitian, atau KTI


4/11/16

Validitas dan Reliabilitas Instrumen



BAB  IV
Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Tujuan Umum:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang Validitas dan Reliabilitas.

Tujuan Khusus:
1.      Agar mahasiswa dapat arti dan jenis dari validitas.
2.      Agar mahasiswa dapat menjelaskan kegunaan validitas.
3.      Agar mahasiswa dapat menghitung validitas instrumen.
4.      Agar mahasiswa dapat arti dan jenis dari reliabilitas.
5.      Agar mahasiswa dapat menjelaskan kegunaan reliabilitas.
6.      Agar mahasiswa dapat menghitung reliabilitas instrumen.


BAB  III
Validitas dan Reliabilitas Instrumen

A.      Validitas
Validitas berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur, sehingga betul‑betul mengukur apa yang seharusnya di­ukur. Sebagai contoh,  ingin mengukur kemampuan siswa da­lam matematika. Kemudian diberikan soal dengan kalimat yang pan­jang dan yang berbelit‑belit sehingga sukar ditangkap maknanya. Akhimya siswa tidak dapat menjawab, akibat tidak memahami per­tanyaannya. Contoh lain, peneliti ingin mengukur kemampuan berbi­cara, tapi ditanya mengenai tata bahasa atau kesusastraan seperti puisi atau sajak. Pengukur tersebut tidak tepat (valid). Validitas tidak berlaku universal sebab bergantung pada situasi dan tujuan pe­nelitian. Instrumen yang telah valid untuk suatu tujuan tertentu belum otomatis akan valid untuk tujuan yang lain.
Contoh variabel prestasi belajar dan motivasi bisa diukur oleh tes ataupun oleh kuesioner. Caranya juga bisa berbeda, tes bisa dilak­sanakan secara tertulis atau bisa secara lisan. Ada tiga jenis validitas yang sering digunakan dalam penyusunan instrumen, yakni validitas isi, validitas bangun pengertian dan validitas ramalan.

(a) Validitas isi
Validitas isi berkenaan dengan kesanggupan instrumen mengukur isi yang harus diukur. Artinya, alat ukur tersebut mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Misalnya tes hasil belajar bidang studi IPS, harus bisa mengungkap isi bidang studi tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyusun tes yang bersumber dari kurikulum bidang studi yang hendak diukur. Di samping kurikulum dapat juga diperkaya dengan melihat/mengkaji buku sumber. Sungguhpun demikian tes hasil belajar tidak mungkin dapat mengungkap semua materi yang ada dalam bidang studi ter­tentu sekalipun hanya untuk satu semester. Oleh sebab itu harus diambil sebagian dari materi dalam bentuk sampel tes. Sebagai sampel maka harus dapat mencerminkan materi yang terkandung dari seluruh materi bidang studi. Cara Yang ditempuh dalam menetapkan sampel tes adalah memilih konsep‑konsep yang esensial dari materi yang di dalamnya. Misalnya menetapkan sejumlah konsep dari setiap pokok bahasan yang ada. Dari setiap konsep dikem­bangkan beberapa pertanyaan tes (lihat bagan). Di sinilah pen­tingnya peranan kisi‑kisi sebagai alat untuk memenuhi validitas isi.
TES HASIL BELAJAR
Bidang studi   : ....................
Semester          : ....................
Kelas                : ....................

Pokok bahasan untuk satu semester sesuai dengan kurikulum
Konsep atau
materi
esensial
Jumlah
perta-
nyaan

Jenis tes
abilitas
yang
diakui
Pokok bahasan 1
1.1 ………………
3 soal
pilihan ganda
Aplikasi dan seterusnya
Pokok bahasan 2
1.2 ………………
2 soal
Aplikasi dan seterusnya

Pokok bahasan 2
2.1 ………………
2 soal



2.2 ………………
3 soal


Pokok bahasan 3
3.1 ………………
3 soal



3.2 ………………
2 soal



dan seterusnya



Dalam hal tertentu tes yang telah disusun sesuai dengan kurikulum (materi dan tujuannya) agar memenuhi validitas isi, peneliti atau pemakai tes dapat meminta bantuan ahli bidang studi untuk mene­laah apakah konsep materi yang diajukan telah memadai atau tidak, sebagai sampel tes. Dengan demikian validitas isi tidak memerlukan uji coba dan analisis statistik atau dinyatakan dalam bentuk angka­-angka.

(b) Validitas bangun pengertian (Construct validity)
Validitas bangun atau bangun pengertian (Construct validity) berke­naan dengan kesanggupan alat ukur mengukur pengertian‑pengertian yang terkandung dalam materi yang diukurnya. Pengertian‑pe­ngertian yang terkandung dalam konsep kemampuan, minat, sebagai variabel penelitian dalam berbagai bidang kajian harus jelas apa yang hendak diukurnya. Konsep‑konsep tersebut masih abstrak, memer­lukan penjabaran yang lebih spesifik, sehingga mudah diukur. Ini berarti setiap konsep harus dikembangkan indikator‑indikatomya. Dengan adanya indikator dari setiap konsep maka bangun pengertian akan nampak dan memudahkan dalam menetapkan cara pengukuran. Untuk variabel tertentu, dimungkinkan penggunaan alat ukur yang beraneka ragam dengan cara mengukurnya yang berlainan.
Menetapkan indikator suatu konsep dapat dilakukan dalam dua cara, yakni (a) menggunakan pemahaman atau logika berpikir atas dasar teori pengetahuan ilmiah dan (b) menggunakan pengalaman empiris, yakni apa yang terjadi dalam kehidupan nyata.
Contoh: Konsep mengenai “Hubungan Sosial”, dilihat dari pengalaman, indikatornya empiris adalah keterkaitan dari
-          bisa bergaul dengan orang lain
-          disenangi atau banyak teman‑temannya
-          menerima pendapat orang lain
-          tidak memaksakan pendapatnya
-          bisa bekerja sama dengan siapa pun
-          dan lain‑lain.
Mengukur indikator‑indikator tersebut, berarti mengukur bangun pengertian yang terdapat dalam konsep hubungan sosial. Contoh lain: Konsep sikap dapat dilihat dari indikatornya secara teoretik (deduksi teori) antara lain keterkaitan dari
-          kesediaan menerima stimulus objek sikap
-          kemauan mereaksi stimulus objek sikap
-          menilai stimulus objek sikap
-          menyusun/mengorganisasi objek sikap
-          internalisasi nilai yang ada dalam objek sikap.
Apabila hasil tes menunjukkan indikator‑indikator tes yang tidak berhubungan secara positif satu sama lain, berarti ukuran tersebut tidak memiliki validitas bangun pengertian. Atas dasar itu indikatornya perlu ditinjau atau diperbaiki kembali. Cara lain untuk menetapkan validitas bangun pengertian suatu alat ukur adalah menghubungkan (korelasi) antara alat ukur yang dibuat dengan alat ukur yang sudah baku/standardized, seandainya telah ada yang baku. Bila menunjuk­kan koefisien korelasi yang tinggi maka alat ukur tersebut memenuhi validitasnya.

(c) Validitas ramalan (predictive validity)
Validitas ramalan artinya dikaitkan dengan kriteria tertentu. Dalam validitas ini yang diutamakan bukan isi tes tapi kriterianya, apakah alat ukur tersebut dapat digunakan untuk meramalkan suatu ciri atau perilaku tertentu atau kriteria tertentu yang diinginkan. Misal­nya alat ukur motivasi belajar, apakah dapat digunakan untuk meramal prestasi belajar yang dicapai. Artinya terdapat hubungan yang positif antara motivasi dengan prestasi. Dengan kata lain dalam validitas ini mengandung ciri adanya relevansi dan keajegan atau ketetapan (reliability). Motivasi dapat digunakan meramal prestasi bila skor‑skor yang diperoleh dari ukuran motivasi berkorelasi positif dengan skor prestasi. Validitas ramalan ini mengandung dua makna. Pertama validitas jangka pendek dan kedua jangka panjang. Validitas jangka pendek, artinya daya ramal alat ukur tersebut hanya untuk masa yang tidak lama. Artinya, skor tersebut berkorelasi pada waktu yang sama. Misalnya, ketetapan (reliability) terjadi pada semester dua artinya daya ramal berlaku pada semester dua, dan belum tentu ter­jadi pada semester berikutnya. Sedangkan validitas jangka panjang mengandung makna skor tersebut akan berkorelasi juga di kemudian hari. Mengingat validitas ini lebih menekankan pada adanya korelasi, maka faktor yang berkenaan dongan persyaratan terjadinya korelasi harus dipenuhi. Faktor tersebut antara lain hubungan dari konsep dan variabel dapat dijelaskan berdasarkan pengetahuan ilmiah, mini­mal masuk akal sehat dan tidak mengada‑ada. Faktor lain adalah skor yang dikorelasikan memenuhi linieritas. Ketiga validitas yang dijelas­kan di atas idealnya dapat digunakan dalam menyusun instrumen pe­nelitian, minimal dua validitas, yakni validitas isi dan validitas ba­ngun pengertian. Validitas isi dan bangun pengertian mutlak diperlu­kan dan bisa diupayakan tanpa melakukan pengujian secara statis­tika.

B.       Reliabilitas
Reliabilitas alat ukur adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapan pun alat ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama. Contoh paling nyata adalah timbangan atau meteran. Hal yang sama terjadi untuk alat ukur suatu gejala, tingkah laku, ciri atau sifat individu dan lain‑lain. Misalnya alat ukur prestasi belajar seperti tes hasil belajar, alat ukur sikap, kuesioner dan lain‑lain, hendaknya meneliti sifat ke­ajegan tersebut.
Tes hasil belajar dikatakan ajeg apabila hasil pengukuran saat ini menunjukkan kesamaan hasil pada saat yang berlainan waktunya, terhadap siswa yang sama. Misalnya siswa kelas V pada hari ini di tes kemampuan matematik. Minggu berikutnya siswa tersebut di tes kembali. Hasil dari kedua tes relatif sama. Sungguhpun demikian masih mungkin terjadi ada perbedaan hasil untuk hal‑hal tertentu akibat faktor kebetulan, selang waktu, terjadinya perubahan panda­ngan siswa terhadap soal yang sama. Jika ini terjadi, kelemahan ter­letak dalam alat ukur itu, yang tidak memiliki kepastian jawaban atau meragukan siswa. Dengan kata lain derajat reliabilitasnya masih rendah.
Di lain pihak perbedaan hasil pengukuran bukan disebabkan oleh alat ukurnya, melainkan kondisi yang terjadi pada diri siswa. Misal­nya fisik siswa dalam keadaan sakit pada waktu tes yang pertama, motivasi pada waktu tes pertama berbeda dengan motivasi tes pada berikutnya.
Atas dasar itu perbedaan hasil pengukuran pertama dengan hasil pengukuran berikutnya bisa teijadi akibat perubahan pada diri subjek yang diukur dan atau oleh faktor yang berkaitan dengan pemberian tes itu sendiri. Hal ini tidak mengherankan dan sudah umum terjadi, yang sering dinyatakan dengan sebutan/istilah kesalahan peng­ukuran. Ini berarti, skor hasil pengukuran yang pertama dan skor hasil pengukuran kedua terhadap subjek sama, dimungkinkan ter­jadinya kesalahan pengukuran disebabkan oleh dua faktor di atas. Oleh karenanya setiap skor hasil pengukuran menghasilkan dua bagian, yakni hasil pengukuran pertama yang disebut skor sejati dan hasil pengukuran berikutnya terhadap subjek yang sama, yang me­ngandung hasil skor plus kesalahan pengukuran.
Komponen skor sejati dan skor yang mengandung kesalahan pengukuran dinyatakan dalam suatu persamaan matematis sebagai berikut:
X  =b + s,
dengan:
X = skor yang diamati
b   = skor sejati
s   = kesalahan pengukuran
Dalam suatu penelitian skor yang diamati adalah skor sejati ditambah skor kesalahan pengukuran sehingga variansi skor yang diamati X2 adalah variansi skor sejati Tb2 ditambah variansi skor kesalahan Ts2 atau Tx2 = Tb2 + Ts2.
Indeks reliabilitas alat ukur dalam suatu penelitian dapat dicari dengan mengkorelasikan skor‑skor yang diperoleh dari hasil peng­ukuran yang berulang‑ulang pada waktu yang berbeda, atau dengan kelompok pertanyaan yang sepadan. Prosedur ini dilakukan dengan cara memberikan tes dua kali kepada subjek yang sama pada waktu yang berbeda. Cara kedua adalah membagi alat ukur (tes) menjadi dua bagian yang sama atau yang setarap untuk melihat keajegan tes tersebut. Cara yang pertama dikenal dengan tes ulang (test retest) dan cara kedua dikenal dengan pecahan sebanding/setara.

a.       Reliabilitas tes ulang
Tes ulang (test‑retest) adalah penggunaan alat ukur terhadap subjek yang diukur, dilakukan dua kali dalam waktu yang berlainan. Misal­nya tes hasil belajar matematika untuk siswa SD kelas V, diberikan hari ini, lalu diperiksa hasilnya. Seminggu kemudian tes tersebut diberikan lagi pada siswa yang sama dan hasilnya diperiksa. Hasil pengukuran yang pertama kemudian dikorelasikan dengan hasil pe­ngukuran yang kedua untuk mendapatkan koefisien korelasinya (r). Koefisien korelasi ini disebut koefisien reliabilitas tes ulang, yang hasilnya akan bergerak dari ‑ 1,0 sampai + 1,0. Bila koefisien reliabilitas mendekati angka 1,0 merupakan indeks reliabilitas tinggi. Artinya hasil pengukuran yang pertama relatif sama dengan hasil pengukuran yang kedua. Dengan kata lain alat ukur tersebut memiliki tingkat keajegan atau ketetapan (reliabel). Untuk pengukuran ilmu‑ilmu sosial dan pendidikan indeks reliabilitas 0,75 sudah dianggap cukup mengingat sifat dan ilmu sosial dan pendidikan ber­beda dengan ilmu‑ilmu eksakta.
Jarak atau selang waktu antara pengukuran pertama dengan pengukuran kedua sebaiknya tidak terlalu dekat dan juga tidak ter­lalu jauh. Jika terlalu dekat/pendek, hasil pengukuran banyak dipengaruhi oleh ingatan siswa tentang jawaban yang diberikan pada pe­ngukuran yang pertama, bukan karena keajegan alat ukurnya. Sebaliknya jika selang waktu pengukuran pertama dengan peng­ukuran kedua terlalu lama, bisa terjadi adanya perubahan penge­tahuan dan pengalaman siswa sehingga mempengaruhi koefesien re­liabilitasnya. Asumsi yang digunakan dalam tes ulang ialah karak­teristik yang diukur oleh alat ukur tersebut stabil sepanjang waktu, sehingga jika ada perubahan skor hasil kedua pengukuran lebih di­sebabkan kesalahan alat ukur. Cara tes ulang (test‑retest) banyak di­gunakan dalam menetapkan atau menentukan tingkat reliabilitas alat ukur dalam penelitian sosial dan pendidikan.



b.       Reliabilitas pecahan setara
Reliabilitas bentuk pecahan setara tidak dilakukan pengulangan pengukuran kepada subjek yang sama tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes yang sebanding atau setara yang diberikan kepada subjek yang sama pada waktu yang sama pula. Dengan demikian diperlukan dua perangkat alat ukur yang disusun sedemikian rupa agar memiliki derajat kesamaan atau kesetaraan baik dari segi, isi, tingkat kesu­karan alat ukur, abilitas yang diukur, jumlah pertanyaan, bentuk pertanyaan dan segi‑segi teknis lainnya. Yang berbeda hanyalah per­tanyaan. Bila penyusun kesetaraan alat ukur bisa dicapai seoptimal mungkin maka koefisien reliabilitas dari prosedur ini dianggap paling baik dibandingkan dengan prosedur tes ulang. Namun kesulitannya terletak dalam menyusun perangkat alat ukur yang benar‑benar me­ngandung derajat kesetaraan tinggi.

c.       Reliabilitas belah dua
Reliabilitas belah dua mirip dengan reliabilitas pecahan setara ter­utama dari pelaksanaannya. Dalam prosedur ini alat ukur diberikan kepada kelompok subjek cukup satu kali atau satu saat. Butir‑butir soal dibagi dua bagian yang sebanding, biasanya membedakan soal nomor genap dengan soal nomor ganjil. Setiap bagian soal diperiksa hasilnya, kemudian skor dari kedua bagian tersebut dikorelasikan untuk dicari koefisien korelasinya. Mengingat korelasi tersebut hanya berlaku separuh tidak untuk seluruh pertanyaan, maka koefisien korelasi yang didapatkannya tidak untuk seluruh soal, tapi hanya se­paruhnya. Oleh sebab itu koefisien korelasi belah dua perlu diubah ke dalam koefisien korelasi untuk seluruh soal dengan menggunakan rumus ramalan Spearmen Brown:








Contoh: Koefisien korelasi belah dua adalah 0,60


 





Dari contoh di atas terjadi peningkatan koefisien korelasinya, setelah dilakukan pengubahan. Assumsi yang digunakan dalam prosedur be­lah dua adalah kedua bagian alat ukur itu pararel, sekalipun sering keliru atau tidak benar. Akibat adanya pengubahan koefisien relia­bilitas, prosedur belah dua cenderung menunjukkan koefisien re­liabilitas yang tinggi daripada prosedur tes ulang dan pecahan setara. Oleh sebab itu penggunaan belah dua harus lebih berhati‑hati. Prosedur ini digunakan bila alat ukur mengandung atau terdiri dari banyak item, item relatif berat/sukar (power test), materi yang diuji cukup komprehensif sehingga memungkinkan penyusunan dua soal untuk satu permasalahan yang sama untuk memenuhi belah dua.

d.      Kesamaan rasional
Di samping cara‑cara yang dijelaskan di atas ada prosedur meng­hitung reliabilitas tanpa melakukan korelasi dari dua pengukuran atau pecahan setara dan belah dua. Cara tersebut adalah kesamaan rasional. Prosedur ini dilakukan dengan menghubungkan setiap butir dalam satu tes dengan butir‑butir lainnya dan dengan tes itu sendiri secara keseluruhan. Salah satu cara yang sering digunakan adalah menggunakan rumus Kuder-Rechardson atau KR 21.
Rumusnya:

 













Misalnya disusun tes sebanyak 80 soal. Setelah diberikan kepada sejumlah siswa dalam kelas tertentu, lalu dicari nilai rata‑rata dan simpangan bakunya. Misalnya diperoleh nilai rata‑rata 60 dan simpangan bakunya 8. Dengan rumus di atas maka: